Haru sudah memberitahu beberapa pengalamannya selama menjelajahi alam sebagai Dokter Alam.
“Whoah… hebat sekali, banyak sekali pengalaman yang menarik kau alami Tuan Haru!” Olivia dengan wajah yang sangat senang sudah mencatat semua yang di ceritakan Haru di dalam bukunya.
“Tidak, itu bukan apa-apa, karena masih banyak orang yang lebih pengalaman dariku.” Haru merendah kan diri, supaya dia tidak sombong. Karena menurut Haru semua pengalaman yang dia ceritakan kepada Olivia masih kurang.
Haru melihat langit yang sudah mau sore.
“Hmm… Sebaiknya kita cepat pergi dari hutan ini!” Haru merasa akan ada hal buruk jika mereka berada di hutan itu terus.
“Benar juga, ayo kita pergi keluar hutan ini!” Dengan penuh semangat Olivia berkata seperti itu.
Lalu Haru dan Olivia pergi berjalan untuk keluar dari area hutan.
Setelah cukup jauh berjalan akhirnya mereka keluar dari hutan. “Huh… Akhirnya kita bisa keluar dari hutan!” Olivia merasa lega karena sudah bisa keluar dari hutan.
“Ya,” kata Haru untuk menanggapi ucapan rasa lega Olivia.
Setelah mereka berjalan keluar hutan, tak lama kemudian mereka melihat desa.
“Oh lihat! Tuan Haru itu ada desa.” Olivia berkata sambil menunjuk ke arah desa.
Haru terlihat senang dengan senyuman di wajahnya lalu dia berkata, “Kau benar, ayo kita mampir ke sana!”
Lalu mereka berdua memutuskan untuk mampir ke desa itu. Sesampainya di sana Haru dan Olivia mencari kedai, untuk beristirahat.
“Benar juga sebaiknya kita mencari kedai untuk beristirahat sebentar.” Haru melihat desa itu makmur. Haru dan Olivia terus berjalan untuk menemukan kedai.
“Oh… Tuan Haru! Coba lihat itu.” Olivia melihat sebuah rumah lalu menunjuknya, Haru kemudian melihat ke arah tempat yang di tunjuk Olivia dan ternyata itu adalah sebuah kedai makanan.
“Ayo kita ke sana!” Lalu Haru dan Olivia pergi menuju kedai itu.
Di sana Haru dan Olivia melihat pemilik kedai yang sudah berdiri untuk menerima pesanan.
“Selamat datang.” Sambut pemilik kedai.
Haru dan Olivia kemudian duduk.
“Aku pesan Dango! Kalau kau Olivia,” tanya Haru kepada Olivia
“Sama! Aku pesan Dango dan jangan lupa aku juga pesan teh,” kata Olivia kepada pemilik kedai.
“Baiklah akan segera aku buatkan, tolong tunggu sebentar,” ucap si pemilik kedai kepada mereka berdua.
Setelah selesai membuat pesanan, pemilik kedai itu menyuruh putrinya untuk mengantarkan makanan itu kepada Haru dan Olivia.
Haru dan Olivia melihat perempuan itu mengantarkan makanan dengan wajah yang pucat, seperti orang sakit dengan napas yang terengah-engah.
“Ini, pesanan kalian!” Wanita itu berkata dengan wajah yang sangat pucat.
“Kau, tidak apa-apa?” Olivia bertanya kepada wanita yang mengantarkan pesanan mereka, karena dirinya merasa khawatir dengan keadaan wanita itu.
“Aku tidak apa-apa. Kalau begitu aku permisi dulu.” Wanita berkata seperti itu untuk tidak membuat Olivia dan Haru khawatir. Baru beberapa saat setelah mengantarkan pesanan itu. terdengar suara gaduh.
Terdengar suara pemilik tokoh yang berkata. “Aimi… Aimi…” Haru dan Olivia langsung mencoba mendekati asal suara kegaduhan itu.
Haru dan Olivia melihat wanita yang mengantarkan pesanan tadi jatuh.
“Apa yang terjadi?” ucap Haru ketika melihat wanita itu.
“Aku tidak tau, tiba-tiba dia jatuh!” jawab pemilik kedai. Terlihat jelas di wajah pemilik kedai dia sangat khawatir dengan perempuan bernama Aimi itu.
Wajah Aimi sangat pucat dan dia terus menghela napas dengan sangat cepat. Haru meletakan tangannya ke leher, dan ke dahinya.
“Tubuhnya sangat panas di tambah lagi wanita ini seperti kesulitan bernapas.” Haru berkata dalam hatinya ketika melihat dan menyentuh tubuh Aimi.
“Apa yang terjadi kepada wanita ini?” Haru mencoba bertanya kepada pemilik kedai tentang masalah yang terjadi kepada Aimi.
“Saya juga tidak tau, sudah beberapa hari ini Aimi sering mengalami demam tinggi,” jelas pemilik kedai dengan wajah yang sangat khawatir.
“Begitu rupanya! Biarkan aku memeriksa keadaannya.” Haru ingin memeriksa keadaan Aimi dan memastikan penyakit apa yang sedang dia alami.
“Uh… apa kau bisa memeriksa keadaan Aimi!” pemilik kedai sedikit terkejut ketika Haru ingin memeriksa keadaan putrinya itu.
“Iya,” ucap Haru sambil mengangguk.
“Baiklah. Silahkan!” dengan wajah yang khawatir, pemilik kedai itu berharap Haru bisa menolong putrinya.
Lalu Aimi dibawa ke kamarnya dan di baringkan di sana. Sementara Haru membuat beberapa obat untuk menurunkan suhu tubuh Aimi yang sangat tinggi.
Sedangkan Olivia membuat catatan tentang semua kegiatan Haru saat itu. Sambil menunggu Haru meracik obat Ayahnya Aimi menunggui putrinya.
Perasaan gelisah ketika menunggu obat buatan Haru, terus dia rasakan. Setelah menunggu cukup lama akhirnya obat itu selesai.
“Maaf telah membuat mu menunggu lama!” Haru datang dengan obat di tangannya.
Ayahnya Aimi hanya menangguk. Lalu Haru langsung meminumkan obat buatannya.
“Minum obat ini!” ucap Haru ketika meminumkan obatnya kepada Aimi. Aimi meminum obat itu hingga habis, kemudian Haru meletakan kepala Aimi ke tempat tidur lagi.
“Bagaimana?” ucap Ayahnya Aimi ketika Haru selesai meminumkan obat kepada putrinya.
“Untuk sekarang kita tinggalkan dia, biarkan obatnya bekerja!” Haru memberitahu Ayahnya Aimi untuk menunggu reaksi obat itu, baru dia bisa memberi kesimpulan penyakit Aimi adalah penyakit biasa atau tidak.
Haru dan Olivia menunggu di sana hingga malam tiba. Pemilik kedai yang merupakan Ayahnya Aimi menyiapkan kamar terpisah untuk mereka berdua.
Malam itu Haru sedang berpikir tentang sakit yang di derita Aimi. “Jika dugaan ku benar demam biasa pasti suhu badannya sudah turun tapi kalau tidak berarti… Hm.” Di saat itu, ‘Tok… Tok…’ terdengar seseorang sedang mengetuk pintu kamar Haru. Kemudian Haru membuka pintu itu.
Saat Haru membuka pintu terlihat Olivia dengan wajah yang sangat cemas. “Tuan Haru! Keadaan wanita bernama Aimi itu semakin memburuk,” alasan dibalik wajahnya yang cemas ternyata keadaan Aimi semakin memburuk.
“Apa!” Haru cukup kaget mendengar yang dikatakan Olivia, setelah itu Haru langsung mengambil perlengkapannya dan dia kemudian pergi ke kamar Aimi.
Di sana terlihat ayahnya Aimi yang sedang menemani Aimi. Terlihat jelas wajah panik dan khawatir.
Dia melihat Haru bersama Olivia yang datang mendekati Aimi putrinya.
“Bagaimana ini, Tuan Haru! Kenapa Putri ku panas di tubuhnya belum turun malah semakin bertambah.” Ayahnya Aimi langsung menanyakan kondisi Aimi ketika Haru baru saja mendekati putrinya.
Haru terdiam karena kata-kata yang diucapkan Ayahnya Aimi yang tidak percaya dengan dirinya.
“Biarkan Aku memeriksanya seka—“
“Sudah cukup! Kau sebenarnya seorang Dokter atau bukan?” Ucapan Haru dipotong oleh Ayahnya Aimi. Dia mengatakan kata-kata bahwa dia tidak percaya dengan Haru.
“Aku seorang Dokter Alam.” Haru mencoba menjelaskan kepada Ayahnya Aimi yang saat itu sedang panik melihat keadaan putrinya.
“Dokter Alam. Berarti kau bukan Dokter yang selama ini kami ketahui! Sebaiknya kau pergi dari sini!” Ayahnya Aimi yang kecewa karena Haru tidak bisa menyembuhkan putrinya, menyuruh Haru untuk pergi dari rumahnya.
Haru hanya terdiam, di wajah Haru terlihat sedih dan sedikit kesal. Akhirnya Haru memutuskan untuk pergi dari rumah itu.
Di saat Haru hendak keluar Olivia berkata, “Tunggu! Maaf Tuan Haru memanglah bukan Dokter yang biasa kita temui, dia adalah seorang Dokter Alam yang sudah biasa mengatasi masalah seperti ini. Lagi pula jika sakit Putri mu itu cuma demam biasa aku yakin pasti dia sudah membaik. Tetapi jika tidak maka sakit yang diderita Putri mu bukan sakit biasa!”
Dengan berani Olivia membela Haru dan menjelaskan semua yang dia ketahui kepada ayahnya Aimi. Suasana menjadi hening.
Lalu Ayahnya Aimi berkata, “Baik aku beri satu kesempatan lagi. Tetapi jika tidak berhasil kali ini tolong kau tinggalkan tempat ini!.” Mendengar penjelasan Olivia, Ayahnya Aimi memberikan kesempatan sekali lagi kepada Haru.
Mendengar hal itu Haru terlihat senang, dan Olivia pun ikut tersenyum.
“Baiklah aku akan berusaha semampu ku!” ucap Haru dengan wajah yang serius.
Olivia yang melihat keseriusan wajah Haru menjadi kagum, “Tuan Haru, aku percaya kepada mu. Kau pasti bisa menyelesaikan masalah ini,” kata Olivia dalam hatinya.
Kemudian Haru mulai memeriksa keadaan Aimi sekali lagi, dia membuka mulut Aimi. Haru melihat seperti ada warna ungu di tenggorokannya.
“Ini kan! Hm… begitu rupanya dia terkena gejala seperti Olivia siang tadi.” Haru sudah mengetahui kenapa Aimi tidak sembuh dengan obat yang dia berikan. Ternyata dia terkena serbuk Grezia Violea.
Haru langsung membuat obat seperti, dia membuat obat untuk Olivia. Setelah dia membuat obat itu Haru langsung meminumkannya kepada Aimi. Aimi meminum obat itu semuanya. Tidak berapa lama kemudian, Aimi muntah.
“Groeaaghh…” Aimi muntah mengeluarkan cairan berwarna ungu. Olivia dan Ayahnya terkejut melihat cairan ungu itu.
“Ini kan! Jangan-jangan merupakan penyebab dari serbuk Grezia Violea!” Olivia cukup terkejut ketika mengatakan itu kepada Haru.
“Tepat sekali ini pasti berasal dari serbuk Grezia Violea!” ungkap Haru kepada Olivia dengan wajah yang serius.
“Mengapa warnanya ungu, apa yang terjadi sebenarnya.” Ayahnya Aimi sangat panik melihat putrinya mengeluarkan cairan ungu dari mulutnya.
“Tenanglah! Putri mu telah mengeluarkan penyebab dia bisa demam.” Haru coba menenangkan Ayah dari Aimi.
“Uhuk… uhuk…” Setelah mengeluarkan cairan dari mulutnya dia batuk lalu, terbaring lagi.
“Aimi!” teriak Ayahnya Aimi ketika melihat itu.
Haru coba memeriksa Aimi dengan cara menyentuh leher dan dahinya.
“Hm… Sepertinya demamnya sudah turun,” ungkap Haru ketika menyentuh leher dan dahinya.
“Benarkah! Syukurlah.” Ayahnya Aimi merasa lega setelah mendengar ucapan Haru. Dan Olivia juga ikut tersenyum.
“Untuk sekarang sebaiknya kita biarkan dia untuk istirahat dulu,” kata Haru kepada Ayahnya Aimi.
Lalu mereka semua pergi dari kamar Aimi. Kemudian Haru bersama Olivia mengobrol dengan Ayahnya Aimi di ruangan berbeda, untuk mencari tau bagaimana Aimi bisa terkena serbuk Grezia Violea.
“Maaf kan sikap ku tadi! Karena tidak percaya pada mu.” Ayah dari Aimi menundukan kepalanya sebagai tanda minta maafnya.
“Tidak. Kau harusnya berterima kasih kepada Olivia karena dia yang telah meyakinkan mu untuk membiarkan ku mengobati anak mu sekali lagi!” ungkap Haru, kepada Ayahnya Aimi supaya dia tidak lupa bahwa Olivia lah yang telah meyakinkannya untuk sekali lagi percaya kepada Haru.
“Oooh… Tidak! Semuanya itu berkat usaha mu sendiri Tuan Haru.” Olivia sedikit malu karena Haru sudah membuat dirinya seperti orang yang hebat di hadapan Ayahnya Aimi.
“Selain itu coba kau ceritakan kenapa putri mu bisa terkena serbuk Grezia Violea!” Haru mulai bertanya kepada Ayahnya Aimi. Haru sedikit penasaran kenapa Aimi bisa terkena serbuk Grezia Violea.
“Entahlah…” Ayahnya Aimi berpikir lalu dia teringat sesuatu. “Kalau tidak salah tiga hari yang lalu dia kusuruh untuk pergi membeli persediaan untuk membuat makanan di kedai ku, dan sejak itu kondisinya menjadi memburuk. Aku sudah menyuruhnya untuk istirahat tetapi dia tetap ingin membantu dan akhirnya berakhir seperti ini.”
“Ke mana dia membeli persediaan itu?” tanya Haru. Haru curiga kalau Aimi mencium bunga itu ketika membeli persediaan itu.
“Dia membeli persediaan itu di kampung sebelah, yang melewati hutan,” jawab Ayahnya Aimi.
“Sudah kuduga,” ucap Haru dalam hatinya ketika mendengar jawaban Ayahnya Aimi.
Dari penjelasan itu Haru bisa menyimpulkan, bahwa Aimi tanpa sengaja menghirup serbuk itu ketika dia berada di hutan untuk sebelum pergi membeli persediaan.
“Kemungkinan putri mu menghirup serbuk Grezia Violea.” Kemudian Haru menunjukan toples yang berisi Grezia Violea.
“Bunga apa itu, indah sekali!” ucap Ayahnya Aimi.
“Bunga ini memang indah tetapi sangat berbahaya, warnanya yang memikat siapa pun yang melihatnya menjadi ingin memetiknya. Padahal serbuk dari bunga ini jika terhirup akan menyebabkan mual, pusing, dan demam. Efek yang lebih buruk bisa menyebabkan kematian.” Haru menjelaskan kepada Ayahnya Aimi tentang efek dari Grezia Violea.
Ayahnya Aimi terdiam setelah mendengar penjelasan Haru.
“Bunga ini kami lihat banyak tumbuh di hutan dekat desa ini!” sambung Haru untuk memperingatinya.
“Begitu rupanya. Kalau begitu bagaimana dengan kondisi putri ku setelah terkena serbuk dari bunga ini?” Ayahnya Aimi bertanya dengan wajah yang masih cemas akan keadaan Aimi setelah mendengar penjelasan Haru tadi.
“Kau tidak perlu khawatir, seharusnya dia bisa sembuh karena serbuk bunga itu sudah keluar,” ungkap Haru untuk menenangkan Ayahnya Aimi.
Dengan begitu Ayahnya Aimi akhirnya bisa tenang, kemudian setelah itu Haru bersama Olivia dan Ayahnya Aimi pergi untuk melihat keadaan Aimi.
Sesampainya di kamar Aimi, Olivia menyentuh dahi Aimi untuk memastikan keadaannya.
“Sudah tidak panas lagi,” ucap Olivia untuk memberitahu Haru dan Ayahnya Aimi.
“Benarkah syukurlah.” Ayahnya Aimi langsung mengucap rasa syukur ketika Olivia mengatakan putrinya sudah mulai membaik.
Dengan begitu setelah mereka memeriksa keadaan Aimi, Haru dan Olivia di perbolehkan untuk menginap di rumah itu.
Hingga malam pun berlalu, dan pagi hari pun datang.
Di pagi harinya Haru dan Olivia sudah bersama dengan Aimi dan Ayahnya di ruang tamu. Kondisi Aimi sudah mulai membaik. Bahkan dia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.
“Bagaimana kondisi mu?” Haru bertanya kepada Aimi untuk memastikan keadaanya.
“Aku sudah tidak apa-apa!” ungkap Aimi dengan senyuman di wajahnya.
“Begitu rupanya.” Lalu Haru mengambil beberapa obat yang dia buat untuk Aimi, “Minumlah obat ini untuk membuat kondisi mu benar-benar pulih. Karena kita tidak tau apakah serbuk bunga Grezia Violea masih tersisa atau tidak di dalam tubuh mu.” Haru memberikan obat itu untuk jaga-jaga ketika Aimi mengalami gejala aneh yang di akibatkan serbuk bunga Grezia Violea.
Obat itu pun di ambil oleh Aimi.
Setelah itu Haru dan Olivia mulai melanjutkan perjalanannya lagi.
“Kau benar-benar hebat Tuan Haru!” Di perjalanan Olivia tiba-tiba memuji Haru.
“Apa maksud mu?” Haru sedikit terkejut mendengar Olivia yang tiba-tiba memuji dirinya.
“Kau selalu tenang dan bisa mengatasi masalah,” kata Olivia sambil tersenyum di wajahnya.
“Itu bukan apa-apa. Jika aku panik, maka aku tidak akan bisa berpikir jernih untuk menyelesaikan masalah.” Haru berkata seperti itu, untuk terlihat keren sedikit di hadapan Olivia.
“Suatu saat nanti aku juga akan menjadi Notaris yang bisa berguna bagi orang-orang.” Olivia berkata dengan semangat, karena setelah melihat Haru yang sangat hebat dalam menyelesaikan setiap masalah.
“Begitu kah, Kalau begitu berjuanglah!” Haru berkata sambil tersenyum untuk menyemangati Olivia.
“Baik!” ucap Olivia dengan semangat.
Kemudian mereka berjalan hingga menemukan dua jalan yang menunjukan arah yang berbeda.
“Sepertinya sudah saatnya kita berpisah!” Olivia mengatakan hal itu dengan wajah yang cukup sedih, dia harus berpisah dengan Haru. Karena di jalan bercabang itu menunjukan arah yang berbeda. Olivia harus pergi kembali ke tempat Notaris untuk memberikan laporannya selama melakukan perjalanan ke alam liar.
“Begitu rupanya. Jaga dirimu baik-baik!” ucap Haru kepada Olivia.
“Tuan Haru! Apakah kita akan bertemu lagi.” Olivia menunjukan wajah sedikit sedih ketika berkata kepada Haru.
“Entahlah, tetapi selama masih ada waktu, mungkin kita akan bertemu lagi.” Haru berkata sambil menatap awan.
Dengan begitu akhirnya mereka berdua berpisah dan melanjutkan tujuan mereka masing-masing.
Hingga nanti mereka berdua akan bertemu lagi di lain waktu.