PASAR YANG ADA DI BALIK KABUT

1320 Kata
Haru beristirahat di sebuah kedai, dan memesan makanan, di tempat itu terlihat beberapa laki-laki yang bercerita. Awalnya Haru tidak mempedulikan mereka, karena Haru pikir mereka bercerita tentang sesuatu yang tidak berguna bagi dirinya. Tetapi karena suara mereka yang cukup berisik Haru bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, dan ada sebuah topik yang membuat Haru tertarik untuk mendengarkan mereka.   Di antara mereka ada seorang laki-laki yang bercerita tentang pengalaman aneh yang dia alami.   “Huh.. kau pasti mengkhayal mana ada perkampungan macam itu,” ujar salah satu teman pria itu.   “HAHAHAHAHA…” Suara tawa mereka yang cukup keras.   “Kau tidak sedang mabuk kan waktu itu,” sambung teman pria itu.   Semua temanya menertawakannya, karena tidak percaya dengan kata-kata pria itu. Setelah mereka selesai makan dan hendak pergi dari kedai, Haru coba bertanya kepada pria yang bercerita tadi, sebelum dia pergi dari kedai itu.   “Kau yang ada di sana,” sapa Haru kepada si pria.   Pria itu menengok kearah haru.   “Aku?” tanya si pria.   “Ya, bisa kemari sebentar!” jawab Haru kepada si pria.   Pria itu mendatangi Haru.   Dia duduk di samping Haru lalu berkata, “Apa!”   “Aku mendengar percakapan mu tadi dengan rekan-rekanmu itu,” ucap Haru.   “Oh ya itu benar.” Pria itu berkata dengan wajah yang agak sedikit sedih.   “Coba kau ceritakan pada ku,” ucap kembali Haru dengan wajah penasaran.   “Untuk apa? pasti kau akan tertawa seperti mereka,” ungkap pria itu.   “Tidak, aku hanya tertarik dengan cerita mu itu,” balas Haru.   “Siapa kau sebenarnya?” tanya si pria kepada Haru.   “Aku Haru seorang pengembara, orang-orang juga memanggil ku dengan sebutan Dokter Alam,” jelas Haru kepada si pria.   “Hmmm, Dokter Alam?... Ya terserahlah, aku akan menceritakannya kepada mu, tapi jangan tertawa!” ucap pria itu dengan nada serius.   Untuk membuat pria itu nyaman Haru coba memperbolehkannya memesan makanan.   “Terimakasih, sebelum itu kau boleh pesan makanan biar aku yang bayar.”   “Tidak usah, kau lihat tadi aku sudah makan dengan yang lainnya kan, jadi aku masih kenyang,” ungkap si pria. “Begitu rupanya,” kata Haru.   Lalu pria itu mulai bercerita.   “Beberapa hari yang lalu, aku hendak pergi berdagang. Diengah perjalanan ada kabut yang cukup tebal. Aku yang bingung mencoba untuk menunggu kabut itu hilang, tapi itu akan membuat waktu perjalanan ku semakin lama. Jadi aku masuk ke dalam kabut itu, setelah berjalan cukup lama, aku merasa aneh karena kabut itu semakin tebal. Aku yang bingung mencoba untuk kembali, tetapi anehnya jalan yang ku lalui tadi tidak ada lagi, hanya kabut yang tebal di pandangan ku waktu itu. Jadi mau tidak mau aku harus melanjutkan perjalanan itu.   “Setelah berjalan cukup lama, akhirnya aku bisa keluar dari kabut itu, tetapi aku berada di sebuah pasar, yang tak ku tahui. Aku coba untuk berkeliling dipasar itu, orang-orang di sana terlihat aneh dari penduduk biasanya. Pedagang di sana, kebanyakan memakai tutup kepala, jadi aku tak bisa melihat wajah mereka, dan untuk masyarakatnya mereka memiliki wajah aneh seperti memakai topeng, dan kulit mereka yang berbeda-beda membuat aku sedikit merinding. Setalah berkeliling aku mencoba membuka toko dagangan ku yang berupa kain, tak berapa lama ada pembeli, seorang perempuan yang mau membeli kain kualitas bagus. Aku menawarkan setengah harga. Perempuan itu tidak membayar menggunakan uang melaikan dia memberi kristal biru yang indah. Aku menerima tawaran itu. Di sana setelah wanita itu ada beberapa juga orang-orang yang juga membeli, bayaran mereka tidak menggunakan uang melainkan, menggunakan barang-barang aneh dan ada juga yang membayar ku dengan emas aneh. Dengan begitu denganku banyak yang laku. Setelah itu aku memutuskan untuk pergi dari pasar itu tetapi, aku tidak menemukan jalan keluar seoalah-olah aku terjebak di sana. Aku yang lelah mencari jalan keluar memutuskan untuk pergi ke penginapan didekat pasar itu. Setelah menginap anehnya aku terbangun diengah hutan, aku sedikit bingung. Lalu aku coba melihat barang-barang ku, untungnya semuanya ada dan baik-baik saja. Setelah itu aku memutuskan untuk kembali ke desa. Seperti yang kau lihat tadi, aku mulai menceritakannya dengan rekan-rekan ku tadi, ya tapi mereka tidak percaya,” jelas si pria kepada Haru.   Haru terdiam setelah mendengar penjelasan pria itu.   “Mm… Kau beruntung bisa bertemu dengan mereka!” ungkap Haru.   “Mereka? Sebenarnya siapa orang-orang dipasar itu?” Pria itu berkata dengan wajah penasaran.   “Mereka adalah, Buenerra. Mereka merupakan makhluk yang sangat misterius, tak banyak orang yang beruntung bisa bertemu dengan mereka. Biasanya orang yang bertemu dengan mereka akan beruntung, seperti yang kau alami. Dan topeng kau lihat itu mungkin adalah wajah mereka,” jelas Haru kepada si pria.   “Ooh…”   Pria itu terkesima mendengar penjelasan Haru.   “Boleh aku melihat barang-barang yang mereka berikan?” tanya Haru.   “Tentu,” jawab pria itu.   Lalu pria itu memperlihatkan barang-barang yang dia dapat dari orang-orang dipasar itu.   Haru cukup kaget ketika melihat barang-barang itu, hampir semuanya adalah barang yang langka.   “Hoaah… Beruntung sekali kau ini!” ungkap Haru sambil menatap barang-barang itu.   Dengan senyuman di pria itu dia memegang satu crystal.   “Ya tapi yang paling berharga bagiku adalah ini,” kata pria itu sambil memegang crystal.   “Ooh… crystal itu namanya Blue Ersed, yang merupakan benda sangat langka.” jelas Haru.   “Ooh… begitu rupanya aku akan menjaganya.” Pria itu berkata sambil tersenyum.   Setelah mereka berdua mengobrol cukup lama, akhirnya Haru mulai melanjutkan perjalannya ke arah selatan.   Di sana Haru masuk ke dalam hutan, Haru berharap bisa menemukan kabut yang pria itu maksud, karena dia ingin bertemu dengan orang-orang Buenerra. Diengah hutan Haru berhenti karena dirinya di kepung oleh kabut.   Diengah kebingungan Haru berkata, “Apa ini? Begitu rupanya mungkin ini kabut yang di maksud.”   Haru terus meneruskan perjalannya, setelah cukup lama berjalan dia mulai perlahan keluar dari kabut dan berada dipasar.   Haru melihat sekeliling tempat itu, banyak orang-orang menjual berbagai macam barang.   “Jadi ini orang-orang Buenerra itu. Wajah yang belum pernah di lihat, kulit yang beraneka ragam dan memiliki sejuta misteri,” ungkap Haru dalam hatinya.   Haru kemudian mencoba melihat-lihat pasar itu, dia juga membeli beberapa tanaman herbal dan benda-benda lainnya. Setelah itu dia mencoba pergi keluar dari pasar, tetapi tidak bisa. Dia mengalami hal yang sama seperti pria yang ia temui di kedai.   Bahkan Haru kelelahan karena mencari jalan keluar. Dia melihat sebuah toko minuman herbal, lalu dia coba membeli di toko itu.   Haru mendekati toko itu, terlihat seorang pria di toko itu.   “Maaf! minuman apa yang kau jual?” tanya Haru ke pemilik toko itu.   “Ooh minuman herbal, bisa meningkatkan stamina,” jawab pemilik toko.   “Mmm kalau begitu aku pesan satu,” ucap Haru.   “Baiklah!” balas pemilik toko.   Sambil menunggu minumannya Haru coba bertanya kepada pemilik toko.   “Apakah, ada jalan keluar untuk pergi dari pasar ini?”   “Entahlah, aku tidak tau karena sudah lama aku di sini dan tidak pernah pergi dari pasar ini,” ungkap pemilik toko sambil membuat minuman.   Setelah itu minuman Haru siap, pemilik toko memberikannya.   “Terimakasih,” ucap Haru.   Haru pun meminumnya, setelah Haru meminumnya, dia merasa pusing dan kemudian pingsan. Sekitar dua jam kemudian Haru terbangun, dia terbangun terbangun di tempat sebelumnya dia masuk ke dalam kabut.   “Oh aku sudah keluar rupanya, begitu rupanya pemilik toko itu memberikan aku minuman herbal yang bisa membuat orang tidur,” Haru berkata sambil termenung menatap awan.   Lalu dia melanjutkan perjalannya.     Kabut misterius diengah hutan itu sangat jarang terlihat, banyak orang yang bisa masuk ke dalam kabut itu tapi hanya mereka yang di kehendaki bisa menemukan kabut itu dan masuk ke dalamnya.   Tiga bulan kemudian pria dari desa yang pernah ketempat kabut itu mencoba mencarinya lagi, dia berharap bisa memasukinya dan bertemu dengan pasar orang-orang Buenerra, tetapi sekali lagi itu menjadi misteri. Kabut itu tidak pernah lagi terlihat di hutan itu.   Jadi pasar Buenerra seperti khayalan bagi orang-orang yang tak percaya, meskipun begitu kabut itu akan tetap muncul ketika pada waktunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN