Setelah mengobati Ibunya Tanae dan Maname. Haru melanjutkan perjalanannya ke arah selatan. Salju juga mulai turun, dia sangat kesulitan berjalan karena salju, menumpuk sangat banyak di jalan yang dia lalui.
“Haduhh sulit sekali berjalan, banyak sekali saljunya,” keluh Haru. “Mm…”
Tiba-tiba Haru mendengar sebuah nyanyian.
“Teruslah untuk kau berdiri di sana…”
“Siapa yang sedang bernyanyi?” Haru merasa bingung, suara itu cukup merdu didengarnya. Dia mencoba mencari siapa yang bernyanyi dengan mengikuti arah suara itu.
Setelah berjalan cukup jauh suara itu semakin keras, dan jelas. Haru melewati beberapa pohon, dan dibalik salah satu pohon itu Haru melihat seorang wanita. Wanita itu berada di seberang danau yang membeku.
Haru memandang wanita yang sedang bernyanyi dengan serius. “Apa yang dia lakukan di sana.”
“Kau selalu ada di ha—“ Wanita itu berhenti bernyanyi, karena melihat Haru dari kejauhan. Dia terkejut dan langsung pergi dari tempat itu.
“Hah… Kenapa dia lari?” Haru heran kenapa wanita itu lari ketika melihat dirinya.
Haru penasaran dengan wanita itu, jadi dia mencari jalan memutari danau yang sedang beku. Dia sengaja tidak memilih menyebrangi danau, karena danau yang beku memiliki permukaan yang rapuh. Jadi kemungkinan dia bakal terperosok masuk kedalam danau yang memiliki suhu yang sangat dingin.
Dia sampai di tempat wanita yang bernyanyi tadi.
“Kemana wanita itu tadi perginya?” Haru mengamati sekeliling tempat itu, kemudian dia melihat beberapa jejak kaki.
Haru berjalan mendekati jejak-jejak kaki yang dilihatnya. “Ini pasti jejak kaki wanita tadi.”
Haru melihat jejak kaki itu menuju ke suatu tempat. Jadi dia mulai mengikutinya, jejak kaki yang dia ikuti masuk ke dalam hutan dan berhenti di sebuah rumah. Kemudian Haru berjalan menuju rumah yang dia lihat.
Tok… Tok…
“Aduh bagaimana ini dia datang kemari.” Wanita yang Haru lihat tadi berada di dalam rumah yang Haru ketuk. Dia menjadi sedikit panik karena Haru datang dan mengetuk pintunya.
“Apakah ada seseorang di dalam?” Haru mencoba memanggil wanita yang ada di dalam rumah. Tetapi tidak ada jawaban.
Lalu terdengar suara gaduh dari belakang rumah, Haru langsung pergi memeriksanya, dia terkejut melihat wanita yang tadi bernyanyi di pinggir danau beku. Berlari menuju ke atas hutan.
“Kenapa wanita itu selalu menghindar,” kata Haru sambil melihat wanita itu yang terus berlari menjauh.
Tiba-tiba wanita itu tergelincir jatuh.
“Apa!” Haru yang melihat itu langsung bergegas menuju tempat wanita itu, untuk melihat keadaannya. Di sana Haru melihatnya pingsan dengan kaki dan kepala berdarah.
“Ya ampun ada apa dengan wanita ini.”
Kemudian Haru membalut lukanya dengan kain, lalu menggendongnya kembali ke rumahnya.
Diperjalanan wanita itu setengah sadar. “Apa yang terjadi dengan diriku. Siapa pria yang menggendong ku ini?” Dia tidak menyadari bahwa pria itu adalah Haru yang berusaha dia hindari sejak dari tadi, kemudian dia pingsan lagi.
Haru tiba di rumah wanita yang digendongnya, lalu Haru membaringkan tubuhnya di atas kasur yang sudah tersedia di rumah itu. Kemudian Haru membuat ramuan obat untuk dioleskan keluka wanita yang sedang pingsan tadi.
“Kulit wanita ini sangat dingin sekali,” ungkap Haru saat dia mencoba mengoleskan obat. Lalu dia tutup dengan kain.
Tidak beberapa lama kemudian setelah Haru mengobati lukanya, dia sadar.
“Aku di mana? Aduh kepala ku,” kata Wanita ketika sadar dan ia langsung duduk. Di saat itu Haru sedang menatap dirinya dengan tajam.
“Kau siapa?” Dia menyadari Haru yang sedang menatap dirinya.
“Huhh sudah ku duga, kau akan berkata seperti itu.” Haru berkata sambil menghela nafas.
Lalu Haru mengambil sebuah cangkir, di dalam cangkir itu sudah terisi air berwarna hijau muda. Kemudian dia membawa cangkir itu, untuk di berikan kepada wanita yang sedang duduk diatas kasur.
Wanita itu sedikit gugup ketika Haru berjalan ke arahnya.
“Ini minumlah!” Haru berkata sambil memberikan cangkir yang ada di tangannya.
“Uh… Terimakasih.” Dia sedikit terkejut ketika Haru memberikan cangkir itu. “Minuman apa ini kok warnanya hijau.”
Kemudian wanita itu meminum air yang diberikan Haru.
“Uek… Pahit sekali.” Wanita itu merasa kepahitan di lidahnya setelah mencicipi minuman yang di berikan Haru.
Haru tersenyum simpul, ketika melihat ekspresi wanita itu yang sedang kepahitan.
“Kenapa kau tersenyum! Sebenarnya minuman apa ini?” Wanita itu merasa jengkel melihat Haru yang tersenyum ke arahnya ketika dia sedang merasa kepahitan.
“Tidak, minuman itu terbuat dari beberapa tanaman herbal. Dan juga jika meminumnya luka yang ada di kaki dan kepala mu pasti akan cepat sembuh,” ungkap Haru. “Tetapi hebat juga dia bisa bertahan di daerah seperti ini, sendirian pula.”
Wanita itu menunjukkan wajah sedih pandangannya sedang menatap minuman yang ada di tangannya.
“Maaf kan aku. Tadi aku terus menghindar dari mu.” Wanita itu berkata dengan wajah sedih menatap Haru.
“Tidak perlu, tentunya kau pasti punya alasan.”
“Nama ku adalah Aviana. Sudah lama aku sendirian tinggal di sini jadi kalau ada yang datang ke sini aku merasa sedikit malu.”
Haru melihat wajah Aviana sedih ketika dia berbicara tentang kehidupannya.
Aviana wanita berumur 22 tahun, dengan rambut berwarna putih dan mata berwarna biru serta memiliki wajahnya yang cantik. Membuat Haru semakin penasaran kenapa dia hidup di sini sendirian.
“Kenapa kau sendirian di sini?” tanya Haru. “Dilihat dari penampilannya dia seperti gadis biasa.”
Aviana terdiam sejenak. “Ini karena aku memiliki semacam kelainan,” kata Aviana dengan wajah yang sedih.
“Kelainan? Apa maksud mu.” Haru semakin penasaran dengan Aviana.
“Iya, setiap aku berbicara di musim dingin maupun di musim semi dan kemarau. Salju akan turun, dan akan membuat seluruh tempat menjadi tertimbun salju,” ungkap Aviana kepada Haru.
Haru heran dan semakin penasaran. “Kenapa itu bisa terjadi?”
“Ini semua ketika Ibuku menginginkan seorang anak. Dia sudah menikah 3 tahun tapi belum juga mendapatkan anak. Suatu ketika di saat musim dingin seperti sekarang, ibuku berjalan-jalan masuk kedalam hutan. Di sana dia melihat sebuah mata air jernih yang berada di sebuah lubang yang terbuat dari akar pohon yang sangat besar. Anehnya air itu tidak membeku sama sekali, ibuku tertarik untuk mencoba meminumnya.
“… Lalu setelah meminumnya ibuku pingsan. Ayah ku dan beberapa orang warga mencoba mencarinya dan menemukan dia tergeletak di tengah hutan sendirian. Lalu mereka membawanya kembali ke desa. Seminggu kemudian ibuku dikabarkan hamil, kedua orang tua ku menjadi senang dan para penduduk desa juga memberi ucapan selamat kepada mereka. Hingga waktu kelahiran ku tiba, aku lahir dengan bayi yang terlihat aneh kulit tubuh ku sangat pucat dan rambut ku berwarna dengan mata berwarna biru. Ibu dan ayah sangat menyayangi ku. Sekitar umur ku 7 bulan kejadian aneh muncul, setiap aku mengeluarkan suara salju turun dan tidak akan berhenti selama aku terus bersuara. Semua warga menjadi heran karena waktu tidak menunjukan musim dingin, tetapi salju terus turun hingga menutupi seluruh desa. Kedua orang tua ku merahasiakan ini dari warga sekitar. Hingga aku berumur 2 tahun, aku sangat suka bernyanyi dan salju pun semakin banyak turun. Ibuku melarang aku untuk bernyanyi karena akan membuat salju turun semakin banyak. Aku yang waktu itu tidak mengerti apa-apa akhirnya terus membuat salju turun sepanjang tahun. Saat umur ku 16 tahun, ayah ku jatuh sakit, penyakit itu tidak ada yang bisa menyembuhkannya. kurang dari 2 bulan ayah ku meninggal, ibu sangat terpuruk dan sedih. Dia menyalahkan ku, karena aku yang terus bernyanyi sehingga membuat salju tidak pernah berhenti dan akhirnya ayah ku meninggal.
“Semenjak saat itulah aku tidak pernah mau bernyanyi bahkan aku tidak mau berbicara lagi. Aku memutuskan untuk pergi dari rumah, lalu menemukan tempat ini. Aku selalu menghindar ketika ada orang yang melewati danau karena aku tidak mau satu orang pun tahu keberadaan ku.”
“Itu alasan kenapa salju di daerah ini sangat tebal, sampai menutupi jalan.” Setelah mendengarkan penjelasan Aviana, Haru bisa menyimpulkan semua salju yang turun itu karena dirinya.
“Itu artinya musim dingin ini juga merupakan ulah mu?” kata Haru dengan nada serius sambil menatap Aviana.
“Tidak, setelah aku pergi dari rumah. Aku memutuskan untuk tidak berbicara selama bertahun-tahun, dan aku hanya akan bersuara ketika musim dingin datang saja,” jelas Aviana kepada Haru.
“Begitu rupanya, jadi karena itulah kau bernyanyi tadi, supaya membuat semuanya menjadi hal biasa ketika salju turun.”
Aviana mengangguk.
Haru teringat sesuatu, bahwa sebelum dia ke sini. Dia mampir dulu ke rumah wanita tua, dan wanita tua itu menyampaikan bahwa ada seorang perempuan terkena penyakit aneh dari arah selatan desa. Haru sadar yang dimaksud oleh wanita tua itu adalah Aviana, bukan Ibu dari Tanae dan Maname yang sebelumnya dia jumpai.
“Apakah kau tahu, keadaan ibu mu sekarang?” Haru mencoba bertanya untuk memastikan perasaan Aviana.
“Tidak! aku sudah tidak tahu kabarnya sekarang, karena sudah semenjak aku pergi dari rumah aku tidak pernah lagi melihatnya,” ungkap Aviana dengan wajah yang sedih.
“Begitu rupanya.”
“Pasti dia sekarang bahagia karena tidak perlu lagi melihat anak seperti diri ku yang hanya menyebabkan masalah.” Aviana meneteskan air mata ketika ia berbicara.
“Tidak, mungkin saat ini dia merasa kesepian karena tinggal sendirian. Cobalah sesekali kau lihat keadaannya, dan mungkin dia juga sudah menyesal atas perbuatannya kepada mu.”
Aviana terdiam sambil menundukkan kepalanya.
Susana menjadi hening sejenak.
Lalu Haru berkata lagi. “Aku akan menjelaskan alasan kenapa, setiap kali kau mengeluarkan suara salju pasti turun. Apakah kau tertarik untuk mendengarnya?”
“Benarkah kau tahu penyebabnya.” Aviana berkata sambil menatap Haru dengan tatapan mata yang masih sedih.
“Mungkin, tetapi dari semua catatan yang k*****a. Semua masalah ini terjadi karena satu sebab.”
“Apa itu?” tanya Aviana dengan penasaran.
“…Air yang diminum ibumu itu. merupakan air Tokoanzuamizu. Air itu memiliki kekuatan misterius, karena bagi laki-laki yang meminumnya tidak akan merasa kedinginan meskipun berada di suhu yang sangat dingin, namun jika perempuan yang meminumnya selain membuat ketahanan tubuh meningkat juga akan berdampak pada anak yang dilahirkan dari rahimnya. Itu sebabnya setiap kau berbicara maka akan turun salju.
“Tokoanzumizu, adalah air yang sangat langka banyak orang yang mencarinya ketika ingin pergi ke daerah dingin atau untuk dijual karena harganya yang cukup mahal. Tokoanzumizu sangat sulit di temukan, air ini akan muncul di tempat yang tak terduga dan jarang sekali ada orang yang beruntung menemukannya.”
“Begitu ya. Kalau ini sudah menjadi takdir ku, akan ku terima dengan ikhlas.” Aviana berkata sambil tersenyum.
“Iya benar, tidak ada gunanya mengeluh.”
Setelah keadaan Aviana mulai membaik, Haru bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya.
Di saat Haru sedang memasang sepatunya, dia berkata, “Sebelum aku pergi. Aku akan memberitahu mu sesuatu yang mungkin akan membuat mu bahagia!”
“Apa apa itu?” Aviana menjadi penasaran, karena Haru berbicara aneh.
“Nanti cobalah berjalan melewati danau, tempat pertama kali kita bertemu. Dari sana berjalan lah ke arah timur laut, nanti kau akan menemukan sebuah rumah.” Lalu Haru tersenyum setelah berbicara.
“Huh apa maksud mu?” Aviana semakin penasaran.
“Kau akan tahu sendiri. Kalau begitu aku permisi dulu!” Haru lalu pergi melanjutkan perjalanannya.
Aviana masih bingung dan penasaran dengan ucapan Haru seperti itu.
“Apa yang dia maksud?” Tiba-tiba Aviana teringat sesuatu. Lalu dia berjalan cepat keluar pintu rumahnya
“Maaf aku lupa bertanya siapa nama mu…” teriak Aviana.
Haru sudah berjalan cukup jauh, ketika Aviana baru sadar. Bahwa dia lupa menanyakan nama Haru.
Haru masih bisa mendengar suara teriakan Aviana dari kejauhan. Lalu dia melihat ke arah sumber suara itu.
“Nama ku Haru.” Haru berteriak juga untuk menjawab Aviana.
“Terimakasih Haru…” teriak kembali Aviana sambil melambaikan tangannya.
Haru hanya tersenyum dari kejauhan.
Haru kembali melanjutkan perjalanannya.
Tiga hari kemudian Aviana mengikuti apa yang dikatakan Haru dia berjalan ke arah timur laut. Dia berjalan hingga menemukan sebuah rumah. Lalu Avinia mengetuk pintu itu, dan pintu dibuka oleh wanita tua yang Haru pernah temui sebelumnya.
Aviana terkejut ketika melihat wanita tua yang membukakan pintu. Ternyata itu adalah ibunya.
“Ibu.” Aviana langsung berlari memeluk ibunya dan menangis.
Ibunya juga ikut terkejut ketika melihat orang yang ada di hadapannya adalah putrinya yang selalu dia rindukan.
“Aviana, maafkan ibu. Karena ibu sudah jahat pada mu.” Ibunya ikut menangis ketika Aviana memeluk dirinya.
“Ibu, mulai sekarang biarkan aku tinggal bersama mu.”
Ibunya mengangguk dengan senyuman serta air mata yang terus keluar.
Kemudian akhirnya mereka hidup bersama lagi.
Sebuah nyanyian di tengah hutan, dan setiap nyanyian itu terdengar akan selalu ada salju yang turun.
Semua kehidupan adalah anugerah yang di berikan yang maha kuasa, tinggal kita yang menanggapi hidup itu merupakan pemberian tuhan yang harus disyukuri atau diingkari. Kehidupan ini akan terus berjalan hingga, suatu saat nanti sang pemberi kehidupan mengambil kembali kehidupan ini.
Haru masih akan terus menelusuri alam yang masih memiliki sejuta misteri. Di luar sana masih banyak hal misterius yang masih belum terungkap. Langkah kaki Haru akan terus berjalan untuk menuju tempat dan daerah yang memiliki masalah misterius lainnya.