Setelah dia berhasil mengobati pria yang terkena masalah pada rambutnya. dia melanjutkan perjalannya ke arah utara, bukan tanpa alasan dia pergi ke arah sana. Dia berencana untuk menemui temannya, yang seorang penjual obat dan juga sebagai Collector. karena persediaan perlengkapan Haru sudah mulai menipis.
Sebenarnya Haru bisa mencari bahan-bahan untuk membuat obat dari alam, tetapi jarak dan tempat yang selalu tidak menguntungkan membuat Haru harus membeli ke para penjual obat dan tanaman herbal. Baik ke pasar maupun langsung membelinya ke rumah sipenjual, dan kebetulan Haru kenal dengan seorang pria yang menjual obat dan tanaman herbal.
Terlihat rumah pria kenalan Haru itu dan Haru mulai mengetuk pintu rumahnya.
TOK… TOK….
Lalu pintunya di buka oleh pria pemilik rumah itu.
“Oooh HARU…! Rupanya itu kau,” ucap pria itu sambil kegirangan melihat Haru.
“Ya ini aku,” jawab Haru dengan senyuman di wajahnya.
Pria itu sangat senang melihat wajah Haru, karena mereka berdua sudah menjadi teman akrab, dan pria itu bernama Takuma.
“Ayo masuk! ada banyak hal yang ingin ku tanyakan kepada mu,” ucap Takuma dengan semangat.
“Tidak, aku kesini hanya—“ucapan Haru terpotong karena Takuma langsung menarik tangan Haru untuk masuk ke rumahnya.
Di saat Haru berkata Takuma memaksanya untuk masuk, dan akhirnya mereka mengobrol di dalam rumah.
“Oi… Takuma! Jangan lakukan itu lagi. Kau membuat ku sedikit jijik dengan tindakan mu itu,” tegur Haru dengan wajah sedikit kesal.
“Maaf aku terlalu bersemangat tadi! Dehhh bagaimana kabar mu?” ungkap Takuma dengan senyum dan wajahnya.
“Hmm bagaimana apanya. Aku masih tetap seperti ini dari dulu hingga sekarang,” balas Haru dengan wajah yang masih sedikit kesal.
“Huuuh kau ini dingin sekali, setidaknya ceritakan perjalanan mu kepada ku,” ucap Takuma dengan nada seperti menyindir.
Tanpa basa basi Haru langsung berkata, “Sudahlah! Aku kesini ingin membeli tanaman herbal kepada mu, dan aku juga ingin menunjukan sesuatu!”
“Hmm… apa itu?” tanya Takuma.
Haru membuka tasnya dan menunjukan telur Midori Parasentica yang dia awetkan dan Toten Wood Nue ke Takuma.
“HOAAHH… Bagus sekali!” teriak Takuma dengan reaksi yang cukup berlebihan.
Takuma begitu kagum, degan kedua makhluk itu.
“Apakah kau mau menjual ini kepada ku?” tanya Takuma dengan penuh semangat kepada Haru.
“HUH…. Kau bercanda? tentu saja tidak!“ jawab Haru dengan tegas.
“Cih…Pelit!“ gumam Takuma.
“Oh ya apakah kau punya tanaman Carasentra?” tanya Haru
“Punya, tapi tidak gratis,”balas Takuma dengan senyum mengerikan di wajahnya.
“HUH,” Haru menghela nafas lalu berkata dalam hatinya, ”Pasti dia memiliki maksud lain!”
Takuma sambil tersenyum licik ke arah Haru berkata, “Kau harus menukarnya dengan salah satu dari benda yang kau punya itu bagaimana!”
“Tentu saja tidak! Cih… lebih baik aku pergi ketempat pedagangg yang menjual tanaman ini,” ungkap Haru dengan wajah sedikit kesal.
Setelah merasa kesal dengan perbuatan Takuma, Haru hendak pergi keluar rumahnya, tetapi Takuma merasa sedih dan bersalah karena telah membuat Haru kesal, jadi dia mencoba mencegah Haru untuk pergi dan berkata.
“Tunggu-tunggu, jangan ngambek begitu aku cuma bercanda.” Lalu Takuma mengambil tanaman carasentra, dan memberikannya kepada haru.
“Ini!” Takuma sambil mengulurkan tangannya ke Haru.
“Oh terimakasih,” kata Haru yang hendak mengambil tanaman itu.
“Aku akan memberikan ini gratis asal ka—“
“TIDAK!” Haru langsung memotong perkataan Takuma.
Dengan ekspresi wajah yang lucu dan kaget Takuma berkata, “Aaaagh, setidaknya dengarkan dulu aku yang sedang bicara.”
Haru kembali menghela nafasnya“Huuhh…” Lalu berkata, “Kau ini, jika kau memang menginginkan ini! aku akan memberikannya tapi ada syaratnya.”
“Ooh benarkah,” kata Takuma dengan penuh semangat.
“Tentu,”ucap Haru dengan senyum kecil setelahnya.
“Tapi entah kenapa aku merasa akan hal buruk,” gumam Takuma dengan suara kecil.
Haru berniat mempermainkan Takuma, ia tersenyum dengan penuh maksud tersembunyi di hadapan Takuma.
Takuma berkata dalam hatinya”Itu dia senyuman mengerikan Haru.” Lalu dia berkata menggunakan bibirnya, “Jadi apa syaratnya yang kau maksud tadi?”
“Aku akan menukar ini! jika kau bisa memberikan aku buah dari tanaman Plantacura,” ucap Haru.
Takuma begitu terkejut mendengar kata-kata dari Haru.
Dengan wajah kaget Takuma berkata, “Apa kau sudah gila! Tanaman itu super langka. Buah itu sangat berharga, dan memiliki nilai jual yang tinggi, lagi pula jika aku punya aku tidak akan memberikannya kepada mu.”
Haru dengan wajah santai menjawab, “Tepat sekali!”
“Huh…?” Bunyi suara dengan ekspresi bingung Takuma.
“Buah itu tidak akan mungkin dimiliki orang seperti dirimu.” Ungkap Haru dengan nada mengejek.
Wajah Takuma yang menunjukan ekspresi sedikit marah sambil berkata, “Apa kau bilang.”
“Tenang lah! aku akan menjual ini pada mu dengan harga yang sesuai.” Haru berkata dengan santai kepada Takuma.
Takuma sedikit kaget tetapi juga kesal dengan sikap Haru yang mempermainkannya, lalu berkata, “Oh Benarkah, huuh kepada tidak dari tadi kau bilang seperti itu, ya sudahlah.”
Haru menjualnya kepada Takuma. Haru juga membeli Carasentra dengan harga yang sudah mereka tetapkan. Setelah transaksi itu selesai Haru langsung berkemas untuk melanjutkan perjalanannya. Di saat Haru berkemas, takuma memperhatikannya. lalu Takuma teringat sesuatu ketika melihat kotak berisi toples obat milik Haru.
Takuma berkata, “Oh ya Haru beberapa hari yang lalu, ada seorang pria yang bertanya kepada ku tentang obat yang bisa membuat orang tidak tidur.”
“Hmm mungkin dia hanya ingin lebih bisa terbangun saat melakukan pekerjaannya makannya dia membeli obat itu dari mu,” balas Haru sambil berkemas.
“Benar juga, mungkin begitu, tetapi wajah pria itu kelihatan sangat lesu dan lemas. Aku bertanya kepadanya, kenapa kau ingin membeli obat ini, dia bilang, dia tidak ingin tidur beberapa waktu, setelah itu dia pergi. Aku merasa dia ada masalah, bisakah kau pergi menemuinya!” ungkap Takuma kepada Haru.
“Hmm apakah kau tau dimana rumahnya?”tanya Haru.
“Aku tidak begitu tau, tapi dia sepertinya datang dari desa sebelah yang tak jauh dari desa ku ini,” jawab Takuma.
“Begitu rupanya, nanti aku akan ke sana!” balas Haru.
Setelah Haru berkemas dia langsung melanjutkan perjalannya.
Haru benar-benar pergi ke sana, perjalanan dari rumah Takuma ke desa itu memakan waktu yang cukup panjang sehingga dia sampai pada sore harinya.
Sesampai di desa itu Haru sangat kelelahan. “Tak kusangka perjalanan ke desa ini begitu lama, kukira hanya memakan waktu kurang lebih satu jam, tapi hampir 4 jam aku baru sampai ke sini, dasar Takuma membuat aku repot seperti ini. Tetapi jika memang benar yang di katakan Takuma, bahwa ada orang yang dari desa ini membeli obat ke desanya pasti dia sudah sangat kelelahan.”
Haru ingin segera bertemu dengan orang yang Takuma maksud, dia berkeliling di desa itu dan bertanya ke beberapa penduduk di sana dan akhirnya dia mendapatkan informasi dimana pria itu.
Salah satu penduduk mengatakan arah rumah pria itu ada di ujung desa. Haru langsung ke sana, saat dia ke rumah itu terlihat seorang laki-laki yang sedang duduk di teras sambil menatapi awan.
“Itu pasti dia,” ucap Haru dengan wajah yang cukup lega.
Haru langsung menghampiri pria itu dan menyapanya.
“Yo… “ sapa Haru sambil mengangkat tangan kanannya.
Pria itu menengok ke arah Haru dengan wajah yang lesu lalu bertanya.
“Siapa kau?” tanya pria itu.
“Aku Haru hanya seorang pengembara yang menjelajahi alam, tetapi orang-orang memanggil, orang seperti diriku dengan sebutan Dokter Alam,” jawab Haru.
“Dokter Alam?” ucap pria itu.
“Boleh aku ikut duduk?” tanya Haru.
“Tentu,” balas pria itu.
Haru kemudian duduk di samping pria itu, dan Haru mengamati wajah pria itu seperti orang yang depresi.
Haru mencoba mencoba menyapanya, “Hei… aku kesini karena mendapatkan informasi dari teman ku, bahwa kau beberapa hari yang lalu memberi obat anti tidur, yang cukup kuat darinya.”
Dengan wajah yang lesu pria itu menjawab Haru, “Ohh ya itu benar.”
“Apakah kau meminumnya?” tanya Haru.
“Ya, sejak dari rumah orang itu aku langsung meminumnya. Obat itu bekerja, dan aku tidak tidur sejak hari pertama hingga saat ini, kira-kira sudah empat hari berlalu sejak terakhir kali aku tidur,” jelas pria itu kepada Haru.
Haru kembali bertanya, “Pada waktu apa kau mulai meminum obat itu?”
“Pada waktu malam, saat aku mulai mengantuk, aku langsung meminum obat itu,” jawab pria itu
Haru melanjutkan pertanyaannya, “Saat kau tidak tidur apa yang kau lakukan?”
“Aku bekerja ke sawah,” jawab pria itu lagi.
Haru terdiam dan berkata dalam hatinya, “Dengan kondisi seperti ini dia pasti akan jatuh sakit.”
Suasana menjadi hening untuk sesaat.
Haru mulai berkata lagi, “Jika boleh aku ingin bertanya sebenarnya kenapa kau tidak mau tidur?”
Pria itu melirik ke arah Haru lalu berkata, “Hmm ya ini terjadi sekitar dua minggu yang lalu ketika, aku pulang dari sawah hingga malam hari, setelah karena terlalu capek aku tidur. Di malam yang sama aku terbangun dan merasa ada yang aneh karena aku tidur tetapi seolah tidurku sudah enam jam. Aku mengira itu hanya perasaan ku saja jadi aku kembali tidur.
“Besoknya aku masih melakukan hal seperti biasanya, tetapi ketika aku bertemu dengan warga desa, mereka memberitahu ku, bahwa kumis ku sudah tumbuh sangat lebat, kukira itu hanya kejadian biasa jadi aku tidak menghiraukannya. Hari demi hari aku menyadari hal lain, wajah ku mulai menua, dan ini terjadi setiap kali aku tidur, seakan umur ku terus bertambah. Lalu aku coba menemui dokter tapi mereka bilang aku hanya kelelahan karena terlalu sering bekerja. Aku yang tidak puas dengan perkataan dokter itu, aku memutuskan untuk bertanya kepada pedagangg tentang obat anti tidur itu, dan mereka bilang obat itu ada di seorang pedagang di desa sebelah. Aku langsung ke sana demi menghilangkan pengaruh tidur itu. Supaya dengan cara tidak tidur, aku tidak cepat menua. Perjalanan ke sana cukup lama tetapi aku berhasil mendapatkan obat itu, dan aku kembali lagi ke rumah untuk langsung meminumnya.”
“Begitu rupanya, gejala yang kau alami sepertinya di akibat kan oleh Telantras,” ucap Haru sambil memegangi dagunya.
“Telantras?” tanya pria itu.
“Ya makhluk ini termasuk kedalam hewan bersel tunggal, yang bisa memanipulasi waktu tidur dari inangnya. Ketika makhluk hidup sudah menjadi inangya, dia akan mulai memakan masa waktu tidur inangnya, atau dengan kata lain dia memanipulasi usia melalui tidur. Saat kita tidur kita berada dalam alam bawah sadar, di saat itu juga Telantras mengambil alih masa tubuh makhluk hidup yang menjadi inangnya, sehingga setiap inangnya bangun dari tidur mereka merasa sudah tidur cukup lama padahal baru sebentar. Awalnya tidur hanya terasa hitungan jam tapi lama-kelamaan inangnya akan merasa tidur lebih dari satu tahun, kondisi ini akan membuat tubuh inangnya cepat menua hingga akhirnya, inangnya akan mati,” jelas Haru dengan wajah yang serius.
Pria itu terdiam mendengar penjelasan Haru.
“Begitu rupanya, apakah ada obat untuk membuat ku bisa tidur seperti dulu,” tanya pria itu.
“Maaf sampai saat ini belum ada cara untuk bisa menghilangkan Telantras dari inangnya. Karena dia langsung menyatu dengan syaraf otak inangnya. Kemungkinan parasit itu masuk kedalam tubuh mu ketika kau sedang bekerja di sawah, dan memang Telantras menyukai tempat yang berair, itu tempat mereka menunggu inangnya datang.” Haru sedikit sedih harus mengatakan hal itu.
Suasana kembali hening.
Haru kembali berkata, “Tapi kau juga tidak boleh terus-terusan tidak tidur itu akan mempengaruhi kesehatan mu.”
“Ya, tapi mau tidur ataupun tidak pada akhirnya tubuh ku ini akan mencapai batasnya dan diriku pasti akan mati,” ungkap pria itu dengan wajah sedih.
Haru terdiam sejenak.
“Oh ya.” Tiba-tiba Haru teringat sesuatu.
Haru membuka tasnya dan memberikan obat penambah stamina supaya pria itu tidak kelelahan.
“Oh terimakasih, tapi kalau sudah memang takdir ku harus seperti ini. Aku hanya bisa menjalani hidup selayaknya seperti orang biasa, tapi ya tak mengapa aku sudah puas dengan hidup ku seperti ini,” ungkap kembali pria itu.
Haru hanya bisa terdiam, karena dia merasa sedih tak bisa membantu banyak.
Lalu Haru berkata,“Begitu rupanya kalau begitu aku harus pergi.”
Pria itu mengangguk. Lalu Haru melanjutkan perjalanannya.
Satu bulan berlalu Haru kembali lagi ke rumah laki-laki itu. Tampak dari kejauhan rumah laki-laki itu sudah terlihat usang dan tidak terawat. Haru terus berjalan menuju rumah itu hingga di depan pintu, lalu dia coba mengetuk pintunya ’Tok… Tok..’ tapi tidak ada jawaban.
Kemudian dia coba membuka pintu itu dan beruntung pintu itu tidak terkunci, Haru mulai mencari laki-laki itu di setiap sudut ruangan, hingga dia memasuki sebuah kamar dan terlihat di sana hanya ada sebuah kerangka manusia, Haru terkejut dan dia hanya bisa terdiam melihat kerangka tubuh manusia itu, dia menyadari bahwa kerangka itu adalah pria yang satu bulan lalu bertemu dengannya.
Lalu Haru mencoba membuat lubang, untuk mengubur kerangka pria itu di halaman rumahnya, sehingga layaknya seorang manusia yang telah meninggal.
Setelah menguburkannya Haru pergi dari rumahnya, lalu mencoba bertanya kepada para penduduk, dan kata para penduduk pria itu sudah tak terlihat sekitar minggu yang lalu. Karena tidak ada yang cukup akrab dengannya akhirnya para warga mengira dia telah meninggalkan desa.
Para penduduk juga berkata sebelum dia menghilang, dirinya terlihat seperti orang yang sudah tua, dan akhirnya dia menghilang tanpa di ketahui oleh warga kemana perginya.
Kembali ke hari setelah Haru dan pria itu bertemu.
Setelah Haru pergi pria itu memutuskan untuk mencoba berhenti meminum obat anti tidur dan mulai menjalani kehidupannya seperti dulu, dia mulai tidur dan bekerja seperti biasanya. Tapi seperti yang sudah dia ketahui bahwa selama Telantras masih berada dalam tubuhnya dia akan semakin lama semakin tua, jika dia tidur.
Dia melakukan kegiatan itu terus menerus. Hingga satu minnggu kemudian dia sudah menjadi tua dan seperti orang berumur enam puluh tahun keatas. Dia tak bisa berdiri lagi dan tak bisa berjalan, dia hanya bisa terbaring di tempat tidurnya hingga dia mati saat sedang tertidur dan bermimpi.
Setelah mengobrol dengan para penduduk, Haru pergi melanjutkan perjalanannya, saat hendak meninggalkan desa itu dia menatap kembali rumah pria itu yang terlihat dari kejauhan.
Sambil menatap rumah itu Haru merenung dan berkata, “Takdir Mmm. Mati saat tertidur melihat dunia dalam mimpi, atau mati kelelahan dan kehilangan daya tahan tubuh akibat lelahnya dalam hidup, pilih yang mana pun pada akhirnya akan mati, dan kau memilih lebih baik mati dalam mimpi yang indah.”
Haru Kembali melanjutkan langkahnya, menuju tempat dan daerah yang tidak di ketahuinya dan juga pasti akan memiliki masalah lain dan lebih rumit dari masalah sebelumnya.