Bergelayut layaknya koala, memang sangat menyenangkan bagi gadis kelahiran tahun 97.
Sedikit merepotkan, tapi, mau gimana?
Namanya juga pacaran dengan gadis belia, fikiran Rafli. Melihat Raina yang terus menautkan lengannya.
"Kamu abis kerja mau kemana? Aku boleh nungguin kamu gak?" Tanya Raina, dengan suara yang diimutkan, padahal sangat sengau untuk di dengar.
Tapi, Rafli menyukai semua itu. Jika, satu hari saja tidak mendengar suara imut Rania, bagaikan sayur tanpa garam.
Hambar sekali.
"Kamu kan mau ketemuan sama klien katanya, gimana si sayang? Emang gak cukup semalam? Balas Rafli, dengan tatapan serta senyum khas miliknya.
"Aku cukup, gak tau kalo kamu. Kurang kan, mas?" Raina mecolek dagu Rafli, dengan manja.
Seketika udara di dekat mereka semaim hangat. Padahal, Jakarta hari ini, tengah diguyur hujan.
Mungkin, semua kehangatan itu tercipta dari Raina dan Rafli, yang tengah berpelukan di depan coffeshop. Tempat, Raina janjian dengan salah satu kliennya.
"Aku balik kerja lagi, boleh? Kamu gak papa nanti pulang sendiri?" Rafli membelai rambut Raina yang tergerai.
"Tidak apa. Selama ada transjakarta, aku berani pulang sendiri. Sudah kamu sana balik kerja." Balas Raina.
Blush~
Wajah Rafli kali ini berubah menjadi tomat.
Merah menyala, layaknya lampu merah. Akibat perbuatan Raina tadi, yang tiba-tiba mengecup kecil pada pipi.
Sangat dadakan, layaknya tahu bulat.
Hingga Rafli, tidak membalas kecupan itu, yang seharusnya bisa ia lakukan.. Tapi, semua fokusnya langsung ambyar, kala dirinya lupa akan keagresifan kekasihnya.
Raina.
Gadis yang tidak pernah segan, untuk memanjakkan kekasihnya.
Semua akan ia lakukan, demi membahagiakan pasangannya. Mulai dari materi, waktu, atau apapun itu.
Bahkan, gadis itu sangat berani saat Rafli mulai ragu akan perasaanya sendiri.
Namun, Raina langsung mengatakan jika, dirinya menyukai Rafli sejak pandangan pertama.
Membuat Rafli tersentak, sekaligus malu sebagai pria.
Tapi, gadis itu malah cengingisan bahagia.
Dan, itulah cerita singkat bagaimana hubungan mereka berdua dimulai.
"Bye, sayang! Semangat kerjanya." Pekik Raina, diikuti lambaian tangan.
Setelah Rafli menjauh dari pandangannya, barulah Raina masuk ke dalam coffeshop tersebut.
Mencari-cari sosok wanita yang sudah tiga bulan menjadi klien tetapnya.
Mentari terbenam. Itu nama penanya yang ia daftarkan.
"Ice latte, dan maccaroon." Rania memesan terlebih dulu, agar penantiannya terasa menyenangkan.
Lalu ia duduk di lantai dua, untuk mendapatkan suasana tenang serta cozy.
Raina menyalakan laptop, serta memasukan earbud pada telinganya.
Memutar playlist kebanggaannya, yang setiap hari ia putar.
Mulai dari lagu semangat, hingga lagu balada. Semua itu ada di sana.
Raina membuka outline si mentari terbenam, bertujuan mencari ide, untuk ia tulis di bab selanjutnya.
"Nay! Maaf banget. Jaksel macetnya kaya uler."
Wanita berkuncir cepol, sudah duduk di depan Raina. Dengan nafas ngos-ngosan, serta cucuran keringat pada dahi jenongnya.
"Santai ajaaa! Kayak sama siapa aja. Lagian lo udah tau jaksel macet, ngajak ketemuannya di kemang. Bingung banget gua." Seru Raina, seraya memutar laptop ke arah mentari.
"Nyari suasana baru aja, Nay. Lo gak bosen emang, ketemuan di jaktim mulu?" Balas Mentari.
"Kalo urusan sama cuan mah, gua gak akan bosen. Lagian, lo emang tega ninggalin anak lo?"
Iya, benar.
Perkataan tadi, membuat mentari menelan saliva dengan berat.
Ia memikirkan kembali pada anak tunggalnya yang sedang ia titipkan di day care.
Tapi, apa boleh buat.
Mentari adalah seorang single parent yang mengharuskan dirinya bekerja sangat keras, agar buah hatinya kelak bisa mendapatkan masa depan cemerlang.
Dan, inilah salah satu upaya untuk semua itu.
Mentari rela menemui Raina walaupun jauh dari rumahnya. Karena, ada satu pembicaraan yang harus ia utarakan dengan serius.
Masalah pembayaran.
Hari ini, Mentari akan berterus terang jika dirinya belum bisaembayar gaji Raina, akibat penurunan penjualan bab berbayarnya yang turun 50 persen.
Membuat Raina teekejut seketika, "Seriusan, kak? Kok bisa?" Raina tidak mempercayai semua itu.
Karena bagaimanapun juga, ia merasa cerita yang ia tulis banyak mendapatkan respon positif dari para pembaca.
"Untung saja ada pembaca setiaku, Nay. Merekalah yang membantu kita. Semua gift yang dia berikan sanggup menopang semuanya. Tapi, you know lah. Uang gift tidak bisa langsung dicairkan." Keluh mentari, dengan tangan yang bertopang pada dagunya.
Raina yang tidak tega melihat mentari hilang semangat, seperti sekarang hanya mampu mendekatkan segelas lattenya yang belum ia minum.
"Makasih, Nay. Kamu emang orang yang baik."
See?
Hanya dengan perlakuan sederhana, Mentari sangat bersyukur.
Jika kalian bertanya, mengapa Raina melakukan itu semua atau mengapa mentari sangat bersyukur
Inilah jawabannya....
Raina mengetahui jika, saat ini mentari tidak bisa membeli segelas kopi di sini.
Bukan karena tidak ada uang.
Dia mempunyai uang, tapi, hanya sayang saja mengeluarkannya hanya untuk segelas kopi.
Mending ia keluarkan untuk membeli s**u anaknya, agar gizinya bisa terpenuhi.
Dan, sekarang juga merupakan tanggung bulan. Dimana para pekerja yang mempunyai penghasilan tetap saja mengeluh. Apalagi, bagi seorang freelancer layaknya mentari.
Dunia memang adil, jika dalam urusan uang.
"Santai aja si, Kak. Lo masih kaku aja kaya bra baru. Lo tau klien gua banyak kan?" Raina mencoba mencairkan suasana, agar mentari tidak tertekan dengan masalah uang.
"Gua juga mau ngomong, Nay. Kalo, bulan ini pendapatan gua gak kaya biasa lagi. Gua mau hiatus."
DEG!
Mencekam sekali keputusannya.
Membuat kepala Raina pening seketika.
Walaupun Raina punya masalah yang sama dengan mentari, tapi, mentari adalah kliem pertamanya yang bisa membuat Raina terkenal seperti sekarang.
Oleh sebab itulah, Raina tidak mau melepaskan mentari, walaupun permasalah sebesar mungkin.
Ia tidak mungkin bisa melepaskan mentari. Karena, dirinya sudah berjanji sepenuh hati, jika akan menjaga klien pertamanya itu. Siapapun itu.
Dan, kebetulan mentari adalah orangnya.
Dirinya juga tidak ambil pusing dengan jika uang adalah masalah utamanya, Raina bahkan rela tidak dibayar, jika masih diizinkan menulis di ceritanya mentari.
Tapi, mentari hanya membalas semua penjelasan Raina yang panjang kali lebar, hanya dengan gelengan semata.
Matanya terlihat sangat putus asa, dan terlalu lelah untuk berjuang.
"Please, Kak. Lo tega bikin gua kehilangan gua?" Rintih Raina.
"You deserve better, Nay. Yang bisa gaji lo tepat waktu, dengan nominal yang pantas." Balas Mentari, dengan senyum getir yang terlihat sangat jelas.
"Kalo gitu, aku pulanh dulu ya, Nay. Gak enak nitipin anak di day care." Mentari bangkir dari posisinya, dan langsung meninggalkan Raina sendiri.
Tanpa menoleh padanya, untuk melihat bagaimana wajah Raina sekarang.
Mata merah, buliran yang menghiasi pipi, serta lengkung senyum yang sudah turun.
Namun, bukan Raina namanya jika tidak mengusahkan diri untuk menghentikan laju putus asa dari kliennya.
Ia langsung menyambar ponsel di atas meja, membuka room chat dengan Rafli.
Meminta dirinya untuk mengecek bagaimana data pembaca dari semua buku dari mentari tenggelam, yang tengah berjalan, ataupun yang sudah tamat.
Setelah selesai mengirimkan pesan, Raina langsung menyandarkan diri pada sandaran kursi.
Menghembuskan nafas berat, serta menyeka air mata.
Berfikir sekeras mungkin, untuk mengulang kembali masa kejayaan mentari yang berturut-turut nangkring di peringkat 5 buku best seller.