"ran, kau tahu kalau ada pekerja dikantor yang masih pelajar?" Tanya Kenzo pada Randi yang fokus menyetir.
"Tidak, kenapa juga mempekerjakan anak dibawah umur, mau dicomot sama kak feto kau." Randi melirik Kenzo.
"CK, bukan itu dodol. Aku ingat kalau dikantor ada seorang cleaning servis wanita dan dia masih sekolah, aku baru saja bertemu dengannya." Tutur Kenzo yang ingat akan gadis kecil tadi.
"Wah parah, siapa yang berani memasukan dia. KTP saja pasti belum punya tapi sudah bisa kerja, tidak benar itu Ken, nanti aku akan urus." Ucap Randi dengan heran, dikantor melarang menerima karyawan yang dibawah umur. Apalagi ada undang undang yang melarang anak dibawah delapan belas tahun untuk bekerja, dan berita yang Kenzo sampaikan cukup membuat Randi merasa itu harus segera diselesaikan jika tidak ingin ada yang melapor.
"Ya, sebaiknya segera kau urus." Ucap Kenzo yang menatap lurus kedepan.
.
.
.
Dea kembali mengayuh sepedanya menuju tempatnya bekerja, kali ini dirinya datang sedikit terlambat karena kejadian bajunya yang robek tadi.
Bukannya mengganti bajunya lebih dulu, Dea malah masih mengenakan jas yang dia pakai tadi untuk menutupi bajunya yang robek.
Selain karena tidak ada baju untuknya ganti, Dea juga pasti akan memakan waktu lebih lama jika dirinya pulang dahulu untuk mengganti bajunya.
Biarkan saja dia memakai jas kebesaran milik om om yang menyebalkan, itu dari pada harus memperlihatkan bagian tubuhnya yang sudah pasti akan mengundang maksiat.
"Aaaaaaaakkh.."
Braaak
Dea yang telat mengerem sepeda karena ada mobil yang melaju dari arah samping pertigaan membuatnya terkejut.
Sepeda yang dea naiki sudah tidak karuan bentuknya, sedangkan Dea jatuh tergeletak dipinggiran jalan tak sadarkan diri.
"Waduh bos, sepertinya aku menabrak orang." Ucap seseorang yang sedang duduk dibalik kursi kemudi.
Pria yang diajak bicara segera keluar karena dia seperti mengenal orang yang baru saja tertabrak itu.
"Astaga Randi, kenapa ceroboh begini." Ucap Kenzo ketika melihat gadis kecil yang memakai jas nya pingsan.
"Loh ken, inikan jas yang kamu-"
"CK, cepat bawa dia." Ucap Kenzo yang menyuruh Randi untuk menggendong Dea kedalam mobil.
Randi menaruh Dea dikursi penumpang belakang, dan mereka kembali duduk di posisi seperti tadi.
"Lagian mau nyebrang tidak lihat lihat, untung sepi. Kalau ramai habis sama masa." Ucap Randi yang sedikit kesal. Sedangkan Kenzo hanya diam saja.
"Mau dibawa kemana itu cewek bos?" Tanya Randi melirik kearah Kenzo yang tetap anteng disampingnya.
"Terserah kau saja, yang jelas antar aku kekantor lebih dulu." Ucap Kenzo pada Randi, dirinya melirik Dea yang masih memejamkan mata dari kaca kecil didepan.
Jika dilihat-lihat wajah gadis kecil itu manis, bibir kecil berwarna merah cherry, hidung kecil yang mancung, serta bulu mata lentik. Itupun dari jarak yang sedikit jauh dan secara tidak langsung.
"Cantik." Bisiknya dalam hati, mengakui kecantikan yang Dea miliki.
Setelah sampai dibasement kantor, Kenzo segera keluar lebih dulu. Ia sengaja menyuruh Randi untuk lewat basement pribadinya yang langsung mengarah pada lift.
"Bos, bagaimana dengan gadis itu?" Tanya Randi dengan menggaruk kepalanya.
Melihat keadaan gadis itu sepertinya tidak ada luka yang serius, mungkin hanya shock dan membuatnya pingsan.
Kenzo menghela nafas, "Bawa saja ke ruanganku." Putus Kenzo pada akhirnya.
Randi membopong Dea yang masih pingsan, dirinya tidak habis pikir kenapa malah dibawa keruangan Kenzo. Padahal bisa menyuruhnya membawa kerumah sakit atau ke UKS kantor.
Sebenarnya Randi hanya berbasa basi bertanya, dirinya sangat penasaran kenapa jas Kenzo bisa dipakai oleh gadis yang pingsan ini.
"Kau letakkan saja dia dikamar pribadiku." Ucap kenzo lagi ketika sampai diruangannya. meskipun ada karyawannya yang melihat, namun mereka tidak akan berkomentar. Karena mereka tahu apa akibatnya jika mereka ikut campur.
Randi pun menurut, dirinya membawa Dea masuk kedalam kamar pribadi kenzo. Setelah itu dia keluar dan melihat jika Kenzo sudah sibuk dengan pekerjaannya.
"Apa dia akan baik baik saja? Apa perlu aku panggilkan dokter?" Tanya Randi dengan beruntun membuat Kenzo menatapnya tajam.
"Bisakah kau segera pergi." Ucap Kenzo menatap kesal Randi.
"Loh, kok sensi bos." Randi pun dengan segera berbalik dan meninggalkan bosbsekaligus sahabatnya itu,
'Jangan bilang dia mulai naksir sama bocil itu, wah aku akan segera mendapat mobil baru.' gumam Randi dalam hati kegirangan.
Kenzo menyandarkan punggungnya disandaran kursi kerjanya, entah kenapa kepalanya terasa pening setelah menyelesaikan pekerjaannya. Padahal hari masih masih menunjukkan pukul tiga sore, tidak biasanya kepalanya terasa berat seperti ini.
Karen merasa tidak sanggup lagi, Kenzo memilih beranjak dari kursi kebesarannya menuju kamar pribadinya.
Ceklek
Kenzo membuka pintu kamar pribadinya, dan di melihat gadis kecil itu masih memejamkan mata belum sadar. Kenzo berjalan mendekati ranjang lalu duduk disamping Dea, kancing jas yang Dea kenakan sudah terlepas akibat diriny jatuh tadi. Membuat tubuh bagiam depan dea terbuka.
"CK, bagaimana aku bisa lupa kalau ada dia disini." Kenzo mengusap wajahnya kasar, dirinya yang ingin istirahat tidak tahu akan tidur dimana. Mengingat gadis didepannya ini sedang pingsan.
Kalau dirinya tidur disofa, pastilah tidak akan nyaman karena postur tubuhnya lebih panjang dari sofa itu sendiri.
Kenzo menatap wajah Dea lekat, wajah yang sempat dia pandang saat dimobil tadi. Dan kini bisa dirinya tatal dalam jarak yang begitu dekat.
"Cantik... Dan juga imut." Ucap Kenzo lirih dengan mata yang sayu karena merasakan kepalanya semakin berat. "Ternyata ada wanita yang sama cantiknya denganmu Stev." Stev yang dimaksud Kenzo adalah Stevani Bela, wanita yang pernah ada dihatinya.
Tanpa sadar Kenzo merebahkan tubuhnya disamping Dea, dirinya sudah tidak tahan merasakan kepalanya yang semakin berat.
Kenzo pun menarik Dea kedalam dekapannya, nyaman. Itulah yang Kenzo rasakan meskipun baru pertama kali dengan orang asing tapi dirinya merasa nyaman.
Satu jam berlalu tetapi dua orang yang tidak saling mengenal itu masih terlelap dengan nyenyak. Dea yang merasa nyaman mendapat sebuah guling hangat pun semakin masuk kedalam dekapan hangat Kenzo.
Begitupun Kenzo yang merasa nyaman memeluk tubuh Dea.
"Ran, dimana Albert?" Tanya Karina yang baru saja masuk keruangan putranya, namun tidak melihat sang putra diruangannya.
"Tadi ada didalam Tante." Jawab Randi yang memang tidak melihat Kenzo keluar dari ruangannya.
"Mungkin dia sedang ke toilet ma." David suami karina sekaligus papa Kenzo yang duduk disofa.
Merek baru saja menghadiri acara amal yang tidak jauh dari kantor sang putra, dan mereka sekalian mampir untuk melihat putra mereka yang sudah lama tidak pulang kerumah besar.
"Ooh.. mungkin saja." Sahut Karina lalu ikut duduk disofa samping suaminya. Randi pun menyuruh ob untuk membuatkan minum untuk tamu penting mereka.
Randi pun kembali ke ruangannya, lalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Kenapa Al lama sekali pa, sudah lima belas menit tidak keluar keluar." Ucap Karina yang kesal karena tak kunjung muncul juga.
"Coba mama cek dikamar pribadinya, mungkin Albert sedang tidur." Jawab David sambil membuka majalah bisnis yang ada diatas meja kerja putranya.
Karina langsung berdiri untuk melihat apakah putranya ada dikamar pribadinya atau tidak.
Ceklek..
Karina membuka pintu, dan langsung melongokkan kepalanya. Matanya membulat sempurna melihat putranya yang sedang tidur dengan memeluk seorang wanita.
"Astagfirullah Albert...!!" Karina memekik dengan wajah shock bercampur tak percaya.
Mendengar teriakan istrinya, David langsung menghampiri istrinya.
"Ada apa ma?" Tanya David ketika sudah berdiri disamping Karina, lalu pandangannya beralih kearah ranjang didalam sana.
"Ya tuhan, pemandangan macam apa ini." David mengusap wajahnya kasar, melihat dua insan yang tertidur sambil berpelukan. Apalagi gadis itu masih berseragam SMA.
"Pa... Anak papa itu." Ucap Karina dengan menggelengkan kepalanya.
"Pantas saja kIta jodohkan dengan wanita yang seumuran dengannya dia tidak mau, ternyata seleranya daun muda bahkan masih bocah." Ucap David yang tidak habis pikir dengan putranya.
"Cerminan kamu pa, dulu kamu juga sukanya daun muda yang masih pakai seragam SMA." Sindir Karina yang mengingatkan masa lalu mereka. Dimana dirinya mencintai pria dewasa yang di panggil dengan sebutan om.
David hanya terkekeh mengingat hal itu, "buah tidak jauh dari pohonnya , dan sekarang putraku mengikuti jejak papanya." Ucap David sambil tersenyum bangga, membuat Karina memukul lengannya.
"Biarkan saja mereka, kita tunggu sampai mereka bangun, lalu kita nikahkan mereka." David merangkul pinggang istrinya untuk kembali duduk disofa, mereka sengaja tidak menutup pintunya.
Hampir satu jam, Dea lebih dulu membuka matanya. Nyawanya belum terkumpul untuk mengingat apa yang terjadi dengan dirinya.
"Weehh.." tubuhnya menggeliat, namun terasa berat.
"Duh, kok berat ya seperti beban hidupku, mau gerak saja susah." Gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Karena tubuh yang dia peluk bergerak, Kenzo pun merasa terusik.
Dea menunduk melihat apa yang sebenarnya menimpanya, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat sebuah tangan kekar sedang memeluknya.
"Aaaaaaaakkh." Dea berteriak sekuat tenaga, membuat Kenzo langsung membuka kedua matanya lebar.
"Apa sih, berisik sekali." Ucapnya ketus dengan kepala yang masih pusing, apalagi mendengar suara teriakan Dea membuat kepalanya semakin sakit.
"Om, om ngapain saya?" Dea langsung menyilang kan kedua tangannya didada. Wajahnya begitu shock bercampur takut, ketika bangun dirinya berada diatas ranjang dengan seorang pria.
"CK, ngapain kamu." Kenzo menatap Dea dari atas sampai bawah dan tatapannya terhenti dibibir Dea yang sedikit terbuka karena nafasnya yang tidak teratur.
"Memangnya kamu mau saya apakan?" Jawab Kenzo yang malah mendekatkan wajahnya ke wajah Dea.
"Om..." Dea melotot menatap waspada, dirinya semakin kencang menyilangkan tangannya didada.
Matanya terpejam erat, bibirnya komat kamit ketika melihat wajah Kenzo semakin mendekat kearahnya. "Om, jangan macam-ma.."
"KENZO ALBERTO ADHIJAYA..!" Suara keras yang sangat familiar, membuat Kenzo langsung membulatkan matanya dan menoleh ke belakang.
"Mama...?"