Ghost and Writer

1232 Kata
Bahunya seolah ditepuk sekilas, membuat Raina terhentak sebentar. "Gak usah iseng ya, kita sama-sama lagi ada kepentingan nih." Ujarnya, entah buat siap. Karena kini, diriinya sedang sendirian duduk di kursi kerjanya, "Gua nulis lagi nih ya. Deadline soalnya." Katanya kembali, dengan tangan serta pandangan yang tidak luput dari layar serta keyboard laptonya. Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam, namun Raina belum mengistirahatkan tubuh dan matanya. Padahal, semua itu sudah dipakai sejak sore tadi. Bbrrrkkkk! Tempat minum jatuh ke lantai, memaksanya untuk bangun dari posisinya. "Kan udah gua bilang nih. Kita sama sama ada kepentingan. Lo sama kepentingan lo, biarin gua sama kepentingan gua." Serunya, dengan suara cempreng yang menjadi ciri khasnya. Walaupun jantungnya berdegup dengan sangat kencang, karena dirinya sendiri pun gusar. Ketakutan mengeliling sekitarnya, akibat beberapa gangguan yang ia dapatkan hari ini. "Kita sama sama hidup di alam sini, ya. Jangan saling ganggu, berdamping aja." Serunya, seraya duduk kembali ke kursinya. Raina menaikkan kacamatanya, meregangkan jari-jarinya, dan kembali fokua menatap layar laptop. "Tadi gua mau nulis apa ya?" Kata Raina, dengan suara yang lumayan keras, agar mengusir rasa iseng di tengah gelapnya malam. "HAH! SIAL! GUA LUPA! GARA-GARA SI SE'AN!" Pekiknya dengan tangan yanh menggebrak keyboardnya. Raina mengambil cangkir di dekatnya, menunggingkan pada mulut, untuk memberikam zat kafein untuk mencegah rasa kantuknya. Tok tok tok' Boleh saja, saat berbincang dangan Se'an rasa takutnya bisa dikendalikan. Tapi, saat ini rasa takut yang tadi bisa dikendalikan, malah memuncak. Kenapa begitu? Karena, dirinya takut jika yang mencoba mengetuk pintunya adalah manusia yang mempunyai niat kejahatan. Pasalnya, saat ini Raina hanya sendirian di kontrakan yang ia sewa bersama teman satu kampusnya. Dan temannya itupun sedang mengunjungi rumah pacarnya, untuk merayakan anniversarrinya yang ketiga bulan. Aneh sekali ya. Masa anniversarry 3 bulan. Padahal, seharusnya 1 tahun. Begitulah pasangan baru yang masih kasmaran, seperti temannya itu. Sudah-sudah. Sekarang masalah si pengetuk pintu belum selesai, sudah membicarakan orang lain. Selesain yang di depan mata dulu nih. Perlahan Raina bangkit dari kursinya, mencari barang yang bisa beralih fungsi menjadi senjata. "Oke..." Langsung saja, Raina membawa sapu aren yang biasa untuk membersihkan kasur. Lumayan bisa buat senjata, untuk mencolok mata si orang jahat. "Siapaaa???" Tanya Raina, di depan pintu utama. Ia menunggu balasan lebih dulu, sebelum membukakan pintu. "Lo siapaaa?" "Hah? Gua yang punya nih kontrakkan. Lo siapa? Kok malah nanya gua?!" Seru Raina. "Lah? Lo balik, Nay? Yaudah bukain! Buruuuu! Tega banget lo, gua lagi sedih disuruh teriak-teriak begini." Seru Gita, teman satu kontrakkan Raina yang seharusnya pergi merayakan anniversarrinya. Tapi, dari penampakkannya ia tidak jadi merayakan semua itu. Ada buliran air mata membasahi pipi, hingga membuat makeup yang selalu on point di wajahnya mendadak tersapu bersih. Pakaian indah yang baru kemarin ia beli di mall, tampak lusuh layaknya penggembara. Tidak lupa juga, penampakkan kakinya yang tidak memakai sepatu heels yang selalu melekat pada ootdnya. "Astaga! Gua kirain lo penjahat, Git. Ternyata temen gua." Raina langsung mendekap Gita, tanpa basa-basi, setelah ia membuka pintu kontrakkan. "Hari ini gua apes banget, Nay. Gak dia (pacarnya) gak lo. Sama-sama salah paham ke gua." Kata Gita, dengan air mata yang tiba-tiba tumpah, layaknya di waterpark. Sementara Raina, hanya bjsa tertegun serta bingung. Apa maksutnya, dan apa yanh terjadi pada Gita. Padahal, sebelum berangkat ia sangat bersahaja. Layaknya ingin bertemu dengan petinggi negara. Namun, bagaimanapun juga Raina tidak mau mengulik masalah Gita, sekalipun ia sangat penasaran. Raina akan menunggu cerita-cerita Gita, jika nanti sudah siap untuk berbagi keluh kesah. "Masuk dulu deh. Biar lo gak disalahpahamin sama tetangga." Ajak Raina, dengan tangan yang memapah tubuh lemas Gita. Raina memasuki kamar Gita, yang selalu tidak terkunci, dan langsung mendudukan Gita di kasur. "Mau gua masakin air anget gak, buat lo mandi?" Gita hanta menggeleng, dengan mata merahnya. "Gua gak sanggup, Nay." Lirihnya. "Lo gak sanggup ngapain si? Kan gua yang masak aer." Raina menggodanya, agar Gita menyudahi adegan melankolisnya itu. Karena, Gita tidak pantas melakukan semua itu. Masa, anak ceria serta bahagia malah tertutup dengan air mata. "Serius napa si, Nay." Gita sudah mulai lelah dengan temannya ini, yang tidak pernah serius, jika dirinya ingin bercerita tentang keluh kesah. "Gua serius, Git. Lo aja yang gak serius, kalo mau nangis ya nangis, masa iti sambil nahan ketawa." Balas Raina, dengan telunjuk yanh menoel dagu Gita. Layaknya mas-mas ganjen, yang kadang menggodanya di gang kontrakkan. Sangat menjijikan. Tapi, Raina sekarang bertingkah seperti itu. "Yaudah, gua duduk deh. Cepet cerita, gua mah baik. Gua tinggal semua kerjaan gua, demi dengerin temen curhat. Tapi, jangan lupa," "Kan, emang si anak puppy. Selalu aja minta imbalan." "Canda imbalan." Sergap Raina, dengan tubuh yang sudah ia jatuhkan pada bean bag kamar Gita. "Yaudah gua mau cerita nih. Lo diem, jangan ada interupsi sebelum gua kelar."  Gita memberi peringatan teelebih dulu, karena, dirinya yang sudah afal denga sifat dari Raina. Selalu menjawab serta menginterupsi perkataan orang lain, dengan sekenanya. 15 menit berlalu, sampai Raina mendengarkan kisah demi kisah, hingga konflik klimaks dengan sangat antusias. "Waaa anjir! Gak nyangka gua dia begitu. Lo mau ngeributin gak? Gua maju paling depan." Jam setengah 3 pagi! Ayam saja belum berkokok. Tapi, bacotan Raina sudah seperti kokokan ayam yang sangat nyaring. Membuat Gita langsung membekap mulut Raina, "Gila kali ya. Inget, Nay. Kontrakkan kita padet. Sebelah ada suami istri, masa lu mau ngalahin kencengnya suara mereka." Ia menyipitkan matanya, menatap Raina dengan penuh ledekkan. "Mauu dong, biar ikut berghairah." Raina membalasa ledekkan Gita dengan suka rela. "Yaudah, gitu aja bincang-bincang kali ini. Silahkan ibu Raina keluar dari kamar saya, karena saya ingin beristirahat. Atas waktunya, saya ucapkan terima kasih." Gita mendorong Raina keluar, tanpa menatap matanya, yang sangat ini sedanh mengutuk Gita dengan penuh amarah. "Gak ada take and givenya lo, Git." Pekik Raina, dari balik pintu yang telah ditutup rapat oleh Gita. Raina berjalan menuju kamarnya, dengan fikiran yang masih tidak percaya dengan konflik hubungan Gita yang sangat kusut. Mulai dari salah paham, hingga selingkuh. Semua dilalui oleh Gita, tapi, tidak rela untuk melepaskan. Bukan hanya Gita yang begitu, pasangannya pun juga. Seolah berlindung pada kata khilaf, tanpa mau mengakui jika hubungannya tidak sehat. Berlindung pada secuil kenangan manis, untuk tetap bersama walaupun membuat kembali kenangan yang saling berlawanan. Untuk apa, melakukan itu semua tapi akhirnya juga sama. Tidak bahagia. Untuk apa, menjalin hubungan dan berjuang sama-sama, jika nantinya akan tersiksa. Raina tidak mengetahui jalan fikiran temannya, yang telah menjadi budah dari percintaan. "Ehh, tapi." Langkahnya terhenti, kala tangannya ingin memutar handle pintu kamarnya. "Lumayan juga buat ide cerita. Tema yang dikasih si nona pentichor tadi kan tentang pasangan toxic." Gumamnya, dengan membuka pintu kamar. Sungguh penulis yang sangat realistis serta matrealistis. Curahan hati dari temannya sekalipun, bisa ia ubah menjadi ladang cuan. Menambah pundi-pundi anak rantau semata, tanpa  memikirkan jangka panjang, jika Gita tidak mau kisah percintaanya dijadikan cerita. Namun, semua itu bukan gaya dari Raina. Ia akan tetap meminta izin dari Gita, untuk memakai konflik serta  alur hubungannya, demi membuat satu benang merah. Dan, Raina juga tidak akan membuat ceritanya sama persis dengan kisah cinta Gita. Banyak yang akan diubah, demi mengikuti selera pasar yang tidak terlalu suka dengan konflik yang berbelit-belit. Maklum saja, pasarnya si nona pentichor yakni ibu-ibu rumah tangga. Yang, senangnya hanya diberikan konflik sebagai bumbu penyedap. Dan, yang terpenting adalah untuk memuaskan naluri mereka, yaitu dengan memberikan tokoh yang tampan dan rupawan, serta yang menggairahkan. Kepala Raina sudah terisi penuh dengan berbagai macam ide yang akan ia rangkai menjadi kalimat, serta paragraf-paragraf untuk dituliskan sebagai outline cerita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN