Mekarnya Sakura

1269 Kata
Di sebuah caffe yang cukup mewah, tim pengembang program Laksara tengah berkumpul untuk merayakan keberhasilan dari proyek yang mereka buat. Dipimpin oleh Masaki selaku pimpinan sekaligus direktur perusahaan, mereka mengadakan makan malam bersama. Di antara yang hadir, ada satu wanita yang tampil berbeda dari biasanya, wanita yang semula berpakaian seadanya kini berubah tampil sangat cantik bak Cinderella, dan wanita itu adalah Sakura. Dengan dress bernada merah muda dan riasan sederhana tapi cukup menawan, perempuan itu berhasil menarik perhatian dari setiap mata yang memandang. Terlebih, kejadian waktu Sakura diwawancarai oleh beberapa pewarta menjadikannya cukup dikenal oleh orang-orang. Bukan karena kepandaiannya menjawab, melainkan menyadarkan karyawan yang lain jika ternyata selama ini ada Sakura yang bekerja satu perusahaan dengan mereka. “Sakura, kau tahu, di antara banyaknya wanita di sini, kamulah yang paling cantik,” puji Rama dengan nada setengah mabuk. Ini sudah tiga jam semenjak mereka mulai menyantap hidangan dan ditutup dengan berbotol-botol minuman. Selain itu, permainan menjawab atau meminum membuat siapa yang berada disitu harus meminum bergelas-gelas alkohol jika memilih tidak menjawab, termasuk Rama. Sakura yang wajahnya mulai memerah karena alkohol hanya tersenyum malu menanggapi pujian dari rekan prianya itu. “Menurutmu, aku cantik?” timpal Sakura akhirnya. Sontak, Rama mengangguk cepat. Malam semakin larut, sepertinya Rama sudah berada di batas kesadarannya. Ia yang awalnya hanya memuji singkat, kini mulai berani mengeluarkan beberapa kalimat yang cukup memalukan. Sedangkan semua orang sudah tidak peduli, mereka pun sama mabuknya. Kecuali satu yang masih bisa mengontrol kesadarannya, ia adalah Masaki. Pria itu masih lekat mengamati pergerakan yang Sakura lakukan. Entah kenapa, tapi sepanjang makan malam matanya hanya bisa memandang pada perempuan berbaju merah muda itu. Terlebih, saat Rama terang-terangan menggoda Sakura, dalam hatinya ada sebongkah perasaan tidak terima. Tiba-tiba, Rama berdiri, kemudian meraih tangan Sakura yang memag duduk di depannya. “Sakura, kau sangat cantik, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi,” ucapnya terdengar serius. Kemudian Rama beralih menatap manik sayu perempuan di depannya, seraya berkata, “jadi, maukah kau menjadi kekasihku, Sakura?” Ungkapan perasaan secara tiba-tiba oleh Rama membuat suasana kembali menjadi sangat riuh. Semua orang berteriak agar Sakura mau menerima Rama. Sementara di ujung meja, Masaki hanya terdiam berharap Sakura melakukan penolakan. Sakura tak langsung menjawab, di tengah sadarnya yang memudar perempuan itu masih bisa dengan jelas menangkap apa yang Rama katakana padanya. Karena tak menjawab, tiba-tiba Rama menariknya untuk berdiri, mendekatkan tubuh Sakura pada tubuhnya, lagi-lagi ramai suara histeris memenuhi café yang sudah disewa. Sakura tentu terkejut, ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang ditarik paksa oleh Rama. Hingga saat pria itu berniat hendak menautkan bibinya pada Sakura, tiba-tiba perempuan itu tersadar, dan segera menarik diri menjauh. “A-aku … harus ke kamar mandi, maaf,” tolaknya halus. Sebelum beranjak, mata Sakura memandang kea rah Masaki sekilas. Sedangkan pria yang dilihatnya hanya memasang wajah datar dan memalingkan muka setelahnya. Sakura berjalan ke luar dengan perasaan yang begitu campur aduk. Ia tidak menyangka jika Rama berani melakukan hal sefrontal itu. Di sisi lain, meski Sakura dalam keadaan setengah mabuk, ia masih bisa mengendalikan perasaannya. Bahkan dalam angannya, ia masih memikirkan Masaki dan berharap Rama adalah Masaki. “Aih, Masaki membuatku gila, apa yang akan ku lakukan dengan perasaanku?” lirih Sakura seraya mengusap wajahnya yang baru saja dibasuh. Sementara selepas kepergian Sakura, suasana di meja makan menjadi kembali hening. Rama, tiba-tiba pria itu berdiri. “Mau kemana?” tanya Masaki mencegah Rama beranjak. “Aku ingin ke toilet,” timpal Rama. Masaki yang merasa tidak enak kembali menyuruh Rama untuk tidak beranjak. “Tidak usah, kau di sini saja,” ujarnya mencegah Rama. Namun Rama tidak mengindahkan perintah Masaki, dengan langkah sedikit pelan, pria itu tetap berlalu keluar. Selesai dengan urusannya di toilet, Sakura bergegas keluar. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih, tapi ia masih bisa membedakan mana pintu dan mana tembok. Ia keluar dengan langkah dipercepat. Namun, saat berjalan di lorong, tiba-tiba sebuah tangan menariknya. Sakura yang terkejut refleks berteriak, tapi suaranya tidak bisa keluar karena tangan kekar itu langsung membekap mulutnya. “Sssst … ini aku,” ucap Rama begitu Sakura mulai tenang. “Rama, ada apa?” tanya Sakura heran, kenapa Rama membawanya ke celah sempit yang memisahkan toilet perempuan dan laki-laki? Rama tak menjawab, ia malah mengunci kedua tangan Sakura sembari menatapnya lekat. “Sakura, kau tahu sudah berapa lama aku memendam perasaan ini? malam ini, aku ingin memilikimu.” Dengan napas yang memburu, Rama semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura, membuat perempuan itu bergidik ketakutan. Sakura mencoba melepaskan tubuhnya sebelum terlambat, akan tetapi dengan cepat Rama mencegahnya. “Jadilah kekasihku, Sakura.” “Lepas, Rama. Aku tidak mau!” tolak Sakura dengan suara sedikit keras. Namun, Rama tetap tidak menuruti perkataan Sakura. Ia malah semakin memaksa gadis itu untuk mendekat, mencoba mencium bibir merah muda milik Sakura. Sementara Sakura terus saja memberontak. Ia tidak percaya jika Rama yang selama ini ia kenal berani bertindak sejauh ini. Air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya saat Rama hampir berhasil menyentuh bibirnya. ‘Tuhan, selamatkan aku.’ Sakura memohon dalam hatinya. Ia terus berontak di tengah Rama yang semakin keras menahannya. Hingga tiba-tiba …. BRAK! Suara tendangan cukup keras mengenai tubuh Rama, membuat pria itu langsung tersungkur ke bawah. “Sudah ku bilang kau tidak boleh keluar,” ucap seseorang yang menendangnya. Sementara Sakura, ia langsung tejatuh lemas. Ia bersyukur, karena seseorang yang ia harapkan datang tepat waktu. Ya, setelah Rama keluar dan cukup lama tidak kembali, Masaki langsung membubarkan acara makan malam dan bergegas menyusulnya karena merasa ada suatu hal yang tidak baik. Rupanya benar, Rama berbuat tidak baik dengan Sakura. Rama yang emosi ditendang berniat memukul balik Masaki. Namun, saat melihat ternyata bosnya yang melakukan hal itu, ia langsung beringsut mundur dan memilih pergi meninggalkan keduanya. “Masaki-san—“ Sakura masih tergugu menangis. Ia sangat takut hingga bayang-bayang hal yang mengerikan masih liar di kepalanya. Masaki meraih tubuh Sakura yang masih bergetar, kemudian membawanya duduk dan memeberikan air mineral agar Sakura lebih tenang. “Aku sangat takut,” ucap Sakura setelah cukup tenang. Masaki hanya terdiam, matanya mengamati lekat setiap inci dari tubuh Sakura, barangkali Rama membuat perempuan itu terluka. Tiba-tiba, Masaki melepaskan jasnya saat matanya memandang kaki bagian atas Sakura yang terekspos, lalu pria itu menutupinya dengan jas hitam miliknya. “Kau harus lebih hati-hati,” ucapnya singkat. “Lagipula, kenapa kau berdandan dan berpakaian terbuka seperti ini?” lanjut Masaki dengan nada sedikit tinggi. Sakura yang tidak terima dibentak oleh Masaki seperti tersuntik keberanian. Ia menoleh, menatap mata yang selama ini dirindukannya tapi tidak bisa dilakukan. Dengan suara yang tak kalah lantang, Sakura mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. “Kau kejam! Harusnya kamu sadar, aku melakukan semua ini agar bisa dilihat olehmu. Aku berdandan agar terlihat cantik, tapi tetap saja aku tidak mau melihatku. Apa aku kurang menarik bagimu?” jelas Sakura panjang lebar. Sementara Masaki, ia hanya menatap perempuan di depannya dengan perasaan yang, entah. “Kenapa kau repot-repot melakukan hal itu?” Masih menatap Sakura, Masaki bertanya seperti itu, membuat perempuan di depannya semakin kesal. “Itu karena aku … aku menyukaimu. Kamu tidak sopan, masuk hatiku tanpa permisi,” akhirnya Sakura berani mengutarakan perasaanya. Namun setelah sadar dengan apa yang ia katakana, Sakura langsung menutup wajahnya dengan tangan. Pelan, Masaki menurunkan tangan dari wajah Sakura, kemudian menatap Sakura dengan senyum sekilas. “Katakan sekali lagi,” pintanya. Sakura menepis kasar tangan Masaki. “Haish! Apa kau mau membuatku malu? Aku benar-benar menyukai—“ CUP! Satu kecupan kilas kembali mendarat di bibir Sakura, membuat perempuan itu langsung membelalakan mata, terdiam tak mengerti. “Aku sudah mendengarnya,” ucap Masaki. Sementara Sakura masih terdiam dengan pipi yang merona. Apakah musim semi baru saja menyambangi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN