gadis itu

1524 Kata
Dea keluar dari gedung adhijaya group dengan wajah yang ditekuk. jika biasanya gadis itu selalu ceria, kini wajah gadis itu nampak kesal. "Sial banget sih aku hari ini." Gerutunya dengan mengambil sepeda miliknya yang berada diparkiran khusus motor. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Dea baru saja pulang bekerja. "Coba saja kali tidak dikantor, pasti sudah aku getok kepalanya itu di om om gila." Lagi lagi Dea menggerutu dengan kesal. Pria yang dia sebut om om ternyata melakukan hal yang begitu mengerikan bagi Dea. Bayangkan saja gadis sepolos dea harus menjadi tukang pijit untuk seorang om om yang tidak dia kenal. Apalagi pria itu sampai membuka bajunya, dan terpampang jelas d**a bidang dan juga roti sobek pria itu. Hal itu tentu membuat mata suci Dea ternodai. Meskipun masih polos tapi Dea juga tahu, mana pemandangan yang menyegarkan dan membuat naluri perempuannya bekerja dengan baik. Selain sial dan apes, Dea juga mendapat nikmat Tuhan yang begitu indah dihadapannya, pria tampan itu sudah matang dengan tubuh yang begitu sangat pelukable. Uuuhh membuat Dea gemas saja. Dea mengayuh sepedanya untuk pulang kerumah, tak sengaja Dea melihat kucing yang sepertinya sedang terluka. "Astaga, kasihan sekali kucingnya." Dea pun turun dari sepedanya kemudian mendekati kucing yang tidak bisa berjalan karena kakinya yang terluka. Lalu dia mencari sapu tangan miliknya, setelah itu ia lilitkan di kaki kucing yang sedang terluka itu. "Puss puss.. kasihan sekali sih kamu." Meong.. Dea mengangkat kucing berwarna Oren itu untuk pindah dari sana. Meong.. Meong.. Kucing itu menduselkan kepalanya ditangan Dea, seperti sedang mengucapkan terima kasih. "Aaaa imutnya... Lain kali hati hati ya." Dea seperti berbicara dengan temannya sendiri, gadis itu berbicara dan sesekali tersenyum dengan kucing itu. "Baiklah, aku mau pulang. Kamu hati hati ya." Meong.. Meong.. Dea melepas kucing itu dengan dirinya berjongkok dipinggir jalan. bersamaan dengan itu, mobil mewah seseorang lewat didepan gadis itu. Pria yang sedang mengemudi itu melihat kearah Dea, dia melihat gadis itu tersenyum sangat manis dan melambaikan tangan pada si kucing saat dirinya akan menaiki sepedanya kembali. "Dia.... Gadis itu?" .. .. Kenzo memasuki unit apartemen mewahnya yang berada di lantai sepuluh, dimana dirinya memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen setelah dirinya kembali dari Amerika. Meskipun mendapat amarah dari sang ibu karena dirinya lebih memilih tinggal sendiri di apartemen, tapi tidak membuat Kenzo mengurungkan niatnya. Alasannya karena dirinya ingin hidup mandiri, apalagi jika dirinya tinggal dirumah besar orang tuanya, pastilah akan selalu ditanya kapan akan menikah?. Kenzo kerap kali kesal dengan pertanyaan yang itu itu saja, dia tidak pernah menanggapi ucapan sang ibu. Sejak cintanya ditolak oleh Stevani bela damian, sejak saat itulah Kenzo Alberto adhijaya belum pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, dirinya lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bekerja. Sehingga tidak ada waktu untuk berpacaran. "CK, kenapa aku bisa lupa sih." Kenzo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia jadi bingung sendiri. gara gara melihat gadis kecil yang berada dipinggir jalan tadi dirinya sampai lupa untuk membeli keperluan kucing dan anjing peliharaannya. Kucing dan anjing peliharaanya sejak kecil hingga kini masih ada, meskipun kucingnya hanya tinggal satu tapi Kenzo tetap merawatnya dan membawa dua hewan peliharaannya ke apartemen miliknya. Akhirnya Kenzo pun terpaksa keluar apartemen lagi untuk membeli kebutuhan peliharaanya. Ia sampai melupakan hal penting karena melihat gadis itu menolong seekor kucing dipinggir jalan. Kenzo berhenti didepan toko yang menjual segala macam perlengkapan untuk hewan peliharaan yang tidak terlalu jauh dari apartemennya. "Sore mas, mau cari apa?" seorang pelayan menghampiri kenzo yang baru saja masuk, lebih tepatnya pemilik toko itu. "saya mau cari..." kenzo menyebutkan apa yang dibutuhkan oleh dua hewan peliharaan nya, dan pemilik toko itu memanggil seseorang untuk mengambilkannya. "Dara, tolong ambilkan pesanan tuan ini." ucap pemilik toko itu pada seorang karyawannya. Dara yang sedang merapikan barang dagangan pun berdiri. "baik pak." Dara menggantikan bosnya untuk melayani pembeli dan mengambilkan pesanan yang sudah bosnya catat tari tinggal mengambil. "tuan ini pesanan anda" dara berdiri dibelakang pria yang memunggunginya pria itu melihat-lihat kemasan lain. Kenzo berbalik, dan malah membuat dara atau Dea itu membulatkan kedua matanya. "Om m***m!." Ucap Dea secara spontan dengan mulut menganga. Kenzo yang melihat gadis kecil tadi berada didepannya hanya diam menatap datar. "Berapa semuanya?" Tanpa menghiraukan keterkejutan Dea, Kenzo mengulurkan beberapa lembar uang berwarna merah dan memberikannya kepada Dea setelah dirinya meraih kantong kresek yg Dea pegang. "Tutup mulutmu, sebelum ada lalat yang memasukinya." Bukan salah Kenzo berbicara seperti itu, karena Dea terkejut dan shock melihat lelaki yang disebutnya om om itu berada didepannya, membuat mulutnya tak berhenti menganga lebar. Uhuk..uhuk... Dan benar saja lalat tidak tahu diri itu masuk ke mulut Dea. "Aaaargh... Sial." Dea terbatuk batuk antara geli dan jijik, Kenzo yang masih melihat itupun hanya tersenyum geli sendiri didalam mobil. "Dasar gadis bodoh." Gumamnya meninggalkan toko itu dengan masih tersenyum. Jika orang terdekatnya melihat Kenzo tersenyum karena seorang gadis, pasti mereka tidak akan percaya. Kenzo kembali melajukan mobilnya ke apartemen, agar bisa memberi makan kedua hewan kesayangannya. Jik biasanya Kenzo akan membeli stok banyak, berhubung dirinya sedang malas ke toko langganan jadi dirinya hanya membeli secukupnya saja ditoko tempat Dea bekerja. .. .. "dara, ini uang jajan kamu hari ini." Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, toko tempat dara bekerja akan tutup. "Alhamdulillah terima kasih bu." Dea menerimanya dengan senyum yang mengembang. Dirinya memang mendapat upah setiap hari ketika toko akan tutup. Tidak banyak, tapi cukup untuk Dea menambah uang tabungannya. "sama sama, besok ke sini lagi ya." Ucap pemilik toko yang kebetulan orang baik, dan dia sangat bersyukur dipertemukan dengan orang baik. "Baik bu." dea tertawa begitupun pemilik toko itu, padahal dia baru satu minggu bekerja di toko itu dan mereka sudah akrab. Selain cantik, Dea juga gadis yang rajin dan mengerti pekerjaan membuat pemilik toko senang. ***** "Bunda... Anak bunda yang cantik jelita pulang." Teriak Dea dengan suara cempreng dan terdengar sangat nyaring ditelinga bunda Indri. "Ya Allah Gusti, anak gadis kok kelakuannya kayak preman." Ucap Indri sambil mengelus dadanya, ketika mendengar suara Dea menggema didalam rumah. "Bunda..." Dea langsung memeluk Indri dari belakang, karena Indri sedang duduk sambil menyetrika pakaian. "Kamu baru pulang, sana cepat mandi." Ucap Indri sambil menggoyangkan bahunya agar Dea melepaskan pelukannya. "Sana mandi dulu keburu larut malam, bunda sudah masak makanan kesukaan kamu." Imbuh Indri lagi sembari mengelus kepala Dea. Indri memang masih muda, umurnya saja baru menginjak tiga puluh delapan tahun, dan memiliki putri berumur delapan belas tahun. Indri baru beberapa bulan menjadi janda, Indri yang cantik sudah banyak yang mendekati untuk mempersunting, tetapi bagi Indri membuat putrinya selesai sekolah itulah yang terpenting. Masalah pendamping dia belum terpikir sama sekali. "Asik... Cup." Dea mengecup pipi Indri, "dea sayang Bunda." dia bergegas masuk ke kamar untuk segera membersihkan diri. indri tersenyum dan geleng kepala, putrinya itu penuh dengan semangat dan indri tidak tega jika harus membuat dia putus sekolah karena biaya. maka dari itu indri mengijinkan dea untuk bekerja ketika gadis itu memohon. banyak anak di luar sana yang tidak ingin melanjutkan sekolah karena malas dan tidak semangat, meskipun secara financial mereka mampu. tapi ketika putrinya yang begitu semangat untuk mengajar cita-citanya apalah daya dirinya yang tidak mampu untuk memberikan kelayakan, bahkan dia juga ikut banting tulang demi kelanjutan sekolahnya. Indri terlahir dari keluarga yang kurang mampu, dan kedua orang tuanya meninggal karena terkena longsor beberapa tahun silam. semua harta benda yang kedua orang tuanya miliki tidak tersisa. Indri yang sudah menikah saat itu dan ikut suaminya merantau ke Jakarta pun tidak bisa melakukan apa-apa ketika dikabari desa yang kedua orangtuanya tinggali terkena longsor dan tidak ada korban yang selamat. suami indri hanya pekerja buruh bangunan, anto adalah nama suami indri. anto juga seorang yatim piatu dia dibesarkan di panti asuhan, dia bertemu indri ketika anto ikut menjadi kuli bangunan yang tak jauh dari desa yang indri tinggali. karena jarang makan anto terkena asam lambung, membuatnya harus mendapat perawatan untuk kesembuhan. namun bukannya sembuh, Anto malah meninggalkan mereka semua untuk selamanya. "makanlah yang banyak, agar cepat tumbuh besar." ucap indri sambil mengusap kepala dea yang baru saja duduk di meja makan kecil mereka. dea membangunkan bibirnya mendengar ucapan bundanya, "dea sudah besar bunda, hanya saja badan dea yang kecil." jawabnya dengan acuh. indri hanya tertawa, dea memang tidak suka jika dibilang masih kecil. indri duduk menemani putri nya makan. "bunda tidak makan?" tanya dea yang melihat indri hanya duduk dan memberinya segelas air. "bunda sudah makan tadi sebelum kamu pulang, karena bunda sudah lapar" indri memang sudah makan ketika selesai memasak karena perutnya sudah terasa lapar. dea hanya mengangguk, dirinya makan dengan lahap meskipun dengan lauk sederhana. tumis kangkung dan lauk tempe membuat Dea makan dengan lahap, karena itu makanan kesukaannya. "Bagaimana pekerjaan kamu hari ini, lancar?" Tanya Indri yang memang selalu menanyakan aktivitas Dea. "Lumayan bunda, tapi hari ini Dea apes gara gara om m***m itu." Ucap dea yang memang selalu lancar bercerita tanpa ada yang ditutup tutupi. "Om m***m? Siapa?" Indri mengernyitkan keningnya bingung. "Tidak tahu, pokoknya om m***m menyebalkan tapi sayangnya dia kaya. Kalau saja om itu belum tua pasti Dea mau menikah dengannya hehe." Dea tertawa pelan. Jdeeeerr.. Tiba tib suara petir terdengar begitu nyaring, membuat tawa Dea seketika langsung luntur dan berganti wajah tegang. "Ya tuhan, jangan jangan ucapanku diijabah sama Allah." Gumam Dea sambil mengusap dadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN