Tersesat jilid 2

1047 Kata
“Kamu kenapa marah-marah bukankah yang saya bilang benar” jelas Regan sembari ia melangkah keluar dari tenda miliknya, Syifa yang melihat gerak-gerik pria itu lantas menjauh sungguh ia sedang malu sekarang karena habis kepergok menatap pria itu diam-diam. “Kamu mau kemana?” Panggil Regan sedikit berteriak karena Syifa lama kelamaan berjalan menjauh dari tenda. Tentu Syifa mendengar panggilan Regan namun ia memilih untuk tidak menjawab karena bersembunyi sekarang adalah waktu yang tepat. Sebab kalau bertatap membuatnya malu. “Kurang ajar banget sih! Emang dia pikir gue w************n apa!!” Kesalnya sembari melangkah, Syifa tak sadar ia melangkah semakin menjauh dari tenda bahkan siur suara dari Regan tak lagi terdengar olehnya. Hingga sampai saatnya ia tersadar.... “Tunggu!!!” Syifa menghentikan langkahnya lalu melirik kiri dan kanannya, disana banyak perpohonan dan juga hamparan pantai yang panjang tak bertepi pemandangan ini sangat berbeda dengan pantai tempat ia tinggali dengan Regan. “Waduh!! Gue nyasar deh ini!!” Meninggalkan Regan bukanlah pilihan yang tepat apalagi sampai merajuk nggak jelas seperti tadi. Syifa menyesal tuhan. Karena tak ingin kembali tersesat Syifa kembali berjalan pulang menuju tenda. Ia menelusuri setapak demi setapak jalan yang tadi ia lewati. “Perasaan gue cuma jalan beberapa langkah tapi kenapa jalannya jadi jauh banget sih!” Monolognya. “Regan tolong dong cariin gue sekarang.. gue takut” rengek gadis muda itu, berharap pria yang bersamanya tadi mencarinya. Sedangkan di tempat lain Regan sedang sibuk memanggang sisa daging kelinci yang semalam ia bersihkan, sangking asyiknya memanggang ia lupa bahwa Syifa sudah hilang tersesat. Daging kelinci sudah siap dipanggang dan tinggal disantap, Regan yang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Syifa kini mulai menyadari kehilangan gadis itu. “Syifa!!” Teriak Regan, berharap yang dipanggil nyaut. Namun sudah beberapa kali ia berteriak namun tanda sahutan dari ujung sana juga tetap tak ada membuat Regan menjadi cemas pria itu pun lantas pergi meninggalkan daging kelincinya demi mencari Syifa. Regan khawatir dengan gadis manja itu, kemarin saja ia sempat bertengkar dengan monyet dan kali ini binatang apalagi yang mau diajaknya berkelahi. Haduh. Regan berlari mencari Syifa dengan mata elangnya ia melirik kesana kemari. “Syifa!! Syifa!! Syifa!!!” Teriaknya tak sabaran. Kini terik perlahan berganti senja namun keberadaan gadis itu tetap saja tak ditemukan. Ntah sudah berapa kilometer jalan yang ditempuh Regan. Mungkin jika disuruh kembali ke tenda ia memilih untuk menolak karena kelelahan. Bagaimana tidak lelah, ia sama sekali belum makan sejak tadi, niat memanggang daging kelinci sisa semalam untuk makan siang eh malah tidak kesampaian karena Syifa yang tiba-tiba menghilang. “Dimana si lo gad— ucapan Regan tergantung kala melihat seorang gadis yang sepertinya terdampar ditepi pantai. Regan pun mendekat dan... “Kamu ngapain disini?!” Tanya Regan sedikit membentak mungkin karena ia lelah mencari keberadaan gadis itu, tapi gadis itu malah keenakan tidur-tiduran di tepi pantai. “Eh Lo!! Aaaaa..” pekik Syifa senang, ia yang tadi sedang berbaring kini berdiri memeluk Regan erat, sepertinya ia sudah lupa cara untuk menjadi malu. “Gue senang banget lo nyariin gue!!” Regan tak menjawab pria itu masih kaget dengan pelukan tiba-tiba yang dilakukan oleh Syifa. Benar ini bukan pertama kalinya sebab sebelumnya Syifa juga pernah memeluknya saat itu gadis juga dengan masalah yang sama. “Gue pikir lo nggak bakal peduli, terimakasih” ucapnya bahagia seperti baru menang lotre. “Lo kok diam aja si seharusnya kan lo senang bisa ketemu gue lagi” protes Syifa sembari masih memeluk erat tubuh Regan. “Kalau saya senang emang saya bakal dapat apa? Pelukan? Atau— Regan menjeda omongannya. “b*****t!!” Sela Syifa lalu cepat-cepat ia melepas pelukan pria itu. “Saya cuma bertanya” “Lo kalau nanya nggak pakai nafsu bisa nggak si! Semua pria sama aja!!” Murka Syifa dengan gaya bersilang tangan membuang muka tak suka. “Tentu, pria nggak ada yang sama. Kamu aja beda kan dengan teman perempuan kamu. Kalian terlahir dari orang tua yang berbeda tentu sifat dan bentuk kalian berbeda. Sama dengan pria, yang sedarah saja beda sifatnya. Tuhan nggak mungkin menciptakan umatnya dengan sikap dan laku yang sama.” Tutur Regan dengan intonasi lembut. Syifa membuang mukanya merasa masih kesal padahal Regan tadi cuma bertanya tentang pelukan kenapa ia marah. Yang salah kan seharusnya Syifa toh dia duluan yang ambil start pelukan. Benar, Wanita itu selalu benar, mau kamu di universe manapun. Peraturan tentang wanita telak adanya! “Yasudah kalau kamu marah, saya pergi” ucap Regan memanasi ia sangat tau Suifa tak mungkin rela ditinggalkannya dan baru ia beberapa langkah tarikan tangan dari Syifa sudah membuat langkahnya terhenti. “Jangan tinggalin gue” “Kamu tadi marah” “Iya kalau gue marah lo mau ninggalin” “Saya nggak suka berada di hubungan yang tak enak, apalagi saling marahan jadinya canggung” jelas Regan. Syifa diam ia malah sibuk memainkan tangan Regan yang ia tahan tadi, buktinya Regan saja sampai geli sendiri akubat elusan halus yang dibuat Syifa di tangannya. Ingin sekali ia menarik tangannya itu dari genggaman Syifa. “Yasudah saya nggak jadi ninggalin kamu” Syifa mendongak tersenyum menatap Regan. “Tapi kamu harus nurut sama saya, jangan kabur-kaburan lagi” “Iya kalau lo nggak ngeselin” ucap Ayifa pelan hanya kata iya saja yang ia besarkan, namun Regan mendengar semuanya. “Maaf kalau saya ngeselin” “Iy—- kriuk kriuk.. suara perut Syifa memecahkan keromantisan yang barusaja terbuat. Sungguh Syifa malu banget, rasanya ia ingin loncat kedalam air saja sekarang. Regan menahan tawanya, “Kamu lapar?” Syifa diam tak menjawab. “Kalau lapar bilang” “Iya gue lapar! Sejak semalam kan gue cuma makan dikit mana lo juga tau kalau semalam gue sakit perut!! Ishh jahat banget si lo!!” teriak Syifa kesal saat melihat wajah Regan yang sekarang sudah lepas menertawakannya, padahal Syifa sudah menahan malu sejak tadi. “Hahah hahaha hahah” Regan tak berhenti ketawa membuat Syifa yang berada di depannya menjadi kesal. “Aaa gue benci sama lo— Syifa hendak pergi namun segera ditahan eoleh Regan. “Tadi saya bilang apa?” Pria itu tak lagi ketawa. “Lo buat gue sebal!” “Yaudah, ayok cari makan saya juga lapar” pungkas Regan setelahnya ia menarik tangan Syifa masuk kedalam hutan mencari sesuatu yang bisa mereka makan. ### To be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN