"maaf Pak, saya tidak mengenal Anda." Dea berusaha untuk menghindar, namun pria itu malah menarik tangannya dan segera memasukkannya ke dalam mobil mewah.
Kenzo yang risih menjadi tontonan para gadis remaja di sekolah itu, menjadi harus sabar demi bisa membawa gadis yang sejak tadi dia tunggu. ketika melihat Dea melintasi mobilnya Kenzo langsung keluar dan menghentikan gadis itu.
"wah sha, pakai pelet apa si Dea bisa menggaet banyak pria tampan seperti itu." ucap sela yang semakin membuat Sasha geram.
Dea hanya diam tanpa mau melihat ke arah pria yang sedang fokus mengemudi di sampingnya, pandangan Dea tertuju ke samping menatap pemandangan luar dari kaca jendela. pikiran Dea sekarang ini hanya pekerjaan, karena 30 menit lagi Dea akan masuk kerja tapi pria menyebalkan itu malah akan membawanya entah ke mana dia tidak tahu, Dea malas meskipun untuk sekedar bertanya.
"ehem!" Kenzo berdehem hanya untuk memecah keheningan, dirinya yang irit bicara pada lawan jenis membuat suasana di dalam mobil sepi mencekam seperti di kuburan.
mendengar deheman itu Dea tetap diam pada posisinya.
"apa aku boleh bicara?" Kenzo merutuki dirinya sendiri, entah apa yang keluar dari mulutnya terasa sangat aneh dan menggelikan.
pria dingin yang biasanya cuek dan sekarang Kenzo merasa kesal dicuekin, dan dirinya tidak tahu harus berbicara apa.
"turunkan saya di depan, tuan." Dea bersuara tapi tidak berniat untuk membalas ucapan Kenzo.
Kenzo kembali berdehem untuk mengurangi rasa malu yang ada pada dirinya, seperti yang di bilang Dea, Kenzo pun menghentikan Mobil mewahnya di pinggir jalan.
"terima kasih untuk tumpangannya tuan, tapi lain kali anda tidak perlu repot-repot memberi tumpangan kepada saya."
Blamm.
Dea menutup pintu mobil dan segera pergi dari sana, membuat Kenzo melongo dengan wajah bodohnya.
"sial!" Kenzo memukul stir kemudi ketika dirinya baru tersadar dengan apa yang baru saja gadis itu ucapkan.
Kenapa juga dirinya mau menuruti permintaan Gadis itu untuk turun dari mobilnya, Padahal niatnya menunggu dea tadi untuk membawa Gadis itu ke rumahnya. Kenzo mengusap wajahnya kasar setelah dea tidak terlihat lagi, bisa-bisanya dia seperti pria bodoh di depan gadis ingusan seperti itu.
"maaf, apa saya terlambat?" dea tersenyum manis kepada karyawan senior di cafe itu.
"tidak kok, kami juga baru sampai. ayo sekalian kita ganti baju bersama." ajak rekan kerja dea yang menunjukkan ruang ganti beserta seragam yang harus dea pakai.
"namaku Dina, nama kamu siapa?" dina memberikan baju kaos berwarna hitam putih kepada dea.
"em aku Dara Eliza Amelia, kalau disingkat menjadi Dea." jawab Dea dengan tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya.
Dina hanya tersenyum, "Semoga kamu betah ya, di sini cafenya ramai jadi saling kerja sama saja. kalau si bos mah baik kok." tutur Dina menceritakan sedikit tentang kafe itu.
"pasti aku akan betah, karena aku memang butuh pekerjaan." dea bersemangat untuk memulai hal baru di hari ini.
.
.
"Albert, malam ini mama mengundang keluarga tante Shinta beserta keluarga untuk acara makan malam." ucap Karina ketika putranya bertandang ke rumah besarnya.
Albert atau Kenzo itu memang jarang sekali pulang semenjak tinggal di apartemen.
"Mama harap kamu datang, karena mama sudah memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan anak tante Sinta." lanjut Karina lagi mengutarakan niatnya.
Karina sudah membicarakan masalah ini pada suaminya David.
"ma, jangan paksa-"
" kamu untuk menikah." potong Karina cepat.
"mama sudah memberi kamu waktu untuk memilih dan membawa calon pilihanmu sendiri ke rumah, tetapi apa? sampai sekarang Kamu sama sekali belum pernah membawa gadis untuk dikenalkan kepada kami." Karina menatap putranya penuh peringatan.
usia Kenzo sudah tidak muda lagi dan di usianya yang sudah matang Kenzo sama sekali belum pernah sekalipun terlibat kencan dengan seorang wanita.
"ma, ini hidup Kenzo. Kenzo yang menjalani." Kenzo menatap mamanya penuh rasa iba.
" Tolonglah Mama biarkan Kenzo memilih pendamping Kenzo sendiri."
"sampai Kapan mama harus menunggu? Sampai Mama sudah tidak ada?"
"Ma." Kenzo tidak bisa lagi berkata-kata ketika melihat mamanya menangis.
"hanya menikah Al, mama pilihkan kamu gadis baik-baik. mama dan papa sudah semakin tua dan kami ingin melihat kamu dan adik kamu memiliki keluarga yang bahagia." Karina menata putranya sendu dengan linangan air mata.
Bukannya tidak mau menikah, hanya saja Dirinya belum menemukan wanita yang pas untuk dirinya. menurutnya semua wanita sama saja, ingin dimengerti dan diperhatikan tetapi tidak ingin mengerti dan perhatian kepada pasangannya.
Kenzo hanya ingin wanita yang seperti Bella, wanita yang mandiri dan tidak manja. wanita yang penuh semangat untuk menggapai cita-citanya dan karena itu dirinya begitu mengagumi bella dan menaruh hati pada keponakan sepupunya.
sungguh Kenzo tidak ingin membuat kedua orang tuanya memikirkan kehidupannya karena dia sendiri tidak memikirkannya.
.
.
Dea baru selesai membereskan meja yang terakhir harus dibersihkan, Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan waktunya untuk dea pulang. hari ini cukup melelahkan bagi Dea karena kafe ramai dan hari pertama kerja dia harus ekstra melayani dengan baik.
tidak jarang banyak pemuda ataupun remaja yang masih pelajar sama seperti dirinya menggodanya, hanya sekedar meminta nomor telepon ataupun akun media sosialnya.
Dea hanya tersenyum untuk menanggapi godaan mereka, dirinya yang memang tidak memiliki ponsel bagus Selain itu Dea juga tidak bermain media sosial karena dia memang sama sekali tidak memiliki barang elektronik canggih itu di zaman sekarang.
"dea aku duluan ya." pamit Dina kepada Dea yang berdiri di depan Cafe.
"iya Dina, hati-hati di jalan ya." dea melambaikan tangan, dirinya juga ingin segera pulang ketika ingin pergi suara seseorang membuatnya menoleh.
"Pulang dengan siapa?' Zidan datang dengan masih menggunakan seragam sekolahnya. lelaki itu hanya memakai jaket hitam untuk menutupi baju seragamnya.
*sendiri kak, mari." dea menunduk sopan dan ingin segera berlalu.
"biar aku antar." ucap Zidan dengan menatap punggung Dea.
dia membalikkan tubuhnya, "tidak perlu kak, rumahku tidak jauh dari sini." dea berkata dengan sopan karena memang Zidan adalah bosnya.
Zidan hanya diam ketika gadis itu berlalu dari hadapannya, padahal jika gadis lain pasti dengan senang hati menerima tawarannya tapi melihat Dea yang menolaknya membuatnya tersenyum tipis.
"menarik." ucap Zidane pada dirinya sendiri.
.
.
Acara makan malam yang Karina maksud tiba, di mana keluarga Santoso dan istrinya bernama sinta hadir dengan membawa putrinya yang berprofesi sebagai dokter.
"Selamat datang, di kediaman keluarga kami." David dan Karina menyambut tamu kehormatan mereka di ambang pintu dengan senyum mengembang.
"selamat malam tuan David dan nyonya Karina." balas Santoso dengan menjabat tangan kedua tuan rumah itu.
"apa kabar Jeng." sapa Sinta istri dari Santoso memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Karina.
"baik mbak, mbak sendiri apa kabar?" Karina tersenyum kepada teman arisannya itu dan santoso adalah rekan kerja David dulu.
"baik juga, kenalkan ini Cindy." Sinta memperkenalkan putrinya yang berdiri di sampingnya.
"Oh hai sayang, kamu cantik sekali." Puji Karina yang langsung disambut dengan senyum Cindy.
"terima kasih tante." Cindy hanya tersenyum mendapat pujian itu.
"ayo silakan masuk, kami sudah menunggu anda Pak Santoso." ucap David mengajak keluarga Santoso untuk masuk ke dalam tepatnya menuju meja makan.