TEN

2120 Kata
                    Kiara benar-benar merasa lega karna pengakuan Mischa dan Putra. Mischa melakukan itu karna merasa tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Setelah mengetahui dirinya hamil, Putra ternyata tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Itu sebabnya Mischa menciptakan kebohongan demi kebohongan untuk mengelabui Dean dan menghancurkan pernikahannya yang tinggal beberapa hari lagi.                 Setelah mendengar pengakuan itu semua, Kiara dan Dean saling berpelukan dan merasa sangat bersyukur. Bukan Dean yang menjadi ayah dari bayi itu. Dean sudah berulangkali menanyakan hal itu kepada Dean, Dean juga berusaha berkali-kali untuk meyakinkan Kiara jika memang anak yang dikandung Mischa bukanlah anaknya. Hal ini juga tak lepas dari bantuan Ben dan Wanda yang mencari tahu tentang kebenaran ini semua. “Bang, aku berterima kasih banyak ya atas bantuannya.” Kata Kiara pada Ben yang berdiri di hadapannya. “Ra, abang melakukan ini semua untukmu dan Dean. Abang akan melakukan apapun agar kalian semua bahagia dan abang sangat senang karna ternyata usaha abang ga sia-sia. Ini juga ga terlepas dari bantuan Wanda. Kamu juga harus berterima kasih dengannya, ya.” Ucap Ben pada Kiara dan mengelus sayang pucuk kepala Kiara dan tersenyum.   “Iya, Bang!” Kiara membalasa senyumannya. “Ean, sudah lega kan sekarang?” tanya Ben kali ini bergantian melihat sahabatnya. “Iya, gw lega banget! Makasih banyak, Ben!” katanya seraya memeluk Ben, sahabat sekaligus saudaranya.                 Kiara hanya bisa tersenyum melihat keakraban mereka berdua. Tak lama Astrid datang dan ikut bergabung dengan kelegaan dan kegembiraan mereka. Tak lama Hito yang sedang berjalan menuju resto, juga langsung ikut bergabung dengan mereka. “Apa aku bilang, kan. Kamu ga usah khawatir, Bang Dean tuh ga salah.” Kata Hito begitu mengetahui Mischa sudah mengkonfirmasi tentang kehamilannya. “Iya. Terima kasih karna kamu juga sudah mencoba menenangkan aku, It!” Kiara kemudian memeluk tubuh Hito yang berdiri tepat di sebelahnya. “Sama-sama. Kamu kan sudah seperti adikku, Ra. Mangkanya jangan sungkan padaku.” Katanya tersenyum dan memegang pucuk kepala Kiara.                 Di satu sisi Dean senang karna apa yang sudah dibicarakan Mischa tidak terbukti. Tapi di satu sisi ia cemburu melihat kedekatan Kiara dan Hito yang baru saja ditampilkan di hadapannya. Kiara begitu nyaman di samping Hito yang benar-benar memanjanya. Dean kemudian mengamit jari-jari tangan Kiara ketika Hito sudah selesai berbicara. “Yuk, kita makan malam dulu.” Ajak Dean pada yang lainnya. “Setelah ini aku akan pulang diantar Hito, ya.” Kata Kiara begitu mereka melangkah menuju resto hotel. “Kenapa harus sama Hito?” tanya Dean sedikit kesal. “Hito sudah tau jalan Sayang. Kamu kan, ke sini baru kali ini. Nanti kalau kamu nyasar gimana? Lagian jangan kamu cape-cape ya. Pernikahan kita hanya menghitung beberapa hari.” Kata Kiara sedikit khawatir. “Ya tapi kan, tekhnologi sekarang sudah canggih. Aku ga mungkin nyasar lah.” Dean membela diri. “Udah Bang, lo tenang aja. Nanti gw anter Kiara sampe rumah. Sekalian gw mau ketemu sama temen gw di deket rumah Kiara.” Hito kemudian nimbrung pada pembicaraan Kiara dan Dean. “Ok baiklah.” Jawabnya dengan nada sedikit tidak rela sebenarnya.     * * * * * * “Ra, mungkin aku agak keterlaluan. Tapi bisakah kamu memikirkan sekali lagi pernikahanmu dengan bang Dean?” ucap Hito tiba-tiba ketika sedang menyetir membelah jalanan Jogja yang ketika malam hari sudah sepi itu. “Kenapa kamu berbicara seperti itu, It?” tanya Kiara kebingungan. “A-aku hanya … sudahlah. Tidak penting. Maaf aku sudah membuatmu bingung!” kata Hito tersenyum sambil menoleh sebentar kearah mantan kekasihnya itu. “It, Heii … ada apa?” tanya Kiara lagi kali ini sambil mengusap lembut lengan Hito yang sedang fokus mengemudi                 Hito kemudian menepikan mobilnya sebentar di bahu jalan. Kiara hanya diam dan membiarkan mantan kekasihnya itu melakukannya. Setelah Hito menepikan mobilnya, Hito mengambil tangan Kiara dan menatap dalam mata mantan kekasihnya itu. “Kamu kenapa?” tanya Kiara lembut. “Ra, apa aku boleh egois kali ini saja?” “Maksudmu?” “Ketahuilah, aku masih menyayangimu dan aku sesungguhnya tak ingin kehilanganmu lagi. Apa kamu benar-benar sudah tidak bisa lagi mencintaiku walau sedikit saja?” “It, kamu tentu sudah tau jawabannya. Aku tentu mencintaimu, tapi kamu tau kan. Hanya mas Dean yang selalu aku cintai dari dulu sampai sekarang. Aku juga mungkin egois, It. Tapi aku tidak mau terus menerus menyakitimu. Aku juga tidak bisa mengabaikan mas Dean, karna aku memang mencintainya. Ketahuilah, kamu pasti akan menemukan wanita yang benar-benar tulus mencintaimu dengan segenap perasaannya. Tapi wanita itu bukan aku. Aku mohon, maafkan aku dan mengertilah.”                 Hito kemudian melepaskan pegangan tangan Kiara dan kemudian menjalankan lagi mobilnya. Hatinya benar-benar begitu teriris mendengar kenyataan pahit yang harus ia terima. Wanita yang dicintainya, hanya sebentar menjadi kekasihnya. Dan dalam hitungan beberapa jam, wanita itu benar-benar akan menjadi milik orang lain. Orang itu adalah kakaknya sendiri.   * * * * * *                 Hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu, Kiara sudah siap dengan kebaya pengantin yang telah dipilihnya dan ia sudah siap menuju tempat akad yang telah dipersiapkan. Nuansa pernikahan yang begitu intim dan romantis. Mereka melakukan outdoor wedding di halaman belakang hotel itu. Di taman yang dikelilingi dengan hutan pinus yang sangat cantik. Dengan dekorasi yang sudah disesuaikan, sangat simple dan terlihat sangat cantik dan manis. Pernikahan itu dilaksanakan pukul 4 sore. Kiara kemudian dipersilahkan untuk segera masuk ke taman itu, ditemani oleh Astrid dan Wanda sebagai pengiring pengantinnya. Kiara sangat terlihat manglingi dengan balutan kebaya dan juga riasan paes yang sangat membuatnya berbeda.                 Begitu melihat Kiara muncul, tamu undangan dipersilahkan berdiri untuk menyambut Kiara. Dean yang melihat Kiara dari kejauhan langsung tersenyum senang dan sangat menunggu kekasihnya itu duduk di sebelahnya. Dalam hitungan menit ia akan menjadi istrinya. Setelah Kiara duduk di sebelahnya, mereka di pakaikan kain lace di kepala mereka. Penghulu memulai untuk ijab kabulnya. “Baiklah. Sebelum saya mulai acara ijab kabul antara Kiara Pratama dengan Dean Ananta. Saya akan bertanya apakah Dean Ananta dengan sepenuh hati mencintai dan menyayangi Kiara Pratama dan pernikahan ini bukan atas paksaan dari siapapun?”  kata penghulu memulai pembicaraan. “Saya mencintai dan menyayangi Kiara Pratama dengan sepenuh hati saya dan saya bersumpah kalau pernikahan ini tidak ada paksaan sama sekali.” Kata Dean mantab diselingi dengan senyum di bibirnya. “Kalau begitu, Kiara Pratama. Apakah Kiara Pratama dengan sepenuh hati mencintai dan menyayangi Dean Ananta dan pernikahan ini bukan atas paksaan dari siapapun?” “Saya mencintai dan menyayangi Dean Ananta dengan sepenuh hati saya dan saya bersumpah kalau pernikahan ini bukan atas paksaan dari siapapun.” Kata Kiara kemudian tersenyum. “Baiklah, kalau begitu ... apakah dari keluarga atau dari tamu undangan ada yang keberatan atas pernikahan ini?” kata penghulu lagi.                 Namun tak ada satupun yang merespon. “Baiklah, saya akan memulai Ijab kabul hari ini.” “Dean Ananta Bin alm. Dion Ananta, saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan keponakan saya yang bernama Kiara Pratama binti alm. Kino Pratama dengan seperangkat perhiasan seberat 25 gram, logam mulia seberat 1 kg dan uang tunai sebesar 7 juta 3 ratus ribu rupiah. Di bayar TUNAI!” kata Pakde Bintoro sambil menjabat tangan Dean. “Saya terima nikah dan kawinnya Kiara Pratama Binti alm. Kino Pratama  dengan mas kawin seperangkat perhiasan seberat 25 gram, logam mulia seberat 1 kg dan uang tunai sebesar 7 juta 3 ratus ribu rupiah. Dibayar TUNAI!” kata Dean mantab dalam satu tarikan nafas. “Sah?” tanya penghulu kepada saksi kedua belah pihak “SAH!” jawab saksi dari pihak Dean yang diwakili oleh papi Ananda Jun!0r. “SAH!” jawab saksi dari pihak Kiara yang diwakili oleh pale Nono. “Alhamdulillah, dengan ini saya nyatakan pernikahan atas Kiara Pratama binti Kino Pratama dengan Dean Ananta bin Dion Ananta Sah dan kalian sudah resmi menjadi suami dan istri!” jelas penghulu mengesahkan.                 Kemudian mereka mengakhiri ijab kabul tersebut dengan membaca doa dan melakukan prosesi adat dan bertukar cincin. Tak lupa Dean mencium sayang Kiara yang kini sudah sah menjadi istrinya.   * * * * * *                 Malamnya mereka melakukan makan malam dan melakukan pesta bersama masih di tempat yang sama. Kebetulan cuacanya sangat mendukung dan sama sekali tidak hujan. Jadi menambahkan kesempurnaan di hari itu. Lampu-lampu yang digantung menjadi dekorasi yang menambah cantik dekorasi tersebut. Kiara kini telah mengganti bajunya dengan gaun yang berwarna cream dengan taburan swarovski yang sangat cantik. Sedangkan Dean juga sudah mengganti beskapnya dengan kemeja putih dan jas berwarna cream yang senada dengan celananya. “Kita sambut, Mr dan Mrs Ananta!” kata pembawa acara pernikahan itu.                 Kemudian Kiara dan Dean masuk dengan bergandengan tangan dan Kiara juga menggenggam bouquet bunga mawar berwarna cream dan pink yang sangat cocok dengan dekorasi yang ia pilih hari itu. “Baiklah kepada MR dan MRS. Ananta kami persilahkan untuk memberikan sambutan.” Kata host acara pernikahan itu lagi Kemudian Dean dan Kiara langsung berdiri di sebuah panggung kecil tempat mereka tadi melakukan ijab kabul. “Terima kasih banyak kepada keluarga yang sudah bersedia hadir dalam acara kami ini. Saya Dean Ananta dan Kiara Pratama. Mengucapkan terima kasih banyak yang sebesar-besarnya dan memohon maaf atas semua mungkin kekurangan yang terjadi selama berlangsungnya acara pernikahan kami ini. Hari ini kalian semua menjadi saksi pernikahan ini. Kami meminta doa restu kalian semua dan semoga kami bisa menjadi keluarga yang harmonis dan kami berharap hanya Allahlah yang akan memisahkan kami berdua. Dan mulai hari ini hingga seterusnya hanya Kiaralah yang akan menjadi MRS. Ananta. Dan untuk Kiara, Love you Aikko.” Kata Dean sambil terus tersenyum sumringah dan mencium bibir ranum Kiara di depan semua keluarga yang hadir.                 Kemudian keluarga yang hadir langsung menyoraki mereka berdua dan bersiul-siul menggoda mereka. Mereka terlihat sangat serasi. Di tengah kebahagiaan mereka berdua, Hito benar-benar tak kuasa menahan cemburunya karna Dean benar-benar sudah menjadi suami dari wanita yang sangat ia cintai. Bohong, jika ia bisa melupakan Kiara hanya dalam semalam. Walau, ia harus tetap tegar dan turut bahagia. Tapi nyatanya, ia benar-benar cemburu dengan Dean yang telah menjadi suami dari wanitanya.                 Ben yang menyadari hal itu, langsung menepuk-nepuk bahu Hito yang sedang dibakar api cemburu. Astrid yang melihat itu berusaha menghibur adik iparnya itu dengan menggerakkan tangan Hito mengajaknya berdansa. Akhirnya, Hito larut dalam iringan musik dan berjoget bersama dengan Ben dan Astrid membentuk lingkaran. Kiara dan Dean yang melihat itu dari atas pelaminan langsung tersenyum dan saling memandang.                   Setelah asik berjoget, akhirnya Hito, Ben dan juga Astrid naik ke atas pelaminan dan berfoto bersama. Hito juga mengucapkan selamat kepada mereka berdua dengan berusaha menutupi kesedihan dan rasa cemburunya. Kiara tau tapi ia juga tidak menceritakan hal itu pada siapapun. Bahkan tentang kejadian Hito memintanya untuk memikirkan lagi pernikahannya ketika Hito mengantarnya dari hotel malam itu, hanya Astrid dan Wandalah yang mengetahuinya.   * * * * *                  Acara pernikahan selesai pukul 11 malam. Acara pernikahan itu sukses digelar tanpa ada gangguan. Keluarga dan tetamu undangan sudah lebih dulu pulang. Setelah semuanya beres, Kiara dan Dean memutuskan untuk menuju kamar pengantin mereka yang sudah sengaja dihias. Mereka memasuki kamar pengantin mereka dan Dean menggendong Kiara ala bridal style. Dean kemudian menurunkan Kiara di sofa. Ranjangnya masih penuh dengan bunga mawar merah yang ditebarkan juga ada angsa yang saling berciuman di tengahnya. Dean juga menyelipkan sebuah kotak kecil yang entah itu apa. Kiara masih belum menyadarinya.                 Kemudian Kiara meminta Dean untuk membukakan seleting di gaunnya itu. Kiara kemudian pergi ke kamar mandi dan memutuskan untuk membersihkan diri. Ia kemudian memohon izin untuk lebih dulu membersihkan tubuhnya sebelum pergi tidur bersama dengan Dean di malam pertamanya. “Aku mandi duluan ya,” kata Kiara begitu seleting gaunnya sudah terbuka setengah. “Iya Sayang!” jawab Dean kemudian mencium wanitanya itu.                 Dean kemudian memutuskan untuk duduk di sofa sambil membuka pesan di smartphonenya dan membalas satu persatu pesan yang ada di ponselnya. Setelah Kiara selesai mandi, Kiara langsung berjalan menuju dressing room yang menyatu dengan kamar mandi. Dean yang mendengar Kiara sudah selesai mandi, langsung menghampiri istrinya itu. Dengan memasang senyuman, Dean melihat istrinya itu sedang mengenakan handuk pada d@d@nya yang menutupi sampai setengah p@h@nya saja. Dean berhenti sebentar dan memandang keindahan yang telah Tuhan ciptakan untuknya itu.   “Astaga, Kio!” Kata Kiara kaget karna begitu membalikkan tubuhnya Dean sudah berada di belakangnya. “Kok, pake yang itu sih?” kata Dean tersenyum. “Memangnya aku harus pake yang mana?” tanya Kiara bingung sambil memegang dress tidur yang ia pilih. “Yang ini!” kata Dean kemudian memberikan sebuah dress tidur dengan bahan yang sangat tipis. Malah mungkin tembus pandang berwarna merah maroon. “Astaga, Kio. Ini tipis banget!” protesnya sambil mengerucutkan bibir ranumnya.   “Ya, kita udah jadi suami istri Sayang. Ini permintaan suami loh. Ga boleh dibantah atau ditolak, nanti kamu dosa.” Katanya sambil mengedipkan sebelah matanya lalu tersenyum.   * * * * * * 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN