Setiap hari aku memang berjalan penuh semangat pagi menuju kantor. Melangkah sambil menyunggingkan senyum dan menyapa setiap orang di jalan, meski tak kukenal. “Pagi semuaaaa!” aku berseru memasuki ruang redaksi. Semua teman redaksiku menatap skeptis. Aku meletakkan tas dan menghidupkan komputer tanpa mengubah wajah ceriaku. “Ceria amat mukanya udah kayak mau diajak nikah Pangeran Harry aja,” kata Tiara sambil mengantar naskah yang hendak dikoreksi proofreader. Aku menyunggingkan senyum hiperbolis. Kupandang Mbak Desi yang belum-belum sudah sibuk di meja. “Eh, Mbak. Mau kenalan sama Sehun KW, nggak?” bisikku. Mbak Desi membalas dengan lirikan tajam. “Nggak.” Aku menunjukkan fotoku bersama Nino padanya. Awalnya Mbak Desi tidak tertarik, tetapi begitu matanya mengintip sedikit, ia lang

