Di suatu malam ada seorang pria pingsan di jalan, pria itu terlihat tidak begitu baik. Karena kondisinya terlihat kurus seperti orang kelaparan. Di saat itu kebetulan Haru melewati jalan yang sama. Haru sedikit kaget melihat pria itu, dia coba mendekati pria itu.
“Oi… kau tidak apa-apa?” Haru coba membangunkan pria itu, tetapi tidak ada jawaban jadi dia menolong pria itu.
Setelah cukup lama pingsan pria itu bangun.
“… dimana aku?” Pria itu kebingungan, karena ketika bangun dia melihat ada api dan di sana ada Haru yang sedang memeriksa perlengkapanya.
“Akhirnya kau bangun juga!” kata Haru dengan menatap wajahnya.
“Aku dimana?” Pria itu bertanya seperti orang kebingungan.
“Mm… kau tidak ingat apa yang terjadi dengan dirimu?” Haru sedikit bingung karena pria tersebut bertanya kepadanya, padahal dia juga tidak tau kenapa pria itu pingsan.
“… kalau tidak salah sebelum ini aku berjalan dengan keadaan lapar.” Pria itu menjawab dengan wajah yang sedikit sedih.
“Pantas saja tubuhnya menjadi kurus begitu, karena tidak makan!” Haru berkata di dalam hatinya sambil menatap pria itu, dan kemudian berkata. “Kapan terakhir kali kau makan?”
“… sekitar satu minggu mungkin?” Pria itu berpikir dengan matanya mengarah ke langit.
“Satu minggu!” Haru cukup terkejut melihat pria itu bisa bertahan selama itu tanpa makan, ‘Yang benar saja, hebat juga pria ini bisa bertahan selama itu,’ Kata Haru dalam hatinya lalu melanjutkan ucapannya, “Kenapa kau bisa bertahaan selama itu? Karena bagi orang biasa satu minggu tidak makan itu sesuatu yang sulit untuk di jalani.”
“Sebenarnya, ini akibat aku memakan madu.” Pria itu menunjukan wajah yang murung.
“Madu?… Hm… Madu apa yang kau minum itu?” Haru cukup penasaran dengan madu yang di minum pria itu, sampai bisa membuatnya menjadi kurus.
“Madu itu memiliki rasa yang sangat manis, aku tidak bisa berhenti meminumnya. Tetapi setelah aku meminumnya semuanya berubah aku tidak bisa makan apapun lagi setelah itu. Apapun yang ku makan rasanya, tidak enak di lidah. Akhirnya aku hanya bisa bergantung pada madu itu, sampai tubuh ku menjadi kurus seperti ini.” Mendengar cerita pria itu Haru sedikit prihatin dengan keadaan yang dia alami.
“… Dari mana kau mendapatkan madu itu?” Pertanyaan yang cukup serius di lontarkan Haru kepada pria itu.
“Kalau tidak salah, aku menemukanya di sebuah hutan di dekat desa ku. Madu itu keluar dari celah lubang yang ada di pohon.” Setalah pria itu mengatakanya Haru membuka buku dan mencari sebuah halaman mengenai madu itu.
“Mungkin madu yang kau maksud adalah madu yang terbuat dari lebah Bryawesa.” Haru menunjukan halaman yang memiliki gambar lebah itu.
“Oh iya benar, lebah ini yang aku juga lihat di sekitar pohon itu!” Pria itu mengingat lebah-lebah itu sering berada di sekitar madu itu.
“Sudah kuduga, madu yang kau makan itu adalah madu yang berbahaya bagi manusia maupun hewan. Jika manusia meminumnya mereka akan kehilangan indera perasa, mereka akan kesulitan merasakan makanan. Semua makanan tidak terasa enak, akhirnya mereka hanya bisa begantung pada madu itu. Dan untuk lebah yang memproduksi madu itu, disebut Bryawesa yang memiliki arti penghilang rasa, lebah ini tidak begitu agresif, biasanya mereka akan membiarkan madu mereka di ambil oleh makhluk lain, tapi sebagai gantinya madu mereka akan membuat makhluk yang meminumnya akan ketergantungan. Perlahan si peminum madu, mereka akan mati karena tidak adanya asupan nutrisi yang di butuhkan tubuh.” Penjelasan Haru membuat tubuh pria itu merinding.
“Apakah tidak ada obat untuk menghilangkan efek madu ini.” Mata pria itu tidak begeming sebegitu inginnya dia bisa sembuh dari pengaruh madu Bryawesa.
“Beruntung kau bisa bertemu dengan aku. Aku adalah Dokter Alam, hal-hal seperti ini memang berhubungan dengan pekerjaan ku.” Dengan wajah sedikit bangga Haru memberitahu pria itu bahwa dirinya adalah seorang Dokter Alam.
“Kalau begitu Tuan Haru, apakah ada obat untuk ku?” Dengan wajah yang masih cemas pria tu bertanya kepada Haru.
“Kau tidak usah khawatir, obatnya akan kubuat kan, tapi sebagai gantinya kau beritahu aku di mana sarang lebah itu, bagaimana?” Haru menawarkan obatnya untuk mendapatkan madu Bryawesa, tentu saja pria itu tidak tau bahwa madu Bryawesa adalah barang langka yang bisa dijual cukup mahal.
“Tentu, demi kesembuhan ku aku akan senang hati memberitahu mu, tempat madu itu.” Dengan penuh harapan pria itu untuk sembuh.
Haru mulai membuat obat untuk pria, dia mencampurkan beberapa bahan tumbuhan herbal. Bahan-bahan itu di campurkan hingga menjadi ramuan. Rasa yang pahit bisa menghilangakan pengaruh dari madu Bryawesa. Haru menngunakan tumbuhan Plontoruna tumbuhan yang sangat efektif untuk mengobati masalah seperti ini.
“Minum lah obat ini!” Haru memberikan obat racikannya. “Kau harus menghabiskannya,” sambung Haru.
“Terimakasih.” Pria itu mengambil obat itu, dan termenung melihat isinya. Warna hijau tua, dia coba mencium aroma obat itu.Tercium bau khas tanaman yang membuat dirinya sedikit mual.
“Jangan kau cium baunya, Kau harus menghabiskannya, demi kesembuhan dirimu sendiri.”
Pria di dekat Haru itu mulai meminumnya, rasa pahit terlihat setelah dia meneguk sedikit obat itu.
“Tidak! Aku tidak bisa.” Setelah mencoba obat Haru dia merasakan pahit di lidahnya dan tidak enak.
“Kau jangan seperti itu! Apa kau mau terus-terusan seperti ini?” Haru berkata dengan serius kepada pria itu.
“Tapi, obat ini pahit sekali,” ungkap Pria itu dengan mengkerutkan alisnya.
“Tidak ada yang bilang kalau obat ku rasanya harus manis! Terkadang rasa yang kita benci bisa memberikan hal baik, dari pada rasa yang manis tetapi memberikan hal buruk pada tubuh kita. Jika kau ingin sembuh minumlah obat itu, atau kau akan berakhir dengan keadaan yang menyedihkan seperti ini.” Dengan wajah yang serius Haru mengatakan itu semua.
Pria itu meneguk air ludahnya, karena takut untuk meminumnya lagi. Dia terus memandangi cangkir yang berisi obat itu, dan terdiam sejenak.
“Aku harus bisa sembuh dan harus kembali merasakan makanan-makanan seperti dulu.” Pria itu akhirnya meminum obat yang di berikan Haru, dia meminumnya dengan sekali teguk.
Terlihat wajahnya yang menjulurkan lidah, itu menandakan bahwa obat yang di minumya memang memiliki rasa yang pahit.
“Dengan begini kau bisa kembali merasakan memakan lagi, tapi obat ku ini tidak akan langsung bisa mengembalikan perasa di lidah mu. Tapi jika kau meminumnya rutin setiap hari lama-kelamaan indera perasa mu akan kembali,” jelas Haru yang menggunakan nada serius.
“Benarkah!” Wajah senang terlihat dari pria itu, harapannya untuk sembuh membuatnya sangat senang.
Setelah itu Haru membuat obat yang sama tapi dengan jumlah yang lebih banyak, untuk pria itu.
Malam pun berlalu, hingga pagi harinya mereka berdua hendak menuju tempat madu dari Bryawesa.
“Guu…” Suara perut yang berasal dari pria itu, Haru lupa bahwa dia masih kelaparan dan belum makan apapun selain madu Bryawesa.
“Hehehe… maaf aku masih belum makan apapun, meskipun aku sudah meminum obat dari mu tapi tetap saja aku merasa ragu, apakah aku masih bisa memakan sesuatu.” Pria itu merasa sedikit malu karena bunyi yang ada di perutnya.
“Begitu… ini aku punya pisang, coba kau makan!” Haru memberikan pisang dan pria itu mencoba memakannya.
Pria itu menelan pisang yang di berikan Haru dengan satu gigitan.
“Bagaimana?” tanya Haru sambil perhatikan ekspresi pria itu.
“Rasanya masih tidak enak di lidah ku, tapi sudah jauh lebih baik dari pada yang kemarin. Biasanya aku langsung memuntahkan makanan yang kumakan, tapi sekarang aku sudah bisa menelannya meskipun rasanya tidak enak.” Pria itu menjawab dengan menunjukan ekspresi yang senang.
“Begitu rupanya, setelah ini kau harus terus meminum obat yang ku berikan supaya kau cepat sembuh,” kataHaru.
Pria itu mengangguk.
Setelah itu mereka langsung pergi menuju sarang Bryawesa, perjalanannya cukup jauh. Mereka berdua sampai siang hari, di depan sebuah pohon.
“Itu pohon yang berisi madu yang ku ceritakan, dan coba lihat di sana!” Sampai di pohon itu menunjukan di mana dia menemukan madu itu, terlihat beberapa lebah Bryawesa keluar dan masuk ke dalam sebuah celah.
“Begitu rupanya, tetapi sarangnya cukup tinggi biarkan aku memanjatnya. Untuk melihat sendiri madu itu.” Haru memakai sarung tangan dan masker, sebelum memanjat pohon itu, dan dia juga membuat asap di bawah pohon itu untuk melindungi dirinya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya pria itu melihat Haru seperti membuat api, di hadapannya.
“Oh… lihat saja nanti!” Setelah Haru membakar beberapa ranting yang masih segar, asap pun keluar dan cukup banyak.
“Uhuk… uhuk… Tuan Haru kau yakin dengan hal ini?” Asap itu juga menyebar ke arah pria yang bersama Haru.
Asap itu dibuat untuk menghalangi Bryawesa, karena Haru tidak mau di sengat oleh Bryawesa meskipun mereka tidak agresif. Haru mulai memajat pohon itu, dia mencoba memeriksa celah yang dia lihat dari bawah tadi.
Di sana dia melihat madu itu, dan menyentuhnya menggunakan jarinya.
Haru mengamati madu itu dan berkata dalam hatinya, “Begitu rupanya. Ini memang madu yang di hasilkan Bryawesa.”
Kemudian Haru mengambil toples yang sudah dia siapkan sebelum memanjat pohon itu. Lalu mulai mengambil madu itu.
Setelah selesai dia turun dari pohon, dia dan pria itu menjauhi pohon itu.
Kemudian mereka pergi sejauh mungkin, setelah mereka pergi cukup jauh. Terlihat asap yang semulanya tebal, sekarang mulai menghilang. Lalu datanglah gerombolan Bryawesa kembali ke pohon itu.
“Tuan Haru apakah tidak apa-apa kau menyimpannya,” tanya pria itu ke Haru dengan wajah penasaran kenapa Haru sampai susah-susah mengambil madu itu.
“… Tentu saja, di tangan orang seperti diriku madu ini mungkin bisa di gunakan, tapi bukan untuk di makan.” Haru menatap toples berisi madu itu, dengan senyuman puas terhadap yang sudah dia dapat.
“Begitu rupanya. Aku sangat berterimakasih pada mu Tuan Haru!” Pria itu menundukan kepalanya kepada Haru, sebagai tanda terimakasihnya.
“Kau tidak perlu berterimakasih pada ku. Aku hanya pesan minumlah obat yang aku berikan itu supaya kau cepat pulih kembali!” Haru yang menganggap dirinya tidak harus di hormati seperti seorang yang hebat.
Setelah obrolan itu Haru mulai berpamitan kepada pria itu.
“Sudah waktunya, aku melanjutkan perjalanan.” Haru berkata sambil menatap awan yang begitu cerah.
“Mm… kenapa kau tidak mampir dulu ke desa ku?” Pria itu coba mengajak Haru ke desanya tetapi Haru menolak itu.
“Tidak terimakasih. Aku harus terus melanjutkan perjalanan ku.” Senyuman terlihat dari wajah Haru saat mengatakannya.
“Begitu rupanya.” Wajah cukup sedih karena Haru tidak ikut dengannya ke desa.
“Kalau begitu sampai jumpa lagi.” Setelah itu Haru berpamitan untuk melanjutkan perjalannya.
Haru terus melanjutkan perjalannya menuju daerah yang belum ia ketahui dan mungkin ada masalah yang semakin aneh dan rumit. Di mana langkah kakinya selalu ada cerita yang menarik untuk di bahas.
Tiga minggu kemudian pria yang awalnya kurus, dan tidak bisa makan apapun kecuali madu dari Bryawesa. Mulai sehat kembali dia mengajak warga untuk menebang pohon tempat sarang Bryawesa, setelah pohon itu di tebang mereka membakarnya supaya tidak ada lagi yang mengalami hal buruk setelah mengambil madu itu.
Aneh nya sarang madu itu sudah tidak ada lagi lebah Bryawesa terlihat, meskipun begitu mereka tetap membakar pohonnya.