Seminggu ini Palupi telah menolak semua bujukan Papa untuk bekerja dan melepaskan diri dari usaha sarang burung walet. Saat Papa membujuk Palupi untuk memegang usaha real estate sebagai gantinya, dia juga menolak. Penolakan kali ini adalah penolakan kuat, sehingga baik Mama dan Papa tak bisa berbuat banyak.
"Pa! Demi kelancaran usaha Papa, Papa cari aja orang lain untuk menangani usaha ini. Jika Papa tetep paksa Palupi, hanya masalah waktu sebelum akhirnya usaha Papa gulung tikar. Lima tahun ke depan, kemungkinan kita akan menjadi beban negara karena kebangkrutan!"
Belum ada sebulan Palupi bekerja sebagai CEO, usaha sarang burung walet mengalami penurunan. Grafik penjualan turun, keuntungan per partai turun, dan penyusutan bahan justru naik. Manager Produksi mengatakan semua ini dipicu karena ketidakseimbangan harga beli dan jual, juga karena pasar China tiba-tiba kurang stabil. Namun, jauh di dalam hati Palupi, dia tahu semua itu karena ia tidak handal dalam mengambil keputusan. Palupi hanya bergantung pada insting bisnis samar yang tubuh ini wariskan melalui ingatan, tetapi itu jauh dari cukup. Dalam binsnis, kemampuan Palupi kurang peka. Bisa dikatakan dia terlalu pasif pada perubahan pasar yang ada.
Semua laporan yang menumpuk di meja kerja, selalu membuat Palupi pusing. Dia tertekan sepanjang hari, dan hasil kinerjanya kurang maksimal. Hampir semua keputusan dia serahkan pada bawahannya. Palupi mengikuti arus yang ada.
Palupi sadar jika tetap diteruskan, usaha Papa hanya akan mengalami penurunan. Baik kualitas, produksi, dan target pasar. Sebelum semuanya terlambat, Palupi lebih baik mundur danqwù meletakkan semua beban ini ke tangan Papa kembali. Bukan hal yang sulit bagi Papa untuk mencari orang lain menggantikan posisi Palupi.
"Papa hanya punya satu anak. Kamu. Kalau kamu bahkan nggak bisa berbisnis, siapa yang akan melanjutkannya setelah Papa nggak ada?" Wajah Papa menyedihkan, seperti anak kecil yang direbut mainan kesayangannya.
Bisnis Galuh bukan hanya satu. Dia bahkan berinvestasi dan memiliki saham di banyak bidang. Jika Palupi sama sekali tak tertarik, itu jelas sangat melukai Galuh. Kerja kerasnya mau dilanjutkan siapa?
"Kan Papa bisa pake jasa orang lain!" Palupi memutarkan matanya, tampak kesal. Perusahaan tidak akan mati hanya karena pemiliknya menolak terjun langsung. Cari saja CEO yang handal, temukan SDM yang mumpuni, dan terima orang-orang dengan jiwa inovatif yang kuat. Evaluasi kinerjanya selama beberapa waktu. Jika baik, lanjutkan. Jika tidak, cari orang lagi. Apa susahnya seperti itu?
Toh selama kinerjanya transparan, dan sistem keuangannya rajin diaudit, Palupi optimis usaha Papa tetap akan berjalan dengan baik.
"Kamu anak Papa. Sudah suharusnya kamu mewarisi apa yang Papa miliki dan menjalankannya dengan baik! Terjun langsung dan sekadar mengawasi itu berbeda, Sayang!" Galuh masih enggan menyerah. "Lagi pula, selama ini insting bisnismu selalu bagus. Kamu bahkan punya terobosan-terobosan baru yang bisa meningkatkan keuntungan. Kenapa mau jadi orang yang pasif?"
Palupi ingin membenturkan kepalanya saat ini juga. Jiwa sebelumnya memang pintar dalam bisnis, tapi tidak begitu dengan Palupi. Bagaimana Palupi bisa menjelaskan hal ini? Dia khawatir jika tetap terikat pada perusahaan, Palupi akan menjadi trouble terbesar yang berakibat fatal.
Demi kemaslahatan bersama, tidak bisakah Papa memahaminya?
"Keputusan Palupi udah final! Palupi nggak akan bergabung dalam bisnis Papa!"
"Sayang, kamu—"
"Nggak! Palupi nggak mau!"
"Begini, dengerin Papa dulu—"
"Palupi nggak akan kerja lagi!"
"Kamu jangan impulsif!"
"Palupi berhenti!"
"Sayang!"
"Berhenti. Resign. Keluar. Stop!"
Tak bisa diganggu gugat. Tak ada celàh untuk bernegosiasi. Papa memandang Palupi lama, kemudian mendesah panjang.
"Memangnya apa yang akan kamu lakukan kalau nggak bergabung dengan bisnis Papa?" Galuh akhirnya mulai melunak, menanyakan apa sebenarnya yang diinginkan Palupi.
Mendengar pertanyaan ini, Palupi menggosok hidungnya dengan kasar. Uh. Apa kira-kira yang akan ia lakukan? Palupi belum sepenuhnya tahu.
"Untuk saat ini, Palupi belum punya rencana. Tapi yang jelas Palupi nggak akan kerja di perusahaan Papa lagi!"
Dari semua pekerjaan yang bisa Palupi pikirkan sebelumnya, berurusan dengan hal-hal manajemen bukanlah apa yang ia bayangkan. Tadinya Palupi pikir menjadi CEO adalah pekerjaan yang bergengsi, memiliki nama, dan mudah. Toh kita memiliki bawahan dan hanya menunjuk ini itu. Nyatanya, semua tak semudah yang dibayangkan.
Orang Jawa bilang, sawang sinawang. Alias lihat melihat. Seseorang memiliki kecenderungan untuk melihat, dan menilai sesuatu dari apa yang matanya tangkap. Saat seseorang menjadi bawahan, dia menganggap posisi atasan adalah hal yang paling mudah dan nyaman, sebagai simbol keberhasilan. Pun begitu sebaliknya. Saat seseorang duduk di posisi tinggi, jangan sangka dia melewatinya dengan kenyamanan. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar beban yang harus dia tanggung, dan semakin besar resiko yang akan ia hadapi.
Jabatan tinggi membutuhkan kinerja berat, dedikasi tanpa putus, pengorbanan nyata, dan hal-hal lain yang belum tentu orang mampu. Kata siapa menjadi CEO hanya menawarkan kenyamanan? Memang secara finansial dan prestasi bisa dianggap menjanjikan, tapi pengorbanan dan kesulitan yang menyertainya sepadan. Kebanyakan dari orang-orang hanya menilai hal-hal baik yang ada, tanpa mengintip konsekuensi lain yang dihasilkan. Ya, begitulah rumus sawang sinawang.
Dengan pengalaman yang Palupi dapatkan, dia mengevaluasi dirinya sendiri dan dengan objektif mengakui ia tak pantas mendapatkan jabatan ini. Bagaimanapun juga, pengalamannya minim dan hasràt bisnisnya tak sebaik yang Papa harapkan. Jika dilanjutkan, Palupi akan mengalami ketidaknyamanan. Untuk apa dipertahankan jika jiwanya sendiri tidak nyaman? Hidup terlalu indah untuk disia-siakan mencari gengsi semata.
Melihat keputusan dan tekad Palupi, Papa menyadari tak ada ruang untuk membujuk. Agak aneh memang, menyadari putrinya yang tadinya tertarik pada bisnis tiba-tiba berbalik meninggalkan semuanya.
Namun, karakter Palupi dari dulu memang seperti ini. Rosalin memiliki saudara dengan ketidakseimbangan psikologis. Salah seorang psikolog mengatakan dia mengalami kepribadian ganda.
Dari kecil, emosi Palupi beberapa kali mengalami ketidakstabilan emosi. Terkadang dia berubah minat dan sikap dalam waktu sekejap. Perubahan itu semakin nyata setelah hari pernikahan Palupi dan Devano dibatalkan. Seolah-olah Palupi sungguh-sungguh menjadi karakter baru. Rosalin sempat khawatir putri mereka memiliki ketidakseimbangan psikologis yang serius seperti saudaranya.
Hanya saja, sejauh ini, tidak ada hal-hal negatif yang Palupi lakukan. Tidak melukai diri, tidak melakukan tindak kriminal, dan tidak melakukan hal-hal yang mengancam nyawa. Bisa dibilang karakternya lebih lugas dan apa adanya. Galuh menganggap segalanya masih baik-baik saja. Toh bagaimanapun juga Palupi tetap putrinya sendiri. Karena itulah Galuh tak lagi berpikir panjang tentang perubahan Palupi.
Memang disesalkan Palupi mengundurkan diri dari bisnis keluarga. Tapi jika itu memang kemauan Palupi, Galuh hanya bisa menerimanya. Lagi pula jika dipikir-pikir, Palupi benar. Galuh masih bisa mencari orang lain mengisi jabatan yang Palupi tinggalkan. Dia juga telah mewariskan beberapa aset dan saham-saham utama pada Palupi yang devidennya telah Palupi terima secara berkala sejak usia dua puluh tahun. Seharusnya jika Palupi tidak melakukan hal-hal gila dan tetap hidup normal, warisan itu cukup untuk menopang hidupnya yang panjang.
Tidak ada yang perlu Galuh khawatirkan. Putrinya tetap akan baik-baik saja.
"Baiklah! Papa akan urus semuanya! Kamu hidup baik-baik mulai sekarang! Papa nggak akan nuntut kamu untuk lakuin ini itu lagi! Hanya satu yang Papa inginkan! Jangan buat masalah yang bisa mengacaukan hidupmu!" Galuh menyerah.
"Siap, Pa! Jangan khawatir!"
Setelah mendengar janji ini, Galuh bisa menghela napas lega. Hidup Palupi adalah mutiara yang ia genggam di telapak tangan. Jangan sampai anak itu mengalami kerugian di kemudian hari.
Galuh berharap putrinya hidup dengan baik dan bahagia.
…