“Sakura ….”
Aku menghentikan tawa sekaligus langkah, begitu juga dengan Masaki. Aku terpaku, suara ini … “ka-kau?”
Pria yang kini berdiri di depanku, seolah menyerap seluruh kebahagiaan yang ku rasakan. Ia seperti malam yang membawa gelap, tanpa lampu, hingga gelap yang ia bawa terasa semakin pekat. Untuk apa ia ke sini, dan untuk apa ia harus menemuiku?
Aku hanya memandangnya dengan raut terkejut sebentar, kemudian kembali memasang wajah yang aku sendiri pun sulit mengartikannya. Rasa-rasanya, desir darah mulai merangkak naik ke wajahku. Hanya dengan melihatnya saja, aku sudah bisa merasakan perasaan benci yang begitu besar.
“Mau apa kau ke sini?” tanyaku dengan mata yang menyala, bahkan jika ia sadar pembuluh darah di leherku mulai menegang.
Kami beradu tatap sesaat, hingga akhirnya sorot matanya menampilkan raut menyesal, dan pada saat itulah aku kembali melangkah tanpa memperdulikannya.
“Sakura, aku tahu kau sangat membenciku, aku benar-benar menyesal,” ujarnya seraya meraih pergelangan tanganku. Namun segera ku tepis begitu jemarinya menyentuh kulit. “Jangan menyentuhku,” tegasku ketus, kemudian kembali mempercepat langkah.
“Aku menderita demensia.”
Deg! Langkahku kembali terhenti. Tidak ku sangka, aku masih menyimpan rasa kasihan terhadap sosok laki-laki yang paling ku benci.
“Sakura, maafkan aku. Aku sungguh menyesal, aku sudah mendapat ganjaran akibat melakukan k*******n terhadapmu dan juga ibumu,” ucapnya terdengar memelas. Ya, pria yang menghadangku adalah pria yang ku bawa darahnya saat lahir ke dunia, ia adalah ayahku sekaligus lelaki yang sangat ku benci. “Kau bukan hanya memberikan k*******n pada ibu, kau membunuhnya,” ucapku tanpa menoleh.
Jujur, mataku kini mulai terasa panas, entah karena aku kasihan pada pria renta itu, ataukah karena aku begitu marah melihatnya masih hidup setelah merenggut nyawa istrinya sendiri. “Harusnya kau tidak hanya menderita demensia, tapi juga tersiksa dan membusuk di penjara.”
Pria itu kembali meraih tanganku, berkali-kali ia mencoba menggenggamnya, tapi berkali-kali juga ku tepis tangannya dengan kasar.
“Sakura, aku tidak membunuh ibumu, kau sudah salah paham,” jelasnya masih dengan nada melas, sangat berbeda dari terakhir kali ku tahu.
“Lalu, menurutmu ibu menusukkan pisau ke badannya sendiri? Apa kau akan berkata seperti itu?” Nada bicaraku mulai meninggi. Aku sangat sensitif jika berkaitan denga ibu. Aku berbalik, menatap tajam pada pria itu. “Kau …” ucapku seraya mengangkat genggaman tangan, akan tetapi pukulan yang ingin ku layangkan berhenti begitu ku dapati sudut matanya berair.
“Jangan pernah menemuiku lagi.” Akhirnya dari sekian banyak u*****n yang ingin ku lontarkan, hanya kalimat itu yang bisa terucap. Benci ku akui, akan tetapi darah kental yang mengalir dalam tubuhku masih menyisakan perasaan iba pada pria yang paling ku benci di dunia.
Aku mempercepat langkah, kali ini aku benar-benar akan pergi meninggalkannya. Aku tidak peduli dengan teriakannya yang terus menerus memanggil namaku. Aku harus pergi, jangan sampai perasaan iba membuatku kembali pada pembunuh ibuku. Aku benci segalanya dari pria itu. Aku benci saat ia tak pernah menafkahi dan terus berjudi, menghabiskan uang padahal kami kelaparan. Aku benci saat ia masih saja memukul padahal aku sudah berteriak kesakitan. Aku benci! Aku benci saat melihat pisau di tangannya bersimbah darah dan ibu tergolek lemah di bawah.
“Argh! ….”
Aku semakin mempercepat langkah seraya menutup rapat telinga. Bayangan-bayangan masa lalu yang kelam membuatku ingin menjerit dengan kencang. Luka lama yang dengan susah payah ku tutup selama bertahun-tahun, kini kembali basah karena belum kering sepenuhnya. Aku tidak ingin mendengar apapun tentang masa lalu, tentang ayah ataupun tentang ibu. Aku sudah melepas ikatan dengan itu semua.
Namun sekuat apapun mencoba untuk tegar, aku tetaplah seorang wanita yang begitu lemah. Air mata yang sedari tadi ku paksa untuk tetap diam, kini mencelos keluar seolah ingin ikut serta dengan sedih yang tuannya rasakan.
Aku tersedu, tergugu di antara langkah yang mulai gontai. Pikiranku mulai kalut, begitu juga dengan napas yang mulai tak beraturan. Oksigen, aku seperti kehilangan separuhnya dari dunia. Berat mengambil napas mulai ku rasakan, ku pegangi d**a yang mulai terasa sakit. Kondisi seperti ini sama persis seperti saat ayah membunuh ibu.
Detik berikutnya, aku merasa tubuhku semakin berat, sementara tulang kakiku semakin melemah. Aku limbung, terduduk di tengah jalan. Aku sampai tidak menyadari jika Masaki masih di sini sampai ia meraih tubuhku dan menyadarkanku.
Masaki tahu apa yang tengah ku butuhkan. Tak berbicara sedikitpun, ia langsung merengkuhku, mendekapku seraya mengusap pelan punggungku yang masih bergetar. Ia mencoba menenangkanku dengan cara yang paling benar.
Sementara aku, tangisku semakin pecah saat berada di dekapan Masaki. Aku tidak tahu lagi harus mengadu seperti apa dan bagaimana, aku bahkan sudah kehilangan banyak kalimat keluhan dalam diri. Aku sudah tidak bisa mengeluh, apalagi memberikan semangat pada diri sendiri. Aku terlalu lelah. Hanya ini yang bisa ku lakukan, menumpahkan segalanya dalam tangisan.
Hingga, saat aku mulai tenang, Masaki melepaskan pelukannya, membantuku berdiri dan mendudukanku di kursi panjang tepi jalan. Sementara tangannya masih intens mengelus pundakku pelan.
“Ak—aku …” ucapku terbata, ingin ku sampaikan apa hal yang sangat menyiksa, tapi sisa-sisa dari isakan belum mengizinkanku mengatakannya sekarang.
Masaki masih mengusap pundakku. “Tenangkanlah dirimu lebih dulu, setelah itu akan mendengarkan apapun yang kamu katakana,” ujarnya lembut.
Aku terus menstabilkan napas yang masih tersengal, sesekali menghirup udara panjang dan melepaskannya perlahan. Hingga, saat aku mulai merasa tenang, aku mulai mecoba mengatakan apa yang menggangguku.
“Apa menurutmu pria seperti itu patut dikasihani?” tanyaku masih dengan air mata yang tersisa, tapi tak lagi mengalir.
Kali ini, Masaki menggenggam tanganku. “Maksudmu, ayahmu?” Aku tak menjawab pertanyaan Masaki. Dengan hati-hati ia kembali berkata, “aku tidak tahu jawaban apa yang ingin kamu dengar dariku, aku juga tidak tahu bagaimana patahnya hatimu saat ini. Aku yakin jawabanku tidak akan membantu, tapi … aku akan selalu menemanimu untuk menata hatimu, membersamai proses sebelum kamu mengambil keputusan, Sakura.”
Benar, Masaki jelas tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan badai seperti apa yang telah memporak-porandakan hati juga kehidupanku. Sejujurnya, aku juga tidak mengharapkan nasihat dari Masaki, tapi aku lebih membutuhkan sosoknya untuk terus menemani.
“Apa jawabanku membuatmu sedih?” Masaki kembali bertanya dengan nada bersalah, mungkin ia menafsirkan diamku sebagai bentuk kecewa atas jawabannya.
Aku menggeleng pelan, kemudian menatapnya seraya memaksakan senyuman. Masaki balas menatapku, kemudian mengusap rambutku lembut. “Kau berhak memilih untuk bahagia. Namun kau juga harus paham, kebahagiaan apa yang sebenarnya sedang kau cari.”
Kau benar Masaki, sampai sekarang aku belum pernah paham apa makna kebahagiaan itu sendiri.