pekerjaan baru

1078 Kata
seperti yang dikatakan oleh nia, dea melamar pekerjaan di cafe yang lumayan sedikit jauh dari sekolahnya. jika berjalan kaki dea hampir membutuhkan waktu dua puluh menit untuk sampai. "selamat ya de, kamu diterima bekerja di sana." nia memberi selamat untuk dea yang baru saja diterima. "Terima kasih ya nia, kamu memang sahabat terbaikku." dea membalas pelukan nia. beruntung pemilik kafe menerima dirinya untuk bekerja paruh waktu, dan memang cafe itu membutuhkan karyawan yang masih muda dan juga butuh pekerjaan. karena cafe itu milik seorang pria yang masih seorang pelajar, dan dia sengaja mendirikan tempat usaha dan meraup remaja remaja pengangguran yang susah mencari pekerjaan untuk dirinya bantu. Sedangkan dea sendiri sangat bersyukur, karena dirinya langsung mendapatkan pekerjaan dan tidak menjadi masalah jika dirinya masih seorang pelajar. Dea mulai bekerja pukul tiga sore sampai jam delapan malam, karena waktu sekolah dea selesai jam dua siang mereka bekerja dibagi menjadi pukul dua siang. dan kafe buka di jam setengah delapan pagi. "Kamu tahu, pemilik kafe tadi?" Tanya nia yang mengingat wajah pria pemilik kafe tadi. dea hanya menggelengkan kepalanya, dia memang tidak terlalu open dengan wajah pria. "Tidak, memangnya kenapa?" mereka berjalan menuju halte untuk menunggu angkot yang tidak jauh dari kafe tersebut. "dia kakak kelas kita di tingkat tiga." nia yang ingat wajah pria itu. "oh aku malah tidak tahu soalnya tidak penting." Nia hanya mencebik, memang kedua gadis itu tidak pernah terlihat peduli dengan keadaan sekolah. Mereka saja tidak tahu lelaki paling famous di sekolah dan paling tenar di sekolah. bagi mereka sekolah hanya untuk belajar, dan bukan untuk ajang mengidolakan laki-laki tampan yang ada di sekolah. "iiish, itu loh yang namanya kak zidan. tahu kan?" tanya nia lagi yang ikut duduk di samping dea. mereka menunggu angkutan umum untuk pulang. "oh lelaki yang good looking di sekolah itu." dea menatap nia dan nia pun mengangguk. "ternyata selain tampan kak zidan lelaki pekerja keras ya, buktinya dia sudah punya kafe sendiri." ucap nia sambil tersenyum manis. dea melirik heran pada nia yang tersenyum "CK,, awas nanti kamu naksir dia." **** dea sampai rumah ketika hari masih sore, bahkan matahari masih memancarkan sinarnya. hari ini toko yang biasa dia kunjungi tutup selama seminggu karena pemilik toko sedang ada acara keluarga. Langkah gontai dea mengantarkan nya pada rumah sederhana peninggalan satu-satunya sang ayah, harta yang mereka miliki saat ini. Deg langkah dea memelan ketika melihat mobil mewah ter parkir di depan rumahnya, dia tidak buta dan tidak lupa ingatan mobil mewah berwarna hitam itu milik siapa. "CK, kenapa mobil orang itu parkir di depan rumahku." Gerutunya berjalan masuk ke pekarangan rumahnya. jam memang menunjukkan sudah pukul empat lewat, itu artinya jam kantor sudah selesai. "dara" panggil randy ketika melihat gadis yang sejak tadi dia tunggu baru saja datang dan randy tersenyum. "ada apa om?" tanya dea pada randy, ketika mereka sudah berada di teras rumahnya. melihat wajah dea yang masam, membuat Randy tidak enak. "Emm, aku kemari di perintahkan menjemputmu untuk datang ke rumah besar." Jawab randy menatap reaksi dea. randy sendiri juga tidak tahu alasannya, ketika kedua orangtua kenzo datang ke kantor dan menyuruhnya untuk menjemput gadis yang kemarin kepergok tidur berduaan dengan kenzo untuk dibawa ke rumah besar. Dan kebetulan karena randy tidak membawa mobil jadilah dia membawa mobil kenzo. Dea menaikkan satu alisnya mendengar ucapan randy. "menjemput? untuk apa?" tanya dea yang tidak mengerti, apakah dia memiliki masalah. "aku juga tidak tahu dara, yang jelas aku di perintahkan ibunya kenzo untuk menjemput kamu." tutur randy lagi. dea menghela nafasnya kasar, "bisakah aku menolak ajakan om." dea menatap randy. "aku tidak mau berurusan lagi dengan orang kaya seperti kalian, dan jika aku memiliki salah tolong sampaikan saja permohonan maafku." ucap dea sambil sedikit menunduk. "eh, bukan seperti itu. aku hanya menjalankan perintah, kamu bicara saja langsung dengan kenzo." "kenzo?" dea mengerutkan keningnya, disini dirinya tidak melihat siapa-siapa kecuali mereka berdua. "CK, sudah ayo." randy menarik tangan dea untuk mendekati mobil yang ter parkir di depan rumahnya. randy mengetuk kaca mobil kenzo, dan tidak lama kaca itu terbuka menampilkan pria berwajah datar dan dingin dengan kacamata hitam nya yang bertengger di hidungnya. dea hanya melirik, enggan untuk melihat pria yang berada di dalam mobil itu. "Bicaralah dengannya, karena kalian yang bersangkutan." randy menyuruh dea untuk berbicara pada kenzo dan diapun menjauh dari mobilnya. Satu menit, lima menit bahkan hingga sepuluh menit keduanya tidak juga ada yang membuka suara. "kata-" "Saya-" keduanya mengeluarkan suara secara bersamaan, membuat mereka salah tingkah. "saya tidak bisa ikut dengan anda tuan, dan saya juga minta maaf jika ada salah tolong sampaikan maaf saya kepada kedua orang tua anda, dan sekali lagi maaf saya tidak bisa ikut dengan anda." dea lebih dulu bersuara, dirinya menyampaikan apa yang akan dia katakan. Dan setelah mengatakan itu, dea membungkuk dan pergi meninggalkan kenzo yang belum sama sekali menjawab perkataannya. kenzo menatap punggung gadis itu dengan tatapan tidak percaya, dirinya sama sekali tidak dianggap setelah dia berbicara. randy pun hanya menggelengkan kepalanya, dea cukup berani berbicara dengan kenzo seperti itu. bahkan meninggalkan kenzo begitu saja tanpa mau mendengar apa yang akan dikatakan oleh Kenzo. " kurasa dia sudah ilfil dan dendam padamu." ucap randy yang sudah masuk ke dalam mobil duduk di balik kursi kemudi. "masalah berbicara dengan tante, kau sendiri yang berbicara." randy segera menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah sederhana milik dara. kenzo hanya diam, dirinya tidak tahu kenapa kedua orangtuanya mendesak nya menikahi gadis itu. padahal sudah jelas dirinya tidak berbuat apa-apa dengan gadis itu, bahkan gadis itu sendiri tidak menuntut nya yang macam-macam. dea menatap jendela kamarnya yang mengarah pada halaman rumahnya, dirinya bisa melihat jika mobil mewah itu sudah pergi dari rumahnya. "jangan pernah lagi berurusan dengan orang kaya dea, kalau tidak mau hidupmu lebih sengsara lag." Gumamnya pada diri sendiri. memang orang kaya tidak semuanya sama, tapi mendengar perkataan kenzo membuatnya sakit hati. dia memang gadis baik dan ceria, tapi jika hatinya sudah tersakiti dirinya memilih menjauh dan diam tanpa mau membahas apapun hanya untuk mendapat perhatian. Kenzo adalah orang pertama yang menyakiti hatinya, biasanya dia tidak akan ambil hati jika orang berkata kasar padanya. tapi tidak dengan kenzo yang telah melukai harga dirinya dengan menyebutnya sebagai w*************a dan murahan. "ya tuhan, jauhkan aku dari rasa benci dan dendam." dea menatap langit sore dengan perasaan gundah, dirinya tidak ingin menjadi gadis pendendam tapi hatinya yang merasakan sakit tidak terima jika orang merendahkan dirinya seenaknya. kenzo tidak tahu siapa dirinya sebenarnya, hanya karena bajunya yang robek pria itu berani mengatainya sebagai w*************a.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN