bc

Choice

book_age18+
211
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
time-travel
scandal
goodgirl
student
comedy
sweet
bxg
campus
first love
like
intro-logo
Uraian

Sehat atau tidak hubungan ini, biarlah menjadi misteri untuk Raina. Seorang Ghost Writer untuk penulis best seller yang lupa untuk mencintai dirinya sendiri. Ia memilih untuk bergelimang harta ketimbang bergelimang kasih sayang dari pria yang selalu menatapnya sebagai gadis baik berparas menawan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Raina's World
Rania begeming saat mendengar celotehan dari beberapa temannya. "Alay lo, Ran. Ngapain si nulis begini." "Lo galau banget kali ya? Malu tau gak si bikin beginian segala." Kedua ucapan tadi menusuk relungnya palinh dalam, menyesali atas perbuatannya. Padahal, Raina sangat antusias kala menunjukkan beberapa hasil tulisannya pada blog pribadi, dengan nama panjangnya. Menurut dirinya sendiri, hasil tulisan tersebut sangat baik. Patut diacungi 4 jempol. Karena, dirinya sudah berkali-kali merevisinya. Tapi, kenapa respon dari teman dekatnya seolah meruntuhkan segalanya? Menurunkan langsung rasa percaya dirinya, yang selama ini ia bangun susah payah. Akhirnya, dengan sangat terpaksa dan putus asa. Rania terjebak dalam perut monster ganas, karena membiarkan dirinya tertelan hidup-hidup. "Ran... Bangun, Ran. Kelas lo!" Ada tangan yag mengguncang tubuh Rania, hingga sang empu gelagapan.   "Eh iya, sorry gua lupa. Makasih banget kasur asrama lo jadi pahlawan gua hari ini." Ujar Raina, walaupun terbata-bata, dan juga matanya yang masih menggerejap.  "Baek baek lo. Kalo jatoh bangun sendiri!" Pekik Glenn, teman dekat yang dikenal oleh Rania di Bem Fakultas. Rania berlari di lorong asrama, karena dirinya lupa akan tugasnya di teaternya hari ini. Fikiran serta batinnya sudah berada di antah berantah terlebih dulu, karena sang empunya yang belum membuka matanya 30 menit yang lalu. Padahal, suara dari jam beker yang begitu keras telah sengaja dibuat olehnya. Dengan tujuam awal, membuatnya bangun dari dunia mimpi yang sangat luar biasa.   Namun, apa boleh buat. Gadis itu tertidur dengan sangat nyenyak, lebih-lebih mayat. "Wait!" Seketika, Raina terhenti dari lari hingga posisinya saat ini yang jatuh duduk di lantai. "Nona pentichor? Dia akan menghubungiku ke email yang ghost writer." ia berkonsentrasi, sangat berkonsentrasi, saat mendapatkan penglihatan yang akan terjadi di masa depan secara sekilas. Iya, benar. Raina bisa melihat masa depan, entah sejak kapan. Tapi, yang jelas semua penglihatan ini sangat berguna pada dirinya. Raina langsung merogoh ponsel dari tasnya, untuk menelfon kekasihnya.   Benar! Raina kembali terdistrack oleh urusan yang bisa dikerjakan lain waktu. Melupakan urusan yang harus ia kerjakan di depan mata. Tapi, persetan dengan semua itu. Urusan yang ini lebih penting, karena bisa memberikan pundi-pundi rupiah baginya. Ketimbang urusan di gedung teater, yang hanya mendapatkan nilai untuk pengulangan mata kuliah semester lalu, serta recehan rupiahnya "Sayang..." Panggil Raina, setelah merasa telfonnya tersambung. "Ada apa, Ran? Kok tumben telfon." "Iyaa, biasalah urusan cuan." Singkat Raina. "Oalahhh, yasudah kirimkan padaku melalui buble chat. Aku mau rapat dulu soalnya." Suara yang penuh kharisma memenuhi telinga Raina. Membuatnya terpesona sekilas, dengan pujangganya sendiri. "Okay sayang! Kerja yang semangat ya, biar cepet kaya. Trus kita nikah deh." "Ayo nikah! Mau kapan, besok langsung jadi nih." Yash! Bola godaan yang dilambungkan oleh Rania, diterima apik oleh pacarnya. Membuat Raina terkikih, "sudah ah. Aku juga mau ke gedung teater nih. Bye, sayang. Kiss 3000 kali." "Kissnya diterima dengan penuh ghairah, bye sayang." Setelah panggilannya terputus, jari lentiknya menari di atas keyboard ponsel pintarnya untuk mengirimkan detail penglihatan seorang penulis yang akan memakai jasa ghost writer padanya.  Dengan tujuan, untuk dipromosikan nama penulis yang akan memakai jasa ghost writer-nya, oleh kekasih yang mempunyai jabatan sebagai editor platform novel online terbesar di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, aplikasi besutan kantornya sudah 6 juta pengguna yang men-download. Mempunyai pembaca berjuta-juta serta ratusan penulis di dalamnya. Salah satunya Raina, ya, walaupun namanya tidak ada di data base penulis. Tapi, jasa-jasa dan hasil tulisan Rania terpampang nyata di bagian rekomendasi best seller. Setelah mendapatkan pesan dari Raina, kini waktunya Rafli yang mengambil alih. Selepas pertemuan nanti, dirinya akan langsung meluncur pada divisi content reviewer untuk memeriksa nama nona pentichor, untuk mengambil alih novel tersebut dalam naungan kode editor miliknya. Permasalahan yang sangat mudah, bagi Rafli untuk menyelesaikan dan mendukung pekerjaan Raina. Membuat nama penulis tersebut masuk dalam antrian nomor 1 rekomendasi, agar membuat penulis itupun turut senang. Karena, penulis tersebut akan menyangka Rania telah memberikan kinerja yang sangat bagus untuk menulis cerita yang telah ia percayakan. Namun, bukan berarti jika Raina curang atau hasil tulisannya tidak bagus, ya.. Sebenarnya, gadis itu mempunyai talenta serta skill dalam bidang penulisan. Untaian kata demi kata yang mampu menghanyutkan para pembaca, emosi yang sangat kuat dibangun melalui paragraf demi paragraf, serta karakter yang kuat pada masing-masing karakter. Rania mempunyai semua bakat tersebut. Tapi, ada satu hal yang ia tidak punya. Yaitu, keberanian menaruh namanya pada sampul buku yang ia daftarkan pada website platform tersebut.  ** Keran wastafel di dalam gedung teater, memang sangat terbaik. Tidak ada yang menandingi, sekalipun jika disandingkan oleh guyuran hujan. Hingga membuat Raina segar seketika, matanya langsung terbuka sangat lebar. Karena hari ini dirinya harus bertemu dengan beberapa klien yang memintanya menulis cerita untuk naskah, "A-a,-a. B-b-b" Ia memanaskan suaranya lebih dulu dan membulatkan juga, sebelum akhirnya. "Hallo, Raina di sini." Ia menyapa seluruh kru yang sudah menunggunya di luar toilet. "Lama banget si jamet. Buru! Mau pake laptop sendiri apa pake laptop gua?" Sambar Dewa, penulis utama cerita serta skenario. Orang yang akan bekerja sama dengan Raina, serta klien penting Rania saat ini, hingga kapanpun. Karena Dewa lah, satu-satunya manusia yang mampu menyeimbangi kala Raina ingin menulis Fantasi, serta hanya dia juga yang mampu memberikan masukan pada Raina, tentang romance yang tidak picisan. "Sabar. Makan dulu laaa. Laper." Balas Raina, dengan maksut menggoda. Malah tepakkan kepala yang ia dapatkan, "masih aja mikirin makan, udah nulis dulu. Gua nungguin lu molor 1 jem. Lu nonggol langsung minta makan." Oceh Dewa, dengan wajah yang sangat berapi-api. Serta, jangan lupakan se-bundle naskah yang ia daratkan sempurna di atas kepala Raina. "Galak banget, buset. Untung temen. Kalo pacar gua putusin." ia kembali menggoda Dewa, yang membuatnya langsung ditarik Dewa untuk mulai menulis. "Wa! Tangan gua aset lo, ya. Kalo ditarik begini, bisa-bisa aset lo nanti cidera." Rengek Rania.  "Pake suara lo, lah. Jaman udah canggih, Nay. Lo ngomong, bisa ke-ketik  sendiri." Pungkas Dewa, dengan terus menarik tangan Raina. Membuat Raina langsung terbahak di belakang. Sesampainya di depan panggung, ia mendengarkan kala Dewa sedang berbincang dengan sutradara. Perihal adegan selanjutnya, dan bagaimana pengambilan gambarnya. Membuat Raina langsung mendapatkan ide, dan jari lentiknya langsung membuka laptop macnya punyanya sendiri dan mulai menulis. Dewa yang memerhatikan lewat ekor matanya, dan seketika lega. "Akhirnya tuh orang nulis. Cepet juga idenya." Gumamnya dengan pelan. Hingga membuat sutradara tersebut salah kaprah, menyangka Dewa berbicara atau mengumpat padanya.   "Sorry, mas Dewa? Kenapa? Gak suka sama ide saya ya, mas?" "Heh?" Dewa kebingungan, dan langsung memejamkan matanya sejenak. "Bukan gitu, pak. Saya tadi lagi ngomong sendiri. Maaf ya, pak. " "Dan untuk ide bapak tadi, saya simpan terlebih dulu ya, pak. Saya juga harus berkonsultasi pada partner saya." Jelas Dewa dengan panjang kali lebar. Membuat sutradara tersebut langsung mengiyakan, serta mempercayai Dewa sepenuhnya. Karena, ia tidak pernah mengecewakan dalam segi project apapun. Memang sedikit membutuhkan waktu, tapi, ya biar saja. Semua yang dilakukan secara siap, tanpa rasa buru-buru itu adalah mahakarya yang sesungguhnya. Membiarkan ide mengalir secara alamiah, pada sang empu sebelum dieksekusi dengannya nanti. Toh juga, Dewa beserta partner yang namanya tidak mau disebutkan, tidak pernah melanggar ketentuan ataupun waktu deadline sejauh project ini berjalan. "Baik, Pak. Terima kasih." Kata Dewa, seraya membungkukkan tubuhnya. "Okey, Mas. Jangan lupa santai, mas. Ngopi-ngopi laah." Sahut sutradara tersebut dengan menepuk pelan bahu Dewa.   

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook