Kecemasan Orang Tua

1104 Kata
"Bajìngan itu! Berani-beraninya dia menyentuh putriku seperti ini? Apa dia pikir keluarga Hadyan adalah kuarga yang bisa diperlakukan semena-mena?!" Papa melotot marah, berjalan mondar-mandir, tinjunya terkepal di kedua sisi tubuh. "Mama akan membelamu habis-habisa. Jangan takut, Sayang. Bahkan jika kita harus melawan keluarga Kagendra, kita akan memastikan Devano mendapatkan ganjaran serupa!" Mama ikut menyalurkan amarahnya. "Terlalu murah jika dibiarkan saja. Dan terlalu mudah dihukum langsung. Papa akan urus masalah ini. Papa akan sewa orang buat mengajari Devano. Mengajari dengan cara Papa sendiri." "Jangan hanya mengajari saja, Pa! Kalau perlu, kita buat Devano merasakan keputusasaan sebagai seorang pria. Kebiri saja dia!" Mama mengusulkan, tanpa menyembunyikan kemurkaaan di matanya. "Iya, Ma! Papa akan bikin orang itu mengalami disfungsi seksual!" Palupi melongo tak berdaya. Benarkah ini yang baru saja mereka katakan? Rencana balas dendam yang salah? Bagaimanapun juga, posisi Devano tak aman untuk saat ini. Palupi mau tak mau menyalakan lilin dalam hatinya sebagai bentuk simpati pada Devano. "Sayang, tenang saja! Papa dan Mama akan menyelesaikan masalah Devano. Dia akan tetap hidup, tapi hidupnya pasti akan menderita! Kita tidak bisa melawan keluarga Kagendea terang-terangan! Tapi bukan berarti kita tak bisa bermain dalam gelap!" Mama menyentuh punggung Palupi, memberikan dukungan nyata. Kesalahpahaman ini semakin membesar. Palupi tadinya hanya merasa konyol. Namun, jika ini terus berlanjut, mengingat IQ Papa dan kepekaan Mama, dia khawatir orang tuanya benar-benar akan merencanakan kriminalitas gelap untuk Devano. Siapa yang menyangka di balik lelaki gembul botak dan wanita blasteran Indo-Eropa ternyata memiliki otak kejahatan terpendam? Bagaimanapun juga, Palupi harus menyelamatkan kedua orang tuanya. Ini adalah orang tua yang baru saja Tuhan berikan untuknya dalam hidupnya yang kedua sehingga perlu dijaga dengan baik. Mengingat bagaimana tatapan Devano yang dalam dan caranya bersikap, Palupi khawatir orang tuanya akan kalah jika melawan Devano. Lelaki seperti itu biasanya memiliki kekuatan tersembunyi yang dipenuhi kekejaman. Palupi selalu merasa Devano adalah predator berdarah dingin setiap kali bersamanya. Dia membawa aura berat yang anehnya, tidak disadari Papa dan Mama. Palupi menggelengkan kepala dengan rumit. Sejauh menyangkut kepekaan, Papa dan Mama tak bisa dikatakan normal. "Tolong kendalikan fantasi kalian! Devano tidak pernah melukai Palupi, oke? Tidak pernah! Yang melakukannya adalah berandalan jalanan yang kebetulan ketika itu mengganggu Palupi saat Palupi jalan-jalan cari angin saat nungguin Pak Nadhir benerin mobil yang mogok. Baru setelah itu Palupi ketemu Devano. Dia nganterin Palupi pulang!" Palupi menjelaskannya dengan sabar, memelintir sebagian kenyataan. Jika Palupi mengatakan ia membantu Devano mengatasi preman jalanan, Papa dan Mama akan lebih histeris lagi. Lebih aman dia memberikan penjelasan lain, demi kestabilan mental kedua orang tuanya. "Serius?" Mama masih tak yakin. "Iya! Buat apa Palupi bohong?!" "Bagus kalau bukan Devano pelakunya. Papa nggak akan pernah lepasin laki-laki itu jika dia berani melakukan hal-hal buruk sama kamu!" Papa mendesah lega. Melawan Devano tidak mudah. Namun, jika memang Devano melecehkan putrinya, Papa tidak akan segan-segan mengatasi orang itu. Beruntung bukan Devano. Setidaknya mereka terhindar dari bentrokan. "Tapi berandalan mana yang berani memberi masalah kamu seperti ini? Siapa mereka?" Papa kemudian bertanya dengan emosi yang lebih terkontrol. Palupi bingung. Dia menatap Papa dengan tatapan bodòh. Bagaimana bisa Palupi tahu nama berandalan-berandalan itu? Apa Papa pikir perkelahian jalanan itu seperti pertandingan karate resmi dengan papan nama dan perkenalan latar belakang identitas? Yang benar saja. Ada apa dengan sirkuit otak Papa? Palupi tahu ada sisi abnormal yang Papa miliki dalam dirinya. Dia hanya tak menyangka sisi itu akan sebesar ini. "Nggak tau, Pa! Besok kalau Palupi berantem lagi, Palupi tanya dulu siapa nama mereka masing-masing!" Palupi menjawab asal. "Bagaimana ciri-cirinya? Tinggi badan? Wajah? Perawakan? Tanda-tanda tertentu? Cara berpakaian? Jalan mana yang menjadi tempat p*********n?" Papa masih belum berhenti mencari tahu. Dia menatap putrinya lama, berharap mendapat petunjuk nyata. "Lupa! Nggak ada yang spesial dari mereka!" Bukannya Palupi menutupi identitas mereka, hanya saja Palupi terlalu malas menanggapi rasa ingin tahu Papa yang tak ada habisnya. Bagi Palupi, peristiwa yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Toh mereka juga sudah mendapatkan pelajaran nyata, untuk apa diungkit-ungkit lagi? "Kamu ini ... besok harus lebih hati-hati. Jangan pernah tinggalin Pak Nadhir lagi kalau mobilnya sedang mogok. Mama panggilin dokter ke sini, ya!" Mama meraih lengan Palupi hati-hati, merasa plester yang membalut luka putrinya tampak asal-asalan dan tidak rapi. Mungkin luka-luka ini hanya ditangani manual. "Nggak perlu, Ma! Palupi baik-baik aja. Ini cuma memar. Tiga empat hari juga sembuh!" Tak ingin berlebihan, Palupi hanya bisa mengibaskan tangan, mencoba menolak ide Mama. Melihat dokter dan rumah sakit bukan sesuatu hal yang Palupi suka. Jika dia tak memiliki luka parah, Palupi enggan berurusan dengan hal-hal medis. "Kamu yakin nggak apa-apa?" Papa masih khawatir. Dia tak pernah melihat putrinya kacau seperti ini. Siapa ayah yang tak sakit hati melihat putri yang selalu ia manjakan terluka? "Yakin! Palupi tidur dulu, ya! Ngantuk!" Palupi bangkit berdiri, meringis kecil saat kakinya nyeri menerima gerakan mendadak yang tiba-tiba. Tubuh ini perlu dilatih lagi. Masih berada di bawah standar Palupi. Melihat kepergian Palupi, Papa dan Mama saling menatap lama. Kecemasan dan kekhawatiran masih belum sepenuhnya hilang dari hati mereka berdua. Semenjak Palupi membatalkan pernikahannya dengan Devano, Papa dan Mama menyadari perubahan sikap Palupi yang tiba-tiba. Putri mereka seolah-olah, bukan lagi seperti putri mereka sebelummya. Pada dasarnya, kepribadian Palupi dingin, sinis, dan sering kali bertindak kejam di berbagai situasi. Dengan kata lain, Palupi memiliki kelicikan yang tersembunyi. Hanya saja, sekarang Palupi tampak apa adanya, lugas, dan terus terang. Jika dulu Palupi selalu menyerang orang di balik punggung, kini dia seperti … lebih suka menyerang berhadap-hadapan. Awalnya Rosalin khawatir perubahan kepribadian Palupi dipicu kelainan tertentu, mengingat adik Rosalin menderita kepribadian ganda dan sering kali bertindak kejam di situasi-situasi khusus. Hanya saja, setelah diamati, Palupi tidak melakukan tindakan kriminal mau pun membahayakan diri sendiri. Selama Palupi tetap aman dan tidak melakukan sesuatu yang berbahaya, Rosalin dan Galuh sepakat tidak akan mempermasalahkan perubahan Palupi. Toh setiap orang itu selalu dinamis, sehingga mustahil untuk tidak mengalami perubahan, meskipun itu perubahan karakter. Sekarang Palupi terluka. Entah bagaimana, kekhawatiran Rosalin muncul lebih besar dari sebelumnya. "Jangan khawatir, Ma! Anak kita baik-baik saja, kok!" Memgetahui flukuasi emosi istrinya yang kurang baik, Galuh mengusap lembut bahunya, memberikan penghiburan. "Papa yakin semuanya baik-baik saja?" Rosalin bertanya cemas. "Yakin. Semua pasti baik-baik saja! Jangan terlalu cemas, Ma! Kita akan merawat Palupi dengan lebih baik lagi!" "Mungkinkah kita perlu menyewa pengawal?" Risalin memberikan saran. "Ide bagus!" Galuh mengangguk puas. Besoknya, dia membawa beberapa kandidat pengawal untuk Palupi. Sayangnya, dua pengawal yang Galuh rekomendasikan untuk Palupi, berakhir menyedihkan dengan lebam-lebam di banyak tempat. Palupi telah mengalahkan mereka, menolak pengawalan mereka dengan membabi buta. Galuh dan Rosalin dibuat kelimpungan, dalam hati bertanya-tanya bagaimana putri mereka bisa sekuat itu. Apakah diam-diam selama ini Palupi belajar seni bela diri tanpa setau mereka? Ya. Pastilah itu yang terjadi. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN