Satu detik berlalu dalam keheningan.
Dua detik berlalu.
Tiga detik berlalu.
Empat, enam, sepuluh, hingga lebih tiga puluh detik berlalu.
Om Adrian, Tante Kartika, Mama, dan Papa, semuanya saling pandang. Mereka seperti manusia awal prasejarah yang tidak bisa menciptakan bahasa dengan baik.
Setelah hampir satu menit dalam keheningan, suara Devano memecahkan pikiran semua orang.
"Pernikahan sudah batal. Sudahi saja!" Mata Devano menyipit membentuk dua garis horizontal, menatap Palupi yang kini duduk di depan para orang tua tanpa rasa bersalah.
Papupi melarikan diri dari pernikahan, dan meskipun bibirnya berkata maaf, tapi jelas tak ada penyesalan di matanya. Tak ada beban, tak ada kesedihan, tak ada kegetiran, tak ada emosi-emosi negatif. Bahkan saat melihat Devano secara sekilas, tak ada lagi tatapan tergila-gila dan afeksi darinya.
Seolah-olah, dia bukan wanita yang dengan mati-matian memuja Devano, mengejarnya seperti buron, mencintainya dengan menakutkan.
Ini seperti … perombakan besar-besaran pada karakter seseorang. Bisakah seorang wanita berubah sikap hanya dalam hitungan hari? Mata Devano semakin menyipit, merasa ada sesuatu yang janggal.
Bukannya Devano peduli dengan pengejaran Palupi yang membabi buta, hanya saja, perubahan drastis ini terasa di luar nalar.
"Gini, Jeng! Sepertinya anak-anak kita nggak cocok satu sama lain. Kalau dipaksakan, kasihan juga nanti ujung-ujungnya mereka yang nggak nyaman!" Mama mencoba berdamai dengan cara-cara lembut. Dia tahu arti pentingnya hubungan keluarga Hadyan dan Kagendra. Jangan sampai pembubaran pernikahan ini mempengaruhi komunikasi mereka ke depan. Mereka terkait dengan banyak bisnis dan kerja sama. Akan tidak nyaman jika muncul konflik.
Tante Kartika melirik ke arah putranya, merasa frustasi oleh ekspresi dinginnya yang tak pernah berubah. Bagaimana putranya bisa mendapatkan jodoh yang baik jika sikapnya terus seperti ini? Lihat saja Palupi yang memiliki latar belakang emas. Wanita menjanjikan itu akhirnya mundur dari pernikahan. Seandainya saja putranya lebih welcome dan mudah berbaur dengannya, akhir kisah ini pasti tak seperti ini.
Kartika tahu pernikahan Devano kini telah menjadi olok-olok dan lelucob banyak orang gara-gara Palupi. Dia masih marah dengan Palupi mengenai ini. Namun, jika mau ditilik lebih jauh lagi, toh putranya sendiri juga berkontribusi dalam mendorong keputusan Palupi. Wanita mana yang sanggup hidup dengan lelaki dingin seperti Devano hingga akhir hayat?
"Baiklah! Sepertinya kita harus berdamai dengan kenyataan ini! Bagaimanapun juga, mereka memang tidak cocok!" Kartika akhirnya menyerah. "Hanya saja, Tante nggak suka cara kamu mengambil tindakan. Kalau kamu nggak sanggup melanjutkan pernikahan, seharusnya kamu bilang lebih awal, jadi wajah keluarga besar kami tidak dipermalukan seperti sekarang!"
Tante Kartika menatap Palupi, ekspresi wajahnya semakin kesal setiap kali teringat bagaimana malunya mereka hari ini. Dengan rumor buruk yang mulai berkembang, Tante Kartika berpikir mungkin dia akan mengurung diri di rumah dan menolak segala macam sosialisasi hingga dua bulan ke depan. Seharusnya dua bulan sudah cukup mengurangi rumor tak sedap.
"Ah. Tidak perlu malu, Tante! Rumor ini akan berlalu cepat!" Palupi berkata santai, tak menunjukkan ekspresi tertekan sama sekali. Bagaimana Palupi bisa tertekan? Di sekolah sebelumnya, Palupi menjadi ikon rumor buruk. Dia sudah terbiasa menghadapi segala macam kritik, hujat, dan judgement sejenisnya. Tapi toh Palupi tak meras terganggu. Untuk apa kita mendengarkan mulut orang lain yang pada dasarnya tidak mengenal kita dengan baik?
Saat tangan tak mampu menutupi mulut-mulut buruk, maka kita hanya bisa menggunakan tangan kita untuk menutupi kedua telinga. Tidak ada ruginya menjadi tuli untuk sesaat.
"Kamu seharusnya tahu bagaimana rumor itu bekerja." Tante Kartika melirik pergelangan tangan kiri Palupi, megingatkan Palupi pada bekas sayatan luka yang dulu pernah ia buat demi mengancam Devano agar mereka bisa bersama.
Semenjak kejadian itu, baik keluarga Hadyan dan Kagendra dikelilingi rumor buruk tentang percobaan bunuh diri Palupi. Banyak orang yang menghaminya. Ada juga yang bersimpati, bahkan tak jarang menghujat karena dinilai terlalu asal-asalan dalam bertindak. Bahkan Mama dan Papa Palupi, ikut terseret dan dianggap tak memberikan lingkungan tak stabil keluarga yang seharusnya.
Untuk beberapa waktu, meskipun Papa memiliki kekuatan memblokir berita, tidak semua hal-hal buruk berhenti begitu saja.
Terkadang, yang menyakitkan dalam masyarakat sosial bukan penganiayaan fisik, tapi justru penganiayaan verbal. Desas-desus yang tak pernah berhenti, penghakiman sebelah yang tak objektif, dan hujatan-hujatan yang menyakitkan. Hal-hal inilah yang membuat mental seseorang turun dan merasa dikerdilkan dalam masyarakat.
"Rumor nggak bisa dihadang. Biarkan saja orang mau bilang apa. Toh mereka yang berbicara belum tentu punya hidup yang lebih sempurna dari kita. Jangan terlalu peduli dengan desas-desus di luar, Tante! Mereka berhak menilai, tapi kita berhak mengabaikan." Palupi berkata santai, sama sekali tak merasa cemas akan rumor yang menyertainya akibat gagalnya pernikahan.
"Untuk sementara, kita akan menghadapi rumor yang ada. Untuk mengurangi pembicaraan negatif di luar sana, kita harus memamerkan kebersamaan publik, memberikan petunjuk kepada orang-orang bahwa hubungan dua keluarga tetap baik-baik saja!" Adrian menyarankan dengan tegas. Semuanya sudah sampai di tahap ini. Sulit untuk menarik kembali rumor yang akan berdedar. Tapi meski begitu, bukan berarti Adrian bisa suka rela menerima rumor buruk begitu saja. Setidaknya, dengan menunjukkan kebersamaan, kedua keluarga masih bisa mengurangi omongan-omongan negatif di belakang punggung mereka.
"Ya. Itu adalah keputusan yang baik!" Papa menggosok pelipisnya, masih memiliki sikap gugup terhadap Adrian.
"Bagaimana menurutmu, Dev?" tanya Kartika, melirik pada putranya.
"Hm!" Devano tak ingin berbasa-basi lebih lama lagi. Dia terlihat malas berada di sini. Jika kedua orang tuanya tidak memaksanya untuk ikut serta dalam pertemuan ini, Devano lebih suka menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Bagaimanapun, dia sedang mengembangkan proyek retail terbarunya.
Kartika mencelos melihat reaksi putranya. Pantas saja Palupi lari darinya. Sikap Devano benar-benar tak bisa dikatakan baik sepanjang menyangkut wanita. Kartika kembali meradang. Kehilangan calon menantu benar-benar membuat hatinya perih tersayat pilu.
"Apa yang sudah terjadi, biar saja terjadi. Sebisa mungkin hubungan kita tetap baik dan terjaga." Adrian sekarang benar-benar mencoba berdamai dengan keadaan, meninggalkan semua amarah dan kekalahan yang sebelumnya ia rasakan.
Jodoh di tangan Tuhan. Sekuat apa pun kita memaksa, jika bukan rencana Tuhan, toh akan tetap terlepas juga.
"Ya."
"Tentu!"
"Pasti!"
Mama, Papa, dan Tanre Kartika menanggapi dengan seragam.
Palupi memutar bola mata, menyadari tampaknya tindakan "damai" ini berjalan terlalu lancar. Tidak ada teriakan, tak ada serangan fisik, tidak ada aksi saling tuding histeris, dan tak ada kehebohan berarti.
Tak terlalu menarik.
Apa mungkin penyelesaian orang kaya selalu akurat dan sistematis seperti ini?
Palupi bersandar santai, mendengar kedua orang tuanya membicarakan topik lain seputar proyek kerja sama mereka baru-baru ini. Devano hanya menanggapi satu dua kali, menjaga ekspresinya tetap datar.
Entah Devano robot, atau memang tanpa emosi. Dia jelas jenis laki-laki yang tak akan perlu Palupi lirik kedua kali. Diam-diam Palupi merasa beruntung ia bisa sepenuhnya melepaskan diri dari pernikahan kaku antara dirinya dengan Devano.
Saat waktu semakin malam, Tante Kartika segera mengarahkan keluarga Hadyan ke ruang makan untuk menikmati jamuan mereka. Papa dan Mama menerima dengan baik, tetapi Devano menolak dengan sopan dan memilih menyingkir lebih awal dari mereka. Laki-laki itu berjalan dengan langkah-langkah pelan, menuju halaman belakang, menikmati angin malam untuk sejenak.
"Palupi belum lapar. Ma, Pa, Palupi keluar sebentar ya, buat cari angin." Palupi tersenyum simpul, berjalan cepat, sengaja mengikuti langkah-langkah Devano.
Semua orang yang tertinggal saling memandang. Mereka mulai mengambil tebakan masing-masing.
…