She is blushing

3057 Kata
Hari sudah hampir sore ketika Queen hendak pulang. Gue sengaja mencari Mama hingga ke dapur agar gadis itu bisa berpamitan. Juga supaya dia segera pulang. Gue menyuruh Jessica Veranda untuk menunggu sebentar bersama Firash sementara gue memanggil Mama. Gue menemukan Mama sedang sibuk membuat kue. Hal yang dilakukannya jika akan kedatangan tamu istimewa. "Ma," sapa gue. "Biar aku yang kelarin. Mama keluar aja dulu sebentar. Queen mau pamit pulang." "Sudah mau pulang? Mama baru aja bikin kue bolu untuknya." Mama lekas-lekas membersihkan kedua tangannya lalu buru-buru berjalan ke ruang tamu. Gue perhatikan sejenak adonan kue yang hampir jadi itu. Kue bolu buatan Mama terkenal dengan rasanya yang enak. Tidak terlalu manis, tapi pas dan sangat lembut di mulut. Bingung harus melakukan apa, akhirnya gue memilih untuk menyiapkan loyang tempat adonan akan di panggang. "Hati-hati Rish, nanti tumpah." Mama kembali masuk ke dapur dan menghampiri gue. "Sudah sana kamu ke depan aja. Biar Mama yang selesain." "Dia udah pulang Ma?" tanya gue sambil mencolek sedikit adonan dengan ujung jari lalu memasukkannya ke dalam mulut. "Belum. Gak Mama bolehin pulang kalau kue nya belum jadi," jawabnya sembari memasukkan adonan ke dalam loyang. "Kenapa?" Gue bertanya heran. "Kok malah tanya kenapa? Ya supaya pacar kamu itu cobain kue bolu buatan Mama." Nada suaranya terdengar senang begitu menyebut kata pacar. "Pinter kamu cari pacar Rish, cantik. Mama gak mengira kalau anak laki-laki Mama punya bakat seperti Papa nya." Gue langsung terhenyak mendengar ucapan Mama. Air dingin yang baru aja gue ambil dari dalam kulkas langsung tumpah keluar dari dalam botol dan membasahi kaos yang gue pakai. Mama yang melihat kejadian itu gak bisa menahan dirinya untuk gak tertawa. Gue kibas-kibas sejenak kaos yang gue pakai dan mencoba mengeringkannya dengan lap bersih yang berada gak jauh dari meja makan. "Ma, dia bukan pacar Farish." "Bukan? Tapi Mama bisa lihat kalau kalian berdua saling suka. Cara dia ngeliat kamu itu beda." "Farish gak tertarik sama dia. Dia juga gak tertarik sama Farish. Kami berdua gak memiliki hubungan seperti itu," kata gue mencoba menegaskan. Mama sama sekali gak mengerti. Gak semua perempuan yang datang ke rumah ini untuk mencari gue bisa di anggap sebagai pacar gue bukan? Ini bukan zaman di mana Mama dan Papa dulu pacaran. Gue rasa Mama kebanyakan nonton film Kartini-nya Dian Sastro hingga berulang kali. Masa dimana kaum perempuan hanya bertamu untuk mengunjungi laki-laki yang disukainya. Selain itu, Jessica Veranda datang karena alasan yang lain. Dia punya rencana di dalam otaknya. Kalau aja Mama tahu tentang taruhan yang gue buat dengannya dan keinginan Queen untuk mengeluarkan Jody dari sekolah, Mama pasti gak akan mengijinkan Queen untuk menginjakkan kakinya bahkan di teras rumah kami. "Mama masih ngerasa kalau dia suka sama kamu. Dia juga kelihatannya baik dan sopan." Baik dan sopan? Mom, you are seriously doesn't know the truth behind Jessica Veranda's appearance! "Sana temenin lagi tamunya. Kasihan dia pasti bosan sama Firash. Kamu tahu kan adikmu itu kalau sudah ngomong yang di bahas film kartun atau koleksi kertas warna-warni kesukaannya itu." Mama menarik tangan gue kembali ke arah ruang tamu. "Tinggal tunggu kue nya selesai di oven. Sekalian Mama juga mau kenalan sama calon mantu." Gue gak mengira Queen bisa semakin akrab dengan Firash. Gue hanya meninggalkan mereka sebentar dan sekarang coba lihat pemandangan seperti apa yang ada di ruang tengah rumah gue. Queen dan Firash menonton acara kartun bersama sambil sesekali berkomentar mengenai beberapa tokoh utamanya. "Gimana tadi belajar barengnya?" Mama menyapa Jessica Veranda lebih dulu. Queen yang tadi sibuk menatap layar televisi langsung menoleh dan balik melempar senyum. "Farish gak terlalu galak kan selama di sekolah?" Queen tersenyum penuh arti sambil menatap gue. Gue balas dia dengan tatapan memohon agar gak bicara aneh-aneh ke Mama. Orangtua gue membesarkan dan mendidik gue untuk menghormati perempuan. Mama pasti akan marah dan kecewa kalau tahu gue pernah memaki seorang perempuan. Queen menggeleng lalu memberikan senyum menenangkan. "Enggak Tante. Dia bersikap sangat baik di sekolah." Mama mengangguk puas. "Kue bolunya akan matang sebentar lagi. Kamu tunggu dulu sedikit lagi ya." Setelah Mama meninggalkan ruangan, Firash ikut menyusulnya ke dapur meninggalkan gue dan Queen berdua. "Lo seharusnya berterima kasih ke gue nerdy boy. Gue gak bilang ke 'Mama' lo kalau lo pernah sangat kasar ke gue," ujarnya seolah baru saja melakukan sesuatu yang sangat luar biasa. "Kalau pun lo bilang, beliau gak akan percaya apa yang lo katakan, Queen." Queen mendengus kemudian menaikkan kedua alisnya. "Dengar nerdy boy, apapun yang gue sampaikan ke dia, dia pasti akan percaya sama gue. Dia sosok orangtua yang menarik dan sepertinya dia juga menyukai gue." "Apa yang membuat lo berpikir kalau nyokap gue suka sama lo, Queen?" Kali ini gantian gue yang mengangkat kedua alis gue tinggi-tinggi. "Lo mau bertaruh?" tantangnya sambil melipat kedua tangannya di d**a. "Nyokap gue bukan seseorang yang bisa lo jadikan bahan taruhan, Queen." Gue berkata sambil menatap matanya tajam. "Gue gak bilang untuk menjadikan nyokap lo bahan taruhan. Gue cuma mau membuktikan kalau nyokap lo suka sama gue." "Apa untungnya untuk lo kalau dia suka atau enggak sama lo?" Gue gak habis pikir kemana jalan pikiran Jessica Veranda. Apa tujuan dia mengetahui hal kecil seperti ini? "Well, satisfaction. Setidaknya ada salah satu anggota keluarga lo yang menyukai gue," beritahunya lalu tersenyum sumringah. "Dan tentu aja harus selalu ada reward disetiap deals yang kita sepakati." Seriously? Gue gak pernah berpikir perempuan seperti dia ada di dunia ini. "Dan reward nya adalah lo, nerdy boy." Un-freakin-believable! "Dengar Queen, jika.. ini jika.." gue sengaja memberi tanda kutip dengan kedua tangan gue sambil menatapnya serius. "Jika nyokap gue memang menyukai lo bukan berarti gue sebagai anaknya juga menyukai lo. We maybe share the same blood but we don't share the same interest." Queen tidak mengubris perkataan gue. Dia justru tersenyum licik layaknya predator yang hendak menerkam mangsanya dan memakannya hidup-hidup. Jessica Veranda menggeser duduknya mendekati gue hingga gue bisa mencium aroma parfumnya dengan jelas. "Kalau nyokap lo menyukai gue, lo harus ke sekolah tanpa memakai benda menyeramkan yang lo sebut kacamata ini." Dijentikkannya ujung jarinya pada bagian kacamata yang gue selotip rapat. "Dan kalau dia gak suka sa-" "Gue gak yakin tentang itu," potongnya cepat. Dia lalu membenarkan kembali posisi duduknya ke tempat semula. "Kalau dia gak suka sama lo, sebagai gantinya lo yang harus ke sekolah memakai benda menyeramkan yang gue sebut kacamata ini, Queen." Kali ini gantian gue yang tersenyum licik padanya. Jessica Veranda langsung memasang wajah ngeri begitu perkataan gue selesai. Membuat senyum gue semakin mengembang dari sebelumnya. Tapi dengan cepat dia segera mengubah ekspresinya se-normal mungkin. Seolah menunjukkan ia tidak akan kalah dan tetap bertahan dengan harga dirinya untuk gak memakai kacamata yang dia sebut sebagai benda menyeramkan. "Deal," putusnya sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman. "Deal." *** "Wah.. Bolu buatan Tante Nida enak. Aku belum pernah makan yang seenak ini Tan." Setelah mencoba kue yang disajikan Tante Nida di atas meja, aku langsung memberikan komentar terbaikku padanya. For what? Tentu saja sudah jelas. Untuk memenangkan hati beliau. Kulihat wajah Tante Nida bersemu merah mendengar pujianku. "Terima kasih Ve. Kamu pintar sekali memuji." Wanita mana yang tidak akan suka pujian? Terutama jika itu menyangkut sesuatu yang dikerjakannya sendiri dengan kerja keras. What do you expect? I'm Jessica Veranda. Bukan hal sulit bagiku untuk membuat orang -orang menyukaiku. And that's a good sign. Kudapati Farish melotot padaku seolah memintaku untuk menghentikan semua bualan yang keluar dari mulutku. Well, aku berkata dengan jujur bahwa kue nya sangat enak. Dan pujian itu tulus dari dalam hatiku. "Tante sejak dulu ingin sekali punya anak perempuan seperti kamu. Sudah cantik, manis pula. Tapi anak gadis Tante satu-satunya justru tumbuh dengan sangat kekanak-kanakan." Another good sign. "Aku masih banyak kekurangannya kok Tan. Lagipula Firash sangat lucu dan menggemaskan. Tante pasti sangat bahagia punya anak gadis yang selalu ceria dan bisa menghibur hati Tante." Firash yang saat itu juga ikut menikmati kue bersama kami ikut tersipu malu mendengar pujianku yang kedua. "Tapi Kak Queen lebih cantik," katanya masih dengan wajah malu. "Kamu juga nanti akan jadi semakin cantik." "Kamu harus sering tanya-tanya resepnya supaya bisa seperti dia Rash." Tante Nida ikut menasehati anaknya. Beliau kemudian mulai bertanya banyak sekali pertanyaan padaku. Mulai dari sekolah, keluargaku hingga teman-temanku. Merasa mendapat kesempatan untuk memenangkan hatinya, aku menjawab semua pertanyaan yang ia berikan. Sesekali aku menyelipkan cerita-cerita singkat mengenai kedekatanku dengan Judith. Aku juga memberitahunya bagaimana aku dan sahabat-sahabatku bertemu saat SMP. Dan betapa bangganya aku memiliki keluarga dan sahabat yang begitu perhatian dan menyayangiku. Mendengar beberapa penuturanku, Tante Nida turut latah menceritakan bagaimana dahulu saat beliau bersekolah dan bagaimana beliau bertemu dengan Om Gani, ayah Farish dan Firash. Tante Nida juga menjelaskan betapa sibuknya Om Gani sehingga terkadang di akhir pekan beliau harus ke luar kota menemani atasannya untuk survey lapangan. Selama kami bertukar cerita, Farish hanya diam mendengarkan. Ultimate nerd itu justru terkadang sibuk dengan bukunya. Hanya Firash yang sesekali menambahkan jika ia rasa ada potongan-potongan kecil yang lupa diceritakan oleh Mama nya. "Jadi Ve, coba cerita sama Tante bagaimana kamu dan Farish bisa saling kenal? Kalian beda kelas kan?" Aku mendengar Farish langsung berdeham begitu mendengar pertanyaan Tante Nida. Aku tahu dia tidak ingin aku memberikan jawaban bohong. Tapi aku rasa Farish juga tidak ingin aku memberitahu segalanya. Termasuk bully yang dialaminya akibat diriku. "Sebenarnya itu cerita yang panjang sekaligus gak terduga Tante," jawabku. "Aku di pilih oleh Kepala Sekolah untuk memberikan penilaian bagi calon penerima beasiswa untuk Universitas Global Persada. Kebetulan saat itu Farish adalah salah satu kandidatnya. Aku terkesan dengan presentasinya. Sejak saat itu kami mulai akrab." "Kenapa kamu gak pernah cerita Rish kalau punya teman secantik ini ke Mama?" Tante Nida menyikut lengan Farish dengan wajah jengkel. Namun bukan Ghada Farisha namanya jika ia tidak bisa acuh. "Farish juga sempat datang ke ulang tahun aku kemarin Tante. Dia kasih kado yang sangat manis buat aku," tambahku sambil milirik Farish yang masih sibuk memandangi bukunya. Ingin sekali aku gunakan buku tersebut untuk memukul kepalanya agar tidak terus menerus mengacuhkanku. "Kamu baru saja ulang tahun?" Tante Nida terlihat terkejut. "Selamat ya Veranda. Tante belum menyiapkan kado apa-apa." "Kue bolu nya juga sudah cukup sebagai kado Tan." Tante Nida terlihat kurang puas dengan jawabanku. Beliau kembali bertanya hal-hal kecil mengenai sekolah kami lalu beralih ke apa yang ingin aku lakukan setelah lulus nanti. Sebenernya hal-hal semacam ini sangat pribadi bagiku. Bahkan ketiga sahabatku tidak pernah kuberitahu mengenai masa depan yang aku inginkan. Tapi aku rasa tidak masalah memberitahukan Tante Nida yang sebenarnya. Bahwa aku ingin menjadi seorang fashion designer. Berbincang dengan Tante Nida dan Firash sangat menyenangkan. Aku hampir saja lupa bahwa hari sudah hampir gelap. Aku merasa menemukan kehangatan saat berada di antara mereka. Mereka mendengarkan semua kisahku dengan penuh perhatian. Sesekali Tante Nida bahkan memberi dukungan begitu tahu impianku sejak kecil. Suasananya sungguh mendukung. Suasana kekeluargaan yang sudah lama kurindukan. Suasana yang tidak pernah aku dapatkan jika aku berada di rumahku sendiri. What's wrong with you Jessica Veranda? What the hell happen with me? *** Gak pernah sekalipun dalam hidup gue mengalami situasi seperti ini. Gue berada di antara perempuan yang sibuk bercengkrama dalam waktu yang cukup lama. This is the first time in my life. Ketiga makhluk hawa yang berada di rumah ini seakan lupa akan kehadiran gue disini. Gue mendapati diri gue menyaksikan atau lebih tepatnya mendengarkan bagaimana Mama sibuk bertanya banyak hal pada Queen. Mereka membicarakan soal makanan sekarang. Dan Mama sempat-sempatnya menanyakan makanan kesukaan Jessica Veranda. Mama bahkan menjanjikan untuk membuatkannya "lain kali" saat Queen datang kembali kemari. Gue ingin sekali protes ke Mama dengan mengatakan bahwa gak akan ada lain kali untuk Jessica Veranda. Tapi gue tahu, gak ada gunanya gue protes di saat para perempuan tengah sibuk bercakap-cakap sambil tertawa haha-hihi. Dilihat dari wajahnya, Mama sepertinya menikmati setiap obrolannya dengan Queen Bee kebanggaan sekolah tersebut. Begitu pula sebaliknya, Queen terlihat nyaman membicarakan apa saja pada Mama. Ia bahkan sempat menceritakan beberapa hal pribadi mengenai dirinya. Ketika Firash berpamitan untuk masuk ke kamar karena harus menyelesaikan tugas sekolahnya yang menumpuk, Mama dan Queen akhirnya tersadar bahwa sudah banyak waktu yang mereka habiskan hanya untuk mengobrol. Keduanya akhirnya sepakat untuk mengakhiri pembicaraan sebab Queen harus segera pulang ke rumahnya. Finally! Gue kira obrolan mereka akan berakhir hingga besok pagi. Mama bergegas kembali menuju ke dapur setelah meminta Queen untuk kembali menunggu. Ia ingin memberikan sisa kue bolu buatannya untuk di bawa pulang oleh Jessica Veranda. Seriously! "Hey Rish," panggilnya. "What?" Bruk! Queen menarik buku yang sedari tadi gue baca kemudian mendaratkannya dengan sukses ke atas kepala gue. Rasanya cukup sakit. Did she smack me? For real? "Apa-apaan lo? Kenapa gue dipukul?" Gue langsung berseru tidak terima atas perlakuannya. Bukannya menjawab, Veranda justru tertawa lebar setelah melihat reaksi gue. "Lo pantes di pukul, nerdy boy!" Serta merta gue ambil buku tadi dan membalas memukul kepalanya dengan tidak kalah keras. "Itu balasan karena sudah mukul gue." Veranda mengembungkan kedua pipinya sesaat kemudian mendekat ke arah gue, berusaha untuk mengambil kembali buku yang masih berada di tangan gue. "Give me that book!" serunya sambil kedua tangannya berusaha menggapai buku yang sekarang gue angkat tinggi-tinggi ke udara. "Gak mau. Nanti lo mukulin gue lagi," jawab gue masih dengan salah satu tangan di angkat ke atas untuk menjauhkan buku itu dari dirinya. Tidak ingin kalah, Jessica Veranda lantas mencoba berjinjit mencoba menggapai buku yang masih kencang gue pegang. "Coba aja ambil kalau lo bisa Queen," tantang gue padanya. Merasa tidak berhasil dengan berjinjit, ia lalu mengubah strateginya dengan lompat-lompat kecil. Gue biarkan dia berusaha sekuat yang dia bisa untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Karena gue gak akan membiarkannya. Berkali-kali dia berseru untuk menyuruh gue menurunkan buku tersebut. Dan gue tertawa-tawa melihat tingkahnya. It's so interesting to make fun of her. Lama kelamaan tubuh Queen semakin menempel ke tubuh gue. Berkali-kali gue merasakan sesuatu yang menonjol bergesekan menyentuh d**a gue. Gue pandangi wajahnya untuk memintanya agar segera berhenti. Tapi begitu wajah gue menunduk melihat wajahnya, untuk sedetik gue mendapati diri gue memandangi wajahnya cukup lama. Tidak biasanya gue memandangi wajahnya selama itu. "Ehhemm". Mendengar suara berdeham Mama, gue langsung melepaskan pandangan gue darinya. Gue lalu menjauh dari Queen dan kembali duduk di sofa setelah membetulkan posisi kacamata gue. Melihat kehadiran Mama, Queen lantas membuat dirinya setenang mungkin. Ia lalu tertawa dan berkata, "Farish yang mulai duluan Tante. Dia pukul aku pake buku itu." "Huh? Apa?" Gue naikkan alis gue menatapnya. "Lo duluan yang tadi pukul gue pake ini, Queen." "Farish, jangan kasar sama Ve. Dia tamu disini." Bukannya membela gue, Mama justru membela Queen.  Ia lalu berjalan menghampiri gadis itu dan menyerahkan bingkisan yang pasti berisi bolu buatannya tadi. "Kasih ke Kakak kamu juga ya Ve. Biar dia cobain bolu buatan Tante." "Iya makasih Tante," jawabnya. Dipalingkannya wajahnya kearah gue kemudian melakukan satu hal yang gak pernah gue duga akan dilakukan oleh seorang Jessica Veranda. Menjulurkan lidahnya! "Ma! Tuh liat! Dia baru aja-". "Sudah.. sudah.. Cepat kamu anterin dia sampe teras sana. Kapan Mama pernah ngajarin kamu untuk gak sopan sama tamu," potong Mama. Ia lalu mendorong tubuh gue untuk mengantar Queen hingga ke teras. Sebelum beranjak, Veranda mendekati Mama lalu menyalami tangannya. "Terima kasih sudah menerima Ve disini Tante. Terima kasih juga untuk bolunya." "Gak usah sungkan-sungkan. Tante senang kalau Ve main kesini. Lain kali kesini lagi ya, nanti Tante buatkan martabak kesukaan kamu," jawab Mama sambil tersenyum. Queen mengangguk kemudian memeluk Mama dan tidak lupa memberinya kecupan di kedua pipi. What was that all about? "Apa kamu mau di anterin Farish pulang?" tawar Mama gak gue sangka-sangka. Mengantar Jessica Veranda pulang? Dia akan semakin besar kepala dan merasa menang nantinya. "Gak usah Tante. Aku udah dijemput sama supir di depan," tolaknya halus. Queen lantas berbalik untuk pergi. Gue ikuti langkahnya hingga melewati pintu rumah. Sebuah mobil mewah berwarna putih sudah menunggunya dengan manis di depan rumah gue. Mobil buatan Jerman yang seringkali gue lihat mengantar-jemputnya setiap pergi dan pulang dari sekolah. "Thanks udah menjamu gue dengan baik di rumah lo, Rish." Queen kembali bicara setelah kami tiba di samping mobilnya. Ini sudah kedua kalinya dia memanggil gue dengan nama Rish. Biasanya dia selalu memanggil gue dengan sebutan nerdy boy. "Thanks juga udah ngajarin gue Matematika dan juga karena udah maafin gue. Sorry kalau kedatangan gue jadi bikin lo ngerasa gak nyaman." "Gue yang seharusnya minta maaf karena gak hadir di acara ulang tahun lo, padahal sudah lo undang. Nyokap gue juga pasti udah buat lo bosan. Dia cuma kelewat senang karena jarang ada temen gue yang main ke rumah." Bukannya meledek karena menjadi orang pertama dan mungkin satu-satunya yang pernah berkunjung ke rumah gue, Queen justru tersenyum. "Nyokap lo keren Rish. Lo harusnya bangga punya orangtua seperti beliau. Dia sangat menyenangkan. Lagipula, ngobrol sama nyokap lo itu seru, asik. So that's how it feels like to talk with a mom huh?" Gue langsung teringat mengenai cerita Queen tadi. Kedua orangtuanya jarang berada di rumah. Mereka sibuk bekerja di luar kota. Sejak kecil, ia hanya dekat dengan kakaknya, Judith. Gue jadi sedikit mengerti mengenai apa yang dia rasakan. Gue letakkan tangan kanan gue dibahunya. Mencoba untuk menenangkannya. "Maaf, gue gak pernah tau keadaan keluarga lo. Bukan hak gue untuk ikut campur. Tapi.." Gue menarik nafas panjang sejenak. "Lo bisa dateng kapan aja ke rumah gue dan ngobrol banyak dengan Mama. Tinggal hubungin gue kalau lo mau kesini." Veranda mengangkat wajahnya menatap gue. Dia tersenyum sumringah dan terlihat sangat bahagia. Dan di saat gue lengah, dia mengulurkan kedua lengannya untuk memeluk gue. "Thanks banget Rish. Gue bener-bener have fun selama berada di rumah lo." Entah karena alasan apa, gue balas memeluknya. "Oke." Queen melepaskan pelukannya dan buru-buru mengalihkan wajahnya dari pandangan gue. Tapi gue sempat melihat sesuatu di wajahnya yang membuat gue penasaran. She is blushing. "Gue harus pulang sekarang. Bye." Queen berbicara dengan cepat. Ia buru-buru membuka pintu mobilnya lalu menutupnya kembali secepat yang ia bisa. Belum selang satu detik, mobilnya sudah pergi begitu saja dari hadapan gue. What was that? Gue mendongak ke atas menatap langit yang sudah gelap. Kenapa malam ini begitu sunyi? Gue hanya bisa mendengar suara degup jantung gue yang berdetak sangat cepat. Seperti siap meledak kapan aja. Is this part of your plan, Jessica Veranda? Saat masuk ke dalam rumah, Mama sudah menunggu gue dengan senyum di kulum. Jangan bilang kalau Mama melihat kejadian barusan. "Dia perempuan yang sangat manis, Rish," ujarnya. Dan sebelum gue bisa mencegahnya, Mama kembali melanjutkan, "Mama suka sama dia." Oh boy. I was too late. I lost. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN