Reaksi Orang Tua

1152 Kata
Devano baru saja kembali ke rumah pukul setengah sepuluh malam setelah sebelumnya mengantarkan Palupi ke klinik terdekat dan membawanya pulang. Siapa yang mengira Palupi membenci klinik dan malah membentak dokter piket? Wanita itu membuat kekacauan sehingga akhirnya Devano terpaksa membawa Palupi pulang. Bagaimana ada wanita yang sangat membenci klinik? Padahal luka-luka Palupi cukup banyak dengan memar dan goresan di mana-mana. Devano berjalan pelan ke kamar, mencari multivitamin di rak, kemudian menelannya tanpa air minum. Vertigonya sudah lebih baik, tapi dia tetap membutuhkan vitamin tambahan untuk staminanya. Merasa tubuhnya lengket, Devano mandi air dingin, mengenakan piyama sutra hitam, dan berjalan lambat ke dapur untuk makan sesuatu. Rumahnya adalah rumah minimalis yang tak terlalu luas. Devano selalu suka mengurus dirinya sendiri, tipe perfeksionis yang mengatur semuanya, dan tak terlalu suka hal-hal yang berlebihan. Alih-alih mencari rumah pinggir kota dengan luas tiga ribu meter persegi dan kebun luas dengan pemandangan matahari terbit seperti orang tuanya, Devano lebih suka hal-hal simpel. Saat melihat rumah dua lantai dengan luas tanah seratus meter persegi, dia langsung menyukainya. Bangunan ini dibuat di areal kompleks perumahan yang Devano kembangkan. Menghadap ke arah matahari terbit, dengan balkon fleksibel yang memiliki kaca khusus untuk dibuka tutup sesuai kondisi. Setelah mandi, Devano membuat secangkir kopi hitam tanpa gula, membawanya ke kamar kerja sebagai peneman diri. Tubuhnya sebenarnya letih, tapi dia memiliki insomnia sehingga jam tidurnya hanya berkisar antara satu hingga tiga jam per hari. Itulah kenapa Devano lebih suka memanfaatkan waktu untu bekerja baik di kantor maupun rumah. Dia memiliki waktu produktif lebih banyak dari orang lain. Akan lebih baik jika digunakan untuk bekerja mengembangkan bisnisnya. Devano adalah orang yang sangat monoton. Setidaknya, itulah yang dikatakan beberapa temannya. Tak tertarik pada kehidupan malam, tak ingin bersenang-senang, tak suka melibatkan diri dalam rumor ambigu bersama wanita, dan tak suka menciptakan sensasi apa pun. Bersih. Terlalu bersih. Itulah kenapa banyak orang tua yang menganggapnya sebagai calon menantu potensial. Hanya saja, selain monoton, sikapnya dalam menjaga jarak terlalu sulit dicairkan. Jangan tanyakan berapa wanita yang berusaha mendekatinya dan semuanya diacuhkan. Semua perhatian lelaki itu hanya untuk pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan. Biasanya Devano menyelesaikan beberapa tinjauan kontrak yang perlu ia evaluasi lagi setiap malam. Namun, malam ini ada yang berbeda. Entah kenapa, setiap kali menatap layar monitor, justru bayangan wajah seorang wanita yang muncul dalam benaknya. Wanita yang entah kenapa, terasa berbeda sebelumnya. … Palupi baru saja selesai mandi, menyeka kembali luka-lukanya dentan antiseptik, dan berjalan lambat ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Papa dan Mama malam ini sedang keluar entah ke mana, sehingga ia belum menyapa mereka semua sejak pagi. Mbak Sari memasak rawon sapi untuk makan malam. Palupi makan kilat, kemudian membuat lemon tea hangat dan membawanya ke ruang keluarga. Dengan asal, Palupi menghidupkan TV, membiarkannya bersuara tanpa repot-repot melihat acara apa yang ditayangkan. Palupi hanya tak suka keheningan. Dulu, dia terlalu sering menemui keheningan dan kesepian setiap kali pulang ke rumah. Karena itu, bahkan suara TV pun mampu menjadi teman setianya. Dia perlu sesuatu yang berisil untuk mengusir kekosongan dalam jiwanya. Dari dulu, kekosongan dan kesepian selalu menjadi temannya. Menciptakan lubang besar dakam hidup. "Sayang, kamu masih belum tidur? Mama baru saja mengunjungi pesta ulang tahun kolega Papa. Kamu …." Rosalin langsung menyapa putrinya saat ia pulang dari acara yang ia datangi. Kata-katanya terputus ketika melihat wajah putrinya yang kacau. Ada lebam di mana-mana. Bibirnya bengkak. Matanya merah. Dan lengannya terluka dengan balutan plester sederhana. Lengan tangan dan kakinya memiliku jejak goresan dan pukulan. Rosaline syok. Galuh, yang ada di belakangnya, menangkap pemandangan serupa dan tak bisa berkata-kata. Putri mereka yang sangat mereka cintai. Putri mereka yang sangat mereka lindungi. Putri mereka yang sangat mereka banggakan. Bagaimana bisa terluka seperti ini? Jantung Rosalin jatuh, rasanya ada yang menendang ulu hatinya dengan kekuatan mengerikan. "Kamu kenapa? Bagaimana bisa ada banyak luka seperti ini?!" Rosalin syok. Dia meraih putrinya dengan histeris, tapi kemudian melepaskan secara tiba-tiba saat Palupi mengernyit tak nyaman. Apakah tindakan Rosalin melukai putrinya? Apakah gerakan Rosalin membua Palupi sakit? "Sayang … ada apa ini? Siapa yang melakukannya? Bagaimana ada yang bisa bertindak sembrono dengan keluarga Hadyan kita? Siapa yang berani menyentuh kamu seperti ini? Siapa, Sayang? Ayo katakan semuanya sama Papa!" Galuh menatap putrinya dengan rasa sakit yang nyata. Putri yang ia jaga selama ini tidak mungkin dibiarkan begitu saja saat ada orang yang berani melukainya. Galuh akan mencari pelakunya, membuat mereka menghilang dari dunia ini. Jika perlu, selamanya. "Ya Tuhan! Palupi! Oh Palupi. Kenapa ... kenapa ada yang tega melakukan ini ... kenapa?!" Rosalin terisak pilu, kedua tangannya gemetar hebat. Dia menatap putrinya tam berdaya, merasa lebih sakit daripada sebelumnya. Membayangkan putrinya menjadi korban kekerasan, tak berdaya, jatuh dan terluka, seolah-olah hati Rosalin berdarah parah. Dia seorang ibu. Ibu mana yang sanggup melihat anaknya terluka? "Jangan cemas, Ma! Kondisi mereka yang melawan Palupi lebih parah dari ini!" Palupi menghibur Mama, sedikit canggung mendapati respon kedua orang tuanya yang histeris. Dulu, saat ia menjadi putri tiri Nehan Abimanyu, Palupi tak jarang pulang dalam keadaan yang lebih parah dari ini. Terutama setelah ibunya meninggal. Berkali-kali dia membuat keributan, dan lumrah baginya untuk terluka. Patah tulang, sendi bergeser, retak tulang, sudah menjadi hal yang lazim terjadi. Anggota keluarga lain jarang yang peduli. Jika pun ada, hanya beberapa tanggapan negatif atas tingkahnya dan tak ada yang bersimpati. Dihadapkan pada kecemasan orang tua barunya saat ini, Palupi merasa canggung dan bingung. Namun, ada kehangatan kecil yang merasuk ke dalam hatinya, lama-lama membesar, menjadikan seluruh ruang tertutup dan dingin di sudut hatinya kini terang memancarkan cahaya kuat. Ternyata seperti ini rasanya dikhawatirkan? Ternyata seperti ini rasanya diperhatikan? Ternyata seperti ini rasanya dianggap penting? Perasaan ini menjadi afeksi. "Sebutkan siapa yang berani menyerangmu seperti ini? Papa akan bikin orang itu tak bisa bergerak selama dua bulan." Galuh masih kesetanan. "Nggak perlu, Pa!" Palupi meringis kecil. Papa dan Mama tak tahu kondisi seperti apa orang-orang itu yang telah Palupi lawan. Mereka lebih kacau dan babak belur. Sayangnya, baik Papa dan Mama tak percaya. Dalam anggapan mereka, putri mereka adalah sosok lemah dan rentan yang tak berdaya. Putri mereka rentan akan kejahatan. "Papa nggak akan bikin orang itu lumpuh selama berbulan-bulan. Kalau perlu, Papa akan bikin orang itu bahkan nggak bisa bergerak sepanjang hidupnya. Biarkan mereka hidup dengan tersiksa sepanjang hayat!" Galuh mengepalkan tinjunya, merencanakan berbagai hal jahat di kepala botaknya. Palupi tersenyum lemah. Dia tak menyangka Papa memiliki sisi yang lebih kejam dari dirinya? Papa bahkan berpikir untuk membuat orang lain menderita sepanjang hayat. Ah. Orang gembul ini pantas menjadi seorang ayah. "Mama sempat dapat pesan dari Pak Nadhir kamu pulang sama Devano. Mama nggak nyangka kamu akan pulang dalam keadaan begini. Jujur sama Mama. Apa Devano yang melakukan ini sama kamu? Apa Devano masih dendam kamu membatalkan pernikahan sehingga kamu disakiti seperti ini?" Palupi hanya bisa menatap Mama dengan linglung. Dia memang pulang bersama Devano. Hanya saja … kenapa imajinasi Mama lebih gilà dari yang ia pikirkan? Dari mana Mama belajar halusinasi sesat seperti ini? ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN