NINE

2129 Kata
              Ben mendapat tamu yang tidak terduga, sepulangnya ia dari kantor bersama dengan Astrid. Mereka berdua langsung memasuki rumah. Namun ternyata di sana ada Mischa yang sedang menunggu mereka. Entah apa yang ingin dibicarakan. Namun Astridpun tidak bicara bahwa Mischa akan datang ke rumah mereka. “Hai!” kata Mischa berdiri ketika melihat kedatangan Astrid dan Ben. “Mischa? Sedang apa di sini?” tanya Ben kaget. “Sorry, kalau kedatangan gw mengganggu kalian.” Kata Mischa dengan senyum miringnya.                 Astrid dan Ben langsung saling menatap satu sama lainnya. “Baiklah. Silahkan duduk.” Astrid mempersilhakan. “Ada apa Mischa?” tanya Ben tanpa ragu setelah mereka duduk di sofa “Sebelumnya aku mengucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua. Dan ini aku ada sedikit hadiah pernikahan untuk kalian.” Katanya kemudian menyerahkan benda yang besar dan terbungkus rapi. “Terima kasih!” kata Astrid kemudian menerima hadiah yang diberikan Mischa dan meletakkannya di meja di hadapan mereka. “Lalu, ada apa loe kesini?” tanya Ben to the point. “Ehm ... loe terlalu terburu-buru Ben! Apa tidak boleh gw menjalin silahturahmi dengan kalian?” tersenyum miring.                 Ben dan Astrid tampak tidak merespons omongannya dan hanya terdiam, menunggu wanita di hadapan mereka ini memberitahukan apa maksud kedatangannya menemui mereka. “Ok, seperti yang kalian sudah tau. Gw sekarang sedang mengandung anak Dean dan ini artinya kalian sebagai sahabat dari Dean dan Kiara harusnya memisahkan mereka berdua.” Menyesap teh hangat yang disajikan oleh ART Ben dan Astrid. “Wow … memisahkan?” tanya Ben mulai terpancing emosi. “Iya … gw sekarang mengandung anak Dean. Dan gw kesini untuk meminta bantuan kalian untuk memisahkan mereka berdua. “ Mengulangi kata-katanya. “Apa loe udah gila, Mischa? Dean dan loe secara sah sudah bercerai. Kenapa gw harus memisahkan Kiara dan Dean yang sebentar lagi akan menikah. Lagi juga itu juga belum tentu anaknya Dean.” Kata Ben mantap tak lama menyeringai.                 Astrid hanya diam sambil memegangi tangan suaminya yang sedari tadi dikepal karna kesal.   “Kalau memang ini anaknya Dean, apa kalian akan memisahkan mereka berdua?” “Itu tergantung dari mereka berdua. Kenapa kami harus campur tangan” “Karna orang yang paling didengar oleh mereka berdua adalah kalian. Jadi sudah seharusnya kalian membantu gw.” “Sudah jangan bertele-tele. Tes DNA saja dulu. Setelahnya jika memang benar itu anak dari Dean. Gw sendiri yang akan turun tangan untuk memisahkan mereka!” ucap Ben. “Ok-ok calm down.” “Kapan loe mau tes DNA? Gw malah yakin anak itu bukan anak Dean! Lagian juga kalian berdua kan ga pernah saling mencintai. Jadi mana mungkin, Dean bisa menyentuh lo.” “Dean hanya berbohong agar Kiara mau kembali lagi dengannya. Kami sering melakukannya kok. Apalagi, Dean itu seorang lelaki normal. Mana mungkin dia mau melewatkan kesempatan untuk menikmati tubuh gw.” “Jangan pernah berani-beraninya berbohong ya, Mischa!” Ancam Ben semakin emosi dan menunjuk Mischa tepat di depan wajahnya. Terlihat Ben memendam emosi atas perkataan Mischa barusan. “Kapan lo mau tes DNA anak itu?” Kali ini Astrid yang berbicara. “Kapanpun yang kalian mau!” “Ok kalau begitu gw akan atur untuk kalian melakukan tes DNA.” Kata Astrid.   * * * * * *                   Wanda menyampaikan informasi yang ia dapat dari detektif kepercayaan Ben. Ben pun sudah mengantongi bukti-bukti tentang kehamilan Mischa. Ben dan Wanda kemudian menyimpan bukti-bukti tersebut dan meminta Dean untuk tetap melanjutkan rencana pernikahannya dengan Kiara.                 Kiara dan Dean sudah pergi tadi siang ke Jogja. Ben dan Astrid akan menyusul besok sore, sementara Hito akan menyusul bersama dengan orang tuanya. Mereka akan bertemu dan akan tetap melangsungkan pernikahan yang sudah direncanakan itu.                 Kiara dan Dean sedang berada di sebuah hotel untuk fitting baju pernikahan mereka. Dan Dean juga menyiapkan beberapa hadiah untuk ia berikan kepada Kiara. Di sana telah hadir ibu dan juga bude Jani dan beberapa orang dari WO. Bu Agni adalah owner WO yang akan bertanggung jawab atas terselenggaranya pernikahan mereka. Bu Agni membawakan beberapa kebaya dan juga jas dan Beskap yang akan dikenakan oleh Kiara dan Dean pada acara spesial mereka. Kemudian setelah memilih-milih untuk kebaya yang akan ia kenakan itu akhirnya jatuh kepada kebaya berwarna broken white dengan taburan swarovski dengan ekor yang panjang dan kain batik motif jarik berwarna coklat tua. Sedangkan Dean memilih beskap berwarna senada dan dengan bawahan kain batik motif jarik berwarna coklat tua juga yang senada dengan milik Kiara.                 Setelah mereka melewati prosesi fitting untuk baju akad nikah mereka 2 hari lagi. Malamnya di ruang ballroom itu diadakan siraman dan pengajian untuk kelancaran pernikahan mereka berdua. Ben dan Astrid datang sebelum acara pengajian tersebut dimulai. Astrid dan Ben kemudian langsung di bawa ke kamar mereka untuk segera berganti pakaian dan bersiap-siap. “Gimana kabar kamu, De?” tanya Astrid pada Kiara. “Sebenarnya aku masih ragu, Ci untuk melanjutkannya atau tidak. Tapi Dean terus meyakinkanku. Begitu juga bang Ben yang selalu support apapun yang dilakukan Dean. Aku tau sih, bang Ben tidak akan pernah mensupport Dean jika perbuatannya itu salah. Apa bang Ben sudah menemukan bukti bahwa anak itu bukan anak Dean?” kata Kiara yang tengah duduk di bangku menghadap Astrid yang sedang merapikan riasannya. “Aku juga sebenarnya ga tau, Ra. Tapi kamu tau ga? Kemarin Mischa datang dan meminta kami berdua memisahkan kalian berdua.” “Lalu, jawaban kalian?” tanya Kiara penasaran dan langsung menghadap Astrid. “Tentu saja kami menolak, tapi aku yakin banget itu bukan anak Dean. Udah sekarang kamu fokus aja. Biar Ben yang akan mencari tahu. Apa ibu dan keluargamu tau tentang hal ini?” tanya Astrid lagi “Semenjak kedatangan kami, kami tidak menceritakan apapun pada mereka. Aku ingat pesan bang Ben untuk tetap seperti biasa saja di depan semuanya, sampai ia benar-benar memberikanku bukti yang kuat tentang bayi Mischa. Sekarang aku sedang melakukannya, Ci.” Di sisi lain Ben dan Dean sedang berbicara serius di resto hotel tersebut. Mereka berdua juga sedang membicarakan tentang Mischa. “Kemarin Mischa datang ke rumah gw, dia meminta gw dan Astrid misahin kalian. Karna dia bersihkeras, mengaku kalau itu anak loe, Ean.” Cerita Ben ketika baru saja duduk di kursi resto itu. “Sumpah Ben! Gw ga pernah ngelakuin itu ama Mischa. Apa yang diceritakannya itu semua bohong dan gw berani sumpah dengan cara apapun, dengan apa yang diucapkannya itu semua bohong.” Katanya membela diri. “Gw percaya sama lo Ean. Pokoknya lo tenang aja. Gw udah punya bukti kalo itu bukan anak loe. Tapi Mischa masih ga mau mengakuinya sama gw. Pokoknya lo dan Kiara tetap harus fokus sama acara kalian. Dan gw bakal suruh orang gw buat jaga-jaga kalau dia buat onar pas pesta pernikahan lo.” “Thanks Ben, lo yang terbaik!” kata Dean memeluk sahabatnya itu   * * * * *                 Setelah adanya pengajian, Kiara dan Ben mengadakan siraman. Dan karna Dean sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, akhirnya kedua orang tua angkatnya yaitu orang tua Ben yang mendampinginya. Setelah sampai di ruangan ballroom hotel itu, Orang tua Ben langsung diarahkan untuk mengikuti acara siraman. Kemudian setelah sesi siraman itu, setelah berganti baju. Mereka berdua memohon restu dari orang tua mereka dan melakukan sungkeman. “Hari ini tanggal 07 maret aku, Kiara Pratama memohon izin, restu kepada Ibu untuk menikah dengan laki-laki pilihanku yaitu Dean Ananta. Mohon maafkan jika selama ini Kiara selalu menyusahkan Ibu dan alm. Ayah. Kiara berharap dan menginginkan semoga pernikahan ini menjadi pernikahan pertama dan terakhir untuk Kiara dan semoga kelak nantinya hanya Allahlah yang akan memisahkan kami dengan kematian. Kiara mohon untuk Ibu mewakili alm. Ayah untuk merestui, mengizinkan kami untuk saling menyayangi dan membina rumah tangga yang mandiri serta harmonis. Semoga kami berdua kelak akan menjadi orang tua yang bisa membimbing anak-anak kami dengan baik. Semoga kami berdua juga bisa sebahagia Ibu dan alm. Ayah dalam pernikahan kami. Untuk keluargaku, terima kasih banyak atas dukungan dan restunya yang telah diberikan kepada kami berdua.” Kemudian Kiara mencium pipi ibunya dan memeluknya dengan sayang. Ia sudah tidak dapat membendung air matanya.   “Baiklah, terima kasih atas ucapannya dari Kiara. Sekarang kita akan mendengar dari Dean kepada orang tuanya. Kepada Dean kami persilahkan.” Kata salah satu pembawa acara dalam acara siraman dan pengajian itu. “Hari ini tanggal 07 maret. Aku Dean Ananta memohon izin, restu dan juga doa kepada Mami dan Papi. Aku memohon izin untuk menikahi wanita pilihan Dean yaitu Kiara Pratama. Aku mohon maafkan Dean jika mungkin selama ini Dean telah menyusahkan Mami dan Papi. Maafkan Dean jika terus menerus melakukan kesalahan kepada Mami dan Papi. Juga untuk adikku dan sodaraku Ben dan Hito terima kasih banyak atas dukungan dan bantuan kalian untuk tetap selalu menemaniku dalam suka dan dukaku.”  Kemudian ia memeluk kedua orang tua angkatnya itu bergantian dengan penuh sayang dan haru.   * * * * * *   “Besok kita technical meeting ya, Ra.” Kata Bu Agni pada Kiara yang tengah memasukkan smartphone yang dipegangnya pada handbags yang dijinjingnya.   “Jam berapa, Bu?” tanya Dean ikut nimbrung. “Ehmm ... jam 10 Kiara harus sudah disini, ya. Dean menginap di sini kan?” tanya Bu Agni. “Iya, keluargaku semuanya menginap di sini Bu.” Jawab Dean singkat sambil berusaha seramah mungkin. “Baiklah. Kalau begitu atur dengan Kiara untuk jam 10 semuanya sudah ready ya.” “Ok Bu, terimakasih.” kata Kiara tersenyum ramah.                 Kemudian Bu Agni pergi menyisakan Kiara dan Dean di lobby hotel itu. Tak lama seorang wanita yang mereka kenal menghampiri mereka. Wanita cantik itu terlihat sangat marah kepada mereka berdua yang sedang berdua dan berpegangan tangan. “Jadi, disini tempat pernikahan kalian?” kata Mischa yang tengah berdiri di hadapan mereka. “Untuk apa kamu kesini?” tanya Dean sarkas. “Memangnya, ga boleh kalo aku ke sini?” tanya Mischa sinis.                 Kiara dan Dean saling menatap tanpa merespon ucapan Mischa.   “Baiklah, jika kalian tetap tidak akan membatalkan pernikahan kalian. Aku akan maju demi anak ini.” Kata Mischa dengan senyum sinisnya. “Hentikan kebohonganmu, Mischa!” kata Ben yang tiba-tiba muncul di belakang mereka bertiga. “Ohhh ... rupanya ada Ben. Sodara kesayangan Mantan Suamiku ini, sudah berani-beraninya ikut campur urusan pribadi kami ya.” “Jangan kamu berani-beraninya ya mengusik Dean dan Kiara. Atau kamu akan menerima akibatnya!” kata Ben dengan nada emosinya. “Calm down, Ben.” Pinta Dean, “Denger ya Mischa Putriansyah, Mantan Istriku. Kita sudah sah bercerai dan kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Sebaiknya kamu pergi dari sini dan jangan ganggu aku dan Kiara lagi. Atau …” belum saja Dean melanjutkan kata-katanya. “Atau apa Dean Ananta?” tanya Mischa dengan tatapan sinisnya. “Atau aku akan menunjukkan bukti kalau kamu sebenarnya bukan mengandung anak Dean! tapi kamu mengandung anakku.” Kata Putra yang tiba-tiba datang dan ikut dalam pembicaraan menegangkan itu. “Putra?” kata Mischa dalam kagetnya. “Sudahlah Mischa, hentikan kebohonganmu ini. Dan berhenti mengejar-ngejar Dean. Kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik.” Kata Putra memegang tangan Mischa. “Dari mana saja kamu?” kata Mischa yang tiba-tiba menangis melihat kedatangan Putra di hadapan mereka.   “Aku minta maaf atas kekacauan ini Dean, Kiara dan Juga Ben. Maafkan aku membiarkan Mischa mengganggu kalian lagi.” Kata Putra kemudian meminta maaf dengan sopan, “anak yang di kandungan kamu itu anak aku kan, Cha?” tanya Putra meminta konfirmasi dari Mischa yang bersikeras. “Bukan! Ini anak Dean.” Mischa masih membantah apa yang telah dikatakan oleh Putra. “Tolong jelaskan, Mischa. Jangan bohongi mereka semua yang sudah baik padaku.” Kata Putra kali ini dengan nada memohon penjelasan pada kekasihnya itu. “Ini!” kata Putra menyerahkan sepucuk kertas kepada Dean                 Kemudian Dean menerima dan membaca kertas itu. Setelahnya Dean sangat kaget sekaligus lega dengan pernyataan yang tertulis di kertas itu. “Hasilnya positif!” kata Dean membelalakan matanya kepada Mischa yang sekarang sedang menangis. “Iya, dan ini anak gw Dean!” kata Putra menatap Mischa.  Mischa mengangguk masih dengan tangisannya. “Aku minta maaf kalau selama ini aku menghilang setelah kamu bertahukan kehamilan kamu. Karna aku shock, karirku sedang bagus-bagusnya Mischa dan aku merasa jika adanya pernikahan. Kita ga mungkin bisa membuat anak ini bahagia. Tapi sekarang aku sudah sadar kalau ini salah dan aku akan mempertanggung jawab kan semuanya. Aku mohon untuk hentikan kebohongan ini dan kita sama-sama merawat anak ini dengan baik, ya.” Kata Putra memegang perut Mischa yang masih terlihat ramping itu dengan nada penyesalan, “dan gw minta maaf sama kalian atas kekacauan ini.” Kata Putra kepada Ben, Dean dan Kiara. “Ok, jadi sudah jelaskan kalau ini bukan anak gw.” kata Dean menyindir Mischa yang sedang memeluk tubuh Putra. “Iya, bukan Bro!” kata Putra tersenyum     * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN