Pulang Bersama

1132 Kata
Jika ada sebuah penyesalan nyata di dunia ini, maka Devano sedang mengalaminya sekarang. Menyerahkan kendali mobil pada Palupi adalah kesalahan fatal yang Devano lakukan. Palupi membawa mobil tak beraturan, tersentak-sentak, berkali-kali menekan gas, rem, dan berganti persneling dengan tak stabil. Alih-alih naik mobil, Devano merasa ia sedang naik odong-odong di atas lintasan rel kereta api. Lebih mirip naik kuda di jaman Majapahit di mana jalannya masih belum terjamah tangan manusia. Ini benar-benar menguji adrenalin. Mual yang sempat Devano rasakan saat vertigonya tadi kumat, kini hadir kembali, dipicu oleh cara Palupi mengendarai mobil. Setiap tikungan dan belokan yang ada, sudah tak terhitung berapa kali Palupi nyaris menabrak kendaraan di kiri kanannya, membuat banyak orang berteriak marah dan beberapa di antaranya memaki-maki. Hebatnya lagi, Palupi seolah-olah tak terpengaruh. Dengan percaya diri, dia tetap memegang kemudi, membawa Devano ke dalam petualangan paling menegangkan. Paling menyeramkan. Paling menantang maut. "Loe baik-baik aja?" Devano bertanya untuk ketiga kalinya. Devano sudah menyiapkan mental. Dia berhasil tak terbunuh di tangan preman, tapi bisa jadi dia akan tetap terbunuh juga. Bedanya, ia terbunuh di tangan Palupi di mobilnya sendiri. Palupi melirik Devano, dalam hati mempertanyakam kecerewetan orang ini. "Ternyata loe bisa cerewet juga!" Palupi menekan gas tiba-tiba, membuat Devano segera mengeratkan tangannya di hand grip. Devano merasa kepalanya kembali pusing. Dalam hati, dia mulai mempertanyakan kemampuan Palupi mengemudi sebenarnya. "Loe punya SIM?" "Punya! Masih aktif!" Palupi menjawab dengan sedikit rasa bersalah. Pemilik jiwa sebelumnya memiliki kemampuan mengendarai mobil dengan baik. Sangat baik malah. Hanya saja, kemampuan itu tak diwariskan pada jiwa Palupi sekarang. Dia memang mendapat sebagian besar ingatan dari tubuh sebelumnya melalui memori otak tentang identitas diri, identitas orang-orang di sekelilingnya, dan beberapa riwayat masa lalu. Sayangnya, tidak begitu dengan skill dan kemampuan dasar. Kemampuan itu hanya berupa ingatan samar-samar, tidak otomatis terintegrasi padanya secara utuh. Hanya sebagian kecil yang masih sanggup ia raih melalui alam bawah sadar. Seperti contohnya dalam kemampuannya memanajemen bisnis. Palupi tak memiliki insting dan ketajaman seperti sebelumnya. Kasus lain, adalah kejadian hari ini. Dia tak memiliki kemampuan otomatis mengendarai mobil. Ingatanya samar-samar, dan Palupi hanya bisa bergantung dengan ini. Bisa berjalan lebih dari sepuluh meter tanpa memicu tabrakan beruntun saja Palupi sudah bersyukur. Devano mendesah panjang, memejamkan mata untuk sejenak. Jika orang seperti ini lolos uji SIM, Devano mulai khawatir negara ini akan kacau dan mengalami tragedi kecelakaan lalu lintas secara berkala. Saat Palupi menabrak bagian belakang truk di depannya, Devano sudah benar-benar hilang kesabaran. Beruntung benturan ini adalah benturan ringan dan pengemudi truk hanya melirik dari kaca spion dengan tatapan dingin. Jika ini tetap berlanjut, Devano yakin hanya masalah waktu saja sebelum akhirnya Palupi melakukan tabrakan serius, dan mungkin mengambil nyawa orang tak bersalah. "Biar gue yang nyetir!" Devano akhirnya mengambil keputusan. Dia tak yakin nyawanya akan tetap utuh sampai sepuluh menit ke depan andai Palupi tetap berada di balik kemudi mobil. "Bukannya loe vertigo?" Palupi menatap wajah Devano yang pucat. "Udah lebih baik! Berhenti di depan!" Vertigo Devano sudah membaik. Namun, jika Palupi tetap mengemudi, Devano yakin bukan hanya vertigonya yang kambuh lagi, tapi mungkin memicu serangkaian komplokasi lain yang berujung maut. Entah bagaimana, Palupi memiliki kemampuan untuk membunùh orang dengan sengaja. Palupi tak ingin berdebat panjang. Dia segera menghentikan mobilnya, memberi kesempatan bagi Devano mengambil alih kemudi. Toh dia juga tak terlalu yakin dengan kemampuannya sendiri. Wajah Devano masih pucat, tapi kondisi kepalanya sudah lebih baik daripada sebelumnya. Setidaknya, pusingnya masih bisa ia atasi dan objek-objek penting di sekitarnya bisa ia tangkap. "Hati-hati, ya! Kalau vertigo loe naik lagi, mending kita berhenti. Jangan memicu kecelakaan di jalan! Ngomong-ngomong, gue masih muda! Terlalu sayang kalau matì di jalan!" Palupi mengingatkan, sementara Devano hanya melirik sekilas padanya. Apakah Palupi sadar saat dia mengemudi, Devano merasa keselamatannya lebih terancam dari ini? Wanita itu tampaknya selalu waspada pada orang lain, tapi lupa waspada pada dirinya sendiri. Palupi mengusap beberapa luka yang masih berdarah, mencoba membersihkan kotoran dengan tisu di mobil. Pak Nadhir, si sopir, sudah sempat ia hubungi untuk diberi tahu jika Palupi pulang bersama Devano. Seharusnya Papa Mama tak perlu khawatir saat ini. "Sejak kapan loe bisa berkelahi?" Devano membuka suara. Ini adalah hal langka, saat dia memilih mengambil inisiatif berbicara lebih dulu. Biasanya, Devano adalah orang yang pasif, cenderung tidak peduli pada banyak hal. Malam ini, bisa dikatakan adalah malam penuh percakapan, sepanjang masa dewasa Devano. "SMP!" Tanpa sadar, mata Palupi penuh nostalgia. Dia sudah memberontak dari dulu, saat ia merasa tersisih dan tak memiliki tempat. Devano terdiam lama. Dia ingat sepanjang ingatannya, saat orang tuanya membicarakan tentang Palupi, dia tak pernah mendengar kemampuan wanita terkait bakatnya dalam berkelahi. Tapi jika dipikir-pikir lebih jauh, mungkin fakta ini sengaja disembunyikan. Bukankah setiap orang memiliki kenakalan remaja yang dianggap tak baik dan sering kali ditutupi? Wanita yang suka berkelahi sejak SMP, tentu saja dinilai bertentangan dengan standar kepantasan secara umum. "Terimakasih!" Devano berkata tulus. Palupi membeku selama dua detik. Sepertinya Devano baru saja berkata terimakasih. Mungkinkah pendengaran Palupi mengalami gangguan? Belum sempat kekagetan Palupi berlalu, Devano menghentikan mobilnya, mengambil kotak P3K di bawah dashboard, dan membukanya dengan sistematis. Tangan Palupi ditarik, dibalik persis di bagian luka yang berdaràh, dan dibersihkan dengan alkohol. Gerakannya halus, lembut, dan cepat. Melihat memar-memar lain, wajah Devano semakin menggelap, tak terlalu baik. Kulit Palupi sangat sensitif. Memar-memar ini terlihat mengerikan, mengacaukan warna kulitnya yang semula putih dan bersinar. Menerima perawatan Devano, Palupi mendesis kecil saat kasa beralkohol bersentuhan dengan kulitnya. Kepala Devano menunduk, membiarkan rambutnya yang sekelam tinta jatuh dengan lembut di pelipisnya. Perawatan Devano sangat lembut, sabar, dan teliti. Setelah dirasa cukup, Devano mengembalikan lagi kotak P3K, bersandar ke belakang kursi, dan memejamkan matanya sejenak. Keletihan menerpanya. Menyadari kondisi Devano, Palupi hanya bisa ikut diam dan tak banyak protes. Dia menyandarkan tubuhnya yang letih, merasa sendi-sendinya memprotes setelah aksinya melumpuhkan tiga orang tadi. "Wanita seharusnya nggak keluyuran ke gang kecil!" Devano mengingatkan. Ada kepedulian nyata di kedua matanya. Kejahatan tak ada yang tahu akan berkembang seperti apa. Mungkin sekarang Palupi bisa mengatasinya. Tapi bagaimana jika lain kali dia berhadapan dengan gerombolan yang jumlahnya banyak dan kekuatannya di atas Palupi? Akhir seperti apa yang akan menanti Palupi? "Loe ngeremehin gue?" Palupi sedikit tersinggung. "Tidak ada jaminan loe selalu bisa mengatasi orang-orang jahat. Selalu ada kemungkinan loe ketemu orang yang lebih kuat!" Palupi melirik Devano, dalam hati mengingat ini adalah kalimat terpanjang yang Devano berikan padanya. Hanya saja, kenapa Palupi merasa kata-kata Devano tak berbeda dengan kalimat seorang ibu pada anaknya? "Kan selalu bisa lari!" bantah Palupi keras kepala. Jangan tanyakan kemampuan Palupi dalam melarikan diri. Bahkan siswa laki-laki yang mewakili lomba estafet, mengakui kelebihannya. "Tidak selalu lari bisa menyelamatkan seseorang!" "Loe belum tau gimana gue lari!" "Jangan terlalu percaya diri!" "Nantangin gue?" Nada Palupi mulai naik setengah oktaf. Devano memilih diam, tak lagi menanggapi kata-kata Palupi. Entah kenapa, dia merasa, baik dia dan Palupi, malam ini mereka sangat kekanak-kanakan. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN