Haru melihat sebuah goa, ketika dia sedang berjalan di hutan.
“Goa apa itu!”
Haru cukup penasaran lalu kemudian mendekati goa, dan berhenti di mulut goa.
“Entah kenapa aku jadi sedikit merinding melihat goa ini,” kata Haru, ketika berada di depan goa.
Setelah mengamati goa itu, lalu Haru pergi melanjutkan perjalanannya.
“Tolong… Tolong…”
Tidak di sadari Haru setelah beberapa langkah dia pergi terdengar suara sayup orang minta tolong.
Haru tiba di sebuah desa, dia kebetulan melihat ada pedagang makanan, lalu menghampirinya untuk membeli makanan.
“Tolong aku beli satu makanan!” ucap Haru kepada pedagang makanan.
“Baiklah!”
Ketika Haru sedang membeli makanan, tidak jauh dari sana ada beberapa kerumunan orang yang seperti membicarakan sesuatu.
“Bagaimana ini Ketua Desa. Kalau seperti ini terus, para warga akan menjadi resah,” ucap salah satu pria.
Diikuti suara sorakan beberapa warga.
“Hmm… kalian semua tenanglah! Nanti saya usahakan untuk menyelesaikan masalah ini.” Ketua Desa coba untuk menenangkan para warga yang sedang khawatir dan kesal.
“Ini Tuan!” Pedagang di hadapan Haru memberikannya, makanan yang di pesannya.
“Terimakasih,” ucap Haru dengan senyuman simpul di wajahnya.
Lalu Haru memandang ke arah kerumunan orang-orang, di saat yang bersamaan para warga yang tadinya berada di kerumunan itu kini menjadi bubar.
“Apa yang sebenarnya mereka omongkan tadi?” ucap Haru. Haru cukup penasaran dengan apa yang mereka omongkan.
Terlihat seorang pria cukup tua yang berdiri sendirian di sana, Haru mencoba mendekatinya.
“Maaf aku ingin bertanya?” ucap Haru kepada pria tua yang berdiri itu.
“Ohh… siapa kau.” Pria tua itu menatap heran kepada Haru karena baru pertama kali dia melihat wajahnya.
“Aku Haru seorang Dokter Alam.”
“Dokter Alam! Pantas saja aku tidak pernah melihat wajah mu sebelumnya, kau ternyata bukan orang sini,” ungkap pria tua.
“Begitu rupanya, aku ingin tanya kenapa tadi ada orang ramai di sini?” Haru mulai memberikan pertanyaan yang tadi sudah dia ucapkan.
“Ohh… maaf aku lupa menjawab pertanyaan mu tadi, maaf aku sudah mulai tua hahaha.” Pria tua itu berkata dengan tertawa kecil untuk menahan rasa malu.
“Bukan sudah mulai tua tapi memang sudah tua,” ungkap Haru dalam hatinya.
Lalu pria tua itu mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, “Beberapa hari ini, banyak orang yang mendengar suara aneh yang berasal dari salah satu goa. Yang berada di selatan desa ini.”
“Goa? Jangan-jangan itu adalah goa yang ku lewati tadi.”
“… Sebagian warga di sini bekerja sebagai penambang, mereka mengambil beberapa kristal dan batu untuk mereka jual. Tetapi karena suara itu orang-orang jadi ketakutan.”
“Hmm… apakah ada hal aneh sebelum suara itu muncul?” Haru coba untuk mencari informasi lebih untuk mengetahui bagaimana suara itu bisa muncul.
“Sebenarnya sebelum suara itu muncul ada kejadian yang aneh, menimpa salah satu warga di sini.”
“Apa itu?”
“Ada seorang perempuan, yang menghilang secara misterius di dalam goa itu.”
“Menghilang! Hmm… ‘Aneh sekali apa penyebab wanita itu bisa menghilang?’ Penyebabnya apa?”
“Sayangnya kami belum tahu, kenapa perempuan itu bisa menghilang.”
“Begitu rupanya, apakah kau tahu siapa perempuan hilang itu?”
“Ya, kalau tidak salah namanya adalah Asami, anak dari Kepala Desa.”
“Bisa kau antarkan aku ke rumah Kepala Desa?”
“Tentu,”
Kemudian Haru bersama pria tua itu, pergi menuju ke rumah Kepala Desa.
Sampai di rumah Kepala Desa mereka mengetuk, pintu rumah Tok… Tok… terdengar suara langkah kaki mendekat dan kemudian pintu terbuka.
“Maaf Kepala Desa, ini ada orang yang bertemu,” ucap pria tua yang berada di samping Haru.
Kepala Desa menatap Haru dengan heran, “Siapa kau?”
“Aku Haru, seorang Dokter Alam.” Haru berkata dengan tatapan yang serius.
“Dokter Alam? Ada urusan apa kau datang kemari?” tanya Kepala Desa.
“Aku dengar putri mu saat ini sedang hilang, mungkin aku bisa membantu mu.”
“Benarkah?” ucap Kepala Desa dengan wajah yang kaget.
“Bisakah kau ceritakan secara detail permasalahan ini.”
“Kalau begitu masuklah, akan aku ceritakan di dalam rumah saja.”
“Terimakasih!” Haru berkata sambil mengangguk.
Kemudian Haru dan pria tua yang mengantarkannya masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di sebuah ruangan yang sudah di sediakan makanan dan minuman oleh istri Kepala Desa.
Setelah itu mereka semua duduk dan Kepala Desa mulai berbicara tentang masalah hilangnya Asami.
“Begini, ini masalah tentang anak ku yang bernama Asami, dia sekarang hilang di sebuah goa yang tidak jauh dari desa ini. Goa itu merupakan tempat para warga untuk menambang berbagai batu dan kristal, yang nantinya akan di jual. Suatu hari aku yang sebagai Kepala Desa harus mengontrol situasi supaya tidak terlalu berlebihan warga mengambil hasil tambang.
Asami putri ku yang berumur 16 tahun, ingin ikut aku pergi ke goa itu. Tentu saja sebagai ayah, aku tidak akan bisa melarangnya ketika rasa ingin tahunya sangat tinggi. Jadi aku membolehkan dia ikut bersama diriku pergi ke goa itu. Di sana aku mengajaknya berkeliling melihat para pekerja yang sedang menambang, awalnya berjalan baik-baik saja. Hingga suatu ketika di saat aku sedang berbicara dengan salah satu warga yang bekerja di penambangan, Asami melihat sebuah terowongan yang ada di sana. Aku dan para pekerja di sana tidak menyadari Asami yang berjalan dan masuk ke dalam terowongan itu. Suasana menjadi panik ketika kami mengetahui bahwa Asami sudah menghilang, semua orang di sana mencari dirinya. Dan seseorang di sana melihat Asami masuk kedalam terowongan yang tidak jauh dari lokasi itu. Kami mencoba melihat ke dalam terowongan itu, tetapi kami tidak menemukan siapa-siapa di sana. Di hari itu akhirnya kami menyerah mencarinya, karena kami tidak menemukannya dimana pun. Besoknya kami mencoba mencari Asami lagi, tetapi kami tidak menemukannya. Sekitar satu minggu telah berlalu, Asami masih tidak ketemu. Suatu hari para penambang yang ada di dalam goa itu, mendengar suara aneh. Suara itu terus meminta tolong dan beberapa macam kalimat lainnya, para penambang menjadi ketakutan karena suara itu. Sehingga para penambang tidak berani lagi untuk mendekati goa.” Kepala Desa menjelaskan dengan wajah sedih sambil menatap makanan yang ada di depannya.
“Jadi itu alasan para warga tadi berkumpul,” Haru berkata sambil memegangi dagunya.
“Iya,” jawab Kepala Desa.
“Bagaimana Tuan Haru apakah kau sudah mengetahui permasalahannya,” tanya pria tua yang berada di samping Haru.
“Tidak aku belum bisa mengetahui apa penyebab hilangnya Asami,” kata Haru. “Bagaimana aku bisa tahu kalau cerita itu tidak bisa memberitahu penyebab Asami menghilang,”
“Begitu rupanya, aku yakin kalau suara itu merupakan, suara Asami yang terjebak di sana,” ucap Kepala Desa dengan menundukkan pandangannya.
“Apakah goa yang kalian masuk berada di dekat hutan yang ada di desa ini?” Haru mencoba memastikan bahwa goa yang dimaksud adalah goa yang di lewati tadi.
“Huh… Kenapa kau bisa tahu lokasi goa itu?” Kepala Desa berkata dengan wajah yang kaget, pupil matanya membesar.
“Sebelum aku datang ke desa ini, sempat melewati goa itu,” ungkap Haru.
“Begitu, ya.”
“Untuk saat ini aku, belum bisa memastikan penyebab kenapa putri mu bisa hilang. Dan alasan apa yang membuat goa itu tiba-tiba mengeluarkan suara. Tetapi aku akan coba menyelidikinya, untuk memecahkan misteri ini.” Haru berkata dengan nada yang sangat serius.
“Benarkah kalau begitu terimakasih Tuan Haru, kalau kau mau membantu menyelesaikan masalah ini.” Kepala Desa menundukkan kepalanya sebagai tanda terimakasih, dengan mendengar ucapan Haru. Kepala Desa menjadi yakin bahwa Haru bisa menyelesaikan masalah ini dan membawa Asami kembali.
“Kalau begitu, aku pamit dulu. Terimakasih atas makanan dan minumannya.”
Setelah itu Haru langsung pergi ke goa tempat hilangnya Asami.
Sesampainya di depan goa, dia kembali berhenti dan menatap goa itu.
“Dilihat dari manapun goa ini, sangat menakutkan dan mengerikan,” ungkap Haru sambil menatap goa yang ada di hadapannya.
Kemudian Haru mulai masuk, di dalam goa suasana yang gelap dan sepi. Membuat Haru sedikit merinding.
“Ngeri juga kalau pergi ke goa seorang diri seperti ini.”
Perasaan ngeri itu bertambah ketika Haru mendengar suara. ‘Tolong… Siapa saja.’
“Uhh… suara apa itu tadi? Pasti itu suara yang dimaksud kepala desa.” Dengan perasaan sedikit takut, Haru tetap mencoba untuk tenang.
“Oi… apakah kau bisa mendengar suara ku,” Haru berteriak, dia berharap suara itu bisa menjawabnya.
“Tolong… Tolong… Siapa saja,” Suara itu sangat jelas, apalagi bentuk lorong goa yang membuat suara itu menjadi bergema.
Haru terus melirik ke segala arah, untuk memastikan dari mana suara itu berasal.
“Aku akan coba untuk mengikuti dari mana asal suara itu.”
Haru kemudian berjalan, dengan mengikuti dari arah suara itu datang. Haru terus menelusuri goa, hingga dia berada di sebuah tempat penambangan goa yang cukup luas.
Tempat itu merupakan, tempat terakhir kali Kepala Desa bersama Asami.
“Mungkin ini tempat yang dimaksud Kepala Desa.”
“Tolong… Tolong…” Suara itu kembali terdengar, Haru coba memeriksa tempat itu, dia berharap bisa menemukan ruangan yang tempat Asami menghilang.
Setelah memeriksa seluruh tempat, Haru menemukan sebuah terowongan kecil.
“Mungkin ini yang dimaksud sebagai terowongan kecil yang dimasuki Asami.”
Haru lalu masuk ke dalam terowongan itu, dan suara orang minta tolong semakin jelas terdengar. Di dalam terowongan kecil itu, Haru menatap sekelilingnya, dan memeriksa setiap sudut terowongan.
“Mmm… Apa itu?” Haru melihat sebuah cahaya, berasal dari dalam tanah.
Lalu dia mendekati cahaya itu, dan menggali tanah. Setelah menggali tanah Haru menemukan sebuah kristal putih yang mengeluarkan cahaya yang indah.
“Ini kan! Kristal Shiroivurea.” Haru terkejut melihat kristal yang dia temukan. Karena kristal itu merupakan kristal yang memiliki kekuatan yang aneh.
“Pantas saja, Asami bisa menghilang, dia pasti menyentuh kristal ini.” Haru kemudian meletakan tangannya di atas kristal itu, dia mencoba berkonsentrasi dengan cara memejamkan matanya.
“Itu dia Asami.” Di dalam pandangannya saat memejamkan mata dia bisa melihat Asami yang sedang kebingungan di dalam gua.
“Asami apakah kau bisa mendengar ku?” Haru mencoba untuk memanggil Asami.
Asami sedikit terkejut mendengar suara Haru, “Iya aku bisa mendengar mu,” balas Asami.
“Kalau begitu ikuti arah asal suara ku ini!”
Lalu Asami mengikuti suara Haru, dan berhenti, di hadapannya ada kristal Shiroivurea.
“Asami sekarang kau coba sentuh kristal yang ada di depan mu, lalu berkonsentrasi lah!”
Asami mengikuti perintah Haru, dia berkonsentrasi sambil menyentuh kristal Shiroivurea. Kemudian Asami secara ajaib, muncul di samping Haru.
“Uh…” Asami bingung kenapa tiba-tiba, dia merasa seperti melayang sebentar.
“Akhirnya kau bisa kembali juga Asami.” Haru berkata dengan senyum simpul menatap Asami.
“Kau siapa?” Tatap heran Asami ketika melihat Haru yang merupakan orang asing baginya.
“Aku Haru! Sebaiknya kita segera pulang untuk memberitahu orang tua mu!”
“Oh… Benar juga. Ayah, dan ibu pasti khawatir.”
“Benar!”
Sebelum mereka pulang Haru megambil kristal Shiroivurea, dan dimasukan ke dalam sebuah kotak kecil.
Setelah itu mereka bergegas meninggal kan goa.
“Ibu… Ayah…” Asami memanggil kedua orang tuanya, dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
“Pak! Itu Asami.” Ibunya Asami saat itu berada di luar rumah. terlihat senang ketika mendengar suara, Asami yang memanggilnya dari kejauhan.
“Mana Buk?” Kepala Desa langsung keluar dari dalam rumah untuk melihat Asami.
“Asami…” teriak Kepala Desa.
Haru dan Asami berjalan mendekat ke arah mereka. Sampai di sana kedua orang tua Asami memeluknya, dan mereka bertiga menangis bahagia.
Haru yang melihat itu, memalingkan pandangannya. Karena dia merasa tidak enak untuk melihat mereka.
Setelah drama senang keluarga itu, Haru dipersilahkan untuk mampir sebentar. Untuk menceritakan bagaimana dia bisa menemukan Asami.
Haru kembali duduk bersama Asami dan kedua orang tuanya.
“Aku menemukan Asami terjebak di dalam dimensi lain,” jelas Haru dengan tatapan tajam ke arah mereka.
“Dimensi lain? Apa maksudnya Tuan Haru.” Kepala Desa bingung dengan ucapan Haru.
“…Iya benar, penyebab Asami tidak bisa di temukan adalah, kristal Shiroivurea.” Haru menunjukan kristal Shiroivurea kepada kedua orang tua Asami.
“Kristal ini memiliki kekuatan mistis, siapa pun yang memiliki jiwa kontak yang lemah mereka akan terperangkap di dalam dimensi ilusi ketika menyentuhnya. Kristal ini sebenarnya sangat jarang di temui, termasuk kristal yang memiliki nilai jual yang tinggi. Tetapi karena resiko yang tinggi kristal ini banyak di hancur kan,” jelas Haru dengan nada serius.
“Tuan Haru, apa yang terjadi jika ada orang terperangkap di dalam dimensi ilusi yang di buat kristal ini?” Kepala Desa penasaran dengan dampak yang di timbulkan jika terjebak di dalam dimensi ilusi buatan Shroivurea.
“Mereka yang terperangkap, akan sangat sulit untuk bisa kembali ke dunia nyata. Mereka akan terjebak di dalam dimensi ilusi selama-lamanya. Hanya orang dari luar saja yang bisa membantu mereka untuk terbebas. Suara antara dimensi ilusi dan dunia nyata masih bisa terdengar. Meskipun suara itu akan cukup menakutkan jika orang yang baru pertama kali mendengarnya.”
“Itulah kenapa tidak ada yang mau membantu ku,” cetus Asami.
“Untuk sekarang, sebagai Kepala Desa. Sebaiknya kau beritahu kepada warga untuk tidak menyentuh kristal ini.”
“Baiklah! Nanti aku akan bilang kepada para warga desa ku.”
Haru mengangguk. “Kalau begitu, sudah waktunya aku pergi.”
Lalu Haru diantar sampai pintu rumah.
Kemudian dia pergi melanjutkan perjalanannya. Asami dan kedua orang tuanya membungkuk kan badannya sedikit, sebagai tanda terimakasih.
Asami melambaikan tangannya dari kejauhan. Haru tersenyum melihat Asami yang melambaikan tangan.
Setelah Asami kembali, dan Kepala Desa sudah memberitahu para warga, jika menemukan Shiroivurea segera hancurkan.
Dan saat itu para warga bisa kembali mengambil hasil dari tambang di goa.
Alam selalu memiliki kekuatan misterius yang selalu menimbulkan tanda tanya, kekuatan itu merupakan bukti bahwa alam selalu memperhatikan kehidupan manusia.
Haru akan terus melanjutkan perjalanannya mengikuti arah angin. Ke mana pun angin berhembus maka Haru akan coba terus mengikutinya.