Rasa Penasaran Palupi

1134 Kata
Palupi menemukan Devano di halaman belakang, berdiri membelakanginya, menatap langit malam yang berbintang. Bulan di langit menggantung enggan. Cahayanya tumpah, menerangi malam dengan kelembutannya yang murni. Kedua tangan Palupi terlipat di d**a, menatap penuh rasa ingin tahu pada sosok Devano. Jadi … ini laki-laki yang dicintai oleh pemilih tubuh sebelumnya dengan gila-gilaan? Sampai-sampai, dia rela mengiris nadinya sendiri hanya untuk meraih perhatian dan mempertahankan hubungan? Palupi dipenuhi rasa penasaran. Dia menyipitan matanya, semakin cermat dalam melakukan penilaian. Secara tampang, baiklah … Palupi terpaksa mengakui Devano mempunyai nilai sembilan dari rentang nilai satu hingga sepuluh. Rahang kokoh, mata tajam, hidung tipis, dan bibir menawan yang setiap kali tersenyum, selalu memancarkan hawa dingin yang unik. Pandangan Palupi turun ke bahunya yang dibalut kemeja putih, menunjukkan tulangnya yang kokoh dan proporsional. Tingginya mungkin sekitar seratus delapan puluh lima, atau mungkin seratus delapan puluh enam centi meter. Bisa dibilang tinggi mereka memiliki selisih tujuh belas hingga delapan belas centi meter. Tanpa hills, kesenjangan tinggi mereka mudah terlihat. Memikirkan ini, Palupi sedikit tak suka. Keterlaluan. Kenapa laki-laki dan perempuam harus ada selisih tinggi? Menjengkelkan rasanya harus menatap seseorang dengan cara mendongak. Bentuk tubuh Devano, bisa dibilang lumayan. Bukan jenis orang yang menonjolkan otot-ototnya, tetapi cukup ideal sehingga dia bisa menarik perhatian jika dilemparlan ke sekumpulan wanita. Kecerdasan dan insting bisnis Devano sudah diakui oleh Papa. Papa bilang, perusahaan-perusahaan di bawah naungan Devano cukup stabil. Masih katanya lagi, Devano adalah orang yang berkepala dingin, mampu mengambil kontrol stabil meskipun dibawah krisis dan tekanan. Baiklah. Palupi sepertinya harus percaya kata-kata Papa, meskipun ia tak terlalu peduli pada masalah bisnis seseorang, sekali pun itu calon suaminya. Ralat. Calon suami tubuh sebelumnya. Palupi menggosok pelipisnya dengan cukup keras. Sejauh pengamatannya, selain sikap dingin yang berlebihan, dia belum menemukan kekurangan Devano yang cukup serius. Tapi justru itulah intinya. Mustahil ada orang yang hidup tanpa kekurangan. Karena mereka yang tanpa kekurangan, artinya mereka bukan spesies manusia. Salah satu ciri kemanusiaan adalah adanya kekurangan. Terutama kekurangan dalam hal karakter dan kepribadian. Jadi, saat ini Palupi memiliki kesan yang serius. Mereka yang tampak sempurna di permukaan, bisa jadi menyimpan cacat yang dalam di dalam hati. Nah. Rumus ini lebih masuk akal. Itu artinya, semakin sempurna seseorang, semakin kita perlu berhati-hati. Devano melirik ke arah Palupi, tak mengerti kenapa wanita ini bertingkah aneh. Palupi bukan hanya mengikutinya diam-diam ke halaman belakang, tapi juga mengamatinya dengan pengamatan yang sangat nyata, seolah-olah Devano adalah sebuah objek mati. Di masa lalu, Palupi memang memiliki ketergantungan dan obsesi mendekati Devano di setiap kesempatan. Devano sudah tidak terkejut lagi jika dalam suatu event ia bersama Palupi, pasti wanita itu berada dalam jarak satu meter darinya. Tak membiarkannya lepas dari genggaman. Saat ini, Palupi memang masih mengikutinya. Tapi alih-alih berbicara manja dan mencoba bersikap agresif, dia hanya berdiri diam, menatapnya lama, dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah-olah sengaja membuat penilaian ulang. "Puas mengamati?" Devano menyindir Palupi, merasa tak nyaman oleh tindakannya. Untuk menenangkan diri, Devano mengambil sebatang rokok dari saku kemeja, dan menghidupkan baranya melalui pemantik otomatis. Gerakan Devano santai, menjadikan rokok seperti kegiatan seni bernilai tinggi. "Mengamati? Siapa yang mengamati siapa? Tolong jangan terlalu narsis. Narsisme bukanlah sindrom yang baik bagi jiwa seseorang!" Palupi mengibaskan tangan, memadamkan sikap narsis Devano yang berlebihan. Apa laki-laki ini punya mata di balik leher? Kenapa bisa mendeteksi tindakan Palupi yang diam-diam dilakukannya? Palupi menilai Devano memiliki insting yang tinggi. Tampaknya laki-laki ini punya kepekaan tinggi. Devano kembali berbalik, berdecih dalam hati. Menolak mengakui telah melakukan pengamatan? Yang benar saja. Laki-laki mana yang tidak akan terganggu jika ditatap sedemikian rupa oleh wanita, terang-terangan, dari ujung atas hingga bawah, dalam jarak dekat tak lebih dari dua setengah meter. "Merokok juga bukan tindakan baik!" Palupi mengingatkan, berjalan mendekat, dan meraih sebatang rokok di antara ceĺah jari-hari Devano. Kedua kelopak mata Devano hanya bisa mengerjap beberapa kali karena heran. Ada apa dengan Palupi? "Melamun juga bukan tindakan yang baik untuk otak seseorang. Bisa mengurangi fokus dan konsentrasi!" Palupi menyadarkan Devano yang sempat membeku beberapa saat. Palupi mengangguk-anggukkan kepala, mulai memahami kelemahan yang ia temukan pada diri Devano. Selain perokok aktif, dia juga kekurangan konsentrasi dan fokus. Palupi merasa puas oleh pengamatannya sendiri. Sayangnya, Palupi tak tahu bahwa syok Devano yang terjadi untuk sesaat bukan karena kehilangam fokus, tapi karena terkejut oleh perubahan sikap Palupi yang tiba-tiba. Devano kembali bersikap normal, membelakangi Palupi. Tingkah wanita memang hal yang paling sulit ditebak. Melihat keengganan Devano, Palupi mulai merasa kesal sendiri. Laki-laki ini terlalu singkat dalam berkata-kata. "Siàl. Gue ngobrol sama orang anti sosial!" Palupi memukul dahinya, sedikit frustasi. Anti sosial? Devano mengerutkan kening mendengar istilah ini ditujukan padanya secara langsung. "Pantes dia dapetin calon istri wanita dangkal. Orang-orang aneh memang benar-benar cocok." Palupi dari dulu suka mengembangkan kebiasaan monolog. Saat ini pun tak terkecuali. Hanya saja, apa yang ia sebut sebagai gumaman, adalah kata-kata bernada keras yang mampu ditangkap baik oleh pendengaran Devano. Kernyitan di dahi Devano semakin dalam. Apa yang Palupi sebutkan barusan? calon istri yang dangkal? Bukankah itu artinya Palupi sendiri? "Laki-laki anti sosial dan wanita dangkal. Laki-laki dingin dan wanita posesif. Laki-laki abnormal sama wanita abnormal!" Palupi mengangguk-angguk, mulai memahami bagaimana sebelumnya Devano bisa jatuh terikat dalam pertunangan dengannya di masa lalu. Devano yang masih mendengarkan kata-kata Palupi, menggemeretakkan gigi-giginya. Dia belum pernah bertemu wanita yang membicarakan dirinya sendiri dengan sifat-sifat buruk seperti itu. Lama-lama, Devano mulai mempertanyakan akal sehat Palupi. Rasanya dia ingin mengguncang wanita itu dan bertanya langsung, "Apa kamu sehat?" Namun, pertanyaan itu tak bisa ia lemparkan begitu saja. Devano khawatir dengan jawaban negatif yang nantinya akan ia dapatkan. Akan lebih baik jika ia tetap menjaga kewarasannya sendiri untuk saat ini. Devano berbalik tiba-tiba, dan bergegas pergi meninggalkan halaman belakang. Dia tak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi berdua bersama Palupi. Siapa yang tahu apa yang akan wanita itu katakan lagi tentangnya? Namun, niat Devano segera terhalang. Palupi menahan lengan laki-laki tersebut, dan menatapnya dengan kedua matanya yang jernih dan menawan. Menawan? Devano menelan ludah susah payah, takut dengan pikirannya yang mulai tak beres. Sejak kapan mata Palupi menawan? "Hei! Ngomong-ngomong, apa loe selalu bersikap dingin begini? Hari ini gue buat kekacauan di hari pernikahan kita. Bukankah sebagai laki-laki normal, seharusnya loe tersinggung?" Ini adalah tingkat rasa penasaran tertinggi Palupi terhadap Devano. Om Adrian tersinggung. Tante Kartika tersunggung. Meskipun pada akhirnya mereka berdamai, tetapi emosi mereka sebelumnya cukup jelas dalam menunjukkan kekesalan. Tapi Devano? Dari awal hingga akhir, dia seperti tak peduli sama sekali. Mau tak mau Palupi semakin penasaran. Mungkinkah Devano benar-benar tak peduli, atau dia terlalu cerdik dalam bermain sandiwara dan menjadi aktor alami dalam bertingkah laku? "Gue nggak peduli!" Devano tersenyum dingin, memberikan aura penindasan yang sangat kuat. Palupi segera melepaskan lengan lelaki tersebut, terhuyung dua langkah ke belakang dengan tiba-tiba. Aura yang coba dikeluarkan Devano sangat mendominasi dan membuat Palupi tersentak secara mendadak. Tampaknya laki-laki di depannya ini tak sesederhana kelihatannya. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN