Raina terbangun dari tidurnya, menyingkirkan tangan Rafli yang melingkari badannya. Raina juga mengangkat selimut yang sedari tadi menutupi badannya. Raina mengelap beberapa peluh keringat yang muncul dan membasahi wajahnya. Raina mencoba menormalkan nafasnya, mimpi buruk yang baru saja menghampirinya, masih terasa nyata dan sangat mengganggu ingatannya saat ini. Raina tidak bisa mengingat jelas mimpi yang baru saja dialaminya. Tapi, dalam mimpinya, Raina merasa seperti dikejar dan dihadang oleh sekelompok orang yang mengepungnya. Raina tidak tahu harus berbuat apa, lari tidak bisa, seakan kakinya juga ikut ditahan oleh seseorang. Sulit rasanya untuk menghilang tadi. Untungnya, Raina langsung cepat untuk bangun. Raina masih berusaha untuk menormalkan nafasnya, sesekali melirik ke kanan da

