KEHIDUPAN KECIL YANG DAPAT MERUSAK

2096 Kata
Haru beristirahat dibawah pohon, cuaca yang indah siang itu. Bunyi burung dan ketenangan yang Haru dapatkan ketika bersantai. Tapi Haru tidak menyadari bahwa ada seorang pria pengantar surat sedang berjalan ke arahnya.   Pengantar surat itu mendekati Haru, dia coba untuk menyapa Haru. “Tuan Haru!” Haru membuka matanya dan menoleh ke arah pengantar surat itu, “Aku seorang pengantar surat, dan ini ada surat untuk mu!” Pengantar itu menyerah sebuah surat kepada Haru.   “Ooh… Terima kasih!” Haru mengambil surat yang ada di tangan pengantar surat itu. “Kalau begitu aku permisi dulu.” Setelah memberikan surat kepada Haru, pria itu langsung pergi.   Haru membuka surat itu, dan di dalam surat itu terdapat sebuah permintaan kepada Haru. Kemudian setelah membacanya Haru langsung menuju ke tempat si pengirim.   Perjalanan itu cukup jauh dari tempat Haru istirahat tadi, dia harus melewati hutan sebelum sampai ke tempat itu. Setelah berjalan cukup lama dia tiba di sebuah desa, Haru coba menanyakan kepada penduduk dimana rumah si pengirim surat yang diterima Haru.   Para penduduk memberitahu Haru alamat rumah yang ada di surat itu ada di ujung desa tersebut, kemudian Haru mencoba mendatangi rumah yang dikatakan para penduduk.   Haru pun tiba di rumah yang dicarinya, dia coba mengetuk pintu, ‘Tok… Tok…’ Pintu itu dibuka oleh seorang pria.   “Iya siapa anda.” Pria itu bertanya kepada Haru ketika membuka pintu.   “Aku Haru seorang Dokter Alam. Aku kemari menerima surat bahwa ada masalah di sini!” Haru menjelaskan alasan kedatangannya kepada pria yang ada di hadapannya.   “Oh jadi kau Tuan Haru, terima kasih sudah repot-repot datang ke sini, ayo silahkan masuk!” Pria itu sudah menunggu kedatangan Haru.   Kemudian Haru masuk kedalam rumah pria itu, dan dibawa menuju ruang tamu. Di ruang tamu itu sudah ada dua orang perempuan satu istri dari pria itu dan satunya lagi anaknya, tetapi anaknya memakai penutup mata.   Haru kemudian duduk di depan mereka. Dia menatap ke arah perempuan yang memakai penutup mata, membuat dirinya penasaran, kenapa matanya harus ditutup.   Haru memulai pembicaraan. “Coba jelaskan kenapa anak kalian matanya harus ditutup seperti ini?”   Kedua orang tua perempuan itu menunjukan wajah yang sedih. “Sebelumnya aku ucapkan terima kasih Tuan Haru sudah mau datang ke sini.” Ibu yang berada di samping perempuan itu menjawab pertanyaan Haru. “Seperti yang kau lihat kondisi Putri ku ini menjadi seperti ini sekitar setengah bulan yang lalu. Di saat desa kami dilanda badai angin yang cukup kuat. Waktu itu putri ku yang sedang berada di luar rumah, angin berhembus cukup cepat mengarah ke dirinya, dan setelah itu dia merasa ada yang memasuki matanya, dia pikir itu bukan hal yang harus dikhawatirkan.   “Dua hari kemudian, putri ku merasa ada yang aneh, dia merasa ada yang berjalan di kelopak matanya. Kami sudah memanggil beberapa dokter lokal, mereka hanya memberikan obat mata. Putri ku meminumnya setiap hari tetapi bukan membaik malah semakin buruk. Matanya yang semula hanya terasa gatal tetapi kini berubah menjadi berwarna merah. Dia terus kesakitan ketika membuka matanya, lalu kami menyuruhnya untuk menutup matanya supaya menghilangkan rasa sakit itu.” Wanita itu menjelaskan semua yang terjadi kepada Haru, terlihat di wajahnya yang begitu cemas karena melihat kondisi putrinya.   Haru terdiam sejenak sambil memegangi dagunya. “Kemungkinan Putri mu, matanya dimasuki oleh Wamukute Rakuna. Cacing kecil yang bertahan hidup di dalam tubuh makhluk lain, mereka akan menjadi parasit yang berbahaya jika dibiarkan.” Penjelasan Haru membuat mereka bertiga terkejut. Perasaan takut dan khawatir terlihat dari wajah kedua orang tua itu.   “Tuan Haru! Apakah ada cara untuk menyembuhkan Anak ku ini?” Ayah wanita itu bertanya dengan penuh harapan bahwa Haru bisa membantu menyembuhkan anaknya.   “Tergantung! Aku perlu membuktikan dulu kondisi dari Putri mu ini.” Haru berkata dengan wajah yang serius sejujurnya dia juga sedikit ragu untuk bisa menyembuhkan anak mereka.   Ayah perempuan itu kembali bertanya, “Apa yang harus kami lakukan Tuan Haru?”   “Baiklah kalau begitu, pertama-tama siapa nama Putri mu ini?” tanya Haru.   “Akiko namanya.” Ibu, Akiko yang menjawab Haru.   “Kalau begitu Akiko, bisakah kau membuka penutup mata mu itu?” Haru melontarkan pertanyaan dengan wajah serius.   Akiko bingung dan terdiam. Ayahnya coba membujuknya, “Akiko sudah kau turuti saja, ini demi kebaikan mu.”   “Baiklah Ayah.” Akiko mulai melepaskan penutup matanya dengan dibantu oleh ibunya. Setelah penutup matanya terlepas Akiko masih menutup kedua matanya.   “Akiko sekarang coba kau buka mata mu!” Haru kembali menyuruhnya kali ini untuk membuka matanya.   Akiko perlahan membuka matanya. Di mata Akiko berwarna merah dan dia menunjukan wajah seperti kesakitan ketika matanya di buka.   “Auh…” Akiko menjerit kesakitan lalu memegangi kedua matanya dengan tangannya, rasa yang tak bisa dia tahan ketika matanya dibuka. Dan dia kembali menutup matanya.   Kedua orang tuanya semakin khawatir melihat kondisinya.   “Bagaimana ini Tuan Haru.” Ibunya bertanya kepada Haru dengan wajah yang cemas.   “Kalau tidak keberatan biarkan aku memeriksa matanya.” Haru ingin melihat di balik kelopak mata Akiko apakah benar dugaannya bahwa ada parasit di sana.   “Tentu Tuan Haru ini demi kesembuhan Putri ku.” Ayah Akiko menyetujuinya dengan penuh harapan kepada Haru.   “Akiko bagian mana di antara mata mu yang rasanya paling sakit? Kanan atau kiri?” Haru ingin memastikan bagian mana yang paling sakit di mata Akiko.   “Di sebelah kiri.” Di mata kirinya Akiko merasakan sakit yang luar biasa dan juga terasa perih.   “Begitu, bisakah aku memeriksa matanya, tapi Akiko harus sambil berbaring.” Setelah Haru berkata seperti itu kedua orang tua Akiko nampak seperti kebingungan, mungkin mereka berpikiran yang tidak-tidak ketika Akiko dibaringkan.   “Baiklah demi kesembuhan Akiko.” Ayahnya mengatakan itu seperti orang yang sedikit ragu, akan keputusannya.   Setelah itu, mereka menyiapkan tempat tidur untuk Akiko. Haru mulai mendekati Akiko, dan memcoba membuka mata Akiko menggunakan tangannya. Dengan memakai kacamata pembesar khusus untuk melihat benda kecil.   Haru coba melihat bagian bawah selaput dalam mata Akiko, dia melihat ada cacing kecil. “Sudah kuduga ini pasti disebabkan oleh Wamukute Rakuna.” Haru kemudian berkata, “Seperti dugaan ku Akiko terkena Wamukute Rakuna.”   Wajah kedua orang tua Akiko kaget dan sangat khawatir. “Apa yang terjadi jika Wamukute Rakuna ini dibiarkan Tuan Haru.” Ayah bertanya Akiko dengan wajah yang khawatir.   “Jika dibiarkan Wamukute Rakuna akan merusak pengelihatan matanya. Makhluk ini merupakan cacing parasite yang menggerogoti bagian-bagian tubuh inangnya, seperti yang dialami Putri mu. Mereka hanya akan memakan organ bagian tubuh yang pertama kali mereka masuki, contohnya di mata, tetapi mereka akan menyebar dan menimbulkan gejala yang sama pada mata yang satunya. Lama-kelamaan akan menjadi buta,” jelas Haru wajah, kedua orang tua Akiko semakin kaget dan khawatir.   “Tuan Haru bagaimana cara mengobati Putri ku ini.” Ibunya Akiko bertanya kepada Haru dengan wajah yang sangat sedih. Pertanyaan itu membuat Haru sedikit bingung karena dia tau resiko jika gagal mengobati Akiko.   “Baiklah. Aku akan mencoba melakukan pengambilan cacing-cacing kecil itu. Tapi aku tidak bisa menjamin soalnya kemungkinan anak mu akan mengalami kebutaan, karena Wamukute Rakuna sepertinya sudah menyatu dengan mata Akiko.” Ucapan Haru membuat kedua orang tua Akiko semakin takut dan khawatir.   dilanda kebingungan yang luar biasa membuat kedua orang tua Akiko, sedikit pucat di wajah mereka. Akiko yang terbaring juga menunjukan rasa cemas.   “Bagaimana ini Buk? Kalau aku terserah Ibu dan Akiko.” Ayah Akiko menyerahkan semuanya kepada mereka berdua. “Kalau aku terserah Akiko.” Ibu Akiko pun juga menyerahkan hal ini kepada Akiko. Dan sisanya hanya tergantung dari Akiko, apakah dia mau atau tidak.   Dengan wajah yang sedikit cemas Akiko berkata, “Baiklah, aku rela, kalau itu yang terbaik.”   Setelah berpikir cukup lama akhirnya mereka setuju, dengan keputusan Haru untuk mengambil Wamukute Rakuna. Kemudian Haru mulai mengambil penjepit kecil dan gelas kecil.   Haru mulai memegang mata Akiko. “Akiko coba buka mata kiri mu.” Akiko menuruti perintah Haru untuk membuka matanya, disaat itulah Haru mulai mencoba mengambil cacing-cacing kecil di kelopak bagian dalam mata.   Jumlah yang cukup banyak dan sedikit menggeliat. Kalau orang biasa mungkin akan sedikit jijik ketika melihat cacing-cacing itu. Haru mengambil satu demi satu cacing itu, di masukanya kedalam gelas. Hingga jumlah yang cukup banyak, sebenarnya masalahnya ada satu cacing yang masuk dan melekat kedalam mata. Cacing itu sebagai induk dari cacing yang ukuran kecil.   Perbedaan yang cukup jelas cacing itu, memiliki ukuran yang lebih besar. Haru sebenarnya ragu untuk mencabutnya karena dia tau cacing itu sudah melekat dengan saraf bagian mata Akiko. Tapi mendengar keputusan dari Akiko dan kedua orang tuanya membuat Haru yakin untuk mencabutnya.   Haru mulai mencabut cacing itu. Akiko coba menahan rasa sakit yang ditimbulkan ketika cacing itu mulai dicabut. Ekspresi itu sangat jelas terlihat. Kedua orang tuanya juga tidak sanggup melihat Haru mencabut cacing itu. Ayahnya memalingkan wajahnya sementara, ibunya menahan air mata. Ekspresi sedih yang benar-benar terlihat di wajah mereka.   Dengan kesabaran yang tinggi, Haru akhirnya bisa mencabut cacing Wamukute Rakuna.   “Arrghh…” Akiko menjerit kesakitan setelah cacing itu dicabut dari matanya.   Cacing itu menggeliat ukuran yang cukup panjang, Haru memasukan cacing itu kedalam gelas. Darah kemudian mulai keluar dari mata Akiko.   “Tolong ambilkan handuk hangat untuk menghentikan pendarahan di mata Akiko.” Lalu ibu Akiko mengambil handuk hangat itu dan diberikanya kepada Haru.   Haru mengusapkan handuk kemata Akiko, dan memberikan obat tetes mata supaya menghentikan rasa sakit.   “Bagaimana keadaan mu?” tanya Haru kepada Akiko.   “Rasa perihnya sudah mulai mereda,” ungkap Akiko yang masih terlihat di wajahnya menahan rasa sakit.   “Biarkan memeriksa aku memeriksa mata sebelah kanan mu!” kata Haru.   “Iya…” Akiko mengangguk. Kemudian Haru memeriksa mata kanannya. Kedua orang tuanya melihat Haru yang memeriksa mata kanan Akiko, rasa ngeri mereka rasakan ketika melihat itu.   Saat memeriksa mata kanan Akiko, Haru juga menemukan cacing-cacing kecil itu, dalam jumlah yang lebih sedikit dari yang sebelah kiri. Kemudian mengambil cacing-cacing itu, dan dimasukannya ke dalam cangkir kecil.   Setelah mengeluarkan semua cacing dari mata Akiko, Haru membersihkan semua perlengkapan yang dia gunakan. Kemudian Akiko disuruh Haru untuk duduk.   “Coba perlahan kau buka matamu.” Haru mencoba menyuruh Akiko membuka matanya, Akiko pun membuka matanya rasa perih dan sedikit sakit di mata sebelah kirinya. Terlihat bayangan samar di depannya yang tidak lain adalah Haru.   “Bagaimana?” tanya Haru kepada Akiko.   Akiko melihat ke arah sekitarnya dan dia juga melihat ke arah kedua orang tuanya. ”Iya aku bisa melihat tetapi agak sedikit rabun.”   “Sekarang coba kau tutup mata kirimu dengan tangan lalu biarkan mata kanan mu terbuka.” Haru menyuruh Akiko untuk memastikan pengelihatannya.   Akiko menutup mata kirinya sesuai permintaan Haru. “Whoa… Aku bisa melihat dengan normal lagi.” Setelah menuruti hal itu Akiko terkejut karena bisa melihat dengan jelas.   “Kemungkinan itu karena efek yang diakibatkan Wamukute Rakuna pada mata kiri mu, dan efeknya tidak akan langsung hilang.” Haru mengatakan itu untuk memberitahu Akiko bahwa dia tidak akan langsung bisa melihat jelas untuk sementara. “Tapi kau tidak usah khawatir aku bisa membuat obat dari tanaman herbal untuk  memulihkan pengelihatan mu.” Haru juga mempunyai solusi masalah itu.   Akiko dan kedua orang tuanya merasa senang, karena Wamukute Rakuna dan Akiko bisa melihat kembali lagi. Tangis bahagia terlihat di wajah mereka.   Haru meracik obat untuk Akiko, dia menggunakan beberapa tanaman herbal dan obat itu pun selesai dibuat Haru.   “Minumlah obat ini, maka pengelihatan mata mu akan mulai kembali.” Haru memberikann racikan obatnya kepada Akiko. Akiko menerima obat itu dengan senyuman bahagia.   “Terima kasih banyak Tuan Haru, bagaimana kami bisa membalasmu.” Ayahnya Akiko berkata sambil menunduk ke arah Haru untuk mengucapkan tanda terima kasih.   “Iya, kalian tak harus, terlalu formal ke diriku, aku hanya melakukan apa yang kubisa.” Haru memang tidak suka membanggakan diri kepada orang-orang dia lebih suka dianggap sebagai orang biasa saja.   Setelah percakapan itu Haru mulai berkemas.   “Kau tidak bisa tinggal di sini untuk beberapa hari?” Akiko mendekati Haru yang sedang memeriksa barang-barangnya.   “Aku tidak bisa, tapi jika di desa ini ada yang membutuhkan bantuan ku, aku pasti akan datang kembali.” Haru mengucapkan itu sambil mengemasi barang-barangnya.   “Kalau kau ke desa ini jangan lupa untuk mampir ya!” Akiko sepertinya menaruh perasaan kepada Haru.   Haru mengangguk saja.   Lalu setelah berkemas Haru berpamitan kepada Akiko dan kedua orang tuanya, untuk melajutkan perjalannya. Dari kejauhan Akiko melambaikan tanganya, yang artinya menandakan perpisahan. Haru hanya tersenyum melihat itu.   Dengan begitulah Haru sekali lagi berhasil membantu orang-orang yang berada dalam masalah. Perjalanan Haru masih panjang dan berbagai macam masalah juga sudah menantinya, dia h berjalan mengikuti arah langkah kakinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN