Papa dan Mama

1202 Kata

Aku melepas pelukan Iota, tapi ia menarik badanku, mengeratkan tangannya. “Plis, biarin gue meluk lo sebentar lagi.” Aku mengerutkan dahi, agak prihatin dengan dirinya. Maka, kubalas pelukannya sekadar menenangkan dirinya. Mataku memejam. Aku dapat merasakan degup jantung dan helaan napasnya yang hangat di leherku. Aku membuang napas berat. Kutepuk dan kuelus punggungnya. Ia akhirnya mengantarku pulang saat hujan reda. Awalnya, aku memegang erat bagian pinggir jok motor sport-nya, tetapi ia meraih dan menggenggam tanganku, memintaku berpegangan dengan memeluk pinggangnya sepanjang sisa jalan. Kuhirup udara beraroma percampuran musk dan petrichore. Begitu sampai di depan rumah, aku buru-buru turun dari motornya. “Thanks.” Aku tersenyum. “Jangan bikin editor baru lo kerepotan, ya. Kasih

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN