“Sungguh Rama melakukan hal itu?” Segera ku tutup mulut Nami begitu ia terkejut dan berkata cukup keras, aku tidak ingin ada yang mendengar tentang hal semalam, kecuali Nami, aku tidak bisa merahasiakan perilaku Rama yang sangat tidak sopan.
“Sssttt … jangan keras-keras,” tegasku seraya berbisik, memasang telunjukku pada bibir seolah memberi paham pada Nami agar lebih bisa mengkondisikan suaranya.
Pagi ini, begitu sampai kantor aku langsung menceritakan kejadian semalam pada Nami. Dari dimulainya makan malam, hingga insiden Rama menarikku di lorong. Tentu cerita tentang siapa penyelamatku juga ku ceritakan, hanya saja naskahnya sedikit ku ubah, mengingat hubungan kami yang masih serasa mimpi bagiku harus dirahasiakan terlebih dahulu.
Nami mencondongkan wajah mendekat, ia seolah tidak ingin ketinggalan satu bagianpun dari ceritaku. “Benarkah Masaki yang menolongmu?” Aku mengangguk senang. Setelahnya Nami melanjutkan, “Oho, pasti pria itu terlihat sangat keren. Andai aku yang berada di posisimu.” Ku toyor pelan kepala Nami setelah mengatakan itu, bagaimana ia bisa berkata begitu?
“Kak Nami!” pekikku marah. Namun jika aku dipaksa mengakui, sepertinya aku cukup berterima kasih atas kejadian semalam, suka tidak suka aku bisa menjadi sedekat ini dengan Masaki. Bahkan, kini kami sudah menjadi sepasang kekasih.
‘Ah, sungguh terasa seperti mimpi,’ batinku, yang ternyata tanpa sadar aku tersenyum sendiri saat membayangkan bagaimana Masaki memperlakukanku semalam.
“Sakura! Kau jatuh cinta dengan Masaki, kan?” ledek Nami, menghentikan anganku yang mengembara mengeja kenangan semalam. Jujur aku gugup sesaat setelah mendengar kesimpulan Nami yang seolah memergoki apa yang sebenarnya ku rasakan, tapi detik berikutnya aku kembali memasang wajah datar seraya menggeleng.
Meski aku sudah menjawab tidak atas pertanyaannya, Nami masih saja memojokanku. Sebenarnya aku ingin sekali menceritakan tentang kekasihku pada Nami, bahkan jika perlu aku ingin seluruh dunia tahu kalau kini aku adalah kekasih dari Masaki. Namun, itu tidak mungkin untuk sekarang.
“Aku harus bekerja,” kilahku seraya langsung berdiri meninggalkan meja Nami. Ku lihat perempuan itu masih saja menggodaku, meski aku sudah berjalan menjauh.
“Sakura, tidak apa-apa jika kau menyukainya, kau tau kan aku tidak akan merebutnya, fighting!” teriak Nami yang terdengar cukup keras. Akan tetapi aku terus berjalan, berpura-pura tidak mendengar apa yang Nami katakan. Nami, ku mohon jangan ungkit Masaki lagi, atau aku akan kelepasan karena begitu senang.
***
Pekerjaan hari ini terasa lebih ringan dari biasanya. Entah karena memang para penulis yang sangat ramah, atau sebab hatiku yang tengah berbunga-bunga, sehingga badai kencang yang menerpa seolah tidak terasa. Ternyata jatuh cinta dan terbalas semenyenangkan ini.
Ku naikki tangga apartemen menuju kamar seraya menghitung kembali belanjaan yang baru saja ku beli, takut ada yang kurang hingga aku bisa kembali lagi untuk membelinya.
“Sudah semua sepertinya,” ucapku senang saat mendapati semua kebutuhanku selama satu bulan ke depan sudah lengkap.
“Kau baru pulang?” Masaki mengejutkanku. Sejak kapan ia sudah berdiri di tepi balkon depan kamar?
“Ah … iya, apa kau sudah pulang dari tadi?” jawabku sedikit gugup, jujur aku masih bingung harus bersikap seperti apa dengan kekasih dadakanku itu. Mendengar pertanyaan bailk dariku, Masaki hanya mengangguk, dan setelahnya kami saling terdiam, astaga suasana canggung ini aku sangat tidak suka. “Emmm … kau mau makan?” ucapku akhirnya, meski setelah mengatakan itu aku langsung merutuki diri sendiri, kenapa dari banyaknya pertanyaan basa-basi malah pertanyaan makan yang ku utarakan? Aih, dasar otakku.
Ku kira Masaki akan menolak dengan sikap dinginnya, tapi … “Ya, aku mau makan.” Kenapa ia malah mengiyakan ajakan basa-basi dariku?
“O-oh, kalau begitu kau mau makan kare atau daging?” Aku mengangkat dua kantong belanjaan penuh, menunjukkan pada Masaki agar memilih. Tiba-tiba, Masaki meraih kedua kantong dari tanganku. “Apapun,” ucap Masaki, kemudian berlalu dari hadapanku menuju pintu. “Kau tidak mau membukanya?” tanya Masaki, membuatku tak paham bak orang linglung. Apa baru saja ia menyuruhku untuk membuka pintu kamarku?
“Kau akan iku masuk ke dalam?” Aku memastikan sekali lagi sebelum ia masuk. Entahlah, aku merasa ini terlalu cepat untuk membawa pria ke rumahku.
Kini di sinilah kami, di dalam kamar apartemenku. Setelah meletakkan belanjaan di meja dapur, Masaki langsung duduk tanpa meminta izin dariku lebih dulu. Sebenarnya aku tidak masalah akan sikapnya yang seperti musim pancaroba, hanya saja apa yang harus ku lakukan sekarang?
Saat aku tengah menimbang sikap di dapur, tiba-tiba Masaki bersuara. “Aku mau kare yang manis,” ucapnya, dan aku langsung mengiyakan permintaannya, membuat kare manis dua porsi, untuk Masaki dan untukku tentunya.
Kare yang sangat hangat sudah terhidang, akan tetapi suasana di antara kami belum juga tertular hangatnya. Kami masih saling diam, apakah karena musim panas sudah berakhir hingga kami merasa dingin satu sama lain.
“Masaki-san,” panggilku akhirnya yang tidak terlalu suka dengan keheningan padahal kami bisa saling bicara.
Masaki mengangkat kepala. “Jangan panggil aku seperti itu jika tidak di kantor,” ucapnya datar, kemudian kembali mengalihkan padangan seraya menyuapkan nasi kare ke mulutnya.
Aku yang merasa tidak enak hanya mengangguk pelan, bingung harus memanggil pria di depanku dengan sebutan apa. “Baiklah, lalu aku harus memanggilmu apa?”
“Panggil aku, Ryu,” timpalnya. Kemudian ia melanjutkan saat aku belum menjawab, “dan kau boleh sesekali memanggilku sayang atau panggilan sejenisnya, karena aku juga akan melakukan hal yang sama.”
Ucapannya barusan, apakah aku tidak salah dengar? Lagi-lagi, Masaki mengatakan hal tak terduga dengan wajah datarnya. Jika dia terus seperti ini, bagaimana aku bisa mengendalikan jantungku untuk tidak terbang secara tiba-tiba, sementara sang angina pun datang tanpa aba-aba.
“Eh?” Mataku sedikit membulat. “Ah, baiklah, Ryu,” kataku dengan memelankan intonasi saat menyebut namanya yang terasa asing di lidahku. Ini … terasa sangat aneh, aku memanggil nama depan dari atasanku sendiri. Namun, bukankah sekarang aku bukan hanya sekedar karyawan Masaki? Aku adalah kekasihnya. Ayo Sakura, lebih percaya dirilah!
Setelah itu, kami kembali terdiam. Aku tidak tahu sebanyak apa kosa kata yang Masaki miliki, akan tetapi melihatnya yang snagat irit bicara membuatku menerka jika sepertinya pembendaharaan kata dalam kamusnya hanya sedikit, atau sebenarnya banyak? Aih, kenapa aku malah memikirkan hal yang tidak penting seperti itu?
“Akhir pekan ini, apa kau luang?” Akhirnya, kekasihku mau mengeluarkann suara. Tapi tunggu, apa baru saja ia menanyakan waktu luangku di akhir pekan? Apa ia akan mengajakku berkencan untuk pertama kali? Astaga … membayangkannya saja sudah berhasil membuat pipiku merona.
“Aku tidak berniat mengajakmu pergi, hanya jika kau merasa bosan, kau bisa memintaku menemanimu kemana saja,” ucap Masaki lagi, ku lihat ia kembali membuang muka salah tingkah, sangat menggemaskan.
Kali ini, aku berani menatap Masaki, kemudian ku layangkan seutas senyum padanya. “Aku akan menemui adik-adikku, dan kau boleh menemaniku, sayang.”
Ternyata memang benar, perasaan bisa mengubah segalanya. Tentang sikap maupun suasana hati. Apakah baru saja aku menggoda bosku sendiri? Lalu, lihatlah telinga merona itu, apakah mataku tidak salah saat melihat telinga Masaki memerah?
“Uhuk!" Masaki terbatuk kecil. "Kau sungguh tiba-tiba,” ujarnya lagi dengan salah tingkah, membuatku semakin gemas akan sikapnya. Aku tidak menyangka, jika sikap dingin Masaki bisa meleleh hanya dengan godaan kecil.