Ada suatu desa yang mengalami kekeringan, hujan sangat jarang turun. Para warga di sana kesulitan untuk mencari air, kebanyakan dari mereka akhirnya mati karena kehausan dan kelaparan.
Tanah yang kering tidak bisa di tanami makanan, hingga suatu ketika. Ada seorang penduduk menanam benih di tanah yang tandus itu. Orang tersebut berasal dari desa itu, tetapi dia sering pergi mengembara untuk menemukan cara supaya tanah kampung halamannya bisa subur.
Hingga dia menemukan sebuah benih di pedalaman hutan. Benih itu memiliki sinar yang cukup indah. Dia jadi tertarik membawa benih itu kembali ke desanya.
Sesampai di desanya dia langsung menanam benih itu, ketika benih sudah tertimbun tanah dia menyiram menggunakan air minumnya yang tinggal sedikit, lalu pria itu pergi dari desanya.
Setengah tahun kemudian, benih yang dulu ditanam oleh pria itu tumbuh dengan sendirinya, menjadi pohon yang sangat tinggi. Tanaman lain juga mulai ikut tumbuh. Tanah yang dulunya sangat sulit ditumbuhi tanaman, sekarang sudah menjadi hutan yang lebat.
Pria itu kembali ke desanya dia sangat terkejut karena sudah melihat desanya yang dulu tandus, sekarang sudah menjadi desa yang dikelilingi tanaman hijau. Para warga tidak kekurangan makanan dan air. Semenjak pohon yang di tanaman pria itu tumbuh menjadi pohon air mulai mengalir lagi menuju desanya.
Semua penduduk berterimakasih pada pria yang telah menanam pohon itu, dan mereka sangat mengagungkan pohon yang dianggap sebagai penyelamat hidup mereka. Bahkan para penduduk selalu berdoa kepada pohon, sebagai tanda terimakasih.
Tetapi di balik semua berkah yang mereka terima ada resiko yang harus mereka bayar. Yaitu setiap akhir tahun akan ada salah satu warga yang akan meninggal. Warga yang meninggal di bawa ke pohon yang mereka anggap sebagai pemberi berkah, lalu meninggalkan jasadnya di sana. Dan kegiatan itu sudah menjadi tradisi mereka, bahwa mereka harus siap setiap akhir tahun salah satu orang dari desa mereka akan meninggal, tradisi itu di lakukan hingga sekarang.
Haru yang tidak tahu akan cerita itu kini sedang dalam perjalanan menuju desa itu. Dia tepat datang hampir menjelang akhir tahun.
“Mm… apakah akan ada festival?” Sampai di sana Haru melihat para warga sedang menyiapkan perayaan untuk memperingati panen dan kesehatan yang mereka dapatkan.
Haru mencoba bertanya kepada seorang pria yang sedang menyiapkan tempat untuk berdagang.
“Maaf aku ingin tanya, apakah akan di adakan sebuah festival di sini?”
“Ohh… kau pasti seorang pengembara, ya kami akan melakukan perayaan untuk mengucapkan rasa terimakasih atas berkah yang diberikan oleh pohon besar yang ada di sana.” Pria itu berbicara, sambil memandang pohon besar yang bisa dilihat dari desa.
“Begitu rupanya. Terimakasih,” ucap Haru.
“Iya, sama-sama.”
Haru kemudian pergi, ke pinggir desa. Di sana dia memandang pohon itu.
“Hmmm… Pohon pemberi berkah! Mungkin aku akan menemukan sesuatu jika aku ke sana.” Haru hendak pergi ke tempat pohon besar itu tumbuh. Tiba-tiba dia melihat seorang pria paruh baya datang menghampirinya.
“Kau pasti bukan, berasal dari daerah sini,” kata pria paruh baya sambil berjalan mendekati Haru.
“Iya, aku berasal dari daerah yang jauh dari sini,” jelas Haru.
“Dari penampilan mu sepertinya kau adalah seorang Dokter Alam.” Pria paruh baya itu berkata sambil melirik tajam ke arah Haru.
“Kenapa kau bisa tahu?” Haru cukup terkejut dengan yang dikatakan pria yang ada di hadapannya.
“Dulu aku pernah melakukan perjalanan menjelajahi alam untuk membebaskan desa ku dari kekeringan yang parah, dan saat aku melakukan perjalanan itu aku bertemu dengan berbagai macam orang termasuk mereka yang disebut sebagai Dokter Alam. Aku banyak belajar dari mereka tentang kehidupan di alam yang penuh dengan hal misterius.”
“Heeh… berarti kau merupakan orang yang sudah pernah bertahan hidup di alam bebas,” kata Haru sambil tersenyum simpul.
“Iya, alasan ku kembali karena ku dengar desa ku sudah tidak mengalami kekeringan lagi. Jadi aku putuskan untuk kembali lagi ke desa ini.” Pria itu berkata dengan ekspresi datar tetapi di dalam matanya ada sebuah kesedihan.
“Ohh begitu ya,” kata Haru sambil menatap mata pria itu. “Kenapa aku merasa ada yang di sembunyikan ya.”
“Mumpung kau ada di sini nikmatilah festivalnya!” Lalu pria itu pergi.
Haru kembali memandangi pohon besar. “Entah kenapa ada misteri besar, sepertinya yang sedang dia coba sembunyikan.”
Haru nekat pergi ke arah pohon besar itu. Hutan yang subur ditumbuhi berbagai macam tumbuhan. Semua hal itu yang Haru lihat saat berjalan menuju pohon besar.
Haru sampai tepat di lokasi pohon besar itu.
“Tidak mungkin ini adalah Tokoshinju.” Haru sangat terkejut setelah melihat dari jarak yang dekat pohon itu, merupakan pohon Tokoshinju.
Pohon Tokoshinju merupakan pohon yang memiliki energi mistis. Ketika dia tumbuh akarnya akan masuk kedalam tanah dan menjalar hingga sangat jauh. Dari akar itu akan memberi kesuburan bagi tumbuhan yang ada di sekitarnya, bahkan sawah pun akan mudah tumbuh dan di panen meskipun saat itu sedang musim kemarau.
Tetapi bagi manusia yang memakan hasil panen yang tumbuh di atas akar Tokoshinju, maka akan berdampak buruk. Mungkin kalau memakannya hanya sesekali efeknya tidak akan berpengaruh, tetapi jika memakan hasil panen yang tumbuh di atas akar Tokoshinju secara terus menerus maka tubuh manusia tidak akan bisa bertahan. Karena yang mereka makan adalah energi besar milik Tokoshinju.
“Begitu rupanya, ini alasan kenapa warga desa itu memanggil festival dengan sebutan perayaan atas berkah yang di berikan pohon.”
“Sudah kuduga, kau akan pergi ke sini!” Tiba-tiba pria yang tadi berbicara dengan Haru datang dari arah belakang sambil berbicara.
Haru melihat ke arah pria itu dengan perasaan yang cukup kaget.
“Pasti kau yang telah menanam pohon ini?” Haru bertanya dengan menyipitkan matanya.
“Iya itu benar.” pria itu berkata dengan tatapan tajam ke arah Haru.
“Apakah kau tahu resiko menanam pohon ini,” ucap Haru dengan nada yang tegas.
“Itu bukan urusan mu, ini demi kebaikan desa ku. Kau tahu apa.” Pria itu tidak menyukai Haru yang sudah ikut campur tradisi desanya.
Suasana menjadi tegang karena perdebatan mereka berdua.
Lalu pria yang ada di hadapan Haru, memandang pohon besar yang ada di belakang Haru.
“Akan ku beritahu kenapa aku melakukan semua ini. Dahulu desa ku mengalami kekeringan yang sangat mengerikan. Untuk mendapatkan air bersih sangat sulit, tanaman hijau tidak bisa tumbuh di tanah ini. Aku melakukan perjalanan demi mengembalikan kesuburan di desa ku. Dalam perjalanan, aku menemukan bibit yang bersinar lalu aku simpan hingga aku kembali ke sini. Awalnya aku tidak pernah mengira kalau bibit yang ku tanam akan menjadi pohon yang tumbuh besar di tanah yang kering dan tandus. Berkat pohon ini semua penduduk desa bisa bertahan hidup.”
“Tetapi kau pasti sudah tahu resikonya jika menggunakan bibit pohon ini, maka nyawa harus di berikan.”
“Aku tidak pernah mempermasalahkan itu, semua penduduk di sini tahu akan hal itu.”
“Itu sama saja kau membunuh satu-persatu penduduk desa, apakah itu yang kau katakan menyelamatkan desa?”
“Ya itu lebih baik. Membuang satu nyawa untuk menyelamatkan banyak nyawa.”
“Pada akhirnya nyawa mu sendiri akan menjadi korban atas perbuatan mu ini.”
“Aku sudah siap akan hal itu.”
“Begitu rupanya. Kalau memang seperti itu aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.”
“Sebagai Dokter Alam pasti kau sudah mengerti, setiap daerah memiliki masalahnya masing-masing.”
“Iya kau benar. Aku hanya ingin memperingati mu satu hal, menggunakan alam terlalu berlebihan maka, alam akan mengambil yang sudah menjadi hak miliknya. Dan itu terjadi di desa mu. Kalau begitu sampai jumpa.”
Lalu Haru pergi meninggalkan pria yang ada di hadapannya. Pria itu merenung dengan menatap Tokoshinju.
“Selama semuanya begini tidak apa, asalkan semua warga kebutuhannya menjadi terpenuhi,” ungkap pria itu.
Haru tidak ingin pergi ke festival, dia lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan.
Setiap jasad yang di bawa ke Tokoshinju. Akan diambil oleh akar pohon Tokoshinju, dan diubah menjadi energi yang akan terus dialirkan ke dalam tanah melalui akar.
Alam itu harus digunakan dengan bijak, jika digunakan berlebihan maka alam akan mengambil apa yang menjadi miliknya.
Setiap daerah memiliki masalahnya masing-masing, untuk mengatasinya manusia rela melakukan apapun meskipun itu adalah nyawa mereka sendiri. Keserakahan akan berdampak pada kehidupan yang lebih besar. Alam memiliki kehidupan yang tidak mudah untuk di ungkap kan melalui sebuah kata-kata.
Haru akan tetap melanjutkan perjalanannya, mengikuti arah angin.