Ada sebuah pohon yang tumbuh di musim kemarau, tanah di sekelilingnya mengalami kekeringan. Tetapi anehnya pohon itu tidak mengalami kekeringan, pohon itu tumbuh subur.
Di dekat sana ada sebuah desa yang tidak jauh dari lokasi pohon itu, para penduduk disana memiliki sawah yang menghidupi kebutuhan mereka. Tahun ini di daerah mereka mengalami kekeringan dan mereka tidak bisa memanen sawah.
Para penduduk menjadi kelaparan, dan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Beberapa warga desa itu pergi ke hutan, untuk berburu dan mencari tumbuhan atau buah yang bisa mereka makan. Para penduduk itu menemukan lokasi pohon itu.
Pohon itu begitu subur, dan juga berbuah sangat lebat. Buahnya berwarna merah muda, penduduk yang melihat itu lalu mengambilnya. Mereka mengambil dalam jumlah yang banyak, di saat mereka kembali ke desa semua orang menjadi sangat senang. Buah itu memiliki rasa yang manis dan sangat enak, mereka berpikir ‘Akhirnya dengan ini mereka tidak akan mati kelaparan.’
Setiap hari mereka memakan buah itu. Hingga kejadian aneh pun muncul, dari tubuh mereka keluar pohon kecil. Pohon kecil itu memiliki buah yang hampir mirip dengan buah yang mereka makan. Seorang warga mencoba mencicipinya, rasanya sama persis seperti buah dari pohon yang ada di hutan.
Para warga terus memakan buah itu hingga tubuh mereka menjadi kaku, kulit mereka menjadi seperti kayu. Para warga tidak bisa lagi beraktivitas seperti biasanya, mereka hanya memakan buah-buah itu untuk bertahan hidup.
Di siang hari pada musim kemarau itu kebetulan Haru melewati jalan menuju desa itu.
“Haduh… Panas sekali udaranya.” Haru mengeluh sambil mengusap kepalanya yang banyak keringat. Terus melanjutkan perjalanannya hingga dia melihat sebuah desa dari kejauhan.
“Sepertinya aku bisa beristirahat di sana!” Dengan keadaan yang sudah capek dan haus, Haru terus melanjutkan perjalanan menuju desa yang dia lihat. Haru tidak tau bahwa desa itu sedang ada kejadian aneh dengan penduduknya. Dia terus melangkahkan kakinya hingga sampai di desa itu.
“Aneh sekali, kenapa di tubuh mereka tumbuh pohon aneh.” Haru mengatakan itu di dalam hatinya setelah sampai di desa itu, dan melihat beberapa penduduk di sana yang memiliki penampilan aneh.
Haru terus berjalan sambil mengamati sekelilingnya. Hingga dia melihat salah satu seorang pria yang sedang memakan buah berwarna merah muda. Haru cukup terkejut karena dia tau bahwa buah itu merupakan buah dari Guramesha.
Haru mendekati pria itu untuk bertanya, “Maaf buah apa yang kau makan itu?” Setelah mendekat Haru langsung melontarkan pertanyaan itu.
Pria itu menatap Haru dengan heran, “Oh… buah ini kami tidak tau namanya tapi buah ini membawa berkah bagi kami, semua penduduk di sini,” ungkap pria itu kepada Haru.
“Heh… Lalu kenapa di tubuh kalian tumbuh, pohon aneh?” Haru kembali memberikan pertanyaan kepada pria itu, karena merasa aneh dengan tubuh para penduduk.
“… Kami juga tidak tau kenapa pohon ini tumbuh di tubuh kami, tetapi berkat itu kami bisa terus memakan buah yang manis dan enak ini, kalau kau mau aku bisa memberikannya juga kepada mu!” Pria itu tidak tau alasan kenapa pohon itu tumbuh di tubuhnya, bahkan dia hendak memberikan buah itu kepada Haru.
“Tidak terimakasih!” Haru menolak pemberian itu karena dia tau buah itu sangat berbahaya bagi tubuh. “Aku ingin tanya apakah disini ada orang yang mengalami kejadian aneh, seperti tubuh mereka menjadi kaku.” Lalu Haru mengatakan pertanyaan itu kepada pria itu.
“Kenapa kau tau hal itu? Siapa sebenarnya kau ini,” Pria itu kaget karena Haru tau bahwa di desanya ada orang yang sakit, seperti yang dikatakan Haru.
“Namaku Haru, seorang Dokter Alam,” ungkap Haru kepada pria itu.
“Dokter Alam Hmm…” Lalu pria itu terdiam setelah Haru mengatakan siapa dirinya.
“Bisakah kau beritahu di mana tempat orang yang tubuhnya kaku itu?” Haru coba mencari tau siapa saja orang-orang yang terkena kaku di tubuh mereka.
Pria itu masih terdiam. Seperti sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan Haru.
“Tuan Haru tadi kan! Maafkan aku, tadi aku bilang aku tidak tau apa-apa tentang buah dan pohon di tubuh kami.” Seperti dugaan Haru pria itu menyembunyikan seuatu dan akhirnya dia mengakui ada yang dia sembunyikan.
“Tidak usah di pikirkan! Lalu apa yang sebenarnya terjadi bisakah kau beritahu aku?” Setelah mendengar perkataan Haru, pria itu tertunduk dengan ekspresi sedih.
“Sebenarnya buah dan pohon yang ada di tubuh ku ini berasal dari buah, yang kami makan.” Pengakuan pria itu membuat Haru sedikit terkejut.
“Buah apa yang kau maksud itu?” Haru kembali bertanya dengan wajah yang serius.
Pria itu tertunduk dengan wajah yang sedih. “Buah itu kami dapatkan dari pohon yang ada di hutan.”
Haru memegangi dagunya lalu berkata, “Apakah buah yang kalian makan sama persis dengan buah yang ada di tubuh kalian?”
Pria itu mengangguk yang menandakan, bahwa perkiraan Haru benar kalau buah yang mereka makan berasal cuma dari pohon Guramesha.
“Apakah buah kalian makan itu berasal dari pohon yang memiliki daun merah?” Haru bertanya lagi kepada pria itu.
“Bagaimana kau bisa tau!” Pria itu sedikit terkejut karena Haru mengetahui pohon yang pernah mereka makan buahnya.
“Seperti yang kuduga, buah yang kalian makan berasal dari pohon Guramesha,” Haru memberitahu tentang pohon yang buahnya dimakan oleh mereka.
Pria itu sedikit bingung dengan pohon yang dimaksud Haru. “Guramesha?”
“Iya pohon ini sangat berbahaya bagi tubuh, lebih tepatnya buah Guramesha. Buahnya bisa membuat siapa saja yang memakannya mengalami hal aneh, seperti yang kalian alami. Buah itu bisa tumbuh di dalam tubuh mahluk hidup. Rasa manis yang di hasil kan oleh buah itu membuat hewan-hewan memakannya, dan tidak akan bisa berhenti memakan buah itu. Sampai buah yang ada di dalam tubuh mereka mulai tumbuh, memang jika Guramesha tumbuh di dalam tubuh makhluk hidup. Mereka tidak perlu lagi pergi ke tempat Guramesha untuk mengambil buahnya, tetapi masalah yang sebenarnya adalah ketika buah yang tumbuh di makhluk hidup terus mereka ambil dan makan maka...” Penjelasan Haru yang cukup panjang membuat pria yang ada di dekatnya itu meneguk air ludahnya.
“Maka apa Tuan Haru.” Pria itu penasaran dengan penjelasan selanjutnya dari Haru.
Haru menatap serius pria itu.”… Maka perlahan tubuh kalian akan berubah menjadi pohon Guramesha!”
“Hah…” Pria itu kaget dengan pernyataan Haru barusan. “Jadi kami semua yang memakan buah ini akan menjadi pohon seperti di hutan itu!” Dengan wajah yang benar-benar kaget pria itu seperti tidak percaya. Padahal di desa mereka sudah ada beberapa orang yang mulai berubah tubuhnya.
“Aku tidak heran karena buah itu memiliki kemampuan untuk membuat siapa saja memakannya pasti akan terus mencarinya lalu memakannya tidak peduli kondisi dari tubuh mereka sendiri. Sulit untuk menghentikannya jika sudah terlanjur memakan buah itu.” Penjelasan Haru semakin membuat pria itu menjadi seperti orang yang benar-benar kaget dan khawatir.
Pria itu lalu memegang kedua pundak Haru. “Tuan Haru apakah ada cara untuk menghilangkan pohon ini dari tubuh kami?” Wajah yang benar-benar khawatir dan tangan yang gemetaran pria itu sambil berkata kepada Haru.”
“Sayang sekali, cara penyembuhan untuk masalah ini belum di temukan, tetapi ada cara untuk menghentikan pertumbuhan pohon ini di dalam tubuh...” Setelah Haru mengatakan hal itu Haru terdiam sejenak. Sebenarnya dia juga ragu apakah orang-orang di desa itu bisa melakukan yang akan dia beritahu.
“Apa itu Tuan Haru!” Pria itu sangat penasaran dan dengan harapan di wajah pria itu, dia berharap yang di katakan Haru adalah jalan terbaik untuk menghilangkan pohon Guramesha dari dalam tubuhnya.
“… itu adalah setiap orang berhenti memakan buah yang ada tubuh maupun mengambilnya langsung di hutan tempat Guramesha.” Haru sudah mengatakan cara untuk bisa mencegah mereka berubah menjadi pohon Guramesha.
Pria itu terdiam dan melepaskan tangannya dari pundak Haru lalu bergumam, “Berhenti memakan buah ini.”
“Tidak ada cara lain untuk menghilangkan pohon itu dalam tubuh kalian, pohon itu akan terus tumbuh jika kalian memakan buah itu. Karena saat di dalam tubuh, pohon Guramesha akan mengambil cairan dari buah yang kalian makan sebagai nutrisi. Tetapi tubuh kalian akan menjadi kehabisan energi hingga akhirnya tubuh kalian akan berubah menjadi pohon akibat Guramesha di dalam tubuh kalian sudah mengambil alih fungsi tubuh.” Penjelasan Haru semakin membuat pria itu terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Tetapi jika kalian bisa menahan diri untuk tidak memakan buah itu pertumbuhan pohon itu akan berhenti dan dia akan mati dengan sendirinya. Tetapi itu tergantung kemauan kalian sendiri untuk terus memakannya atau berhenti.”Haru sudah memberitahu seluruh efek yang akan terjadi jika dia terus memakan buah itu. Lalu dia meninggalkan pria itu yang masih terdiam setelah mendengarkan penjelasan Haru.
Kemudian Haru pergi ke hutan untuk melihat pohon Guramesha. Dia memang tidak bertanya dimana letak pohon itu di dalam hutan, tetapi dia yakin pohon itu memang benar-benar ada di hutan dekat desa itu. Dia mencoba menelusuri setiap tempat di hutan, dan tiba di sebuah tempat yang dimana terlihat pohon Guramesha yang cukup besar.
“Ini dia pohon Guramesha, pasti dari pohon ini mereka mendapatkan kondisi seperti itu.” Haru berkata sambil memandangi pohon itu lalu dia mencoba mendekati pohon itu. Terlihat beberapa bangkai hewan seperti burung,monyet, dan hewan lainnya yang sudah mulai menjadi pohon Guramesha.
Ketika Haru melihati bangkai hewan-hewan itu dia mendengar suara seperti ada buah jatuh, “Apa itu?” Lalu dia langsung mencari ke sumber suara itu. Dia menemukan buah Guramesha, Haru mengambil buah itu untuk disimpannya.
Haru termenung sambil memandangi pohon itu, dan dia berkata dalam hatinya. “Guramesha, pohon yang dijuluki sebagai pohon penumbuh inang, karena setiap makhluk yang memakan buahnya akan menjadi pohon. Hal yang dia berikan kepada makhluk hidup harus di ganti dengan kehidupan dari makhluk hidup itu sendiri. Benar-benar pohon yang misterius.”
Setelah itu Haru kembali ke desa yang untuk memperingatkan penduduk supaya tidak memakan buah Guramesha, baik yang ada di tubuh mereka atau pun yang ada di pohon itu.
Sampai di sana Haru melihat pria yang sebelumnya bertemu dengannya, memberitahu seluruh warga apa yang sudah dikatakannya. Haru hanya memperhatikan dari jauh, hingga semua warga pergi Haru baru mendekat.
“Sepertinya kau mengambil langkah untuk memberi kebenaran itu ke seluruh penduduk!” Haru berkata sambil berjalan ke arah pria itu. Pada saat itu Haru sedang berbicara kepadanya dari belakang, karena mendengar suara Haru. Pria itu lalu menengok ke belakang.
“Ya, Apapun yang terjadi setidaknya kami di desa ini harus bisa bertahan tanpa memakan buah itu!” Pria itu berkata dengan penuh percaya diri, bahwa dirinya dan para penduduk akan bisa berhenti memakan buah Guramesha.
“Begitu rupanya, kalau begitu teruslah semangat seperti ini hingga kalian bisa kembali normal lagi.” Haru berkata dengan senyuman kepada pria itu.
“Kalau begitu aku pergi dulu, untuk melanjutkan perjalanan ku,” ucap haru kepada pria itu
“Iya, Hati-Hati di jalan.” Pria itu berkata dengan senyuman di wajahnya.
Setelah itu Haru melanjutkan perjalanannya.
Sekitar dua bulan Haru kembali ke desa itu untuk melihat kondisi warga desa itu.
“Apa yang terjadi di desa ini?” Setelah sampai di desa itu dia sangat kaget karena semuanya sudah berubah total dari terakhir kali dia kesana. Kondisi desa itu sekarang banyak tumbuhan Guramesha. Desa itu seperti, desa yang berhantu dengan rumah-rumah yang rusak dan pohon tumbuh dari dalam rumah.
Tidak ada yang selamat di desa itu semuanya menjadi pohon, Haru bisa melihat jelas di bagian bawah pohon itu terbentuk seperti tubuh manusia yang sudah berubah.
Kemudian Haru menuju hutan untuk melihat pohon Guramesha, sebelum dia melanjutkan perjalanannya. Di sana pohon itu masih berdiri dengan kokoh.
Kembali ke beberapa minggu yang lalu. Sebelum penduduk desa itu berubah jadi pohon. Awalnya setelah mereka tau efek berbahaya jika memakan buah itu, warga desa bisa berhenti memakannya. Tetapi keadaan mereka yang masih kekurangan makanan akhirnya mereka memakan buah itu untuk bertahan hidup. Buah itu terus mereka makan hingga tubuh mereka menjadi pohon seperti yang Haru lihat tadi. Dan akhirnya tidak ada orang yang selamat di desa itu.
Lalu Haru melanjutkan perjalanannya, di tengah perjalanan Haru berkata dalam hatinya. “Rasa manis yang bisa membuat orang bertahan hidup, tanpa di sadari rasa manis itulah yang perlahan menggerogoti tubuh!”
Dengan begitu Haru semakin belajar bahwa yang memiliki rasa manis belum tentu baik untuk kehidupan.