Palupi bangun dengan malas, menatap jam beker yang menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh menit. Senyum kecil tersungging di mulut Palupi. Ternyata enak juga menjadi wanita bebas, tanpa harus bangun pagi-pagi untuk berangkat sekolah.
Setelah berbaring selama sepuluh menit, Palupi menyeret dirinya ke kamar mandi, mencuci muka, dan berganti pakaian kasual. Palupi berdiri membeku selama sepuluh detik di depan lemari besar di ruang ganti.
Mini dress. Tanktop. Hot pant. Sexy dress. Bikini. Cami. Lingerie. Slip dress. Bandeau.
Satu detik berlalu.
Dua detik berlalu.
Tiga detik berlalu.
Palupi menendang lemari dengan jengkel, menutup satu demi satu pintu lemari dengan gerakan kencang.
"Apa nggak ada baju normal? Apa nggak ada baju kasual? Aaaaiiishhhh!" Palupi menemukan bagian yang menyimpan brà, dari yang berenda, strapless, bralette, full cup, dan yang hanya memiliki bentuk half coverage.
Pandangan Palupi terdistorsi. Dia ingin mencela jiwa sebelumnya dengan banyak kata-kata buruk.
Mengerikan. Isi lemari ini memang mengerikan. Palupi perlu merombak ulang baju-bajunya jika ia masih ingin menjaga otaknya tetap sehat. Setidaknya dia perlu membeli selusin kaos, selusin celana denim, selusin kemeja standar, dan … brà yang cukup normal tanpa banyak embel-embel.
Palupi berbalik pasrah, turun ke bawah hanya dengan piyama. Ekspresi Palupi semakin mengenaskan saat ia berjalan melewati lorong, dan tiba di ujung tangga.
Ruang makan ada di lantai bawah. Dan kamarnya berada di lantai tiga, dengan tangga panjang setengah lingkaran yang entah berapa jumlahnya.
Palupi mulai menuruni anak-anak tangga, menyimpan kemarahan di dalam hati. Siapa yang menciptakan tangga ini? Dendam apa yang dia miliki sehingga Palupi dipaksa melewati siksaan harian semacam ini?
"Ma! Mulai malam nanti, Palupi pindah kamar di lantai bawah!" Napas Palupi sudah kembang kempis saat dia tiba di ruang tengah, menyaksikan Mama sedang duduk berdua bersama Papa gembul.
"Kenapa? Bukannya kamu selalu ngotot di lantai tiga? Katamu 'kan naik turun tangga bisa membakar lemak dan kalori, jadi sengaja kamarmu ada di lantai tiga!" Mama menatap Palupi, sedikit heran dengan perubahan pikiran putrinya yang tiba-tiba. Palupi baru saja bangun. Dia tiba-tiba memiliki keinginan pindah kamar begitu saja. Ada apa dengan anak ini?
Palupi mendengkus kasar. Hanya orang kurang kerjaan yang rela naik turun tangga ke lantai tiga hanya untuk membakar kalori. Palupi mengamati tubuhnya, merasa tubuhnya baik-baik saja. Untuk apa menyiksa diri sendiri dengan hal-hal sulit?
"Atur aja, Ma. Minta Mbak Sari pindahin barang-barang Palupi nanti ke kamar bawah!" Tak ingin repot-repot menjelaskan, Palupi hanya bisa mengintruksikan dengan datar. Satu detik kemudian, dia membatalkan permintaannya. "Nggak usah, Ma. Nggak perlu pindahin barang-barang pribadi Palupi!"
Palupi bergidik ngeri, masih terbayang jenis pakaian dan selera macam apa yang ada di dalam lemari besar koleksinya. Tidak mungkin Palupi sanggup memakai jenis pakaian seperti itu. Hampir tujuh puluh persen koleksinya jelas berniat memamerkan lekukan-lekukan tubuhnya dengan sangat agresif.
"Kamu yakin?" Mama terlihat cemas. Entah kenapa, Rosalin selalu merasa putrinya mengalami banyak perubahan semenjak hari pernikahannya.
"Iya. Palupi mau sarapan dulu!" Palupi berjalan menuju dapur, dan mendapati dua lapis roti tawar di atas meja yang disiapkan Mbak Sari untuknya. Di sisinya, ada satu gelas air putih.
Kening Palupi berkerut-kerut. "Mbak Sar! Ini sarapan punyaku?"
"Iya, Non! Kenapa? Mau ganti?"
Palupi menatap dua lembar roti tawar di depannya dengan ngeri. Apa ini penyiksaan dari ART pada majikannya? Bahkan anak tiri saja masih lebih baik nasibnya daripada Palupi.
Dendam apa yang dimiliki Mbak Sari pada pemilik asilnya?
"Ganti, Mbak! Ganti!" Palupi rasanya ingin menangis, tapi tak ada air mata yang keluar. Bagaimana bisa rumah sebesar ini hanya memberinya sarapan dua lembar roti dan air putih? Ini bahkan lebih parah dari hidup Palupi sat ia berada di rumah ayah tirinya.
Dengan cekatan, Mbak Sari membawakan sepiring sayuran, tanpa apa pun. Hanya sayuran. Beberapa iris mentimun, wortel, tomat, dan brokoli.
Palupi menatap Mbak Sari, kali ini tak menyembunyikan wajahnya yang teraniaya. "Apa asisten rumah tangga sekarang nggak punya kemanusiaan? Kenapa aku dikasih makan seperti ini?"
Ya Tuhan. Hidup sebagai Palupi Jasmine Mahardika ternyata sangat mengerikan. Palupi mulai merindukan kehidupannya sebagai putri tiri Nehan Abimanyu. Meskipun Nehan dingin dan tak peduli padanya, setidaknya orang tua itu masih memberikan makanan layak pada Palupi.
"Lho, Non! Ini kan menu yang biasa Non minta saat sarapan supaya diet Non tetep terjaga!" Mbak Sari bingung sendiri. Dia sudah berkali-kali membujuk Palupi menghentikan diet ketatnya, tetapi tak pernah dihiraukan oleh majikannya. Katanya, sebagai seorang wanita, kita harus menjaga tubuh dengan baik sebagai modal utama.
"Ganti semua menu! Bikinin Palupi nasi goreng pete, Mbak. Atau bikin ayam laos, oseng-oseng jeroan, sambal hati ayam, menu-menu seperti itu!" Palupi mengintruksikan, sembari membuka kulkas untuk mengecek bahan apa saja yang ada.
Mbak Sari membeku untuk sesaat. Dia menatap Palupi yang sibuk mengobrak-abrik bahan di dapur, masih sulit mencerna kemauan majikannya.
"Non! Ngomong-ngomong, semua menu itu kan pantangan Non semua!" Mbak Sari mengingatkan.
"Mbak! Hidup kita itu cuka sekali. SEKALI. Terlalu sayang jika kita tidak menikmati apa yang bisa kita nikmati! Mulai sekarang, nggak ada pantangan makanan lagi. Semakin tinggi protein, semakin baik. Semakin tinggi kelezatan yang dikandung makanan, semakin baik! Inget itu, Mbak!
"Tuhan menciptakan makanan itu beraneka macam, dengan berbagai rasa. Kenapa? Apa tujuannya? Semua itu sebagai fasilitas dari-Nya untuk kita nikmati dengan layak. Jika Tuhan membolehkan dan tidak melarang, alangkah baiknya kita menerimanya dan menikmati setiap suapan yang tersedia!
"Hidup itu, harus mengambil hal-hal baik yang bisa ditawarkan dunia. Kenapa? Supaya kita bersyukur dan semakin bersyukur pada Tuhan.
"Inget, Mbak! Masak dengan baik, cari referensi masak yang joss, dan kita nikmati sama-sama. Oke?"
Palupi mulai mencuci otak Mbak Sari. Dengan wajah serius, Palupi menyampaikan kata demi kata maksud hatinya agar Mbak Sari paham.
Senyum tulus terukir di bibir Mbak Sari. Dia mengusap bahu Palupi, mengangguk takdzim penuh hormat. Benar saja. Semakin dewasa seseorang, semakin dewasa pula cara berpikirnya. Sekarang Palupi tak lagi tergila-gila pada gaya hidup ketat yang ia terapkan dengan kuat. Pikiran Palupi mulai melunak, berinisiatif menarik kembali semua pantangan-pantangan yang dulu ia tetapkan.
"Non benar. Kita harus menikmati apa yang bisa kita nikmati! Mbak bersyukur akhirnya Non bisa mengambil keptusan ini!" Mbak Sari tak menyangka akhirnya majikannya bisa tercerahkan kembali.
"Nah. Betul itu! Ayo, Mbak! Masak lagi, ya!"
"Iya, iya, Non! Iya! Gimana kalau Mbak bikin ayam kremes!"
"Boleh, Mbak. Sama sambal rawitnya jangan lupa!"
"Sama oseng-oseng kangkung, ya, Non!"
"Boleh!"
"Tempe goreng?"
"Nah iya. Tempe goreng!"
Mata kedua orang berbinar, menunjukkan minat yang sama pada makanan. Tak jauh dari mereka, Papa dan Mama saling melirik, mengintip aktifitas putri mereka dengan hati-hati.
"Pa!"
"Ya?"
"Pa!"
"Ya?"
"Palupi, Pa!"
"Iya, itu anak kita!"
"Pa?"
"Iya, Ma?" Papa melirik kesal pada istrinya.
"Putri kita mengalami perubahan!"
"Iya!"
"Apa perlu kita menghubungi psikiater? Hanya untuk jaga-jaga!" Rosalin tampak tertekan.
"Sejauh ini masih normal, Ma! Perubahannya tidak mengarah pada hal-hal negatif!"
"Tapi kita udah sepakat mau ke psikiater atau psikolog!" Rosalin mengingatkan.
"Iya, Papa ingat! Tapi sekarang, sejauh ini, putri kita belum melakukan hal-hal yang membuat kita perlu waspada dan khawatir! Sudahlah, Ma! Kita jangan terlalu paranoid!"
Rosalin memejamkan mata cukup lama, merasa tak nyaman, tapi akhirnya mengangguk setuju.
Semoga saja Palupi tidak berubah seperti yang Rosalin takutkan. Rosalin tak ingin melihat tragedi kembali berulang.
Masa lalu, mau tak mau membentuk ketakutan tersendiri bagi sebagian orang.
…