Raina hanya terdiam memikirkan nasibnya yang kini sedang di ujung tanduk. Mentari, orang yang membuat Raina mendapat pekerjaan sampingan-dengan gaji yang lebih besar dibanding gaji kantornya- tiba-tiba saja bilang bahwa ia akan hiatus, sontak saja membuat Raina kaget dan bingung setengah mati. Raina tidak tahu lagi harus mendapat pekerjaan sampingan di mana, dengan gaji yang sangat besar, dengan jenis pekerjaan yang kalau dilihat tidak terlalu menyita waktu. Raina nyaman saja menulis dengan beribu-ribu kata yang ditulis untuk Mentari, meskipun banyak teman kantornya yang selalu mengejeknya karena pekerjaannya ini, Raina tetap melakukannya. Teman kantornya juga tidak tahu kalau pekerjaan yang diledek ini menghasilkan uang yang bernilai besar.
Raina, yang sudah terlanjur sombong kepada teman kantornya, akan gaji sampingannya yang luar biasa jauh lebih besar dibanding gaji kantornya, sekarang jadi bingung. Sombong tetap harus berjalan, ya mau bagaimana lagi. Orang-orang di kantornya pun tahu kalau Raina punya penghasilan yang jauh lebih besar dibanding mereka. Kan, jadi lucu kalau tiba-tiba Raina, jadi tidak bisa bergaya seperti yang kemarin-kemarin. Raina yang tidak bisa dan tidak pernah bisa naik angkutan umum ketika ke kantor saat mobilnya ada di bengkel, Raina yang hampir setiap pagi memegang gelas kopi dari kedai kopi dekat kantor, Raina dengan outfitnya yang selalu terlihat casual dan glamour. Semua itu, tidak bisa Raina tinggalkan begitu saja.
Menurunkan standar Raina? Itu tidak mungkin Raina lakukan. Bagaimana bisa, kalau kemarin Raina menggunakan skincare dengan merek KS III, sekarang harus kembali menggunakan produk lokal seperti Raina yang dulu. Kulitnya kan nanti jadi bingung. Bingung harus cocok dengan produk yang mana. Raina juga tidak mau menurunkan gaya hidupnya, hidup kan harus buat peningkatan, begitupun dengan gaya-gaya yang ada dalam hidup. HARUS NAIK.
Raina menghembuskan nafasnya, berat. Di setiap tarikan nafasnya, seakan-akan ia juga harus menghirup udara-udara dari skincare yang harus di-re-purchase, cicilan yang harus dibayar rutin setiap bulan, barang-barang yang sudah ia pesan dan harus dibayar COD, belum lagi dengan barang-barang Pre Order yang harus dilunasi ketika barang tersebut sudah dikirim. Raina mengambil botol air yang ada di depannya, berusaha membasahi tenggorokannya dengan aliran air, agar otaknya bisa berpikir jernih kembali. Raina tidak ingin kehilangan itu semua.
Raina meletakkan kedua tangannya di meja. Mencoba mengarahkan jari-jarinya membentuk gambar peta, seolah ia bisa menerka apa yang terjadi selanjutnya. Baru membentuk satu peta, Raina mulai terlihat pasrah, badan Rania sudah tersandar lemas di kursi. Raina kehabisan ide, Raina tidak bisa begitu saja menyerah, tapi Raina juga tidak bisa begitu saja memaksa Mentari untuk tidak jadi mundur. Seharusnya Mentari lebih bisa menggunakan akal sehatnya ketika memutuskan untuk mundur. Mentari harusnya lebih bertanggung jawab kepada Raina, salah satu rekan kerja terbaik yang Mentari punya. Kalau bukan karena peran Rania, mungkin semua buku-buku karya mentari, tidak terlihat di deretan buku best-seller. Mentari tidak punya rasa berterima kasih. Seenaknya saja Mentari mengatakan ia ingin hiatus, tidak memikirkan bagaimana nasib Raina selanjutnya. Mentari egois.
Raina mengambil botol air yang ada di depannya, meminum airnya sampai habis, kemudian meremukkan botolnya, kesal. Siapa orang di dunia ini yang tidak kesal kalau tiba-tiba hal yang jadi sumber kesenangan kita, tiba-tiba pergi, pergi begitu saja tanpa pamit? Apalagi ini tentang uang. Semua orang pasti berusaha untuk mencari dan mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Bagaimana Mentari bisa lupa kalau pekerjaan ini, adalah sumur uang yang paling memungkinkan untuk digali sedalam-dalamnya. Tapi, Mentari malah berusaha untuk menutup sumur ini. Mentari yang aneh, Mentari Egois, Mentari yang tidak memikirkan orang lain. Raina mulai naik pitam. Raina harus coba mengutarakan isi hati dan pikirannya ke depan Mentari, agar Mentari apa yang seharusnya dilakukan oleh Mentari, bukan semena-mena mundur begitu saja. Raina harus mencoba lagi menghubungi Mentari. Raina tidak peduli apa yang sedang Mentari lakukan, tapi yang jelas, Raina ingin meminta penjelasan yang lebih lengkap dari Mentari. Raina tidak bisa ditinggalkan begitu saja, tanpa alasan yang jelas.
Raina mengambil handphone-nya, mencari nomor Mentari, dan menekan tombol panggilan. Raina harus bergegas menyampaikan amarahnya ini, Mentari harus tahu tentang hal ini.
Nomor yang anda tuju, tidak menjawab, cobalah hubungi beberapa saat lagi ………..
“Oke, Sabar Raina, mungkin percobaan ke 2 akan berhasil.” Kata Raina kepada dirinya sendiri.
Nomor yang anda tuju, tidak menjawab, cobalah hubungi beberapa saat lagi ………..
Raina sedikit membanting hp-nya di meja, kesal. Mentari tidak menerima panggilan telepon dari Raina. Raina menghela nafasnya, matanya mulai menunjukkan sorot kemarahan. Mentari mulai bertingkah, apa Mentari tidak merasa bersalah sedikitpun karena sudah memutuskan jalan rezeki Raina? Raina merasa dikhianati oleh Mentari.
Raina masih memandang seluruh isi Cafe. Orang-orang di dalam cafe ini tidak ada yang tahu, bahwa salah satu pengunjungnya, yang sedang duduk di pojokkan ini, habis di “PHK” secara sepihak oleh rekan kerjanya selama ini. Seisi cafe malah semakin ramai, seolah menolak dan tidak mau tahu tentang keadaan Raina. Raina mulai muak, Cafe yang semakin ramai, ditambah dengan alunan musik yang bukan selera Raina, Raina semakin bosan dengan keadaan di cafe ini. Tidak ada yang bisa mengerti dirinya. Tidak ada seorang pun. Semua orang hanya ingin membuat Raina mundur, menyerah, dan hanya ingin mengalahkan dirinya. Raina membereskan seluruh peralatannya di meja cafe lalu melangkah ke luar. Menjauhi tempat yang menurutnya tidak sesuai dengan apa yang ia mau, adalah hal terbaik. Raina tidak ingin lagi datang ke cafe ini. Cafe yang menjadi tempatnya di “PHK” oleh rekan kerjanya sendiri. Raina melaju pergi.
Ting ------- Ponsel Raina berbunyi. Raina yang sedang fokus mengendarai mobil hanya meliriknya sebentar. Hanya memastikan bahwa itu memang pesan masuk ke hp-nya, bukan bunyi-bunyi dari sugestinya saja.
Raina masih terus melanjutkan perjalanannya, tidak ada keinginan untuk membaca pesan itu. Raina menyalakan radio di dalam mobilnya, agar ada suara lain untuk dirinya selain suara hati dan pikirannya yang terus menyuarakan kekesalan kepada Mentari. Raina menatap lurus ke arah jalanan sesekali ia juga ikut bersenandung dengan lagu yang dilantunkan di radio kesukaannya. Raina tidak peduli kalau suara dari radio mobilnya terlalu berisik sampai membuat orang lain bisa menoleh ke arah mobilnya, Raina hanya ingin melepaskan rasa penat, lelah setelah dikhianati oleh Mentari. Rekan kerjanya yang gila karena sudah memutuskan hubungan kerja secara sepihak, tanpa kata-kata lebih lanjut. Mau ditaruh dimana muka Raina kalau Raina sedang berhadapan dengan anak-anak kantor.
Sebentar lagi memang akhir bulan, biasanya Raina akan mengajak teman-teman kantornya untuk sekedar ngopi-ngopi di tempat kopi terkenal di ibu kota. Bekerja selama satu bulan dengan bayaran di akhir bulan, memang hanya itu yang menyenangkan. Di saat itulah, Raina bisa unjuk diri sekaligus membuktikan kepada teman-temannya, kalau Raina memang punya uang dan punya penghasilan yang jauh lebih besar dibanding teman-temannya. Raina selalu bangga dengan apa yang ia punya, ia juga tidak segan untuk menunjukkan apa yang ia punya.
Ya wajarlah gue tunjukin apa yang gue punya, gue kan emang punya beneran, kecuali gue pinjam barang orang. Kalo gue kayak gitu, baru deh lo semua bisa komentar yang macem-macem tentang gue. Itulah kalimat yang Rania ucapkan kepada teman-teman kantornya, setelah Rania mendapat gajian dari Mentari dan menggunakan tas series terbaru yang limited edition keluaran merk ternama, bulan lalu. Teman-teman kantornya hanya terdiam, melihat Rania yang bicara seperti itu. Ya, habisnya yang dikatakan oleh Rania kan ada benarnya juga.
Beberapa teman kantor Raina sering kali membicarakan apa pekerjaan sampingan Raina. Membicarakan Raina bisa di mana saja, di pantry, di kantin, atau bahkan ketika mereka sedang janjian untuk jalan dengan Rania dan Rania belum ada di tempat, ya sudah pasti membicarakan tentang Raina sebagai topik pembuka. Sekaligus, menebak Raina akan pamer apa hari ini. Ketika Raina datang, baru deh, mereka pura-pura baik lagi dan menyapa Raina. Ya, hal semacam inikan sudah sering terjadi di kota-kota besar. Baik dan ramah kepada orang hanya di depannya saja, kalau di belakang orang itu, ya itu sudah urusan lain.
Teman-teman kantornya juga bahkan tidak segan untuk bertanya langsung kepada Raina. Tapi, seperti biasa, Raina juga terus menerus menjawab dengan seribu alasan, tidak pernah berterus terang tentang pekerjaan sampingannya itu kepada teman-temannya. Raina hanya menjawab dengan jawaban yang ‘se-kena-nya’ saja, tidak pernah menyebutkan pekerjaannya dengan jelas. Ya, teman-temannya kan juga semakin penasaran. Ditambah lagi, Raina yang juga terus menerus menyombongkan dan menyebut-nyebut ‘pekerjaan sampingan nya’ itu. Itu kan namanya memancing !
Raina masih memikirkan agenda akhir bulan ini. Raina harus tetap terlihat biasa saja meskipun Mentari telah memutus kerjanya. Gajian Raina bulan lalu masih ada, gajian dari kantor juga masih cukup, kalau Raina bisa menggunakannya secara bijak. Tapi, ini yang susah. Raina lebih memilih untuk terkenal sebagai teman kantor yang loyal kepada teman yang lain, dibanding harus dikenal sebagai teman yang pelit. Pelit bagi Raina adalah sifat yang membuat dirinya jadi tidak punya teman. Raina sangat tidak ingin dikenal karena pelit, makanya, ia selalu berusaha untuk menjadi teman yang mengajak teman lain bermain, ngopi bareng, atau sekedar karaoke menghilangkan penat. Tentu saja, ketika giliran bayar, Raina yang harus unjuk diri. Raina yang akan maju paling depan. Teman-temannya terima saja, tentu terima. Kalau di belakang Raina, itu urusan yang beda.
Raina masih terus mengawang dan masih merencanakan tempat baru apa yang harus ia datangi, nanti, dan masih dengan alunan lagu di radio yang setia menemani perjalanan Raina. Raina masih berusaha untuk mengobati rasa kecewa yang ada di dalam dirinya akibat Mentari.
Ting ------------- Raina kembali mendapatkan notifikasi pesan masuk ke hp-nya, Raina kini melirik Hp-nya, mencoba untuk melihat siapa orang yang mengirimkan pesan di saat jam-jam yang senggang ini.
Raina terkejut, pesan masuk dari Mentari. Raina memperlambat laju kendaraannya. Mencoba untuk membaca sekilas pesan yang dikirim oleh Mentari untuknya.
Nay, sorry banget gue terkesan buru-buru tadi, gue sebenernya nggak ada maksud buat ……..
Buat apa nih lanjutannya. Senyum yang lebar langsung terbentuk di wajah Raina. Emosi Raina yang tadi sempat naik drastis, kini langsung terjun bebas. Seketika saja, Raina langsung merasa berdosa, karena sempat memaki Mentari yang belum diketahui salahnya. Raina langsung menuduh Mentari sebagai orang egois, tidak memikirkan Raina, dan segala cacian serta makian yang tadi Raina keluarkan untuk Mentari.
Sekarang, setelah Raina membaca pesan dari Mentari, Raina sadar bahwa Mentari memang tidak sejahat itu. Mentari mungkin telah mengambil keputusan yang seharusnya. Memang, memutuskan hubungan kerja dengan Raina tidak semudah itu, mungkin Mentari juga berpikir lebih jauh tentang masa depan anaknya. Senyum Raina semakin lebar, Raina langsung merasa bahwa kini, awan-awan pun membentuk senyuman untuk dirinya. Raina tidak perlu khawatir tentang kebiasaannya untuk bermain dan bergembira dengan teman-teman kantornya. Bahkan, Raina tidak perlu khawatir dengan skincare-nya yang harus dibeli kembali bulan ini. Semua kebiasaan, peralatan, gaya hidup Raina, masih bisa berjalan normal.
Raina sudah ingin meminggirkan mobilnya, Raina ingin langsung menelpon Mentari sebagai tanda terima kasih karena dirinya sudah terus diberi kesempatan untuk bekerja sama dengan Mentari. Raina yakin, Mentari memang rekan kerja yang sangat baik. Mentari juga memikirkan Raina. Raina ingin bertemu langsung dengan Mentari dan memeluknya erat.
-------------------------
Mentari yang baru saja mengirim pesan kepada Raina, masih menunggu dengan cemas. Mentari juga tidak tega dengan Raina yang harus berhenti menulis untuk dirinya. Tapi, Mentari harus menjaga, melihat, dan mengamati perkembangan dari anaknya sendiri. Pertumbuhan anak dan perkembangan harus menjadi nomor satu bagi mentari saat ini. Setidaknya, sampai mentari dapat pekerjaan yang tidak perlu lagi harus membagi konsentrasi dengan anaknya, Mentari harus rela mengorbankan apa yang dimilikinya saat ini.
Mentari masih menunggu Raina untuk membalas pesannya. Mentari tidak tahu Raina akan semarah apa, tapi yang Mentari tahu, Raina pasti akan berkepanjangan membahas hal ini. Raina pasti tidak akan mengerti rasanya menjadi seorang single parent dan harus membagi konsentrasi antara pekerjaan dan anaknya. Raina pasti akan sangat sulit untuk mengerti. Mentari pun juga enggan untuk menjelaskan lebih lanjut. Mentari mengenal sifat Raina yang seperti itu adanya.
Mentari melihat anaknya yang masih terlelap di tempat tidur. Tidak sampai seharian, Mentari tidak melihat anaknya. Mentari sudah merasakan kerinduan yang sangat amat menyiksa dirinya. Kalau Mentari bisa menukar waktu yang kemarin sudah ia korbankan, mungkin Mentari rela menukarnya dengan melihat kembali perkembangan anaknya. Tapi, semua yang Mentari lakukan kemarin juga untuk kebaikan anaknya. Setidaknya, sisa uang di rekening Mentari sudah cukup untuk menanggung kehidupan sehari-harinya beberapa waktu ke depan. Ditambah dengan uang gift dari penggemar setianya, yang masih bisa untuk menambah uang kesehariannya. Mentari harus menjadi sosok Ibu yang kuat bagi anaknya.
----------------------
Raina masih bersenandung riang bersama dengan alunan lagu yang ada di radio. Seakan tidak ada lagi kekhawatiran yang menyelimutinya. Raina hanya berpikir bahwa perkataan Mentari di cafe tadi, hanyalah bualan belaka, atau mungkin Mentari sedang lelah saja memikirkan anaknya. Raina tahu, bahwa Mentari selalu mengerti apa yang terbaik baginya, termasuk dengan memikirkan orang lain yang berhubungan dengan dirinya. Raina tahu, Mentari memang masih rekan kerjanya yang terbaik.
Hp Raina yang masih tergeletak di sampingnya masih belum juga disentuh oleh Raina. Raina terlanjur senang dengan apa yang ditampilkan di depannya. Yang Raina pikirkan sekarang hanya berdasarkan apa yang lihat. Yang tidak Raina pikirkan adalah apa yang tidak ia lihat, yang mungkin akan jauh lebih baik apabila dipikirkan. Raina hanya terus bersenandung, bernyanyi bersama dengan lagu yang mengalun di radio. Raina tahu, dirinya masih akan aman.