Akhir pekan tiba.
Ku putar tubuhku ke kanan dan kiri untuk melihat apakah baju yang ku kenakan sudah cocok dan pas. Atasan berwarna putih serta rok pink yang ku gunakan sebagai outfit-ku hari ini sepertinya sudah cukup bagus.
“Yosh! Aku sudah cukup cantik,” pujiku terhadap diri sendiri. “Ah iya, sepertinya aku perlu membawa jaket untuk berjaga-jaga.” Aku pun beralih dari depan cermin menuju lemari, mengambil sembarang jaket yang akan ku bawa
Akhir pekan ini sudah memasuki permulaan musim gugur. Musim di mana daun-daun akan menguning lalu sang pohon akan menggugurkannya. Dulu, aku selalu berpikir jika pohon jahat, tapi sekarang aku paham, bahwa sesuatu yang memang sudah tidak bisa dipertahankan harus dilepas untuk bisa menerima hal yang baru. Seperti daun yang gugur kemudian pohon akan mendapat tunas daun yang hijau, seperti aku yang tega melupakan Evan dan berakhir dengan terbukanya hati untuk Masaki.
Jinge Bells~
Apakah Masaki sudah di depan? Ku pasang penjepit rambut sebagai sentuhan terakhir dan bergegas keluar menemui Masaki yang memencet bel tadi. Rupanya benar, begitu pintu terbuka, bisa ku dapati
kekasihku berdiri di baliknya. Masaki mengenakan kaos berwarna hitam polos, menjadikan kesan wibawanya terganti dengan aura santai. Namun, ia masih tetap tampan seperti biasanya.
“Sudah siap?” tanyaku begitu keluar. Akan tetapi, Masaki tak langsung menjawab pertanyaan sekaligun sapaanku. Lagi-lagi, ia menunjukkan wajah datar.
“Sejak kapan kau mulai tidak sopan dengan bosmu?” ujarnya. Kenapa dia? Apa lagi yang salah denganku? Apakah aku membuatnya menunggu terlalu lama? “Apa kau sudah sangat lama menunggu di luar?” tanyaku memastikan.
Masaki terdiam sesaat. “Lagi-lagi kau masuk mimpiku tanpa permisi.” Setelah mengatakan itu, ia langsung berbalik badan. Apakah baru saja ia mencoba menggodaku? Itu hal yang lucu, tapi kenapa pipiku tiba-tiba terasa panas hanya karena hal yang lucu? Aih Masaki, meski ia tidak pandai memuji tapi ia sangat pandai membuatku tersipu.
Di perjalanan, kami saling berbincang. Tidak seperti sebelumnya, kali ini kami bisa lebih terbuka. Mungkin karena kami yang mulai bisa mengendalikan rasa canggung satu sama lain.
“5 cm per detik,” ucap Masaki, sementara aku yang tak paham langsung menengok. “Katanya sakura akan jatuh 5 cm per detik, lalu apakah daun yang menguning ini sama?” lanjutnya.
Aku menggeleng pelan. Jujur, aku sedikit terkejut saat Masaki mengatakan sakura yang terjatuh setiap 5 cm per detik. Mungkin kalian akan merasa biasa saja saat mendengarnya. Namun bagiku, kalimat itu mengingatkanku terhadap seseorang yang berkata sama persis, Evan. Apakah baru saja aku menyadari jika sosok Evan belum sepenuhnya hilang? “Ryu, dari mana kau mendapat pernyataan itu?”
Masaki mengalihkan pandangannya ke atas. “Ibuku, dia selalu mengatakan hal itu,” ujarnya seraya tersenyum.
Sementara aku yang mendengar hanya mengangguk pelan. Benar, mungkin saja itu adalah kalimat umum yang tidak ku ketahui sebelumnya. Jadi, tidak mungkin Masaki ada kaitannya dengan Evan, kan? Aku juga tidak boleh menyingkirkan fakta bahwa aku kini telah membuka hati untuk Masaki. Melupakan Evan, dan segala kenangan bersamanya.
Setelah berjalan cukup jauh dari apartemen, kami akhirnya sampai di depan g**g kecil. Aku mengajak Masaki yang berhenti untuk langsung masuk. Namun sepertinya ia masih ingin berdiri di sini. “Untuk apa masuk ke dalam?” tanyanya heran.
“Ku pikir kau mau ikut menemui adik-adiku?” jawabku memastikan.
Nampak Masaki berpikir sejenak, “apa mereka tinggal di dalam sana?” Aku langsung mengangguk mengiyakan. Selepasnya ku gandeng tangan Masaki untuk masuk ke dalam g**g kecil bersama. Hingga akhirnya kami sampai di depan rumah kecil yang sudah pernah ku kunjungi, rumah milik adik-adikku, Taka dan Raya.
Ku ketuk pintu seraya memanggil nama kedua anak itu. Tidak mungkin mereka pergi, pasalnya aku sudah berjanji akan menemui mereka siang ini. Tak lama, ku lihat pintu ditarik dari dalam dan setelahnya bisa ku lihat Taka berdiri, lalu menyapaku.
Taka nampak senang saat melihatku datang, begitupun aku yang memiliki perasaan sama dengannya. Namun, saat bocah itu mendapati pria yang berdiri di belakangku, ia nampak terkejut. Taka sudah membuka mulut, tapi kenapa ia tidak mengeluarkan kata dan malah terus menatap Masaki? Apa Taka takut?
Aku menoleh ikut melihat Masaki, barangkali pria itu memasang wajah yang menyeramkan. Akan tetapi saat aku menoleh, ia malah membuang muka seraya berdehem. Seperti salah tingkah, tapi kenapa?
“Kak Sakura, ayo masuk.” Taka meraih tanganku, membuatku teralihkan dari rasa penasaran. Aku mengangguk, kemudian kami masuk ke dalam dengan Masaki yang ikut mengekor.
“Di mana Raya?” tanyaku saat tidak ku dapati gadis kecil itu di rumah.
“Dia lagi di kamar mandi,” jawab Taka, sementara aku hanya mengangguk dan ber-oh ria.
Aku mulai berbasa-basi dengan Taka, seperti menanyakan bagaimana kabarnya dan Raya, juga bagaimana proses belajarnya. Ah iya, aku lupa memberi tahu jika Taka sudah mulai bersekolah, sepertinya ada subsidi dari pemerintah, soalnya Taka bilang sekolahnya gratis. Saat kami baru saja mengobrol, akhirnya gadis yang ku cari muncul dari balik tirai kamar.
“Kak Sakura.” Raya berlari dan memelukku, seperti seorang anak yang baru saja bertemu ibunya. “Oh, kakak tampan juga ada di sini?” ucap anak itu lagi. Kakak tampan, apa yang ia maksud adalah Masaki? Sepertinya iya, siapa lagi kalau bukan?
“Kakak tampan?” Aku memastikan, sedangkan Raya langsung mengangguk cepat. “Iya, dia kakak tampan yang waktu itu memberiku boneka. Apa dia teman Kak Sakura?” jelas Raya, tentu aku yang mendengar kebenaran itu hampir tidak percaya. Bagaimana mereka bisa bertemu? Dan untuk apa Masaki memberi Raya boneka?
Aku kembali memandang Masaki, mencari jawaban atas sesuatu yang sangat mengejutkan ini. Namun lagi-lagi, ia hanya berdehem dan celingukan membuang muka. “Aku hanya tidak sengaja melihat mereka di dekat apartemen,” jawab Masaki. Aku yang masih terheran-heran kembali melayangkan tanya, “lalu boneka itu, apakah hanya sebuah kebetulan?”
“Boneka itu ak—“
“Wah apa kakak juga membawa cokelat?” Raya memotong pembicaraan Masaki, kemudian turun dari pangkuanku dan meraih bungkusan plastik transparan di sebelah Masaki.
Sementara kakaknya, Taka langsung mengisyaratkan Raya untuk berhenti. “Raya, tidak boleh seperti itu, tidak sopan.” Spontan, Raya langsung terdiam, mata berbinarnya kini terganti dengan rona bersalah.
Ku ambil bungkusan itu dan menyerahkannya pada gadis kecil di depanku. “Ini memang cokelat untuk Raya dan Taka,” ucapku. Raya menerima cokelat itu dengan sangat senang, dan aku tentu ikut senang jika mereka senang. Tak hanya cokelat, kami juga membelikan Taka keperluan sekolah.
Tak terasa matahari yang tadi baru meninggi kini sudah hampir berpamit pergi. Hari sudah sore, dan kami harus pulang. Setelah selesai berbincang serta membeli makanan, Aku dan Masaki berpamitan pada dua bocah yang sudah ku anggap seperti adik-adikku.
“Ryu, bagaimana kau kenal mereka?” tanyaku di tengah langkah yang berganti.
Pria di sampingku nampak terdiam.
“Lalu boneka itu, apa kau sengaja membelinya?” tanyaku lagi, padahal jawaban dari pertanyaan yang pertama juga belum dijawab.
Masaki nampak menimbang. “Emmm … mungkin takdir,” ucapnya. “Seperti aku yang tiba-tiba bertemu denganmu, lalu jatuh cinta dengan sangat mudah.” Masaki lagi-lagi membuatku tak bisa berkutik. Apa-apaan perumpamaan itu? Aih, apakah jantungku tidak akan bermasalah jika aku terus berdekatan dengannya?
Ku berikan pukulan kecil pada lengan Masaki. Astaga, kenapa aku jadi salah tingkah begini? Namun, kenapa Masaki malah tertawa melihatku? Aku terus mengomel tak jelas pada Masaki, sementara ia masih saja tertawa. Akan tetapi, di tengah suasana hangat ini, tiba-tiba seseorang yang berdiri di seberang kami berhasil membuatku berhenti.
Mataku membulat. “Ka-kau?”