Haru kembali untuk menemui Takuma, karena perlengkapannya sudah sedikit berkurang. Dia juga ingin menjual beberapa benda dan barang kepada Takuma.
Dari kejauhan Takuma yang sedang duduk di teras rumahnya melihat Haru.
“Yo, Haru!” Takuma langsung berteriak ketika melihat Haru sambil melambaikan tangannya. Tetapi Haru malah berhenti berjalan sejenak.
Haru yang melihat Takuma yang sedang berteriak dan melambaikan tangan, berbicara dalam hatinya, “Sebenarnya aku malas untuk bertemu dengan dia! Huh… sudahlah.” Lalu Haru melanjutkan langkah kakinya menuju Takuma yang sudah menunggunya.
Kemudian Haru duduk di samping Takuma.
Sesaat setelah Haru duduk Takuma berkata, “Yo, Haru apa kabar. Apakah kau baik-baik saja.” Takuma mencoba menyapa Haru dengan nada yang cukup menjengkelkan bagi Haru. Haru menunjukan ekspresi sedikit cemberut dengan kelopak mata menutup setengah.
“Ehh… kenapa ekspresi mu seperti itu!” Takuma bingung kenapa Haru hanya diam sambil menunjukan ekspresi seperti orang kesal di matanya.
“Jangan berlagak bodoh Takuma. Seolah kau tidak tahu apa yang telah kau lakukan.” Haru mengatakan kepada Takuma, dengan tatapan yang sangat marah. Atas kelakuan Takuma yang membuat dirinya seperti seorang maniac di hadapan Olivia seorang gadis yang berkerja sebagai Notaris.
“Ehh… Mana aku tahu, aku rasa aku tidak ingat aku pernah berbuat salah pada mu.” Takuma berkata dengan sedikit memalingkan pandangannya, ke samping untuk mencari alasan dan menghindari tatapan marah Haru.
Sementara Haru semakin kesal dengan sikap Takuma yang selalu mencari alasan ketika dia sudah tahu bersalah kepada Haru. “Huh… kau ini! Apa kau ingat beberapa waktu yang lalu, kau bertemu dengan seorang perempuan berambut kuning.” Haru mencoba membuat Takuma ingat tentang alasan kenapa dia merasa jengkel di hadapan Takuma saat ini.
“Perempuan berambut kuning! Hmm…” Takuma memegangi dagunya dan memejamkan matanya sambil mengingat apa yang dikatakan Haru tentang wanita yang berambut kuning. “Ahh… Aku ingat! Begitu rupanya kau sudah bertemu dengan wanita itu rupanya.” Takuma kemudian ingat dengan yang dikatakan Haru.
“Hooh… Jadi kau ingat ya! Gara-gara kau aku dianggap sebagai maniac yang memiliki cinta berlebihan dengan alam atau hal-hal aneh.” Haru berkata dengan nada kesal kepada Takuma, karena Takuma menceritakan hal yang tidak-tidak kepada Olivia.
“Hah… Jadi karena itu kau menjadi marah seperti ini. Seharusnya kau justru berterimakasih pada ku, karena kau sudah menjadi Dokter Alam yang terkenal.” Dengan sombongnya Takuma berkata seperti itu kepada Haru. Dia tidak merasa bersalah kepada Haru malah dia merasa, sudah membuat Haru semakin dikenal banyak orang berkat dirinya.
“Kau ini, bukan membuat ku semakin terkenal. Tetapi membuat ku dianggap seperti orang aneh yang memiliki cinta berlebihan terhadap alam.” Haru semakin kesal melihat sikap Takuma yang tidak mau mengakui kesalahannya, bahwa dia sudah membuat Haru seperti seorang maniac di hadapan Olivia.
“Oh begitu, hehehe… Aku minta maaf, karena aku tidak menyangka akan jadi seperti itu.” Takuma dengan senyumannya meminta maaf kepada Haru. Haru yang melihat itu sudah biasa karena dia menganggap Takuma adalah orang bodoh yang menyebalkan.
“Aku ingin sekali memukul wajahnya yang menyebalkan itu,” ungkap Haru dalam hatinya. “Huh…” Haru hanya menghela napas di hadapan Takuma.
“Bagaimana menurut mu.” Takuma berkata dengan senyuman menyeringai di wajahnya. Takuma berpikir bahwa Haru akan menyukai Olivia ketika mereka berdua secara langsung.
“Apa?” Haru tidak mengerti dengan maksud Takuma, ditambah lagi senyuman menyeringai di wajah Takuma yang membuat Haru berpikir bahwa Takuma pasti merencanakan sesuatu.
“Apakah kau tidak tertarik dengan wanita berambut kuning itu?” Takuma bertanya kepada Haru untuk mengetahui pendapatnya tentang Olivia.
“Kau ini, kenapa berpikir kalau aku akan langsung menyukainya. Ketika baru pertama kali bertemu!” ucap Haru kepada Takuma, Haru merasa Takuma selalu berpikir aneh tentang dirinya.
“Hah… habisnya wanita itu cantik kan! Jadi ku pikir kalau kau akan menyukainya dan langsung mengajaknya menikah.” Takuma dengan egoisnya berpikir kalau Haru akan langsung menikahi Olivia ketika pertama kali bertemu.
“Kau ini ya… Dasar. Memang dirinya cantik, tapi bukan berarti kalau aku akan langsung menikahinya. Dan kenapa tidak kau saja yang menikahinya.” Haru berkata seperti itu supaya Takuma tidak lagi berpikir aneh terhadap dirinya.
“Hmm… Kalau aku seumuran dengannya mungkin aku memang akan menikahinya, tetapi umur ku sekarang sudah 30 tahun ke atas. Dengan kata lain aku sudah tua, jadi akan lebih baik kalau kau menikahinya karena dia tidak jauh berbeda umurnya dengan dirimu.” Takuma mengatakan hal itu dengan wajah yang sedikit sedih karena dia sadar kalau dirinya sudah tua, dan dia iri melihat Haru yang masih muda.
“Jika kau ingin berbuat baik kepada ku, seharusnya kau tidak menyebarkan julukan aneh pada ku.” Haru masih kesal karena Takuma telah mengatakan dirinya sebagai maniac, pecinta alam yang berlebihan kepada Olivia.
“Begitu rupanya, maaf kalau aku sudah membuat mu kesal.” Takuma meminta maaf kepada Haru. Tetapi Haru merasa kalau Takuma tidak meminta maaf dengan tulus.
Haru hanya terdiam di hadapan Takuma, tetapi di dalam hatinya dia berkata, “Huh… Dasar pria ini, aku yakin kalau kau akan berbuat aneh lagi nanti.”
“Oh iya Haru! Hari ini kau datang ke sini mau apa?” Takuma menanyakan ada urusan apa Haru datang ke rumahnya.
“Iya aku datang ke sini ingin membeli beberapa tumbuhan herbal. Dan juga aku punya sesuatu yang mungkin menarik bagi mu.” Haru menjelaskan kepada Takuma kenapa dia datang kerumahnya, selain ingin membeli obat dia ingin juga menjual beberapa makhluk atau benda yang dia dapatkan selama perjalanannya.
“Ohh… Benarkah! Apa yang kali ini kau bawa?” ucap Takuma dengan semangat. “Aku berharap kali ini kau membawa barang yang bagus dan langka.”
Haru mengambil beberapa barang dari dalam tasnya. Dan dia kumpul kan di hadapan Takuma. Beberapa barang yang dikeluarkan Haru diantaranya adalah Grezia Violea, Gerumahanfura, dan Shiueju.
“Barang-barang mu ini kelihatan aneh.” Takuma mengamati semua barang yang di tunjukan ada perasaan sedikit ngeri saat melihatnya.
“Tentu saja, mereka bukan sekedar barang tetapi mereka makhluk hidup. Yang aku masukan kedalam toples.” Haru berkata dengan senyuman di wajahnya.
“Begitu rupanya.” Takuma berkata sambil memegangi dagunya, lalu dia menunjuk kesalah satu toples. “Itu apa yang berwarna hijau seperti lumut?”
“Ohh…” Haru mengambil toples itu. “Benda hijau ini bernama Gerumahanfura, makhluk kecil yang baru-baru ini aku dapatkan. Dia bisa menempel di tubuh hewan atau manusia, bahkan mereka sering juga menempel di pohon untuk mengambil tenaga dan nutrisi.”
“Kecil tapi sangat berbahaya yah.” Lalu Takuma menunjuk salah satu toples lagi. “Terus yang itu apa?”
Haru kembali meletakan toples yang berisi Gerumahanfura, dan mengambil toples yang berisi Shiueju. “… Ini adalah Shiueju makhluk yang bisa mengambil kesadaran siapa pun yang berhasil dia jadikan inang. Setiap inang akan kehilangan rasa semangat untuk hidup ketika berada dibawa kendali makhluk ini.”
Muncul rasa ngeri di hati Takuma setelah mendengar penjelasan dua toples milik Haru. “Lalu toples yang terakhir yang berisi, benda ungu itu apa?” Takuma bertanya tentang toples terakhir ada di hadapannya.
“Kalau ini adalah Grezia Violea, yang merupakan tanaman memiliki serbuk beracun. Siapa pun yang mencium atau memakan serbuknya akan mengalami demam, pusing, dan bahkan sampai kematian.” Haru sudah menjelaskan seluruh barang yang dia perlihatkan kepada Takuma.
“Bahkan bunga pun bisa sangat berbahaya bagi tubuh manusia ya.” Takuma sedikit takut, setelah mendengar penjelasan tentang 3 toples yang ada di hadapannya.
“Bagaimana. apakah kau mau membelinya?” tanya Haru.
“Tentu saja! Aku tidak akan menyia-nyiakan barang langka seperti ini.” Takuma dengan semangat menyampaikan ucapannya.
Haru tahu, kalau Takuma bukanlah orang yang akan menolak semua barang yang dibawa kehadapannya.
“Berapa harga semua barang yang kau bawa ini? tanya Takuma. “Aku harap dia tidak memberikan harga yang berlebihan.”
“Tenang saja aku akan memberikan harga yang murah untuk mu” Haru berkata dengan senyum menyeringai kepada Takuma.
Takuma berkata dalam hatinya.“Itu dia senyuman dengan penuh maksud tersembunyi milik Haru.” ketika melihat senyuman Haru.
“Aku akan menjualnya dengan harga 3 koin emas,” sambung ucapan Haru.
“Hahh… Bukankah itu terlalu mahal.” Takuma terkejut ketika mendengar harga yang di ucapkan Haru.
“Memang seperti itu harganya, jika kau tidak mau aku akan menjualnya ke tempat lain!” kata Haru. “Takuma ini balasan mu karena sudah mengatakan hal aneh tentang diriku.”
“Jangan! Baiklah aku akan membelinya” Takuma dengan terpaksa membeli 3 toples itu dengan harga 3 koin emas.
Setelah itu Takuma memberikan uang 3 koin emas kepada Haru. Tiba-tiba di saat yang bersamaan terdengar suara, seseorang yang mengetuk pintu rumah Takuma.
“Tok… Tok…” suara pintu itu terdengar oleh mereka.
“Sepertinya ada orang yang datang!” kata Haru.
“Kau benar,” balas Takuma.
Lalu pergi mereka menuju pintu untuk membukakan siapa yang datang. Saat dibuka terlihat seorang pria yang dengan keadaan cemas memandang mereka.
“Kau kan yang tadi.” Takuma berkata, sepertinya pria itu sudah pernah datang ke rumah Takuma.
“Kau mengenalnya?” tanya Haru kepada Takuma.
“Tidak, tetapi dia tadi pagi membeli obat di sini!” ungkap Takuma.
“Tuan! Aku ingin beli obat penurun panas lagi,” Pria itu berkata dengan wajah yang sedikit cemas.
“Memangnya kenapa? Bukankah tadi kau sudah membeli obat penurun panas.” Takuma merasa heran kenapa pria itu ingin membeli obat penurun panas lagi.
“Iya, obat yang ku beli tadi, belum cukup untuk menurunkan panas putra ku,” kata pria itu.
Takuma dan Haru sedikit terkejut mendengar yang dikatakan pria itu.
“Bagaimana menurut mu Haru?” Takuma mencoba bertanya kepada Haru yang merupakan Dokter Alam.
“Hmm…” Haru memegangi dagunya. “Bisakah kau antarkan aku ke rumah mu, aku ingin memeriksa putra mu.” Haru coba untuk membantu pria itu.
“Benarkah! Kalau begitu ayo kita segera ke rumah ku. Kondisi anak ku semakin parah.” Pria itu berkata dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran terhadap kondisi anaknya.
Lalu Haru dan Takuma pergi bersama pria itu, untuk melihat kondisi putranya.
Sesampainya di rumah pria itu, mereka melihat kondisi anak itu sangat memprihatinkan.
“Sudah berapa lama dia begini,” tanya Haru.
“Baru tadi pagi,” jawab pria itu.
Haru memegang dahi anak laki-laki yang terbaring itu.
“Tubuh anak ini panas sekali!” ungkap Haru dalam hatinya. “Apakah dia habis memakan sesuatu yang aneh,” tanya Haru lagi kepada pria yang merupakan ayah dari anak itu.
“Aku rasa tidak. Kami hanya makan dan minum seperti biasanya,” ungkap pria itu.
“Kalian minum air berasal dari mana?” Haru mencoba menyimpulkan dari mana anak yang di hadapannya bisa sakit.
“Kami hanya minum, berasal dari sungai sumur yang ada di belakang rumah ini.”
“Kalau begitu biarkan aku melihat sumur itu,” kata Haru, dia ingin melihat kondisi air di dalam sumur.
“Baiklah! Kalau begitu.” Pria itu berkata sambil mengangguk.
Lalu Haru dan Takuma di bawa ke tempat sumur yang dimaksud pria itu. Haru mencoba mengambil air menggunakan katrol yang sudah terpasang di sumur itu.
Setelah mengangkat ember yang berisi air sumur. Dia mengamati air itu mungkin menemukan hal aneh. Haru melihat ada hewan kecil berenang di dalamnya, dengan jumlah yang cukup banyak.
“Bagaimana Haru apakah kau menemukan sesuatu?” tanya Takuma kepada Haru.
“Iya, aku sudah mengetahui alasan kenapa putra mu bisa sakit. Kemungkinan karena dia meminum air yang berasal dari sumur ini.” Haru mengungkapkan ucapannya dengan nada yang serius.
Takuma dan pria yang ada di dekat mereka terkejut dengan ucapan Haru.
“Jadi bagaimana, apa yang harus aku lakukan untuk menyembuhkan putra ku.” Pria itu berkata dengan kekhawatiran yang semakin bertambah.
Haru berkata dengan wajah serius, “Kau tidak usah khawatir, putra mu bisa sembuh.”
Takuma dan pria itu tersenyum lega karena mendengar ucapan Haru. Lalu mereka kembali ke tempat putra pria itu yang sedang sakit. Di sana Haru membuat ramuan obat, kemudian meminumkan obat itu ke anak laki-laki yang terbaring sakit.
“Untuk sementara biarkan Putra mu istirahat, biarkan obatnya berkerja.” Haru memberitahu pria itu. supaya dia tidak terlalu khawatir dengan kondisi putranya setelah meminum obat buatan Haru.
“Tetapi masalahnya, adalah sumur mu itu. Kalau tidak di bersihkan maka Putra mu akan kembali sakit, bahkan kau juga akan mengalami sakit yang sama,” jelas Haru kepada pria itu.
“Memangnya ada apa di dalam sumur itu Haru?” tanya Takuma kepada Haru. Dia jadi penasaran kenapa Haru menyuruh untuk membersihkan air di dalam sumur itu.
“Di dalam sumur itu, hidup makhluk kecil bernama Tenyusaku. Makhluk ini memang hidup di dalam air, jika masuk kedalam tubuh manusia. Mereka akan membuat perut menjadi sakit dan nafsu makan menjadi hilang serta suhu tubuh akan menjadi panas, dan lama-kelamaan akan berujung pada kematian.” Haru mengungkapkan semua itu dengan wajah yang serius.
“Jadi kami harus bagaimana Tuan?” tanya pria itu dengan wajah yang kembali cemas.
“Aku akan memberikan obat penetralisir untuk membasmi Tenyusaku.” Lalu Haru memberikan obat yang dia maksud kepada pria itu. “Taburkan obat itu kedalam sumur mu, lalu tunggu tiga sampai lima hari sebelum kau bisa mengambil air sumur itu lagi,” jelas Haru kepada pria itu, cara menggunakan obat yang diberikannya.
“Terimakasih banyak Tuan.” Pria itu membungkukkan tubuhnya sebagai tanda terimakasih kepada Haru dan Takuma.
“Kalau begitu kami permisi dulu!” ucap Haru.
Lalu Takuma dan Haru pergi, mereka kembali ke rumah Takuma.
Di perjalanan mereka sedikit mengobrol.
“Kau memang hebat Haru,” ungkap Takuma setelah melihat Haru menyelesaikan masalah yang di hadapi pria tadi, “Aku tidak salah percaya kepada orang seperti mu.”
“Kau ini kenapa, memangnya ini pertama kali kau melihat aku berhasil mengobati atau menyelesaikan masalah yang di hadapi orang lain.” Haru berkata kepada Takuma dengan melirik ke arahnya.
“Hehe… Kau benar! Maaf aku lupa kalau kau dan aku sudah lama saling kenal.” Takuma tertawa kecil dengan wajah yang menatap awan.
“Heh… Iya.” Haru berkata dengan menutup matanya dan dengan senyuman di wajahnya. “Tetapi kau sedikit menyebalkan,” gumam Haru.
“Apa kau bilang!” Takuma mendengar ucapan akhir kalimat Haru. Ucapan itu membuatnya sedikit kesal. “… Sudahlah.”
Dengan begini Haru kembali lagi menyelesaikan satu masalah, masih banyak masalah yang akan dia hadapi ke depannya.
Terkadang mereka sangat susah untuk di lihat. Padahal kehidupan mereka ada di sekitar kita, tetapi banyak dari mereka yang mengabaikannya dan akhirnya menyesal.