Setelah beberapa keluarga inti berseruh kata Sah. Noumi mencium tangan Bayu, dan Bayu mencium kening Noumi. Usai menyematkan cincin di jari manis, pasangan suami istri itu sungkem pada bu Indah sebagai wakil wali Bayu dan Mak Asih sebagai wakil wali Noumi.
Tidak ada pesta, hanya syukur biasa tiada ada acara yang di publikasikan karena itu ke ingin Noumi. Awalnya ada kejanggalan di hati Indah dengan permintaan Noumi tapi manut saja lah dari pada gagal mempunyai menantu idaman.
Indah tau bagaimana perjuangan anak semata wayangnya itu agar Noumi mau jadi istrinya. Indah belum yakin bahwa Bayu benar benar mencintai Noumi sebanyak pasangan suami istri pada umumnya. Kelemahan Bayu lah yang membuat Indah mendesak agar segera mempersunting menantu idamannya.
Cinta akan hadir seiring waktu kelak, itulah pemikiran Indah. Tidak apa tidak ada pesta hari ini, kemudian hari mereka berdualah yang akan merengek meminta pesta megah pernikahan. Berlahan tapi pasti hasil, itulah motto Indah saat ini.
Senyum sumringah jelas Indah pancarkan saat ini, begitu juga dengan Bayu entah itu terpaksa atau ikhlas yang jelas di matanya keikhlasan itu terpancar tapi ada raut wajah yang sepertinya sedang ia sembunyikan karena hati seorang ibu tidak dapat di bohongi.
Sedangkan Noumi, sangat kentara di mata dan bibirnya bahwa itu semua terpaksa. Tapi setidaknya ia sudah berusaha terlihat bahagia di depan keluarga Bay, itulah hebatnya Noumi.
Entah bagaimana sikap Indah nanti jika tau siapa Noumi sebenarnya, apakah masih menganggap Noumi menjadi menanti idaman atau malah sebaliknya membenci dan menolak Noumi menjadi menantunya. Hanya waktu yang bisa menjawab.
Mario dan Manda juga di sana, Maria serta suami dan anaknya juga pulang kampung untuk menyaksikan acara sakral sepupu tercintanya.
" kak kapan kakak akan menikahi kak Manda." tanya Maria yang sepertinya kesusahan jika duduk terlalu lama karena kehamilan anak keduanya sudah mulai membesar.
" secepatnya Maria, kamu tunggu saja." Jawab Mario yang berdiri di belakang kursi Manda.
Manda pun tersipu, merasa senang bahwa Mario pria yang menyita hatinya 2 bulan ini telah berencana untuk membawanya ke hubungan yang lebih serius lagi.
Mario serta Steven yang sedang menggendong Brian putra pertamanya dengan Maria memilih keluar dari ruangan sana ke taman yang sepertinya terlihat santai. Sedangkan kedua wanita itu, Manda dan Maria asyik mengobrol masih seputar perkenalan. Tidak butuh waktu lama bagi mereka yang ternyata asyik dan nyambung jika mengobrol.
" Apa kak Noumi tidak memiliki keluarga kak ? kenapa yang datang hanya kakak dan ibu itu." tanya Maria penasaran sambil ekor matanya ke arah Mak Asih yang asyik dengan Indah.
" yang aku tau selama ini Noumi tidak memiliki keluarga, hanya Mak Asih yang merawat Noumi selama ini. Mungkin orang tuanya sudah lama meninggal. Kehidupannya terlalu pribadi jika menjadi bahan pembicaraan umum dek." jelas Manda pada Maria
Noumi yang bosan duduk bersanding dengan Bayu sedari tadi hanya diam tanpa ada salah satu dari mereka yang mau membuka suara, akhirnya ia memutuskan untuk ikut bergabung dengan Manda dan Maria di ujung meja sana. Sepertinya asyik terlihat dari cara bicara mereka dan tertawa kecil mereka yang bersahutan.
Bayu hanya menatap perginya Noumi, tanpa bertanya kemana dan ngapain. Diam untuk saat ini itu mungkin yang terbaik sambil menata hati dan berbagai pertanyaan nanti usai acara syukuran ini.
Noumi menarik kursi sebelah Manda, " boleh ikut gabung." tanya Noumi
" Eh pengantin baru, ngapain di sini, noh lakik loe anggurin di sono." ucap Manda
Manda tidak jadi duduk, hatinya seperti tidak mood dengan hal apa apa selain ketenangan saat ini.
" gue bercanda Mi," Manda mendudukkan Noumi di kursi yang masih di peganggi.
Manda hafal betul sikap dan sifat bos sekaligus sahabatnya itu. Seperti tidak sedang baik baik saja.
" kita belum sempat kenal ya kak, aku Maria adik kak Mario." Maria memperkenalkan dirinya dengan sopan
" Noumi." Noumi menyambut tangan Maria yang masih menggantung di udara
" Selamat ya kak, harus sabar sama kak Bayu karena orangnya memang agak aneh sikapnya nyeleneh tapi dia baik kok suka bercanda juga. Malah yang terlalu serius itu kak Mario." Manda seakan menceritakan bagaimana Bayu itu, sekalian memberitahu bagaimana kakak kandungnya juga pada Manda
Noumi hanya mengangguk, senyumannya terpaksa, Manda tau itu.
Dari meja sana Bayu tampak jelas dengan air muka Noumi saat ini, ia hanya menghelah nafsanya saja yang akhirnya juga ikut bergabung bersama Mario dan juga Steven serta Brian di taman.
Hari sudah sore, keluarga sudah balik kerumahnya masing masing begitu juga dengan Mak Asih yang pamit. Rumah akan terasa semakin sepi jika anak kesayangannya itu ikut bersama suaminya.
Walau bagaimanapun juga hidup bersama Mimi 5 tahun ini, akan merasa kehilangan jika Noumi tidak lagi di rumah. Sama seperti dulu saat ia masih menjadi pengasuh Noumi saat masih kecil, waktu itu Noumi sudah masuk usia 12 tahun yang artinya Noumi sudah masuk bangku SMP. Keluarga dari Budhenya menyuruh Mak Asih berhenti untuk merawat Noumi kecil, dengan alasan Noumi sudah beranjak remaja jadi dia sudah tidak di perlukan lagi dan Noumi bisa menyelesaikan pekerjaannya sendiri.
Hari Hari dimana Mak Asih tidak tega melihat bagaimana perlakuan keluarga Budhenya pada Noumi, sempat Mak Asih di masukkan ke sel oleh Budhenya Noumi dengan kasus telah menculik Noumi. Bukan mencuri hanya saja saat itu Noumi sedang sakit ia tidak tega meninggalkan Noumi dengan Budhe seperti nenek lampir. Akhirnya Noumi menemui Mak Asih pulang sekolah, dan Mak Asih dengan berat hati menerima Noumi di rumahnya.
Tetes air mata dari kedua wanita beda generasi itu mulai membasahi pipi mereka masing masing, setelah saling melepaskan pelukan.
Noumi duduk di meja yang terdapat kaca di depannya, tidak ada meja rias di kamar Bayu. Setelah membersihkan riasan di wajahnya Noumi kesusahan melepaskan resleting kebayanya yang terlalu pas di badan, tangannya tak sampai tiba tiba ada tangan yang datang, resleting pun sudah turun.
Dengan susah payah Bayu menelan salavinanya, punggung mulus itu berhasil membangunkan sesuatu yang tidak di balik belitan handuk yang ia kenakan.
Noumi membalikan badannya, matanya pun terkunci melihat wajah sempurna bagai Dewa di depan mata. Tetesan air dari helaian rambut Bayu membasahi d**a bidangnya. Belum lagi, air yang masih nyangkut di beberapa helai jamban tipisnya.
Tanpa ia sadar wajahnya merah merona saat ini, dengan sempat sempatnya mata Noumi turun kebawah. Ada yang tegak mengganjal di tengah tubuh pria yang sekarang sudah sah menjadi suaminya baik di mata agama dan juga mata hukum.
oh my God apa itu. Batin Noumi, yang jelas melihat bahwa bisa di pastikan itu ukuran terbesar yang ia tahu di lihat dari seberapa mengembangnya handuk yang di kenakan Bayu.
Bayu memajukan satu langkah ke depan, Noumi mengundurkan satu langkah ke belakang. Bayu mencondongkan tubuhnya, mata Noumi tertutup rapat. Hanya 2 centi saja bibir itu akan saling terpaut tapi Bayu memiringkan kepalanya.
" apa kamu sudah mulai tergoda denganku sayang ?." bisiknya pelan menyerupai suatu desahan bagi Noumi, seketika bulu roma Noumi merinding disko.
" Mimpi saja sana." Noumi mendorong tubuh Bayu kebelakang.
Tidak bisa di pungkiri bahwa Noumi salah tingkah saat ini, sampai ia tidak tau kamar mandi di kamar Bayu padahal tadi mata kepalanya sendiri melihat Bayu masuk kamar mandi.
" sayang jangan gugup, kamar mandi ku di sana. Kamu kesana apa mau keluar dari kamar dengan memakai kebayamu yang hampir lepas itu." goda Bayu menunjukkan letak kamar mandinya.
Naumi yang sudah terlanjur gugup karena salah tingkah sampai melupakan bahwa ia masuk kamar mandi tanpa membawa handuk dan juga baju ganti.
Bayu pun tersenyum penuh arti, " lihat saja aku akan membuatmu yang merangkak ke atasku dengan suka rela dan melupakan masa lalumu saat itu juga " sumpahnya dalam bergumam
Dalam kamar mandi Noumi menekan kedua dadanya demi untuk menetralkan detak jantungnya yang berkerja melampaui kapasitas.
" Bisa gila gue." Noumi bicara pada dirinya sendiri di depan kaca.
" Masih 10 menit, tinggal 5 menit lagi dia akan berteriak." Bayu menghitung waktu di ponselnya.
Tubuhnya di rebahkan di atas ranjang dengan masih menggunakan handuk untuk menutupi setengah tubuhnya tapi mata dan hatinya sedang menunggu suatu teriakan minta tolong dari dalam kamar mandi.
Tapi sayang sudah lewat 20 menit berlalu teriak minta tolong dari dalam sana, Ia berdiri di depan pintu kamar mandi memastikan istrinya baik baik saja di sana. Tidak ada suara apa apa hanya suara percikan air yang keluar dari shower.
Pintu kamar di ketuk dari luar. Bayu pun membukanya.
" Den, makan malamnya sudah siap ibu dan Mario menunggu di bawah." ucap salah satu pelayan di rumahnya.
" Bilang sama ibu, menantunya masih mandi." pelayan itu pun pergi dengan pesan yang di ucapkan Bayu baru saja.
Bayu penasaran apa yang di lakukan istrinya di dalam sana kenapa tidak kunjung keluar atau minta tolong padanya.
" Mampus gue, handuk gak bawa baju ganti juga gak bawa. gimana ini." Noumi mondar mandi di dalam kamar mandi
Bayu yang tidak sabar menunggu, mengetuk pintu berkali kali.
" Sayang ayo keluar ibu sudah menunggu waktunya makan malam." teriak Bayu
" ambilin gue handuk sama baju ganti." teriak Noumi dari dalam, dari pada bingung sendiri mending minta tolong saja.
Tidak baik juga di hari pertama ia tinggal di rumah mertua malah membuat mertuanya menunggu makan malam. Kismark mulai muncul di sudut bibir Bayu. Setelah mengambil handuk dari lemari Bayu mengetuk pintu kamar mandi.
" ini sayang."
Cukup di buka sejengkal saja, tapi tubuh Noumi bersembunyi di balik pintu. Tangan Noumi meraih, handuk itu.
" Diam di situ, atau gue bakalan teriak nanti." ancam Noumi
" teriak saja." Kaki Bayu masih menahan pintu agar tidak di tutup Noumi secara tiba tiba sebelum ia mendapat imbalan pemandangan indah dari dalam sana.
Bahkan Noumi lupa, dimana ia berada sekarang. Mau teriak sekuat apapun tidak akan pengaruh juga, sadar status saat ini juga.