Dea mengayuh sepedanya ke perusahaan terbesar yang ada di kota itu, perusahaan yang baru satu Minggu ini menjadi tempatnya bekerja. Meskipun dengan cara sembunyi sembunyi tapi Dea tetap giat bekerja.
pukul setengah dua siang dirinya pulang sekolah dan dea langsung meluncur ke perusahaan adhijaya group untuk menjadi seorang cleaning servis.
Dea bekerja dari pukul dua siang hingga pukul lima sore, tiga jam dirinya melakukan pekerjaan dengan melakukan penyamaran.
"Aah, akhirnya aku sampai tepat waktu." Dea tersenyum bangga melihat gedung bertingkat tinggi di depannya. Meskipun dirinya hanya seorang cleaning servis tapi dirinya tetap bangga.
Flashback...
Dea sangat membutuhkan uang untuk membayar kekurangan daftar sekolahnya. Ia tidak tahu harus meminjam atau mencarinya kemana, dirinya tidak ingin membuat sang bunda semakin kesusahan setelah harus membayar cicilan kepada rentenir.
Dengan tekat dan keyakinan, Dea mendatangi rumah yang cukup besar, rumah seorang tetangga yang bernama pak Bambang.
Pak Bambang adalah kepala HRD di sebuah kantor pusat kota, dan Dea dengan sepenuh hati meminta bantuan mencari pekerjaan untuknya.
"Sepertinya bapak hanya bisa bantu kamu beberapa bulan kedepan saja, untuk menggantikan posisi karyawan yang sedang cuti." Ucap pak Bambang yang tidak tega melihat wajah Dea. Apalagi remaja itu baru saja ditinggalkan oleh ayahnya, dan ibunya juga hanya seorang buruh cuci dan setrika di rumahnya.
Pak Bambang mengambil keputusan yang cukup beresiko untuk jabatannya. Jika sampai atasannya tahu, pastilah dirinya yang tidak aman dan konsekuensinya sangat berat.
"Waaah, terima kasih pak. apapun pekerjaannya Dea akan melakukannya dengan baik." Dea yang saat itu sedang sangat membutuhkan uang tentu saja merasa sangat bahagia.
"Dea.. ini ada sedikit uang, bisa kamu gunakan dulu untuk keperluan sekolahmu. Jika nanti kamu sudah mendapatkan gaji, kamu bisa menggantinya." Pak Bambang memberikan beberapa lembar uang untuk dea. Pria paruh baya itu kasihan dan juga prihatin dengan nasib gadis belia itu.
Beruntungnya Dea, memiliki tetangga baik seperti pak Bambang. Bukan hanya baik, tapi beliau juga sangat murah hati. Tidak seperti tetangganya yang suka julid dan tidak punya hati, hanya nyinyiran saja yang mereka lontarkan.
Flashback off
*****
"Eeh, de... Dengar dengar hari ini bos muda kantor ini mau datang loh." Ucap sesama rekan kerja Dea, yang bernama Tika.
"Eeleh. Memangnya kenapa? Mau tebar pesona,? Tidak akan ada pengaruhnya kali. Pembokat seperti kita tidak akan pernah dilirik "jawab teman mereka satunya lagi yang bernama Sindi
"Duh kak, sudah jangan diteruskan. Nanti ujung ujungnya kalian bisa ribut." Lerai Dea yang melihat mereka mulai cekcok setelah ghibah.
Entah ada apa dengan mereka berdua yang sediki sedikit ribut lalu setelahnya berbaikan. Dea yang melihat tingkah mereka berdua pusing sendiri.
"Iiiiih, sorry ya dia yang selalu mulai duluan." Ucap Sindi melirik Tika dengan sinis.
"Heh, ngadi ngadi kamu sin." Jawab Tika tidak terima sembari berkacak pinggang.
Jika sudah begini, Dea memilih pergi dan mencari tempat yang aman.
"Tidak disekolah, tidak disini selalu saja melihat orang ribut." Dea berjalan keluar ruangan dengan menggelengkan kepalanya. Lebih baik dirinya mulai bekerja, sebelum bos yang mereka maksud datang dan melihat lantai kotor, pasti nanti mereka akan mendapat teguran.
Dea tidak mau dipecat sebelum dirinya mendapat gaji untuk mengganti uang pak Bambang yang sudah dia pakai.
"Senangnya dalam hati, punya pekerjaan tetap.. tentu aku pasti tidak akan susah... Heeee aaa." Dea mengepel lantai sembari bernyanyi lagu yang dia ciptakan sendiri liriknya. Karena menjelang sore hari lobby lumayan sepi, orang yang berlalu lalang pun tidak ramai.
Pria dengan perawakan tinggi memasuki lobby adhijaya group, perusahaan yang menjulang tinggi itu sudah diambil alih oleh Kenzo Alberto adhijaya.
Usianya yang sudah matang, setelah pulang dari Amerika.
Kenzo meminta ijin agar dirinya diperbolehkan papa dan mamanya untuk pergi ke amerika, karena cintanya ditolak rasanya Kenzo perlu melupakan semua kenangan. Dan karena mendapat penolakan dari gadis yang ia kagumi, Kenzo memutuskan untuk pergi ke Amerika selama tiga tahun.
Kenzo berjalan dengan langkah lebarnya menuju lift yang akan membawanya ke lantai tiga belas dimana ruangan CEO berada. Hari ini dirinya kembali menginjakan kakinya di adhijaya group setelah sekian tahun.
Meskipun hari sudah menjelang sore. Kenzo tetap datang ke kantor, karena papanya sedang mengadakan meeting penting dengan clien sore ini. Jadi mau tidak mau kenzo harus menurut.
Gdebuuuugh...
Karena tidak melihat tanda peringatan lantai licin, Kenzo tidak memperhatikan jalan. Akibatnya ia terpeleset dan jatuh terjengkang.
"Aaaargh... Shiiit!!.." Kenzo mencoba berdiri dan memegang pinggangnya yang terasa sakit.
"Astaga.. ya ampun.. bapak tidak apa apa?." Seorang wanita dengan pakaian ob serta membawa alat pel mencoba membantu Kenzo berdiri.
Wajah Kenzo memerah padam antara marah bercampur malu, harga dirinya seketika hancur didepan para karyawannya.
"Maaf pak.. apa bapak tidak melihat tanda peringatan yang saya pasang disitu.?" Gadis itu menunjuk tanda peringatan berwarna kuning yang tadi dia letakkan tidak jauh dari sana.
Kenzo menatap gadis itu tajam, dengan tangan yang masih memegangi pinggangnya yang masih terasa sakit.
Semua karyawan yang melihat CEO mereka jatuh, hanya mampu menahan tawanya. Ingin membantu pun nyali mereka sudah menciut lebih dulu, karena Kenzo sejak dulu terkenal dingin dan juga ketus.
"Antarkan saya keruangan." Ucap Kenzo dengan ketus.
"Aduh pak, ini pekerjaan saya gimana? Nanti saya kena marah atasan saya kalau saya tinggal." Jawab gadis itu dengan menatap Kenzo iba.
"Jadi kamu lebih takut pada atasan kamu, daripada dengan saya?" Sentak Kenzo mendelikkan matanya menatap gadis itu tak percaya.
"Saya-"
"Cepat antar saya!!! Ini semua kamu penyebabnya."
Melihat tatapan tajam Kenzo, gadis itu langsung menciut dan mau tidak mau, gadis itu membantu memapah Kenzo untuk masuk kedalam lift khusus Presdir.
Didalam lift gadis itu hanya diam sambil menunduk, ia tidak berani melihat kearah Kenzo karena takut dengan tatapan tajam pria itu.
Kenzo yang masih merangkul bahu kecil gadis itu, tanpa sadar mendekatkan wajahnya Keatas kepala gadis itu dan menghirup dalam dalam aroma wangi rambut gadis itu.
Tiing..
Pintu lift terbuka membuat Kenzo sadar dan kembali ke posisinya semula.
"Pelan pelan pak." Ucap gadis itu yang pundaknya sudah terasa pegal karena memapah lengan Kenzo yang besar dan kekar itu, apa lagi tubuhnya yang mungil membuatnya kekusahan memapah Kenzo.
"Ruangan bapak dimana.?" Tanya gadis itu, karena dirinya baru pertama kali menginjakkan kakinya di lantai tiga belas ini.
"Kenz-" Randi yang ingin mendekati Kenzo, seketika mengurungkan niatnya saat mendapat tatapan tajam Kenzo. Randi adalah asisten Kenzo.
Randi hanya bisa diam sembari menggelengkan kepalanya melihat atasan sekaligus sahabatnya itu.
"Apa kulkas seribu pintu itu sudah mulai jinak." Randi bergumam heran.
Karena Kenzo memang tipe pria yang sangat sulit didekati wanita. Meskipun dulu kenzo ingin menjadi pria b******k, tapi itu hanya sekali karena bertemu dengan wanita yang sudah membuatnya patah hati. Dan Kenzo lebih memilih pergi menjauh demi melupakan wanita itu.
"Tuan, apa masih sakit.?" Tanya gadis itu ketika melihat kenzo merintih sambil memegangi peinggangnya ketika ia duduk di sofa.
"Kamu coba saja kali ingin tahu rasanya." Ketus Kenzo dengan wajah menahan sakit.
Gadis itu langsung menggeleng dengan cepat. "Tidak, saya tidak mau merasakannya." Ucapnya bergidik ngeri.
Melihat itu, Kenzo mengulum senyum "kamu harus bertanggung jawab." Ucapnya sambil menatap tajam Gadis itu.
"karena kamu, hari ini saya tidak bisa menghadiri meeting penting. jadi kamu harus melayani saya sampai sakit pinggang saya sembuh."
Mendengar ucapan Kenzo gadi itu langsung membelalakkan matanya.
"Maksud anda, melayani-." Ucapannya terhenti ketika Kenzo jas yang ia kenakan, lalu disusul dengan kancing kemejanya.
"Tuan jangan.....!!" Gadis itu menjerit dan menutup matanya dengan kedua tangannya.