AROMA DI TENGAH MALAM

2800 Kata
Haru menerima permintaan tentang penyakit aneh lagi, di suatu daerah yang cukup terpencil, udaranya masih sejuk dan pemandangannya sangat indah.   “Permintaan kali ini cukup jauh masuk ke dalam hutan, berapa jauh lagi jarak untuk sampai ke sana.” Haru kelelahan berjalan menuju desa yang meminta pertolongannya.   Tidak berapa lama kemudian dia melihat desa yang ditujunya, yang berada di bawah lembah.   “Rasanya males sekali untuk melangkah ke desa itu,” keluh Haru sambil memandang desa yang berada di bawah tebing.   Haru terus melanjutkan perjalanannya meski kakinya sudah pegal. Dia sampai di sana sekitar 30 menit dari atas tebing tempat dia melihat desa.   Sampai di desa itu dia juga Harus mencari rumah Kepala Desa, karena Kepala Desa lah yang mengirimkan surat permintaan itu kepada Haru.   Setelah perjalanan cukup melelahkan dia akhirnya sampai di rumah Kepala Desa.   Di sana dia langsung di persilahkan masuk oleh cucu Kepala Desas. Haru duduk di teras rumah yang memang di peruntukan untuk menerima tamu.   “Akhirnya, aku bisa beristirahat.” Haru merasa lega, akhirnya dia bisa duduk untuk beristirahat.   “Pasti perjalanan ke sini sangatlah sulit, karena tempat yang cukup jauh dan sangat terpencil,” kata Kepala Desa sambil berjalan menuju tempat Haru duduk.   Kepala Desa di sana merupakan seorang wanita tua, dengan umur sekitar 60 tahunan.   “Salam kenal namaku Kaiesa. Aku merupakan Kepala Desa disini.” Kepala Desa mengenalkan dirinya kepada Haru dengan cara menundukkan kepalanya.   “Iya, aku Haru seorang Dokter Alam, aku sudah membaca surat mu. Tapi aku ingin mendengar secara rinci melalui ucapan mu langsung,” kata Haru dengan wajah yang serius.   “Baiklah, aku akan menjelaskan permasalahannya. Di desa ini sering ada kejadian aneh, dimana setiap perempuan muda akan hilang di tengah malam pada bulan purnama. Ini berawal dari anak ku yang hilang, 17 tahun yang lalu ketika dia baru selesai melahirkan cucu ku yang kau temui di pintu rumah tadi.” Penjelasan dari Kaiesa, menimbulkan kebingungan bagi Haru.   “Alasan mu memanggil ku ke sini untuk mengungkap misteri ini, supaya perempuan muda di desa mu tidak hilang lagi.” Haru berkata sambil menyipitkan matanya.   “Benar,” di tengah pembicaraan mereka Kaori yang merupakan cucu dari Kaiesa keluar dengan membawa teh untuk mereka.   “…Aku tidak ingin Cucu ku ini menjadi target berikutnya,” ungkap Kaiesa dengan wajah yang sedih.   Lalu Kaori kembali masuk ke dalam rumah setelah mengantarkan teh.   “Begitu rupanya.” Kemudian Kaiesa bersujud ke arah sebagai tanda permohonan. “Tuan Haru, aku mohon tolong kau selamatkan seluruh perempuan muda di desa ini.”   “Kau tidak perlu sampai bersujud seperti itu, aku akan membantu menyelesaikan masalah desa ini. Lagi pula ini merupakan kejadian yang cukup menarik,” ungkap Haru sambil tersenyum simpul dengan memandang hutan yang tidak jauh dari sana. “Sebenarnya dia lebih mengkhawatirkan cucunya Kaori dari pada seluruh perempuan muda di desa ini.”   Setelah obrolan itu, Haru dibawa ke kamar yang akan ditempatinya sementara. Dia diantar oleh Kaori.   Haru menatap Kaori dari belakang di saat menuju kamar.   “Ini Tuan!” Mereka sampai di kamar yang akan dijadikan tempat Haru untuk menginap. Haru langsung masuk dan memeriksa ruangan kamar.   “Bagaimana? Apakah kau suka,” kata Kaori yang sedang berada di luar pintu.   “Iya, tidak buruk,” jawab Haru sambil memandangi ruangan.   “Kalau kau butuh apa-apa tinggal panggil saja aku. Dengan ini aku permisi dulu!” Kaori mulai pergi meninggalkan kamar, di saat yang bersamaan Haru melirik ke arahnya.   Setelah suasana menjadi sepi, Haru membuka Shoji (pintu geser rumah jepang).   “Memang pemandangan di sini sangat indah, tidak heran kalau di sini pasti banyak kejadian aneh,” ungkap Haru sambil menatap pemandangan indah yang dia lihat dari kamar.   Dua jam kemudian, Kaori datang ke kamar Haru sambil membawa makanan.   “Uhh… Apa yang sedang kau lakukan?” Kaori menggeser shoji, lalu dia melihat Haru sedang memegang kaca pembesar dan di sana ada beberapa helai daun.   “Hmm…” Haru melihat ke arah Kaori yang tiba-tiba menggeser shoji, “Ohh aku cuma sedang mengamati beberapa daun yang kuambil saat menuju ke sini.”   Kaori mendekat untuk mengantarkan makanan Haru, dia merasa heran dengan yang di lakukan Haru.   “Memangnya apa yang kau lihat dari daun-daun ini.” Kaori mengambil satu daun yang ada di samping Haru.   “Aku hanya penasaran, makhluk seperti apa yang hidup di dedaunan desa ini,” jelas Haru sambil terus mengamati daun yang kebetulan ada di tangannya.   “Hmm… Untuk apa kau mengamatinya?” tanya Kaori.   “Kita tidak akan tahu makhluk apa yang hidup di sekitar kita, mereka akan menjadi sangat berbahaya jika kita tidak menyadari mereka. Mereka bisa membawa penyakit aneh yang belum pernah dilihat oleh manusia, bahkan makhluk yang berukuran kecil pun bisa membunuh makhluk yang lebih besar.” Haru mulai sedikit terganggu karena Kaori terus bertanya kepadanya. “Kenapa perempuan ini tidak langsung pergi saja, aku jadi sulit berkonsentrasi.”   “Kalau di desa ku ini, penduduknya jarang terkena penyakit.” Kaori berkata dengan senyuman bangga akan desanya yang tidak pernah mengalami penyakit aneh.   Haru melirik tajam ke arah Kaori yang sedang berkata.   “Kau belum menemukannya saja di desa mu. Mereka biasa datang sendiri, entah dari mana dan tidak selamanya semua makhluk yang berbahaya itu kecil. Ada juga yang berukuran besar dan sebagian fenomena misterius yang selalu menimpa suatu daerah, sama seperti yang di alami desa mu sekarang.” Haru berkata untuk mematahkan argumen Kaori yang terlalu cepat menyimpulkan bahwa desanya tidak pernah akan mengalami fenomena alam atau penyakit aneh.   “Begitu ya.” Kaori tertunduk malu karena Haru menatapnya dengan wajah yang terlalu serius.   “Apakah kau tahu kenapa desa mu bisa mengalami fenomena aneh?” Haru mencoba bertanya untuk melihat reaksi Kaori.   “Tidak, tahu,” kata Kaori sambil menggelengkan kepalanya.   “Begitu rupanya.”   “Tetapi, aku pernah melihat seorang perempuan seumuran ku berjalan tengah malam menuju hutan.”   Haru sedikit terkejut mendengar ucapan Kaori, dia menyipitkan matanya.   “Terus, apa yang selanjutnya kau lihat?”   “Aku tidak tahu, tiba-tiba waktu itu aku mengantuk dan tertidur.”   “Begitu rupanya,” kata Haru sambil memegangi dagunya. “Ini aneh sekali, dari penjelasan Kaori seolah mereka pergi dari desa seperti orang yang sedang berada dalam kendali.”   “Apakah saat itu kau merasa ada yang aneh?” tanya Haru untuk mencari informasi lebih tentang kejadian aneh di desa itu.   “Seingat ku ada sebuah serbuk atau embun ya. Aku tidak tahu pasti tetapi setelah itu aku langsung ngantuk dan tertidur hingga siang hari. Perempuan yang aku lihat malam itu menghilang pada keesokan harinya,” jelas Kaori kepada Haru.   “Begitu ya.” Haru merenung setelah mendengar penjelasan Kaori.   “Tuan Haru, apakah itu bisa membantu mu dalam menyelesaikan masalah ini,” ucap Kaori dengan tatapan mata yang penuh harapan.   “ Iya aku bisa menyimpulkan bahwa setiap, perempuan muda di desa ini seperti dipengaruhi sesuatu.”   “Sesuatu? Apa itu?” tanya penasaran Kaori kepada Haru.   “Aku tidak bisa mengetahuinya sampai sejauh itu,” ungkap Haru.   “Begitu ya. Oh iya tolong jangan diceritakan ke nenek ya, aku takut nanti dia tambah khawatir.” Kaori berkata dengan tersenyum kepada Haru   “Iya!” jawab Haru dengan nada suara yang tegas,   “Kalau aku permisi dulu.” Kaori kemudian pergi, untuk kembali melakukan aktivitasnya. Haru kembali sendirian di kamar itu.   “Menarik sekali, aku harap bisa segera mengungkap misteri ini,” ucap Haru.     Malam pun tiba, Haru sedang duduk di kamarnya sambil memandang awan. “Aku harap malam ini bulan purnama.” Awan yang di pandang Haru menyelimuti langit jadi dia tidak tahu apakah bulan purnama akan muncul.   Haru bergadang untuk menunggu bulan purnama muncul, dan matanya sudah mulai mengantuk.   “Astaga, mata ku mengantuk sekali,” kata Haru sambil menahan rasa kantuk yang menyerang dirinya. Lalu Haru teringat bahwa ada obat anti tidur yang pernah dibelinya dari Takuma, dia langsung mencari obat itu dari dalam tasnya.   “Ini dia obat anti tidur,” ungkap Haru setelah menemukan obat anti tidur.   Haru langsung meminum obat itu. “Oh…” Efeknya Haru langsung rasakan. Rasa kantuk yang dia rasakan menghilang seketika.   “Obat ini memiliki efek yang benar-benar kuat,” kata Haru setelah meminum obat itu.   Di tengah malam, awan yang semulanya menutupi langit kini mulai hilang dihembus angin. Bulan pun bersinar setelahnya.   “Indah sekali bulan di malam ini, sekarang mari kita lihat apa yang akan terjadi.” Haru mulai bersiap ketika bulan purnama sudah muncul.   Tiba-tiba kabut seperti embun datang di sertai bau aneh. Kabut itu menyelimuti seluruh desa, sehingga sulit sekali untuk melihat keadaan sekitar.   “Ini kan.” Haru terkejut melihat kabut yang seketika menyelimuti desa. “Tidak salah lagi kemungkinan ada sesuatu yang menyebabkan ini.”   Kaori tiba-tiba sudah berada di luar rumah dan berjalan. Haru menyadari hal itu langsung pergi menyusulnya.   “Kaori!” teriak Haru, tetapi Kaori terus berjalan menjauh.   Haru terus mengikuti Kaori pergi, dia sulit untuk melihat karena kabut embun yang sangat banyak. Kaori berjalan semakin jauh, hingga Haru kehilangan jejaknya.   Haru terperangkap di tengah hutan, kabut embun membuat dia sulit untuk menentukan arah.   “Cih… ke mana aku harus melangkah di tengah kabut seperti ini.” Haru merasa kesal karena dia terjebak di dalam kabut embun.       Tidak lama kemudian kabut embun yang menyelimuti desa, mulai menghilang. Perlahan Haru bisa melihat jalan dan arah. Dia langsung mencari Kaori yang tadi pergi entah ke mana.   “Kaori!” Haru mencoba untuk berteriak di tengah hutan yang sepi. “Ke mana sebenarnya kabut embun itu membawanya.”   Haru terus berjalan hingga tiba di sebuah tempat, dia terkejut di sana. Ada sebuah pohon yang sangat besar, dan di ujung pohon itu ada bunga dengan kelopak berwarna biru di bagian tengah kelopak ada yang berwarna merah seperti buah.   “Tidak mungkin ini adalah Shinzerenzu,” kata Haru, detak jantungnya berdegup dengan cepat keringat keluar dari tubuhnya.   “Kenapa pohon ini berada di sini? Huh…” Haru melihat sebuah kantung besar berada antara bagian pohon yang terhubung ke tubuh Shinzerenzu. “Jangan-jangan…” Haru langsung berlari ke arah kantung itu.   Dia mengambil golok yang ada di belakang pinggannya, lalu dia mencoba menebas akar yang membentuk sebuah kantung berukuran cukup besar.   Di saat itu Shizerenzu mengeluarkan kabut embun lagi, dan kantung yang Haru tebas terus ditutupi akar kembali. Haru kelelahan, berulang kali dia menebas akar-akar itu. Selalu saja kembali utuh membentuk sebuah kantung.   Haru tidak kehabisan ide dia melihat di ujung bagian atas kantung itu memiliki sebuah akar penghubung langsung ke pohon Shinzerenzu, lalu dia menaiki batang pohon Shizerenzu untuk memotong akar penyambung. Akar itu berhasil dia potong, kabut embun semakin banyak di keluarkan. Sebagai pertahanan.   “Percuma kau mengeluarkan sebanyak apapun kabut embun, aku sudah meminum obat anti tidur yang tidak akan membuat ku tidur selama dua belas jam,” ungkap Haru sambil tersenyum.   Lalu dia langsung menuju kantung yang terbentuk dari akar Shinzerenzu. Haru memotong beberapa bagian akar, dan setelah itu dia melihat Kaori yang tidak sadarkan diri.   “Kaori!” Haru coba membangunkannya tetapi dia masih tidak sadarkan diri. “Ini pasti karena dia masih berada di sekitar Shizurenzu.”   Haru berhasil mengeluarkan Kaori, setelah berusaha cukup keras dengan cara memotong ranting sudah menyelimuti tubuh Kaori. Dia mengendong Kaori untuk menjauhi Shinzerenzu.   Haru terus mengendong Kaori hingga kembali ke desa. Di sana neneknya Kaori sudah menunggu di depan pintu rumah.   “Tuan Haru! Apa yang terjadi?” tanya nenek Kaiesa. Dengan wajah cemas saat melihat Haru datang menggendong cucunya.   “Sebelum itu biarkan kami masuk rumah dulu,” ucap Haru yang sudah terlihat kelelahan, setelah keluar dari hutan dan berjalan sambil menggendong Kaori.   “Oh maaf, kalau begitu ayo sekarang masuklah ke dalam rumah.”   Haru masuk ke dalam rumah dan membaringkan Kaori di tempat tidurnya.   “Bagaimana keadaanya Tuan Haur?” tanya kembali Kaiesa, yang khawatir melihat putrinya tidak sadarkan diri.   “Kau tidak usah khawatir dia hanya tertidur,” ungkap Haru.     Kaiesa dan Haru, pindah ke ruangan yang berbeda untuk membicarakan hal yang Haru alami tadi. Di sana suasana menjadi tegang.   “Baiklah, aku sudah berhasil menemukan penyebab masalah kenapa desa mu setiap malam purnama selalu hilang, ini semua terjadi karena ada tanaman Shinzerenzu. Tanaman yang sangat jarang tumbuh, dahulu Shinzerenzu dianggap sebagai tanaman dewa. Dikatakan siapa pun yang memakan buah yang berada di ujung pohon ini akan memiliki kekuatan untuk bisa memanipulasi seluruh tanaman. Sehingga dia bisa mengendalikan akar, batang, dan aroma dari tumbuhan yang dia temui. Tetapi Shinzerenzu akan memberikan kutukan siapa saja yang memakan buahnya maka dia akan bertahan hanya selama 1 tahun setelah itu mati.   “Sekarang kita akan berbicara tentang tanaman ini. Shinzerenzu merupakan tanaman yang unik, dimana setiap dia ingin mendapatkan energi maka dia harus mengambil nutrisi dari dalam tubuh wanita yang masih muda.” “Kenapa harus wanita yang masih muda?” tanya heran Kaiesa kepada Haru.   “Aku juga tidak tahu, kemungkinan Shinzerenzu itu ibaratkan kelopak bunga yang tidak akan pernah menua. Dia akan mekar di tengah malam saat bulan purnama, dan menyebarkan serbuk sarinya yang berbentuk kabut atau embun. Serbuk sarinya ketika di hirup oleh manusia bukan yang menjadi targetnya akan menjadi ngantuk dan tidur, sementara bagi mereka yang menjadi target dari Shinzerenzu akan terpengaruh dan langsung berjalan menuju tempat Shinzerenzu tanpa disadarinya. Jika Shinzerenzu tidak bisa mendapatkan mangsanya dia akan menjadi layu dan mati menjelang pagi tiba.”   “Jadi setelah ini karena cucu ku tidak berhasil menjadi mangsa Shinzerenzu itu. Semuanya akan berubah dan hal yang kami takuti selama ini akan hilang.” Kaiesa menyimpulkan dari ucapan Haru dengan perasaan senang.   “Hmm… Mungkin.”Haru berkata sambil menutup matanya.   “Mungkin, kenapa. Tuan Haru.”   “Memang benar kalau Shinzerenzu akan mati jika tidak mendapatkan makanannya. Tetapi serbuk yang berupa kabut embun itu merupakan bibit-bibit kecil yang berasal darinya. Bukan tidak mungkin Shinzerenzu akan tumbuh kembali lagi.,” jelas Haru dengan nada yang serius.   “Begitu rupanya, terus apa yang harus kami lakukan.” Kaiesa merasa bingung, masalah yang dikiranya sudah berakhir ternyata masih akan terus berlanjut.   “Kau tidak usah khawatir, seperti yang ku bilang tadi Shinzurenzu merupakan tumbuhan yang sangat langka. Dia tidak akan mudah untuk tumbuh di suatu daerah, karena biasanya juga Shinzerenzu yang lama sudah mati maka Shinzerenzu yang baru akan tumbuh.”   “Begitu ya. Syukurlah.” Kaiesa merasa sedikit lega setelah mendengar ucapan Haru.   Setelah itu matahari mulai terbit. Cahaya matahari masuk ke kedalam ruangan tempat mereka mengobrol.   “Hoaaam…” Kaori bangun ketika hari sudah mulai terbit.   “Aku akan menginap di sini selama satu hari lagi untuk memastikan semuanya sudah aman.” Di ruangan lain Haru dan Kaiesa masih berbicara mengenai hal yang baru saja terjadi.   “Terimakasih, Tuan Haru.” Kaiesa menundukkan kepalanya.   “Sudah ku bilang, jangan lakukan itu kepada ku.”   Dan akhirnya pembicaran mereka selesai. Kaiesa pergi untuk melakukan kegiatan seperti biasanya. Sementara Haru kembali ke kamar untuk beristirahat meskipun dia tidak bisa tidur karena efek obat anti tidur yang diminumnya.   Di dalam kamar Haru merenung.   “Rasanya aku ingin sekali tidur, HAH…” keluh Haru.   “Permisi.” Shoji di geser oleh Kaori yang datang membawakan makanan.   Kaori meletakan makanan itu di dekat meja yang sudah disediakan di dalam ruang kamar.   “Kenapa Tuan Haru, wajah mu seperti terlihat sangat lesu.”Kaori memandang wajah Haru yang terlihat kelelahan.   “Uhh… Tidak aku hanya habis begadang semalam.” Haru coba mencari alasan. “Sebenarnya ini semua karena aku menyelamatkan mu tadi malam.”   “Hmm… Oh iya Tuan Haru, aku mau cerita semalam aku mimpi aneh.” Kaori berkata sambil tersenyum.   “Mimpi?” tanya Haru.   “Iya, di dalam mimpi itu aku merasa di gendong oleh laki-laki tampan dan dengan beraninya menyelamatkan ku dari lilitan monster.” Mata Kaori bersinar ketika dia menjelaskan mimpinya.   “Huh…” Haru merasa kaget mendengar yang dikatakan Kaori. “Sebenarnya yang melakukan itu semua adalah diri ku.” Haru tersenyum sambil menutup matanya.   “Kenapa kau tersenyum? Apakah kau juga bermimpi indah juga.” Kaori merasa penasaran setelah melihat Haru yang tiba-tiba tersenyum.   “Tidak, aku hanya senang mendengar cerita mu.” Haru beralasan untuk tidak mengungkapkan kejadian semalam.   “Ohh… ya sudah kalau begitu.”     Besoknya Haru mulai pergi meninggalkan rumah Kaori dan neneknya. Untuk melanjutkan perjalanan.   Sebelum Haru pergi dia sudah berpesan kepada Kaiesa untuk mencari bibit Shinzerenzu yang kemungkinan masih bisa tumbuh. Kaiesa pun menuruti keinginan Haru dia menyuruh penduduknya ketika menemukan bibit Shinzerenzu segera cabut atau bunuh.   Sementara Kaiesa menceritakan kepada Kaori bahwa Haru yang menyelamatkan dia dari Shinzerenzu. Kaori pun kaget karena pria tampan yang ada di dalam mimpinya itu adalah Haru. Dia jadi mulai jatuh cinta kepada Haru, dan menantikan kedatangan Haru lagi untuk berterimakasih karena sudah menyelamatkan hidupnya.     Kehidupan selalu membutuhkan perjuangan, meskipun perjuangan itu harus mengambil dan merugikan kehidupan lain. Alam selalu memiliki keunikan dan kengerian tersendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN