Haru berjalan dekat lautan, cuaca yang cerah di sertai suara ombak membuat Haru sedikit bersemangat untuk terus melakukan perjalanannya.
Di saat Haru sedang berjalan dia melihat ada seorang perempuan muda, yang menatap ke arah lautan. Dia duduk di atas batu yang tidak jauh dari pantai. Haru coba mendekati perempuan itu.
“Hey apa yang sedang kaulakukan?” tanya Haru, kepada wanita yang duduk itu. Tetapi tidak ada tanggapan dari wanita itu, dia terus menatap lautan dengan tatapan kosong.
Haru merasa bingung kenapa wanita itu hanya diam, bahkan tidak merasa terganggu dengan kehadiran Haru. “Hmm… ada apa dengan wanita ini tatapannya kosong dan tatapannya mengarah kelautan, seperti dia sudah kehilangan jiwanya!” ucap Haru dalam hatinya.
“Izumi… Izumi…” tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang, Haru melihat ke arah suara itu berasal. Dan terlihat ada pria paruh baya, dari penampilannya dia merupakan ayah dari perempuan yang sedang duduk termenung menatap lautan itu.
Pria itu datang dan menghampiri wanita itu, “Izumi kenapa kau ada di sini! Ayo cepat kita pulang.” Dia langsung mengajak wanita itu pulang dengan menarik tangannya. Haru yang berada di sana memperhatikan pria itu dia melihat pria itu seperti terlalu memaksa wanita itu untuk pulang.
“Tunggu! Bukan aku mau ikut campur, bisakah kau sedikit lebih lembut kalau mengajaknya untuk pulang?” Haru coba menegur pria yang merupakan ayah dari wanita itu.
“Oh… Siapa kau?” Pria itu sedikit heran melihat Haru karena, dia mengetahui bahwa wajah Haru bukan berasal dari sekitar desanya.
“Namaku Haru seorang Dokter Alam. Bisakah kau jelaskan kenapa wanita ini memiliki tatapan yang kosong, dan selalu menatap lautan?” Haru memberi tahu siapa dirinya dan dia juga ingin tahu kenapa wanita itu memiliki tatapan kosong.
“Begitu rupanya. Aku juga tidak tau kenapa Anak ku ini bisa jadi seperti ini, sebelumnya dia baik-baik saja.” Ungkapan pria itu membuat Haru bingung karena, sebagai ayah dari perempuan itu saja dia tidak tahu menahu, apa sebenarnya terjadi kepada putrinya.
“Jika boleh! Aku ingin memeriksa keadaan Putri mu ini.” Haru ingin melihat masalah apa yang dihadapi oleh Izumi sehingga dia menjadi seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidup.
“Apakah kau yakin, selama ini aku sudah membawakan beberapa Dokter untuk coba menyembuhkan Putri ku ini tetapi, hasilnya tidak ada. Putri ku masih seperti ini.” Wajah yang sedih terlihat dari pria itu. Karena dia sudah kehilangan harapan ketika melihat putrinya tidak bisa di sembuhkan. Dan karena itu juga dia meragukan Haru yang merupakan seorang Dokter Alam.
“Aku mengerti perasaan mu, tetapi jika di biarkan maka kondisi putri mu akan semakin memburuk. Bahkan aku saja tidak tau apa yang akan terjadi padanya jika dibiarkan seperti ini. Setidaknya biarkan aku untuk memeriksa Putri mu ini.” Haru coba untuk meyakinkan pria itu, bahwa ada kemungkinan dia bisa mengobati putrinya, dan membuatnya sembuh seperti sediakala.
“Huh… Baiklah kalau begitu, tetapi kita harus membawa Putri ku ini, ke rumah dahulu sebelum kau bisa memeriksa keadaannya!” Pria itu masih menunjukan wajah ragu kepada Haru, tetapi meskipun begitu dia tetap memperbolehkan Haru untuk memeriksa Izumi yang merupakan putri satu-satunya.
“Tentu saja!” Haru mengatakan hal itu dengan senyuman di wajahnya, yang menandakan dia masih punya kesempatan untuk menolong Izumi.
Lalu Haru mengikuti mereka kerumahnya. Di sana Haru mulai memeriksa keadaan Izumi. Tetapi tidak menemukan hal aneh saat itu. Lalu Haru menatap Izumi, terutama matanya yang memiliki tatapan kosong.
Sambil memegangi dagunya Haru berkata dalam hatinya, “Sebenarnya ada apa dengan wanita ini kenapa tatapannya sangat kosong, seperti bukan dirinya saja.” Haru terus mengamati Izumi, lalu kemudian bertanya kepada ayahnya, “Sebelumnya dia menjadi seperti, orang seperti apa Putri mu ini?” Haru penasaran dengan latar belakang Izumi apakah dia seorang perempuan yang periang atau tidak.
“Sebelum Izumi menjadi seperti ini, dia adalah anak perempuan yang sangat periang. Setiap hari dia selalu ceria, dan selalu membantu ku ketika aku pulang dari laut. Lalu sikapnya berubah sekitar empat hari yang lalu, aku tidak tahu penyebabnya.” Dari penjelasan pria itu tidak ada yang dia ketahui penyebab putrinya sampai menjadi seperti ini.
Haru hanya terdiam setelah mendengar penjelasan itu, “Hm… Jika aku benar, penyebab Izumi menjadi seperti ini, pasti saat dia berada di pantai,” kata Haru dalam hatinya.
“Selain itu apa kegiatan yang sering dia lakukan atau yang paling dia sukai?” Haru bertanya dengan nada serius.
“Kegiatan yang dia sukai? Hm… Ohh… aku ingat, Izumi sangat senang mendengarkan suara lautan dari cangkang kerang laut yang terdampar di pinggir pantai.” Pria itu ingat bahwa putrinya sangat senang mendengarkan suara lautan melalui cangkang kerang laut yang terdampar.
Haru terkejut dengan pupil matanya sedikit membesar, “Itu dia penyebabnya pasti dari cangkang kerang laut.” Haru menyadari penyebab kenapa Izumi menjadi seperti orang yang sudah kehilangan jiwanya.
“Begitu rupanya! Ohh… Aku ingin keluar dulu untuk memikirkan obat yang tepat untuk Putri mu.” Itu sebenarnya hanya alasan Haru. Dia memiliki tujuan lain untuk keluar, dia ingin memeriksa kerang yang sering didengar oleh Izumi.
“Baiklah… Tuan Haru, aku akan di sini menjaga Putri ku ini.” Pria itu terlihat masih sedih karena Haru belum bisa mengobati putrinya.
Haru mulai menelusuri pinggir pantai, dia terus menatap ke bawah untuk mencari cangkang kerang laut yang dia yakini sebagai penyebab Izumi menjadi kehilangan kesadarannya.
Lalu dia menemukan sebuah cangkang kerang dengan ukuran sedang, dia coba mengambil dan memeriksa cangkang kerang laut itu. Haru menatap ke arah lubang yang biasa jadi tempat masuknya hewan kecil atau keluarnya tubuh keong, di dalam lubang itu cukup gelap dia tidak melihat apa-apa. Dia mengambil ranting kecil untuk mengorek lubang cangkang kerang laut, di dalam cangkang itu Haru merasakan ada yang bergerak.
Kemudian Haru mendekatkan cangkang itu ke matanya, dia melihat sesuatu yang aneh berada di dalam cangkang itu.
“Apa itu tadi?” Haru jadi penasaran dengan makhluk yang ada di dalam cangkang kerang laut itu. Dia lalu membuka tasnya dan mengambil sebuah ramuan yang terbuat dari ekstrak Caleleva.
Haru menuangkan sedikit ekstrak Caleleva ke dalam cangkang kerang laut, dia mendiamkannya sekitar tiga menit. Setelah itu dia mengambil penjepit kecil lalu dia masukan penjepit itu ke dalam lubang cangkang kerang laut yang ada di tangan kanannya. Kemudian berhasil menarik keluar seekor cacing berwarna kuning berukuran 3 cm. Cacing itu sedikit menggeliat ketika keluar dari cangkang kerang laut.
“Ini kan Shiueju, cacing yang berada di dalam air laut. Dan merupakan parasit yang cukup berbahaya!” Haru sedikit terkejut ketika melihat cacing itu, dia tahu benar kalau cacing itu bisa menjadi parasit yang sangat berbahaya jika masuk ke dalam tubuh.
“Begitu rupanya ini alasan Wanita itu menjadi bengong dan tidak menanggapi setiap hal yang ada di sekitarnya pasti karena pengaruh dari cacing ini!” Haru bisa menyimpulkan penyebab terjadinya keanehan yang di alami Izumi merupakan ulah dari cacing itu.
Lalu Haru memasukan cacing Shiueju ke dalam toples, dan kemudian dia bergegas kembali ke rumah Izumi. Untuk memberitahu ayahnya bahwa penyebab Izumi menjadi aneh karena cacing itu.
“Oh… Tuan Haru, kau sudah kembali!” Haru bertemu dengan ayahnya Izumi di luar rumah, ayah Izumi seperti hendak pergi ke laut karena dari pakaian dan perlengkapan dibawanya.
“Iya! Kau mau ke mana?” Haru bertanya kepada ayahnya Izumi, karena dia melihat ayahnya Izumi membawa perlengkapan menangkap ikan.
“Aku mau ke laut untuk menangkap ikan,” ucap ayahnya Izumi.
“Apa, kenapa? Bukankah lebih baik kau menjaga Izumi, putri mu.” Haru merasa sedikit kesal karena dia melihat ayahnya Izumi seperti tidak khawatir dengan keadaan putrinya.
“Iya aku tahu tapi, kami juga butuh makan. Jika aku tidak pergi ke laut maka bagaimana kami bisa hidup.” Ayahnya Izumi menjelaskan keadaan mereka, yang memiliki kebutuhan. Dan dia terpaksa pergi ke laut untuk keperluan hidup.
“Baiklah kalau begitu! Tetapi bisakah kau tunda sebentar, aku sudah menemukan penyebab Izumi menjadi aneh.” Haru tidak ingin berdebat dengan ayahnya Izumi. Lalu dia langsung berbicara hal penting yang ingin dia sampaikan kepada Ayahnya Izumi.
“Apa! Kau sudah berhasil menemukan penyebab Izumi menjadi aneh, baiklah kalau begitu aku akan menunda pergi ke laut!” Ayahnya Izumi menjadi kaget ketika mendengar Haru memberi tahunya bahwa dia sudah berhasil menemukan penyebab Izumi menjadi aneh.
Lalu mereka berbicara ke dalam rumah, dan mereka kemudian duduk di dalam ruang yang sama dengan Izumi. Izumi yang saat itu sedang duduk memandangi air laut.
“Jadi Tuan Haru apa penyebab Izumi menjadi seperti ini?” Ayahnya Izumi langsung bertanya kepada Haru, karena dia sudah penasaran ingin segera mendengar penjelasan Haru.
“Baiklah!” Haru menunjukan toples yang berisi cacing Shiueju.
Ayahnya Izumi cukup penasaran kenapa Haru tiba-tiba mengeluarkan cacing itu di hadapannya.
“Tuan Haru! Cacing apa ini?” tanya Ayahnya Izumi
“Nama cacing ini adalah Shiueju,” jawab Haru dengan wajah yang serius.
“Shiueju?” Ayahnya Izumi sedikit kebingungan dengan nama Shiueju.
“Iya, cacing inilah yang menyebabkan Izumi menjadi aneh seperti ini. cacing Shiueju merupakan parasit yang bisa mengambil kesadaran hewan atau manusia ketika mereka berhasil masuk ke dalam tubuh. Shiueju akan mengendalikan inangnya seperti mayat hidup, inangnya akan tetap hidup di bawah kendali Shiueju. Shiueju mengambil alih keinginan hidup inangnya, dan akhirnya inangnya seperti mayat hidup dengan tatapan kosong. Dan juga alasan kenapa putri mu selalu memandangi air laut itu karena pengaruh cacing ini. Mereka akan terus berada di dalam tubuh inangnya hingga inangnya mati. Setelah inangnya mati mereka lalu keluar dari dalam tubuh dan kembali ke air laut untuk berkembang biak. Cacing Shiueju biasanya akan menjadi parasit bagi hewan yang ada di laut. Tetapi cacing Shiueju biasanya akan berada di dalam air laut dengan kedalaman 14 meter dan jarang sekali bisa keluar dari laut jika tidak ada faktor penyebabnya seperti terbawa arus air laut, atau hewan yang menjadi inangnya tertangkap dan dimakan oleh manusia.
“Kemungkinan penyebab Izumi menjadi seperti ini, ketika dia mendengarkan cangkang kerang laut yang di dalamnya ada cacing Shiueju. Lalu cacing ini masuk kedalam telinganya.” Haru sudah menjelaskan seluruh hal yang dia ketahui tentang cacing Shiueju.
Ayahnya Izumi cukup terkejut setelah mendengar penjelasan dari Haru, tentang penyebab Izumi menjadi aneh.
“Tuan Haru! Apakah ada cara untuk mengeluarkan cacing itu dari dalam tubuh Izumi?” Ayahnya Izumi bertanya dengan wajah cemas yang cukup jelas terlihat.
“Ada satu hal yang lupa ku beritahu kepada mu, cacing Shiueju, biasanya bergerak di dalam kulit manusia jadi kemungkinan untuk mengeluarkannya bisa, tapi aku tidak menjamin 100% akan berhasil.” Haru menjelaskan hal yang bisa dia lakukan meskipun itu sangat beresiko pada Izumi.
“Begitu rupanya tapi kalau itu yang terbaik maka tolong lakukanlah!” Ayahnya Izumi, tak bisa berharap banyak. Dia tidak tega melihat putrinya menderita. Dia ingin Izumi menjadi ceria kembali seperti dahulu.
“Baiklah aku akan berusaha semampu ku,” jawab Haru dengan tegas. Meskipun dia juga sedikit ragu dengan resiko yang akan dia hadapi jika sampai gagal mengeluarkan cacing itu.
Haru kemudian menyiapkan perlengkapannya untuk mengeluarkan cacing Shiueju. Sebelum dia mulai mengeluarkan cacing Shiueju, dia membuat sebuah ramuan herbal yang bisa membuat cacing Shiueju menjadi tidak nyaman ketika berada di dalam tubuh Izumi. Obat itu terbuat dari akar tumbuhan yang bernama Tamidusa. Tumbuhan yang bisa membuat beberapa parasit dan bakteri tidak tahan dengan efek yang di hasilkan tetapi baik untuk hewan dan manusia.
Haru meminumkan ramuan itu kepada Izumi, kemudian sesaat ramuan itu di minum. Muncul seperti caing kecil yang bergerak, di dahinya. Haru yang melihat itu langsung mengambil jarum kecil, dan menusukan jarum itu ke ujung tempat cacing itu bergerak.
Lalu keluarlah cacing Shiueju, dari dahi Izumi. Cacing bergerak, meronta-ronta kemudian Haru menangkapnya menggunakan jepitan khusus untuk menangkap parasit atau makhluk kecil. Dan memasukan cacing Shiueju kedalam toples yang sama, dengan cacing Shiueju yang di tangkapnya siang tadi.
Tidak berapa lama kemudian, setelah cacing Shiueju berhasil di keluarkan dari tubuh Izumi. Kesadarannya mulai kembali.
“Aku berada di mana?” Izumi yang baru saja sadar, merasa bingung dia melihat sekelilingnya dan di sana dia juga melihat ada Haru dan ayahnya.
“Ohh… Izumi kau sudah kembali sadar!” Ayahnya Izumi merasa bahagia karena melihat anaknya sudah bisa kembali berbicara seperti dulu.
“Kau tidak ingat apa-apa?” Haru berkata kepada Izumi setelah dia mendapatkan kembali kesadarannya.
“Tidak.” Izumi menjawab pertanyaan Haru sambil menggelengkan kepalanya.
Lalu Haru menunjukan cacing Shiueju yang berada dalam toples. “Kau sebelumnya sedang berada di dalam pengaruh cacing ini! Ketika kau hendak mendengarkan suara dari cangkang kerang laut.”
“Ehh? Benarkah!” Izumi merasa kaget dengan hal yang dikatakan Haru bahwa dirinya sebelumnya sedang berada di bawah kendali cacing yang ditunjukkannya, setelah mencoba mendengarkan suara lautan dari dalam cangkang kerang laut.
“Iya Izumi, Tuan Haru lah yang berhasil mengeluarkan cacing itu dari dalam tubuh mu.” Ayahnya memberi tahu Izumi bahwa Haru lah yang berhasil membuat dirinya kembali sadar.
“Kalau begitu aku berterimakasih banyak kepada mu.” Izumi menundukkan kepalanya sebagai ucapan terimakasih kepada Haru.
“Kalian tidak perlu berterimakasih, ini sudah menjadi kewajiban ku untuk mengatasi masalah seperti ini.” Haru tidak mau terlalu dipuji atau dianggap sebagai seorang pahlawan setelah melakukan hal yang sudah biasa dia lakukan.
Setelah Haru berhasil mengeluarkan cacing Shiueju, dia memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanannya.
“Kalau begitu aku permisi dulu, aku harus segera melanjutkan perjalanan ku!” Haru langsung ingin berpamitan kepada Izumi dan ayahnya.
“Kalau begitu. Aku ucapkan sekali lagi terimakasih banyak Tuan Haru.” Ayahnya Izumi kembali berterimakasih kepada Haru, sambil menundukkan kepalanya.
“Sudah ku bilang kau tidak perlu berterimakasih kepada ku! Kalau begitu aku pergi dahulu.” Haru kemudian pergi melanjutkan perjalanannya lagi.
Izumi melambaikan tangannya dari kejauhan lalu berteriak. “Kapan-kapan mampir lagi ke sini ya!”
Haru tersenyum mendengar suara Izumi itu. Dan akhirnya Haru berhasil menyelesaikan permasalahan yang ada di sekitar pantai itu. Perjalanan Haru masih panjang dan masih banyak hal yang lebih menegangkan dan misterius menantinya.
Mereka bisa bersembunyi dan di dalam tubuh manusia, dan manusia tidak akan pernah menyadari kehadiran mereka.