mencari pekerjaan baru

2038 Kata
"mama!!.." Kenzo membelalakan matanya melihat kedua orang tuanya berdiri diambang pintu dengan tatapan horor dan seperti ingin menelannya hidup-hidup. Kenzo mendorong bahu Dea hingga Dea mundur, padahal Kenzo lah yang mendekatinya. "Ma.. pa.. ini tidak seperti yang kalian lihat." Ucap Kenzo yang langsung bangkit berdiri disamping ranjang. Sedangkan Dea hanya terdiam dengan wajah shock sekaligus takut, karena melihat ada orang yang melihatnya dikamar berduaan. Sudah pasti akan menimbulkan fitnah dan Dea tahu itu. "Pa, sebaiknya kita pergi dari sini." Karina menatap putranya penuh dengan rasa kecewa. "Ma, percaya padaku ma. Aku tidak melakukan apapun padanya." Kenzo berdiri di hadapan ibunya yang hendak pergi. "Sebagai pria sejati, kamu harus bertanggung jawab." David menepuk pundak putranya dua kali, lalu meninggalkan kamar pribadi Kenzo. Dea menunduk dalam diam, dirinya tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa dirinya bisa berasa dikamar bersama seorang pria. Seingatnya dirinya tadi sedang berada dijalan menaiki sepedanya, dan sebelum itu dirinya ingat jika di tabrak sebuah mobil. Kenzo mengusap wajahnya kasar, kepalanya semakin berdenyut mendengar ucapan sang papa. "Kenapa kau hanya diam saja, katakan pada mereka jika aku tidak melakukan apapun padamu." Bentak Kenzo yang melihat Dea hanya diam sembari menunduk. Dea mengangkat wajahnya menatap Kenzo yang kesal bercampur frustasi. "Om, kenapa aku bisa disini?" Degg Kenzo menatap Dea tajam, "jika aku tidak menolongmu, mungkin kau sudah digilir banyak pria dipinggir jalan karena penampilanmu yang seperti ini." Deg Hati dea langsung mencelos mendengan ucapan Kenzo, matanya berkaca-kaca. Apakah nasibnya akan seperti yang dikatakan pria itu. "Sekarang pergilah, dan jangan pernah datang lagi ke kantorku. Karena disini tidak mempekerjakan anak dibawah umur sepertimu." Ucap Kenzo ketus, kemudian berlalu meninggalkan Dea. Tess Setetes air mata Dea jatuh, dirinya dipecat langsung oleh pemilik perusahaannya tempatnya bekerja. Jadi pria yang dia tolong itu pemilik perusahaan alias bos nya. Dea menurut wajahnya dengan kedua tangannya, dirinya menangis terisak. Jika dia dipecat, lalu akan mendapat uang dari mana, sedangkan ditempat lain gajinya hanya cukup untuk uang jajan saja. Dea bergegas bangun, ketika berdiri dirinya melihat jas yang masih melekat ditubuhnya. Tanpa pikir panjang, Dea langsung melepas jas itu dan melemparnya keatas ranjang. Meskipun harus menutupi bagian dadanya karena bahunya robek, setidaknya tidak ada barang milik pria yang tidak perasaan itu di tubuhnya. "Albert, jadilah pria yang bertanggung jawab. Kamu sudah meniduri gadis itu " ucap karina pada Kenzo yang menolak permintaan kedua orang tuanya. "CK, Yang benar saja aku menikahi bocah seperti dia, seribu bocah seperti dia pun aku tidak akan mau!" Deg.. Dea yang berdiri di ambang pintu mendengar ucapan Kenzo, Memangnya ada yang salah dengan gadis seperti dia. dia langsung melangkah pergi tanpa menyapa tiga orang yang masih berdebat. "loh nak mau kemana?" karina memanggil Dea ketika Gadis itu melintas cepat di depannya. Dea berhenti dan berbalik "Permisi tuan, nyonya." Dea sedikit menunduk memberi hormat. "Nak baju kamu.." belum sempat karina selesai berbicara, dea sudah pergi membuka pintu. "ah sial...!!" Kenzo yang melihat dea tidak memakai jas nya geram, dirinya langsung berdiri untuk mengejar dea. "Loh, dia itu kenapa pa?" Tanya karina, yang hanya mendapat gedikan bahu dari David. ***** "lepas." Dea menghempaskan tangan Kenzo yang mencekal tangannya ketika ingin memasuki lift. "Apa kamu ingin menjadi w*************a dengan pakaian seperti itu!" ucap Kenzo Ketus dengan nada marah. "Apa kamu berniat menggoda para laki-laki di kantor saya hah.." Kenzo meninggikan suaranya di depan wajah Dea. dia memejamkan matanya, tangannya masih sibuk menutupi bagian bahunya yang robek. meskipun kesal dan tidak suka, Entah mengapa Kenzo tidak rela melihat dea keluar dengan pakaian seperti itu, yang membuatnya geram. "Ken.." Panggil Randy ketika melihat Kenzo berteriak pada gadis yang ditolong tadi. Randy yang kebetulan ingin menemui Kenzo, tidak sengaja mendengar sebuah teriakan dan ternyata Kenzo bersama gadis tadi. "Kamu ingin menggoda pria disini kan! Nah lihat dia lihat." Kenzo menyingkirkan tangan Dea dan mendorong tubuhnya, membuat Dea menubruk Randi yang berdiri di depannya. "Goda dia dengan penampilanmu yang seperti itu." ucap Enzo tanpa perasaan. hati dea begitu sakit mendengar perkataan yang Kenzo ucapkan. "Ken.." Randy menatap Kenzo tidak percaya dengan apa yang diucapkannya, yang bisa menyakiti perasaan gadis di depannya. Randy melepas jas yang dipakai, dan memakaikan nya pada dea yang sudah menangis terisak. Kenzo mengusap wajahnya kasar, dirinya berlalu pergi dengan perasaan campur aduk. "sudah, jangan diambil hati perkataan Kenzo, aku antar kamu pulang." ucap Randy yang merasa kasihan melihat Dea. Randi mengajak dea keluar Lewat Pintu lift pribadi Kenzo, karena jika lewat depan pasti banyak orang yang melihat Dea. Brakk Kenzo membuka pintu ruangannya kasar. "Mama dan Papa pulang lah, Kenzo masih banyak pekerjaan." ucap Kenzo kepada kedua orang tuanya yang masih duduk di sofa, kenzo langsung menyibukkan diri dengan pekerjaannya di atas meja. David menatap istrinya dan mengangguk, Mereka berdiri. "Baiklah Kami pergi." ucap David menggandeng tangan istrinya, "tapi ingat, kamu adalah penerus adhijaya dan penerus adhijaya adalah orang yang bertanggung jawab." Setelah mengatakan itu david membawa istrinya keluar dari ruangan putranya. setelah melihat kedua orang tuanya pergi, Kenzo membanting keras benda yang ada di mejanya. "Sial...!!" Umpatnya dengan perasaan campur aduk, antara kesal, marah dan juga menyesal telah berbicara kasar pada gadis yang tidak tahu apa-apa. dirinya yang membawa Gadis itu kemari dalam keadaan pingsan, dan dirinya juga yang ikut tidur di samping gadis itu. Kenzo berulangkali mengusap wajahnya kasar. *** "Nama kamu siapa?" Tanya Randy. mereka berada di dalam mobil, mobil Kenzo yang Randi pakai. "Dara Tuan." ucap dea menunduk, dirinya tidak berani menatap wajah Randi. Randi tersenyum tipis, "tidak usah takut, aku bukan p*****l yang suka memakan gadis sepertimu." mendengar itu dea langsung mengangkat wajahnya. "tidak usah diambil hati ucapan Kenzo, dia memang seperti itu jika berbicara." dea hanya diam. "Lain kali, belajar lah yang benar. jangan malah bekerja di usia kamu yang masih belum cukup umur." Randy menatap lurus kedepan, "jika pun kamu bekerja, untuk apa kedua orang tuamu yang membiarkan anak remaja dibawah umur sepertimu harus bekerja mencari uang? Apa mereka tidak bisa memberimu uang?" tanya Randy melirik Dea sekilas. "Saya dari keluarga tidak mampu Tuan, karena itu saya harus bekerja untuk biaya sekolah Saya sendiri." ***** "Dea pulang." Dea melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah Gadis itu langsung masuk ke kamar tanpa melihat adanya Indri sang Bunda yang menyambutnya dan itu membuat dea bernafas lega. Dengan penampilan dea yang seperti ini pasti Bundanya akan marah dan khawatir. Jas yang dipinjamkan oleh Randi sudah dikembalikan, karena dia takut tidak bisa bertemu dengan pria itu dan tidak bisa mengembalikan jasnya kembali. mengingat itu dea menjadi sedih, dirinya baru bekerja dua minggu Sudah dipecat, dan hutang pada Pak bambang belum dikembalikan. "ya Tuhan." dia merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya, setelah mengganti pakaian yang robek tadi. "mau cari kerja kemana lagi aku?" dengan statusnya yang masih pelajar, dirinya pasti kesulitan untuk mencari pekerjaan yang gajinya lumayan. sedangkan dea butuh uang untuk membayar sekolahnya yang tidak sedikit, ditambah uang Pak Bambang yang dipinjamkan. "Aaaargh, Kepalaku pusing." Dea mengusap kasar rambutnya menggunakan tangan, dirinya tidak tahu harus mencari pekerjaan kemana lagi. Hari semakin sore dan gelap, Dea memilih untuk pergi ke dapur. Bunda nya saja jam segini belum pulang pasti belum ada makanan juga dan dia berniat untuk Mamasak. dea melihat ke dapur dan tidak ada apa-apa, hanya ada mie dan telur.membuatnya menghela nafas. "Bunda Maafkan Dea." ucapnya dengan hati pedih, kehidupannya tidak lagi seperti dulu Ketika sang ayah masih hidup. meskipun hanya seorang buruh bangunan, Tapi Ayah Dea mampu mencukupi kebutuhan mereka bahkan dia bisa makan enak walaupun seminggu hanya empat kali. dan sekarang ekonominya semakin sulit karena harus mencicil membayar hutang, kalau tidak pasti rumah ini akan disita dan dea tidak mau itu terjadi. "Bunda pulang." Indri masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi makan untuk meminum air. "Bunda.." Dea keluar dari dapur membawa dua mangkuk mie dan telur yang dimasak tadi untuk makan malam mereka. "sayang kamu masak apa?" tanya Indri setelah menaruh gelas sisa minumnya tadi. "Mie sama telur yang ada di dapur Bun." Ucap Dea tersenyum tipis. Indri yang melihatnya hatinya terasa perih. "Maafkan Bunda ya, Bunda belum belanja jadi tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak." Indri menatap Dea dengan penuh rasa kasihan. "Tidak apa Bunda, Ini juga sudah lebih dari cukup. Ayo kita makan bunda." Dea menyodorkan satu mangkuk mie kuah dengan telur yang dia masak tadi. "Terima kasih nak." Indri menerimanya dengan senyum, tapi hatinya terasa remuk. Indri pulang malam karena mencari pekerjaan tambahan Uangnya belum cukup terkumpul untuk membayar cicilan bulan ini akar dari itu dirinya memilih mencari uang tambahan agar cepat terkumpul untuk mencicil hutang yang mereka pinjam. Indri juga tidak ingin melihat putrinya banting tulang untuk membayar sekolahnya, tapi apa boleh buat jika Uangnya saja hanya cukup untuk membayar hutang setiap bulan dan makan sehari-hari itupun hanya seadanya. "Bagaimana sekolah dan pekerjaan kamu hari ini?" tanya Indri seperti biasa, setiap makan Indri pasti akan menanyakan kegiatan Dea. "sekolah Dea seperti biasa Bunda, hanya saja tadi ada acara di sekolah." ucap dea sambil menyuapkan mie kedalam mulutnya, "pekerjaan kamu bagaimana?" Tanya Indri lagi karena dea diam setelah menjawab kegiatan sekolahnya. "Sama dea masih menjadi tukang ngepel." ucapnya sambil menyengir. Indri hanya geleng kepala dan tersenyum mendengar jawaban dea. dea menatap sendu mie yang ada di mangkoknya, dirinya tidak mungkin mengatakan kalau dia Sudah dipecat dan dia akan bercerita Jika dia sudah memiliki pekerjaan baru. ***** teng teng teng.. bunyi bel sekolah semua siswa siswi mulai masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Dea yang baru saja datang langsung berlari masuk ke dalam kelas, dirinya tidak lagi memiliki sepeda karena sepedanya yang tertabrak mobil sudah tidak bisa diperbaiki lagi. tadi dia sengaja Kembali ke tempat dimana dirinya mengalami kecelakaan, dan ternyata sepedanya tergeletak di pinggir jalan seperti barang rongsokan yang tidak berguna. Dea membawanya ke bengkel dan bengkel sepeda pun tidak sanggup memperbaikinya, dan malah disuruh menjualnya karena sudah seperti barang rongsok. Dea juga beralasan pada Bunda nya jika sepedanya sedang diperbaiki di bengkel, Karena bocor dan Indri untungnya percaya. "Ya ampun de, wajah kamu berkeringat." Nia memberikan tisu wajah miliknya pada Dea yang berkeringat. "kamu habis ikut lomba lari?" tanya Nia saat melihat nafas Dea ngos-ngosan. "Hah, Mana ada aku ikut lomba lari, aku lari dari rumah ke sekolah." jawab Dea dengan mengibaskan tangannya di wajahnya yang terasa gerah. "Lari? Sepeda Kamu ke mana?" tanya nia lagi membantu mengipasi wajah Dea dengan buku miliknya. "sudah jadi duit ini dua ratus lima puluh ribu." dengan menunjukkan uang lebaran merah di kantong bajunya. "Kenapa kamu jual de, itu kan kendaraan kamu satu-satunya." Nia menatap dea tidak percaya. "Ceritanya panjang nia, nanti deh aku ceritain. sekarang itu ada Bu siska sudah masuk." Nia hanya diam dan menunggu dea berbicara nanti ketika beristirahat. . . "Jadi kamu dipecat dari perusahaan tempat kamu kerja?" ucap nia kaget, dirinya merasa kasihan melihat sahabatnya. "CK, apes aku kenapa bisa bertemu pria itu dan parahnya lagi dia adalah Bos di kantor itu." Dea mengusap wajahnya kasar, dan menyedot minuman seharga seribuan itu. keduanya duduk di bangku taman sekolah yang cukup sejuk dan Rindang, Dea sengaja Duduk disana Dan nia mengikuti dea karena ingin mendengar cerita sahabatnya itu. "aku mau cari kerja lagi Nia, tapi tidak tahu mau cari kerja ke mana." ucap dia dengan wajah putus asa. Dimana ada pekerjaan yang menerima anak pelajar seperti dirinya. "nanti aku bantu cari deh, sepertinya kemarin aku melihat ada lowongan pekerjaan di sebuah Cafe." ucap Nia yang mengingat cafe yang kemarin dia datangi sedang mencari pekerja. "Serius nia?" Tanya dea dengan wajah berbinar. "Iya nanti kita coba tanya ke sana siapa tahu bisa menerima kamu." Nia tersenyum senang melihat wajah dea kembali ceria. "Aaaa, Terima kasih ya nia sayang." Dea langsung memeluk sahabatnya itu dengan perasaan senang. semoga saja dirinya bisa mendapatkan pekerjaan kembali. "sama-sama, kita kan sahabat." nia membalas pelukan Dea. Nia memang dari keluarga yang lumayan berkecukupan, dan nia pun sekolah karena beasiswa di sekolah itu, dan dea beruntung memiliki sahabat seperti Nia. Meskipun tidak menolongnya dengan finansial tapi dia adalah sahabatnya yang paling mengerti dirinya. jika berusaha pasti akan ada jalan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, begitupun dengan Dara Eliza Amelia yang rela melakukan pekerjaan apapun demi menyelesaikan sekolahnya. dan dara atau dea itu memiliki semangat yang tinggi demi mencapai apa yang dia inginkan. Tidak ada salahnya, jika dia mencoba hal baru untuk kembali memulai pekerjaannya demi menghasilkan uang yang halal dan dia tidak akan pernah malu untuk melakukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN