Benarkah musim panas tahun ini benar-benar sudah berakhir? Rasa-rasanya, musim gugur pun enggan mampir di duniaku. Lihatlah, musim semi sudah datang begitu musim panas berakhir. Sakura dalam hatiku masih saja bermekaran semenjak perlakuan tak terduga Masaki di caffe tadi. Meski itu yang selama ini aku dambakan, menjadi pemeran utama seperti dalam novel romansa yang sering k*****a. Namun, dalam hatiku yang dangkal sekalipun, aku sungguh sulit mempercayai hal ini. Benarkah tadi Masaki memberiku sebuah kecupan? Atau itu hanya imajinasiku saja karena terlalu mabuk? Namun berusan terasa sangat nyata, bahkan tentang perlakuan Rama padaku, aku yakin benar itu bukanlah sebuah hayalan.
“Tapi kenapa Masaki terlihat biasa saja?” lirihku yang berjalan di belakang Masaki. Benar, setelah aku mengungkapkan perasaan, hubungan kami masih sama. Masaki masih saja diam tak banyak bicara. Mungkinkah itu adalah cara halusnya untuk menolakku? Aih, setidaknya katakanlah jika ia tidak menyukaiku, jadi aku bisa mengambil sikap atas perasaanku, juga untuk apa ia mengecup bibirku jika hanya untuk menyuruhku diam?
BUGK!
“Aw!” pekikku saat menabrak sesuatu di depan. Wajah yang sedari tadi ku tundukkan sampai tidak menyadari jika Masaki tiba-tiba berhenti.
“Apa jalanan begitu menawan untukmu?” ucap Masaki setelah ku tabrak, sementara aku masih memegangi kening yang terasa sedikit nyeri akibat benturan tadi. “Berjalanlah di sebelahku. Jangan membuatku merasa memiliki ekor seperti seekor rubah.” Masaki mengarahkan tangan pada ruang hampa di sebelahnya, memberiku isyarat untuk maju menyeimbangi jarak dengan Masaki.
Aku yang tidak begitu mengerti hanya terdiam di tempat. Sepertinya berbagai angan yang masih ku susun di kepala membuatku tak bisa berpikir barang untuk perintah yang sangat sederhana sekalipun. “Kau tidak mau?” tanya Masaki lagi saat tak mendapat respon apapun dariku.
“Eh?” Aku memastikan. Namun, hanya ekspresi dingin yang ditampilkan oleh Masaki, melihat itu aku kembali menunduk. “Maafkan aku. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu,” ucapku pelan.
Lagi-lagi, Masaki bersikap tidak terduga. Ia meraih daguku dan mengangkatnya, membuat wajahku yang tadinya menatap ke bawah beralih menatapnya. “Apa itu?” tanyanya. Sontak, aku langsung menggeleng cepat. Bahkan aku bisa langsung kehilangan seluruh anganku hanya dengan perlakuan kecil seperti ini. Masaki sungguh bahaya. “Kita tidak akan pulang sebelum pikiran yang menggagumu hilang,” ujarnya lagi, membuatku semakin tidak bisa barang menggeleng untuk mengatakan tidak setuju dengan apa yang Masaki katakan.
Sementara tangannya masih saja memegang daguku. Aku yang hampir salah tingkah dengan tatapan Masaki segera membuang muka, mecari cara agar pria di depanku mau melepaskan tangannya lebih dulu. “Anoo, Masaki-san, bisa kau lepaskan dulu ini, aku kesulitan bicara,” jujurku seraya menunjuk dagu.
Detik berikutnya, Masaki melepaskan tangannya, dan setelahnya ku tarik napas dalam-dalam lalu mulai mengutarakan apa yang tengah menggaguku selama perjalanan. “Mmmmm … begini Masaki-san,” ucapku terhenti, kemudian memandang Masaki mencari tahu bagaimana respon pria itu. Yang ku lihat, ia sangat serius mendengarkanku. Kemudian ku lanjutkan, “mungkin bagimu ini persoalan yang biasa saja, tapi bagiku tidak, aku pasti akan terus memikirkannya sebelum mendapat kepastian, bahkan jika aku harus memakan waktu bertahun-tahun.” Aku kembali berhenti, menarik napas untuk menyiapkan inti dari apa yang ku katakan. “Apakah kau masih menganggapku hanya sebatas karyawanmu setelah kau memberiku kecupan?”
Aku menatap lekat mata Masaki, mencari jawaban apa yang bisa ku temukan darinya. Sudah terlanjur, aku tidak akan menutupi perasaanku sendiri. Namun, bukan jawaban yang ku terima, melainkan hanya tatapan yang sulit ku tafsirkan. Dengan cepat, aku mengkondisikan diri. “Ma-maksudku, tidak apa-apa jika kau berpikir demikian, hanya saja aku—“
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Masaki meraih tanganku dengan cepat, menggandengnya dan tersenyum penuh arti. “Kau sekarang adalah kekasihku.”
“Eh?” Mataku membulat, bahkan telingaku hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja terdengar. Ataukah aku hanya salah mendengar. “Mungkinkah alkohol bisa mempengaruhi pendengaran?” gumamku seraya memukul pelan telinga kiri, mencoba memperbaiki jika barangkali pendengaranku mulai tidak normal.
Namun, Masaki langsung mengambil tangan kiriku, menurukannya dari telinga yang tidak bersalah. “Kau tidak salah dengar. Sekarang kau adalah kekasihku, kau tidak mau?” jelasnya, sedangkan aku dengan cepat mengangguk. “Mau, aku sangat mau,” ucapku semangat seolah tak sadar, segera ku tutup mulutku begitu aku tersadar. Ku kira efek alkohol sudah hilang sepenuhnya, sepertinya masih ada yang tersisa.
Ku lihat, Masaki tertawa kecil setelah mendengar jawabanku. Setelah itu, ia langsung mengajakku untuk pulang, kami berjalan beriringan dengan bergandeng tangan. Jangan ditanya bagaimana perasaanku, kalian tahu sebuah karnaval dengan genderang yang sangat besar? Bahkan suara di dalam sana menggema lebih besar dari genderang itu. Riuh, sangat riuh, aku bahkan masih berpikir ini sebuah mimpi. Kalaupun benar ini hanya mimpi, aku berharap tidak segera terbangun sampai kisah romansa ini menjadi sebuah kenyataan.
Suasana malam menjadi saksi dari kisahku yang terasa begitu indah. Bahkan lampu jalanan yang sudah redup sekalipun, seolah menjadi pendukung suasana syahdu yang tengah ku rasakan. Malam ini, kupu-kupu seolah berterbangan senang di dalam sana. Jika ku tebak, mereka akan tetap berlalu lalang sampai besok-besok, ah merepotkan saja.
Kami masih berjalan pelan, tak ada sepatah katapun yang kami bagikan, hanya suara hewan malam di sepanjang jalan yang menjadi penghangat hawa yang mulai dingin. Canggung, itulah yang aku rasakan. Entah dengan Masaki, yang jelas aku sangat tidak tahu harus mengambil sikap seperti apa. Ini terjadi begitu tiba-tiba, siapa yang akan mengira?
Meskipun langkah yang kami ambil sangat pelan, akan tetapi seolah waktu berjalan begitu cepat. Padahal aku masih ingin bersama Masaki, tapi fakta bahwa kami sudah sampai rumah mengharuskanku membiarkan kekasihku pergi. Ah iya, mulai sekarang aku akan berani memanggil Masaki dengan sebutan kekasih. Biarpun hanya aku yang mendengar, aku tetap merasa bahagia.
Kami berhenti di depan pintu kamar masing-masing. Namun, lihatlah sampai kapan Masaki akan terus menggenggam tanganku?
“Masuklah, sudah malam,” pinta Masaki. Namun aku hanya terdiam, tidak beranjak masuk karena tangan yang masih kuat digenggam oleh Masaki. “Kau tidak mau masuk?” tanyanya lagi.
“Bukan begitu, aku mau masuk tapi …” Aku menunjuk tangan kami dengan tatapan mata. “Aku tidak bisa masuk jika kau terus saja menggenggam tanganku,” jelasku. Masaki nampak gugup saat tersadar, setelahnya ia melepaskan tanganku dan berdehem seperti biasa. Menggemaskan sekali.
“Sekarang, masuklah,” ucap Masaki lagi. Aku hanya tersenyum seraya mengangguk. Selanjutnya, ku putar kenop pintu dan berniat masuk, akan tetapi tiba-tiba Masaki memanggilku saat tubuhku belum masuk seluruhnya.
“Sakura, mungkin lebih baik kita rahasiakan hubungan ini di tempat kerja,” ucap Masaki berhasil membuatku terhenti di ambang pintu. Aku berbalik, ingin memastikan apa yang membuat Masaki mengusulkan demikian, apakah ada sesuatu yang tengah ia rahasiakan?
“Apa kau merasa terganggu jika yang lain tahu tentang hubungan ini?” tanyaku. Masaki tersenyum, kemudian menggeleng pelan. “Aku hanya tidak suka mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan,” jelasnya, membuatku tersenyum lega, setidaknya itu adalah alasan yang masuk akal.
Setelahnya kami berpisah, masuk ke dalam kamar masing-masing. Bahkan hingga saat ini, aku masih tidak percaya jika kini aku telah memiliki kekasih. Tuhan, mungkinkah sudah saatnya bagi Sakura untuk mekar?