Part 9

908 Kata
"Rita tunggu! Kok lo buru-buru banget sih?" Bela mengejar Rita yang tengah berlari di koridor sekolah. Setelah sampai di sebelah Rita, Bela mengatur napasnya yang tersengal-sengal. "Eh Bel.. Sorry.. Gue pengen cepet-cepet pulang nih. Gue takut terjadi sesuatu." "Hah? Apaan emangnya Rit?" Tanya Bela tidak sabaran. Rita menghembuskan napasnya, "soal tante Qila. Gue takut dia berantem sama Papa." Bela menatap iba Rita. "Soal M&G kemarin ya?" Tanya Bela. Rita mengangguk cepat. "Duuuh gue juga jadi ngga enak nih sama tante Qila. Udah deh lo cepetan pulang. Gue juga khawatir." "Gue duluan yeee." Setelah sampai di rumahnya, Rita langsung mengetuk pintu. Lama, tak ada yang membuka. Rita memegang gagang pintu, dan pintu itu terbuka. Rita masuk, mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah. Dia melihat Aqila yang tengah duduk di ruang tengah. Aqila menghadap ke arah televisi yang sedang menyala dan belum sadar kehadirannya. "Tante Qila.." Panggil Rita dengan lirih. Aqila menghadap ke arah sumber suara, "lho Rita, kok kamu sudah pulang?" Aqila nampak terkejut dengan kehadiran Rita. "Iya Tante, tadi guru-guru pada rapat. Jadinya pulang tengah hari deh." Aqila berdiri, "ya..yaudah kamu langsung ganti baju ya." Aqila mendorong Rita ke arah tangga. Namun Rita bingung, seperti ada yang ditutup-tutupi oleh Aqila. "Kamu udah pulang sayang?" Raihan tiba-tiba muncul dari arah belakang Aqila. Membuat Rita semakin bingung. "Lho Papa? Kok Papa ngga kerja sih?" Rita semakin khawatir. Jangan-jangan selama ia di sekolah Papanya itu memarahi Aqila. Begitu pikir Rita. "Iya nih, Papa masih cape, kan baru pulang dari luar kota." "Terus tadi Papa dimana? Kok tiba-tiba langsung muncul gitu sih? Tadi aku ngeliatnya cuma tante Qila aja." "Mmmm udah Rita langsung ganti baju aja ya. Katanya Papa mau ngajak kita jalan-jalan tuh." Aqila langsung mengalihkan pembicaraan. Dia takut kalau Raihan menjawab "Papakan lagi tiduran di pahanya tante Qila." Kan enggak banget. Lagi pula Aqila tidak mau Rita melihat Rita marah kalau ia dan Papanya sedang bermesraan. Aqila menyadari itu. Dia tidak ingin merusak hubungannya dengan Rita yang mulai membaik. "Jalan? Asiiiiiiikkk.." Rita langsung naik ke lantai 2 dimana tempat kamarnya berada. ---- "Kemana dulu nih kita?" Raihan bertanya kepada Aqila dan Rita. Hari ini Raihan membawanya ke salah satu mall yang ada di Jakarta Barat, Taman Aggrek. "SKY RINK Pa..." Ucap Rita dengan semangat. "Kebiasaan deh, kalau ke mall ini pasti ke situ." Raihan mengusap rambut Rita dengan lembut. Raihan menatap Aqila kemudian menggenggamnya. Mereka kemudian berjalan ke lantai 3, letak di mana tempat yang mereka tuju. Mall ini ternyata memiliki arena ice skating terbesar se Asia Tenggara dan juga termegah se Asia. Aqila tidak heran, meskipun hari ini bukan weekend, tapi pengunjung yang datang lumayan banyak. Ini bukan yang pertama kalinya Aqila datang ke mall ini atau bermain ice skating. Tapi Aqila tetap saja tidak bisa untuk menginjakkan kakinya dengan benar di atas lantai es yang licin itu. "Kalian berdua aja deh yang main ice skating, tante tunggu sini." "Lho kok gitu sih Tante? Ngga seru ah!" "Tante ngga bisa." "Aku siap kok jadi Trainer kamu." Kali ini Raihan yang berbicara. "Tuh Tan, kapan lagi coba ada Trainer gratisan." Rita terkekeh dengan ucapannya, dan Raihan langsung mengacak rambut putri kesayangannya itu. Setelah mereka lengkap dengan perlengkapan yang telah sempurna di pakai, Aqila mengambil smartphonenya dan mengambil foto selfie mereka. Ketiganya larut dalam suasana. Hari ini benar-benar Quality time mereka. "Papa senyum dong!" "Ih kan di suruh muka jelek, kok malah pasang senyum sih." "Tangannya begini Mas." Aqila mengambil jari telunjuk dan jari tengah Raihan, lalu meletakkannya di pipi Raihan. Raihan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri dan juga anaknya. Sifat keduanya hampir sama, narsis. Tapi itu dapat dimaklumi oleh Raihan, mengingat Aqila yang masih sangat muda. "Anak sama emak sebelas dua belas ya, suka narsis." Raihan mencoba menggoda Aqila dengan ucapannya. "Narsis apanya sih Mas? Menurutku, semua waktu yang berharga harus di abadikan Mas." ---- "Ayo dong sayang semangat!" Raihan berusaha menyemangati Aqila yang tengah terduduk di lantai es. Aqila kelelahan akibat ia yang tetap saja tidak bisa. Sudah puluhan kali Aqila terjatuh. Untung saja ada Raihan yang menolongnya. "Cape Mas.." Aqila melihat ke semua penjuru rink, dia iri dengan orang-orang yang lancar berjalan di atas lantai es yang sangat licin itu, bahkan ada juga yang bergaya. Entah itu gaya apa, Aqila tidak tahu. Rita juga, dia juga asyik saja meluncur dengan santainya di arena ini. Tapi ia juga melihat ada orang yang sama seperti dirinya. Masih tertatih-tatih untuk bisa berjalan di arena ini. Raihan membantu Aqila yang ingin berdiri. Tangan Aqila menggenggam tangan Raihan kuat-kuat, takut terjatuh. Uuh kali ini Raihan menang banyak. *** Mereka kelelahan setelah 2 jam bermain ice skating dan memutuskan untuk mencari makan. Ketiganya sepakat untuk menuju restaurant seafood yang ada di mall itu. LINE Handphone Rita berbunyi, menandakan ada notif dari salah satu aplikasi di handphonenya. Belalalala: Rit lo lagi di TA? Nurita: iyeee, sama tante Qila. Papa juga ikut. Kenapa? Belalalala: Engga papa, tadi gue liat postingannya Tante Qila. Belalalala: Oy Rit, cek i********: lo deh. Followers lo nambah banyak. Gilak! Belalalala: Woyyy Rit!!! Nurita: Ntar aja deh gue ngeceknya, ngga ada kuota. Belalalala: Lo bisa nge-line odong! Nurita: mager gue. Rita langsung membuka aplikasi yang disebut Bela tadi. Dan benar, followersnya bertambah 300 lebih. Hal itu diakibatkan karena Aqila yang menandai Rita di salah satu foto yang baru di posting oleh Aqila. Qtime w/hubby & @nurita15 967 Likes 104 comment Rita senyum-senyum sendiri dan sesekali terkekeh melihat semua komentar di foto itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN