Joana terdiam. Wooseok menghambur lalu memeluk Joana dengan erat, "Aku rindu, aku merindukanmu, Jo ...." Joana melepaskan pelukan Wooseok darinya, lalu menatap Wooseok lekat, "Kau ... kenapa berantakan begini? kau kesini naik apa? subuh-subuh begini, taksi pasti jarang lewat," Joana menyeka wajah Wooseok yang berkeringat. "Aku ... berlari," Wooseok tersenyum manis, "Jarak rumahku dari sini hanya tiga puluh menit menggunakan taksi. Sama saja, menurutlu lari lebih cepat," Buk! Joana memukul kepala Wooseok, "Dasar orang bodoh, kau gila ya? mau membohongiku? tak mungkin kau berlari ..." Joana menunduk, seketika dia terbelalak melihat sepatu Wooseok yang sobek, hingga ujung jari kakinya terlihat, "Kau ... benar-benar berlari?" Joana membawa mendudukkan Wooseok di tempat tidur, lalu membuka

