kunjungan

2153 Kata
Kenzo memasuki gedung tinggi dengan langkah lebarnya dan tatapan datar, tatapan dinginnya tak terlihat karena tertutup kacamata hitam yang ia kenakan. Hari ini dirinya akan bertemu client dan Kenzo memilih ke kantor lebih dulu sebelum pertemuan yayasan sekolah yang dia donasikan. "Ran, keruangan ku." Kenzo membuka pintu ruangan asistennya yaitu Randi, membuat Randi terkejut. "Kau, bisa tidak sih ketuk pintu dulu. Membuatku jantungan saja." Randi mengusap dadanya karena merasa terkejut. Kenzo tidak menghiraukan ucapan Randi ia malah langsung pergi menuju ke ruangannya. "Resiko punya bos kulkas seribu pintu." Randi menggerutu kesal, karena ucapannya tidak di gubris sama sekali oleh Kenzo. "Mana berkas yang harus aku pelajari?" Kenzo langsung memberondong pertanyaan ketika Randi baru saja membuka pintu. "CK, kau ini menyebalkan sekali, kenapa tidak bilang sejak tadi kalau kau minta berkas yang akan kau pelajari." Randi yang kesal malah menatap tajam kearah Kenzo. "Kau berani padaku!" "Hais sudahlah. kalau kau bukan bos ku, habis kau aku buat." Randi pun keluar untuk mengambil berkas yang di minta Kenzo. Kenzo dan Randi sudah berteman sejak SMP, mereka bertemu disekolah yang sama dan kemudian menjadi sahabat. Kenzo juga tidak tahu jika Randi menjadi asistennya, karena Randi masuk ke kantor Kenzo dengan mengikuti tes dan interview seperti karyawan yang lainnya. memiliki asisten yang notabenenya adalah sahabatnya sendiri itu lebih baik, mereka bisa saling bertukar pikiran dalam urusan pekerjaan ataupun masalah yang mereka hadapi, contohnya Kenzo ketika memiliki masalah dengan percintaannya maka Randi lah orang yang mengetahui perasaan yang Kenzo rasakan. Randi yang selalu memberi support pada Kenzo ketika pria itu kehilangan arah saat Stevani bela damian menolak pernyataan cintanya yang sudah tumbuh sejak remaja. Tak lama Randi kembali masuk ke ruangan Kenzo. "Ini berkas yang harus kau pelajari, satu jam lagi kita ada pertemuan." Ucap Randi sembari memberikan berkas yang diminta Kenzo tadi. "Hmm, nanti kau temani aku ke SMA xx." Ucap Kenzo sembari membuka berkas yang baru saja di terimanya. "Kenapa harus denganku? Biasanya kau sendiri." Randi duduk dikursi depan meja kerja Kenzo. Kenzo melirik Randi sekilas "siapa tahu kau akan bertemu jodohmu di sana." Lalu kembali sibuk dengan berkasnya. "CK, sialan kau." Randi melempar bolpoin yang berada didepannya, dengan sigap Kenzo menangkapnya. "Aku sumpahi kau yang akan berjodoh dengan bochil." Randi mendengus sebal. Kenzo hanya menyeringai, "mana mungkin aku menikah dengan bocil, itu bukan tipeku." Jawab Kenzo dengan sinisnya. "Oke, kita lihat saja nanti. Kalau kau terbukti menikahi gadis dibawah umur, kau harus memberiku mobil sport keluaran terbaru." Ucap Randi penuh dengan keyakinan. "Lalu bagaimana kalau ucapanku yang terbukti?" Tanya Kenzo dengan alis yang terangkat satu. "Kau boleh ambil apartemenku yang kemarin baru saja aku lunasi." "Oke, deal." Sahut Kenzo dengan seringai tipis, sedangkan Randi hanya tersenyum smirk. . . . "Nia, hari ini ada acara apa sih?" Tanya dea yang baru saja sampai disekolah. Halaman sekolah nampak sibuk dengan bedirinya panggung, sepertinya akan ada acara penting. Nia menatap kearah yang Dea tunjukkan. "Oh, aku juga tidak tahu de." Jawab Nia sambil mengangkat kedua bahunya. "Yah, aku kira kamu tahu." Mereka berdua berjalan menuju ke kelas, namun banyak siswa-siswi yang malah bersantai dan mengobrol didekat panggung. "Kalau dilihat kayaknya akan seperti tahun lalu, pemberian penghargaan atau beasiswa pada murid yang berprestasi. Tapi kan ini belum kenaikan kelas ataupun kelulusan." Pikir Nia yang memang belum waktunya memberikan penghargaan ataupun beasiswa untuk murid yang berprestasi. "Terus ada acara apa dong?" Tanya dea lagi yang hanya mendapat gelengan kepala dari Nia. "Waktu kita naik kelas sebelas kemarin sih acara penghargaan dan pemberian beasiswa juga seperti ini, tapi kamu tidak ada waktu itu." Jelas Nia yang mengingat beberapa bulan lalu dirinya menjadi salah satu siswi berprestasi dan mendapat beasiswa. "Ohh, sayang sekali waktu itu aku tidak bisa ikut. Pasti senang yang mendapat beasiswa itu, tidak perlu lagi memikirkan SPP setiap bulannya." Ucap Dea dengan senyum. Dirinya memang bukan siswi yang pintar dan berprestasi, sekolah saja dirinya hanya mendapat ranking di tengah tengah dari jumlah murid di kelasnya. "Tidak juga, kalau mendapat beasiswa kita harus belajar ekstra dan sungguh sungguh. Karena itu kita bisa mempertahankan beasiswa yang kita dapat." Ucap Nia yang merasakan jalur beasiswa. "Tapi tetap beruntung, karena kamu murid yang pintar." Dea merangkul bahu Nia. Nia hanya tersenyum, Nia itu memang pintar. Meskipun Nia adalah tipe pendiam dengan orang lain, tapi dengan dirinya Nia akan menjadi sangat cerewet. Setelah jam pelajaran kedua selesai, mereka berkumpul dilapangan sekolah. Mereka semua sangat antusias mengikuti acara yang diselenggarakan di sekolah. Karena mereka ingin melihat donatur tetap dan terbesar yang menyumbangkan dana untuk sekolah mereka. Bagi siswa-siswi yang sudah tingkat dua dan tiga, mereka pasti tahu siapa tamu yang akan hadir, kecuali Dea yang memang waktu itu tidak masuk jadi dirinya tidak tahu. "Gue udah cantik belum? Duuuh om ganteng pasti gak akan lirik gue kalau gue gak perfect." Sasha memoleskan bedak dan lipstik yang selalu dia bawa. "Lo emng cocok disebut primadona sekolah sha." Ucap sela teman Sasha. Dea yang mendengar obrolan dua wanita julid dan suka semena mena itu hanya memutar kedua bola matanya malas. "Primadona, cih." Dea berdecih "primadona tepung?" Ejek Dea ketika dirinya melewati Sasha dan sela. Dirinya tertawa mengejek, ketika melihat wajah Nesya yang katanya primadona sekolah itu tebal dengan bedak. Buta sekali ya yang melihat. Sasha yang mendengar ucapan Dea langsung menarik baju Dea dibagian lengan. Sreeekk.. Dengan sengaja Sasha membuat seragam Dea robek. Dea membulatkan kedua matanya, "Lo tu apa-apaan sih, gila ya lo!" Tangan Sasha yang masih menyentuhnya dia tepis dengan kasar. "Ups, sorry sengaja." ucap Sasha tersenyum sinis. Dea mengepalkan kedua tangannya, melihat wajah Sasha yang tidak merasa bersalah sama sekali. "Yuk sel kita cabut." Sasha berjalan dengan angkuh meninggalkan Dea. dia menatap punggung sasha tajam, kalau saja dirinya tidak berjanji dengan bundanya untuk tidak melakukan kekerasan dan hal tercela disekolah. Tentu saja Dea akan membuat Sasha menangis, tetapi Dea tidak ingin bundanya dipanggil kesekolah karena dirinya membuat ulah. Karena bagi dea sekolahnya sekarang adalah yang terpenting. Dea yang melihat bajunya robek, menyentuhnya dengan menghela napas kasar. "Apes banget aku hari ini, mana robeknya lebar banget lagi." jika dirinya keluar dan ikut bergabung dengan teman-teman sekolahnya, dia merasa malu apa lagi yang robek sedikit memperlihatkan bagian dadanya membuat dia bingung harus ditutupi dengan apa. dirinya juga lupa tidak membawa jaket ataupun sweater karena hari ini cuacanya cerah. dia duduk didekat taman yang dekat dengan toilet, dirinya tidak berani untuk melangkah ke kerumunan siswa-siswi yang sedang berkumpul di lapangan sekolah. meskipun dirinya bisa menyelinap, tapi dia tidak bisa menutupi bajunya yang robek karena tas yang dia bawa dititipkan pada Nia. dan mungkin sekarang nia sedang menunggunya karena dirinya tidak kembali kembali. dia bisa mendengar suara riuh para siswa yang bersorak, entah apa yang mereka sorakkan tapi lebih jelas suara jeritan para siswi sekolah. "CK, kenapa aku bodoh begini sih" dea menendang batu kecil di depannya dengan kaki yang beralaskan sepatu. suara tepuk tangan riuh kembali terdengar ketika telinganya mendengar seseorang sedang berpidato, karena menggunakan pengeras suara jadi dia bisa mendengarnya tanpa harus melihat. Tiga puluh menit sudah dea duduk di sana, dan sama sekali tidak ada yang lewat. adapun yang lewat dea tidak mengenal mereka. dia berharap nia mencarinya dan menjadi dewi penolong untuknya. "terima kasih banyak untuk bapak kenzo yang terhormat, kami sebagai guru dan kepala sekolah beserta staf lainnya mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan bapak yang mau membantu sekolah kami untuk lebih maju lagi. Dan pasti anak anak kami yang berprestasi akan sangat senang dan lebih giat lagi belajar." Ucap kepala sekolah kepada Kenzo, tamu penting donatur terbesar sekolah itu. Kenzo hanya tersenyum tipis, dirinya mengedarkan pandangannya dengan masih menggunakan kacamata hitam dan Kenzo masih melihat seorang gadis yang sejak dirinya naik panggung masih duduk di sana. Kenzo menjadi penasaran Apakah Gadis itu tidak menyukai acara penting di sekolah ini. setelah sambutan dan ucapan terima kasih turun dari atas panggung. "aku ke toilet sebentar" ucap kenzo pada randi yang berdiri dibawah menunggunya. Randy hanya mengangguk sebagai jawaban panggung yang di naiki Kenzo memang tinggi, apalagi postur tubuhnya juga tinggi. Oleh karena itu kenzo bisa melihat ke semua penjuru arah termasuk dimana seorang siswi duduk sendirian. dea yang kesal karena menunggu Nia tidak datang dan perutnya sudah lapar. akhirnya dia memilih untuk berdiri, dirinya berniat untuk mengendap-endap agar tidak ada yang melihat jika bajunya robek. "Apa kamu tidak bisa menghargai acara di sekolah ini?" Degg.. dia yang sudah berdiri berhenti mematung, tubuhnya masih membelakangi orang yang berbicara dengannya. "apa kamu tidak punya sopan santun pada orang yang lebih tua." suara datar dan ketus kembali terdengar. Kenzo kesal karena gadis didepannya hanya diam mematung tanpa menjawab pertanyaannya ataupun berbalik badan. Karena kesal merasa diabaikan, Kenzo maju dan membalik tubuh gadis itu dengan menarik bahunya. "Aaaaaaaaaaaaakkh." Dea menjerit dengan tangan menutup dadanya. Glekk... Kenzo susah payah menelan ludahnya melihat pemandangan didepannya. "Om apa apaan sih?" Dea berteriak dengan masih menunduk bagian dadanya yang terekspose. meskipun sedikit, tapi mampu membuat orang yang melihatnya menelan ludah kasar. mendengar teriakan Dea membuat Kenzo sadar, dirinya melihat sekeliling untungnya masih sepi. Kenzo dengan cepat melepaskan jas yang ia kenakan, lalu memakaikannya pada Dea. "Pakailah, jika kamu tidak ingin aku makan disini." Ucap Kenzo sambil memasangkan jasnya ke tubuh Dea. bukan hanya itu, Kenzo Bahkan tanpa sadar juga mengancingkan jasnya. Dirinya seperti tidak rela jika ada yang melihat kulit putih gadis didepannya itu. dea hanya diam mematung, dirinya menghirup aroma maskulin parfum yang Kenzo pakai. sungguh wanginya membuat dia sangat menyukainya. Kenzo menatap wajah Dea. "Kenapa wajahmu selalu muncul dihadapan saya?" Tanya Kenzo setelah selesai memakaikan jasnya, langsung mundur satu langkah. Kenzo ingat jelas wajah gadis didepannya ini. pertama dikantornya saat dirinya terpeleset, kedua saat ditoko perlengkapan hewan, dan sekarang disekolah yang dia sumbang dana. Dea menatap pria didepannya dengan kening mengkerut. "Bukannya om ya, yang selalu mendatangi saya." Jawab Dea dengan wajah biasa saja. Kenzo malah terkekeh, "untuk apa saya mendatang bocil jelek seperti kamu? kamu kira saya sugar daddy kamu." Ucap Kenzo dengan menggelengkan kepalanya, lalu berbalik untuk meninggalkan Dea. "Lain kali, pakai baju yang benar jika kamu tidak ingin diterkam buaya." Kenzo tersenyum devil, sebelum benar benar meninggalkan Dea. "buaya? di sini ada buaya?" dea yang polos pun ketakutan, kemudian melihat ke sekeliling takut ada buaya. "bunda... Dea tidak mau dimakan buaya." dea berlari dengan berteriak, dirinya berlari sampai melewati kenzo. Dea pun tidak perduli, yang penting dirinya pergi dari tempat buaya. " CK, dasar bocil." Kenzo hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Dea yang berlari kencang dan berteriak buaya. Tanpa sadar membuat Kenzo tersenyum tipis. "Tunggu, dia masih sekolah?" Gumam Kenzo yang baru mengingat Gadis yang memakai seragam cleaning servis dikantornya ternyata masih sekolah. Karena kantor Kenzo tidak ada yang boleh menerima karyawan yang berstatus masih pelajar, lalu bagaimana Gadis itu bisa bekerja dikantornya. . . . "Astaga ya ampun Dea, kamu dari mana saja?" Nia yang melihat Dea berlari dengan memakai jas kebesaran pun bingung. "Hosh.. hosh.." Dea membungkuk dengan memegangi lututnya, deru nafasnya terdengar ngos-ngosan. "A-ada buaya Nia." Adu Dea dengan nafas tersenggal. "Atur dulu nafas kamu, ngomong yang jelas" Nia memberi Dea botol minum yang ia bawa. Dengan segera Dea menenggaknya hingga tandas, karena airnya tinggal setengah. Setelah lebih tenang barulah Dea meng hela nafas lelah. "Aku nungguin kamu Nia, tapi kamu tidak datang-datang." Ucap Dea pada Nia yang hanya mengernyitkan keningnya. "Kan katanya kamu mau ketoilet, seharusnya aku yang nungguin kamu." Nia menatap Dea heran. "Lagian kamu pakai jas siapa ini? Kenapa pakai jas? Tanya nia dengan menyentuh jas yang Dea pakai. Dea menunduk melihat jas yang dia pakai, ingatannya kembali pada kejadian beberapa waktu lalu dengan om-om yang menyebalkan. "Tadi aku ketemu sasha-" Dea menceritakan kejadian bersama Sasha tadi, dan kenapa dirinya bisa memakai jas seperti ini. Tapi Dea tidak tahu siapa om om yang menolongnya. "Duh, pasti om-om itu ganteng ya de, kayak pak Kenzo tadi." Ucap Nia yang mengingat pria dewas dan matang yang berdiri diatas panggung tadi. Dea memicingkan mata, "Jangan menghalu ya Nia, jangan suka doyan sama pria dewasa apalagi om-om duuuhh." dea bergidik membayangkan apa yang dia katakan Nia, tapi jika om-om seperti yang dia lihat tadi sih sepertinya bisa dibicarakan. "Iiih, kamu belum tahu pak Kenzo tadi Seperti apa. dia adalah pria idaman semua wanita." Plaaaakk.. Dea menggeplak bahu Nia, "idaman kamu aja kali." Dea langsung pergi setelah berucap, Nia yang kesal pun mengejar dea. . . . "lah, dari mana kau? Kenapa hanya tinggal memakai kemeja saja? ucap Randy yang seperti emak-emak kepo. "Ayo cepat kita kembali, mau jadi p*****l kau disini." Ucap kenzo melirik Randi sinis. masalahnya Randi berdiri di samping mobil dan bersandar dengan kacamata hitam dan bermain ponsel. Dan randy tidak sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian para siswi sekolah itu. "Ya ampun Astaga, aku sudah seperti ayam yang dikasih tepung, banyak bangsa." Ucap Randy malah cengengesan dan tebar pesona. "apartemenmu untukku." Ucap Kenzo ketika melihat tingkat absurd Randy. "eh tidak bisa, aku tidak menikahi Bocil" jawab randy yang langsung masuk ke dalam mobil. mobil sport Kenzo meninggalkan area sekolah, dan meninggalkan kekecewaan para siswi yang masih ingin melihat wajah tampan mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN