Di musim salju yang dingin Haru terus melanjutkan perjalanannya, dia melintasi sebuah bukit yang cukup tinggi.
“Uh… Sebaiknya aku mampir ke desa itu, untuk menghangatkan diri!” Di saat dia berjalan terlihat, sebuah desa kecil dari bawah bukit. Lalu dia memutuskan pergi ke desa itu, untuk mencari penginapan.
Tiba-tiba badai salju datang, ketika dia sedang dalam perjalanan menuju desa.
“Kenapa harus ada, badai salju harus datang. Aku harus segera mencari penginapan.” Pandangan Haru cukup terhalang, karena badai salju. Dia berusaha terus pergi menuju desa, meskipun pandangannya terhalangi oleh salju yang diterbangkan angin.
Di tengah badai salju, Haru melihat sebuah rumah kecil.
“Sebaiknya aku mampir ke rumah itu dulu!”
Kemudian Haru, pergi menuju rumah yang dia lihat.
Tok… Tok…
“Uh… Sepertinya ada orang yang mengetuk pintu.”
Pemilik rumah itu merupakan seorang wanita tua. Dia mendengar suara seseorang mengetuk pintu rumahnya lalu membukanya. Wanita itu melihat seorang pria yang tak lain adalah Haru.
“Boleh aku menumpang, menginap di sini sampai badai salju ini reda,” ucap Haru sambil menahan rasa dingin di seluruh tubuhnya.
“Boleh! Silahkan masuk,”
Haru kemudian masuk ke dalam rumah. Kemudian duduk di sebuah ruangan yang sudah ada tungku bara api untuk menghangatkan tubuh.
Wanita tua itu membawakan air hangat untuk Haru.
“Pasti sangat sulit, berjalan di tengah badai salju seperti ini,” ucap wanita tua sambil memberikan air hangat kepada Haru.
“Iya, perjalanannya sangat sulit. Tubuh ku merakan dingin hingga ke dalam tulang.” Haru meminum air hangat yang diberikannya.
“Hehehe.” Wanita tua itu tertawa kecil mendengar perkataan Haru, “Tetapi bagi kami yang tinggal di daerah sini, ini sudah menjadi hal yang biasa.”
“Begitu rupanya!”
“Oh iya, hendak pergi ke mana kau?” tanya Wanita tua dengan heran, karena dia melihat Haru yang membawa tas yang cukup besar.
“Mm… Aku seorang penjelajah, lebih tepatnya seorang Dokter Alam. Orang yang biasa berurusan dengan masalah-masalah aneh yang di akibatkan oleh alam.”
“Begitu ya, ku kira kau seorang pedagang, karena kau membawa tas ukuran yang cukup besar,” ucap Wanita tua itu sambil tersenyum.
“Apakah di sekitar sini ada masalah penyakit aneh atau fenomena aneh?” Haru bertanya dengan wajah yang serius.
“Tidak jauh dari tempat ini ada sebuah desa, kau pergilah ke arah selatan desa itu, nanti kau akan menemukan seseorang yang terkena penyakit aneh.”
“Penyakit aneh! Penyakit apa itu.”
“Aku tidak tahu secara detailnya, penyakit itu membuat tubuhnya menjadi dingin.”
“… Begitu rupanya, nanti aku akan coba mampir ke sana.”
Haru menetap di sana selama satu malam, sebelum dia pergi menuju desa.
Di pagi harinya Haru sudah bersiap melanjutkan perjalanannya lagi.
“Terimakasih, maaf telah merepotkan mu,” kata Haru sambil menundukkan kepalanya.
“Tidak apa-apa, aku malah senang kau berada di sini,” ucap wanita tua itu dengan senyuman di wajahnya.
“Kalau begitu aku pergi dulu!”
Haru kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa.
Sesampainya di desa. Haru langsung mencari rumah yang dimaksud wanita tua yang di tempat Haru menginap tadi, dia mencari dan bertanya kepada beberapa warga di sana.
Haru berhenti di hadapannya ada rumah yang cukup besar, “Pasti ini rumah yang di maksud.”
Seorang anak perempuan melihat Haru dari jendela, sedang berjalan menuju rumahnya.
“Siapa orang itu?”
Haru sampai di depan pintu, dia hendak mengetuk pintu tetapi pintu itu di buka oleh seorang anak perempuan kecil. Dia menatap Haru dengan heran.
“Kakak siapa?” tanya anak perempuan yang ada di hadapan Haru.
“Apakah kau tinggal di sini,” kata Haru, dengan senyum simpul di wajahnya.
Anak itu mengangguk.
“Tanae kau bicara denga—“ Seorang anak laki-laki tiba-tiba muncul dari dalam rumah, dan dia terkejut ketika melihat adiknya sedang berbicara dengan Haru.
“Sepertinya dia kakak kandung dari anak ini.”
Anak laki-laki itu berjalan mendekati Haru dan adiknya. “Kau siapa?” tanya anak laki-laki kepada Haru.
“Aku Haru, seorang Dokter Alam,” jawab Haru.
“Dokter Alam?”
“Kalau begitu kakak seorang Dokter dong,” cetus Tanae di hadapan Haru dengan wajah polosnya, yang penuh harapan.
“Tidak juga, biasanya Dokter Alam mengatasi masalah aneh, seperti penyakit aneh dan fenomena alam,” jelas Haru sambil tersenyum ke arah Tanae.
“Penyakit Aneh,” ucap pelan anak laki-laki, yang berada di samping Tanae.
Senyuman Haru berubah menjadi wajah serius.
“Aku dengar di rumah ini ada, orang yang sedang sakit,” kata Haru sambil menatap tajam ke arah kakaknya Tanae yang ada di hadapannya.
Tanae memegang baju kakaknya lalu berkata, “Abang! Kakak ini seorang Dokter, mungkin dia bisa menyembuhkan ibu yang sedang sakit.”
Kakaknya Tanae memalingkan pandangannya ke arah lain. Haru melihat ekspresi wajah sedih dari dirinya.
“Sepertinya memang benar kalau ada yang sakit di rumah ini, biarkan aku memeriksanya mungkin aku bisa menyembuhkannya!” jelas Haru sambil menatap wajah Kakaknya Tanae. “Dari ekspresi wajahnya pasti penyakit yang di alami sangat serius.”
“Kalau memang benar begitu, silahkan masuk,” kata anak laki-laki dengan memalingkan wajahnya, untuk menyembunyikan ekspresi sedihnya.
“Ayo Kakak! Silahkan masuk.” Tanae berkata dengan senyuman lebar di wajahnya.
Haru mengangguk dengan senyum simpul ke arah Tanae. “Anak ini ceria sekali, tetapi berbeda dari Kakaknya yang seperti sedih dan kesal.”
Tanae dan kakaknya membawa Haru ke dalam, rumahnya menuju sebuah kamar. Di kamar itu Haru melihat seorang perempuan yang merupakan ibu mereka, terbaring lemas.
“Ibu…” Tanae yang masih kecil, langsung berlari mendekati ibunya.
“Tanae jangan berlari seperti itu.” Kakaknya coba menegur Tanae yang sedang berlari.
“Tidak apa-apa Maname. Bagaimana keadaan mu Tanae apakah kau sehat,” ucap ibu mereka dengan suara yang pelan, karena kondisinya yang lemah.
“Iya,” jawab Tanae sambil mengangguk dengan senyuman di wajahnya.
“Syukurlah.” Ibu Tanae tersenyum juga ke arah Tanae.
“Sedih sekali melihat mereka, Tanae yang belum tahu apa-apa tentang penyakit ibunya terus tersenyum bahagia. Sementara Kakaknya alasan dia menjadi kesal, karena tidak bisa melihat Ibunya yang terbaring lemah.”
Wanita itu melihat ke arah Haru dengan heran. “Kau siapa?”
“Ibu, dia Tuan Haru, seorang Dokter Alam.” Maname yang menjawab pertanyaan ibunya.
Lalu Haru mendekatinya, lalu dia duduk.
“Sudah berapa lama kondisi mu seperti ini?” tanya Haru. “Kondisinya sangat memprihatinkan seluruh tubuhnya menjadi warna biru.”
Maname yang coba menjelaskan alasan ibunya kenapa sakit seperti itu.
“Ibuku sejak musim dingin datang sudah terkena penyakit ini,” ungkap Maname dengan wajah yang sedih.
“Hmm… Apakah ada bagian tubuh mu yang merasa aneh.” Haru coba bertanya untuk mencari tahu asal penyebab penyakit yang di deritanya.
“Bagian tubuh ku yang merasa aneh. Ada itu di bagian belakang kepala ku, rasanya sakit sekali. Membuat ku menjadi pusing.”
“… Bolehkah aku melihatnya.”
“Boleh!” Lalu wanita itu membalikkan badannya.
“Ini kan.” Haru terkejut melihat bagian belakang kepalanya. Dia melihat sesuatu yang aneh, ada benjolan seukuran jempol orang dewasa. “Gawat jika dibiarkan maka akan berakibat fatal.”
Wanita itu membalikkan badanya lagi.
“Bagaimana Tuan Haru, kau melihatnya kan.”
“Iya, Itu adalah Gendo Druma. Parasit yang mencari kehangatan terhadap makhluk lain,” ungkap Haru dengan wajah yang serius.
“Apakah Ibu ku bisa sembuh Tuan Haru!” ucap Maname dengan suara sedikit keras.
Haru melirik ke arah Maname, lalu mengedipkan kedua matanya. “Gendo Druma adalah parasit yang sangat berbahaya jika di biarkan. Parasit ini tidak bisa hidup di udara yang terlalu dingin mereka akan masuk ke dalam tubuh untuk mencuri kehangatan inangnya dan juga mengambil nutrisi tubuh. Gendo Druma akan tubuh seiring waktu sampai musim dingin berakhir, setelah itu dia akan mencari tempat untuk bertelur dan berkembang biak. Efek ketika parasit ini berada dalam tubuh mulai menurunnya suhu tubuh, pusing, dan kondisi tubuh menjadi lemas, hingga sulit berdiri atau berjalan.”
Mereka semua menjadi diam setelah mendengar penjelasan Haru.
“Tapi kalian tidak usah khawatir, ada cara untuk mengeluarkan parasit itu.”
“Apa itu?” tanya Maname dengan wajah yang sangat penasaran.
“Dengan cara membuka tempat Gendo Druma berada menggunakan pisau,” kata Haru sambil menyipitkan matanya.
Maname menelan air ludahnya, “Apakah dengan cara itu Ibuku bisa sembuh.”
“Mungkin. Aku tidak bisa memastikan semuanya akan berjalan dengan lancar,” ungkap Haru.
“Tidak apa, lakukanlah Tuan Haru. Kalau keadaan ku seperti ini terus, hanya akan menyusahkan mereka.” Ibu Maname dan Tanae, menyetujui Haru untuk melakukan pembedahan demi mengeluarkan Gendo Druma dari belakang kepalanya.
“Ibu, apakah benar ibu mau?” tanya Maname dengan wajah yang cemas kepada ibunya.
“Iya tidak apa-apa.” Ibunya menjawab sambil tersenyum ke arahnya.
“Baiklah! Kalau begitu. Aku akan mempersiapkan perlengkapan.”
Haru kemudian menyiapkan beberapa alat yang harus dia gunakan untuk mengeluarkan Gendo Druma.
“Ibu. Apakah kau benar-benar yakin dengan keputusan ini,” tanya Maname.
“Iya, kau berdoa saja Maname. Supaya semuanya menjadi lancar saja.”
Maname menahan air matanya yang hendak keluar, dan kemudian dia mengangguk.
“Aku sudah selesai menyiapkan semua alat yang ku butuhkan.”Haru sudah selesai menyiapkan beberapa alat seperti pisau kecil, dan beberapa ramuan yang bisa di gunakan untuk menghentikan pendarahan.
“Baik Tuan Haru!”
Lalu ibu mereka tengkurap, Haru memulai proses pengeluaran Gendo Druma.
Dia menggunakan pisau kecil membelah kulit bagian belakang kepala, tempat Gendo Druma menghisap nutrisi. Dengan hati-hati Haru melakukannya.
Saat Haru melakukannya wanita itu menahan rasa sakit.
Setelah itu Haru mencoba membuka kulit bagian dalam kepala menggunakan kedua jari telunjuknya. Gendo Druma terlihat di sana, sedang menyedot nutrisi. Lalu Haru mengambil penjepit kemudian menjepit Gendro Druma. Perlahan dia menariknya, tetapi Gendo Druma melekat dengan cukup kuat. Jadi dia butuh waktu sekitar lima menit untuk membuat Gendo Druma melepaskan gigitannya. Lalu Haru langsung memasukannya ke dalam toples.
Sesaat setelah Dendo Druma, melepaskan gigitannya, darah keluar dari belakang kepala.
“Ibu!” Tanae secara spontan berteriak, ketika dia melihat darah keluar dari belakang kepala ibunya.
“Tanae!” Maname memeluk adiknya, untuk mengalihkan perhatian.
Haru kemudian mengoleskan obat, ke luka yang diakibatkan pengambilan Dendo Druma. Lalu dia menggunakan benang dan jarum kecil untuk menjahit di bagian luka.
“Aku harap pendarahannya bisa dihentikan dengan cara ini!”
Rasa tegang bercampur ngeri Haru rasakan ketika, darah terus bercucuran keluar. Setelah menjahit kulit bagian belakang kepala, dia memberikan obat salep penghilang rasa nyeri. Dan proses mengeluarkan Dendo Druma selesai.
“Akhirnya selesai juga,” kata Haru sambil mengelap keringat di dahinya.
“Bagaimana Tuan Haru! Apakah sudah selesai,” ucap Maname menatap serius dengan harapan Haru berhasil menyelesaikan pembedahan.
“Iya,” kata Haru sambil melirik Maname. “Sekarang kau boleh terlentang!” perintah Haru kepada Ibunya Maname.
Ibunya Maname mengikuti perintah Haru.
“Ibu! Apa kau tidak apa-apa.” Maname berkata sambil menatap ibunya dengan perasaan yang khawatir.
Ibunya tersenyum dan mengangguk.
“Ibu… “ Tanae menangis dan melepaskan pelukannya lalu mendekati Ibunya.
“Kenapa kau menangis! Ibu tidak apa-apa.” Ibunya berkata sambil membelai kepala Tanae.
“Syukurlah. Sekarang kau hanya perlu istirahat sampai tenaga mu pulih kembali,” ucap Haru.
“Terimakasih Tuan Haru kau sudah mau membantu ku.” Wanita itu tersenyum ke arah Haru.
Haru mengangguk, “Sudah menjadi tugas ku, untuk menyelesaikan masalah seperti ini.”
Maname memperhatikan toples yang berisi Dendo Druma, di dalamnya Dendo Druma sedang menggeliat seperti cacing.
“Setelah ini akan kau apakan makhluk ini?” tanya Maname.
“Mm… Aku akan menyimpannya, dan aku akan melakukan beberapa pengamatan terhadap Dendo Druma,” ucap Haru sambil melirik ke arah toples.
Setelah percakapan itu Haru hendak melanjutkan perjalanannya lagi.
Maname dan Tanae mengantarnya sampai ke pintu rumah mereka.
“Kakak! Ambillah ini.” Tanae memanggil Haru dan mengulurkan tangannya untuk memberi sesuatu.
“Mm…” Haru menatap tangan Tanae. “Apa yang akan di berikan oleh gadis kecil ini?”
Lalu Haru mengulurkan tangannya juga, kemudian Tanae memberikan benda kecil bersinar berbentuk lingkaran.
“Agh… Itu kan bola kristal salju yang kau temukan waktu itu Tanae.” Maname cukup kaget melihat adiknya memberikan benda kesayangannya.
“Iya.” Tanae berkata ke arah wajah kakaknya dengan senyuman lebar.
Haru mengamati benda yang di berikan Tanae. “Ini adalah bola kristal Tama Shioureppa.” Haru cukup kaget melihat benda yang berikan Tanae.
“Apakah kau yakin Tanae?” Haru bertanya kepada Tanae akan keputusannya memberikan Haru benda langka bernama kristal Tam Shioureppa.
“Iya, Kakak adalah orang yang baik, benda itu memang berharga. Tetapi ibuku lah yang paling berharga dalam hidup.” Tanae berkata seperti orang dewasa. Seakan dia sudah mengerti arti dari orang yang berharga dalam hidup ini.
Haru tersenyum mendengar ucapan Tanae. “Kata-kata mu seperti orang dewasa saja, jadilah anak yang baik ya.”
“Baik.” Tanae berkata sambil mengangguk.
“Maname sebagai kakak, kau harus menjaga ibu dan adik mu,” kata Haru dengan menatap wajah Maname.
“Baik aku akan berusaha semampu ku.” Maname berkata sambil menundukkan kepalanya.
“Kalau begitu aku pergi!” Haru kemudian melanjutkan perjalanannya.
Tanae melambaikan tangannya ke arah Haru dari kejauhan.
“Kakak! Nanti ke sini lagi yaaa,” teriak Tanae.
Haru melihat mereka dari arah jauh dan tersenyum.
Dengan begitu sekali lagi Haru bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Perjalanannya masih akan berlanjut, menuju dan menelusuri tempat atau daerah yang mempunyai masalah penyakit maupun fenomena alam.