Malam menjelang, Syifa yang tadi tertidur terlebih dulu kini terbangun karena perutnya yang tiba-tiba merasa keram yang sangat teramat sakit, ia pun sampai terduduk menahan sakitnya yang tak kenal henti bahkan ia sudah mengganti beberapa gaya dari nungging, duduk bersila, naikan kaki keatas dan sampai kayang pun ia lakukan namun sakit itu tak kunjung hilang, biadab!
“Sakit... sakit..” rintihnya berulang namun tak ada yang datang karena frustasi yang teramat sangat ia berjalan tertatih tatih ke luar dari tenda daunnya menuju tempat dimana Regan terlelap, sesampainya di tempat Regan, ia menepuk nepuk lengan pria itu berulang kali sembari memegang perutnya yang terus kesakitan.
“Bangun! Banguun !! Please bangun dong, perut gue sa sakit b banget nnh injaisb” rancaunya tak jelas, Regan yang merasa tidurnya terganggu membuka matanya perlahan dan baru seberapa detik ia membuka mata gadis yang tadi duduk didepannya kini perlahan merebahkan diri ke atas tubuhnya, Regan yang tak siap malah tertindih tubuh Syifa.
“Bangun” ucap Regan serak khas orang bangun tidur, Namun Syifa malah diam tak bergerak. Karena khawatir, Regan segera membangunkan dirinya, dengan perlahan ia menyingkirkan tubuh Syifa ke samping tubuhnya.
Setelah dianggap pas ia pun menatap gadis itu seksama dengan penerangan rendah ia berucap “Kamu kenapa?” , gadis itu tak menjawab ia masih terus memegang perutnya dengan keringat yang terus meluncur bahkan wajahnya sudah berubah pucat sekarang.
Tanpa ragu Regan menyentuh dahi Syifa, dan betapa kagetnya ia bahwa gadis itu sangat panas dan bisa dipastikan jika Syifa sedang sakit.
“Tunggu disini saya keluar sebentar” ucap Regan, belum ia beranjak tangannya udah ditahan oleh Syifa.
Regan berbalik menatap Syifa yang kini juga menatapnya “Hanya sebentar” terang Regan lembut, Ia perlahan melepas genggaman tangan Syifa lalu berjalan keluar mencari daun yang tadi sempat ia lihat, dan syukurnya daun itu benar ada ia ternyata tak salah lihat, Regan dengan cepat mengambil beberapa lembar daun yang ia dapat lalu membawanya kembali ke ke tempat mereka netap. Di dekat tenda beratap daun minimalis yang dibuatnya, Regan sedang merebus daun yang ia dapat tadi dengan air botolan yang tadi sempat ia bawa dari kapal. Sembari menunggu air rebusan mateng, Regan kembali ke tempat Syifa sembari membawa air minum.
“Ini minum dulu” ucap Regan sembari menyodorkan botol yang ia bawa.
“Aku nggak mau”
“Turutin saya atau saya tinggal tidur” ujar Regan dengan tegas, Syifa yang kalah telak segera duduk perlahan dibantu oleh Regan. Gadis itu pun menerima botol berisi air yang ada di tangan Regan.
Syifa minum beberapa teguk, lalu mengembalikkan botol yang tadi ia pegang ke Regan.
Regan menatap botol yang ia pegang lalu kembali menatap Syifa “Bilang apa?”
“A-apa?”
“Kalau habis dikasih sesuatu sama orang itu baiknya kamu bilang terimakasih” terang Regan.
“Oh, terimakasih”
“Tunggu sebentar” Regan kembali keluar, ia mengecek air rebusannya, dan benar saja air itu sudah matang. Regan membawa air rebusan daun yang ia dapat tadi ke tempat Syifa.
“Apa lagi yang lo bawa?” Tanya Syifa yang sudah curiga.
“Minum” Regan menyodorkan ke depan Syifa, gadis itu menurut ia segera meminum air rebusan itu, baru berapa yang masuk ke mulutnya ia sudah tak sanggup bahkan ia akan menyemburkan air itu keluar namun gerak Rega lebih cepat darinya, pria itu menutupi mulut Syifa dengan tangannya yang mengatup bibir gadis itu agar air yang segera ia keluarkan masuk kembali kedalam mulutnya.
Syifa pasrah ia meminum air itu.
“Pahit!! Jahat banget si li perut gue sakit ni bukan lagi bercanda” maki gadis itu setelah mulutnya bebas dari tangan kekar Regan.
“Saya sedang tak bercanda” ucap pria beralis tebal itu sanati namun siapapun yang melihatnya pasti akan tau jika ia sedang serius.
“Kalau gue mati gimana! Lo mau tanggun—- belum selesai ia berucap Regan sudah akan beranjak pergi, Syifa yang kelagapan segera menghentikan langkah pria itu agar tak pergi.
“Mau kemana?!”
“Kamu sudah sembuhkan? Sekarang kembali ke tendamu saya mau tidur”
“Nggak! Disana dingin, tempat lo lebih nyaman ternyata” ucap Syifa sembari membaringkan tubuhnya kembali.
Regan berdecak pelan sungguh berhadapan dengan Syifa sama saja ia sedang meladeni anak umur 5 tahun, harus punya stok sabar yang banyak.
“Kamu mau tidur dengan saya?”
Syifa yang sudah memejamkan matanya sontak melotot kaget mendengar ucapan Regan barusan.
“Bukan gitu maksud gue!” Ucapnya tak terima sembari kembali duduk bersila.
“Kita pindah aja gur tidur disini lo tidur disana” tawar Syifa, lihatlah secepat itu penyakitnya hilang padahal beberapa menit yang lalu ia sedang kesakitan seperti akan merenggut nyawa.
“Saya nggak mau”
“Ih jahat banget si lo, gue mau tidur disini”
“Ya sudah kamu tidur dengan saya, kalau nggak mau tidur di tendamu” ucap Regan, ia yang tadi sedang berdiri di depan tenda kini masuk kedalam tenda buatannya sembari menutup bagian pintu dengan daun kelapa, Syifa yang shock lantas berangsur menjauh.
“Kalau nggak nyaman pindah ke tendamu” ucap Regan santai bahkan sampai santainya ia sudah membaringkan tubuhnya di atas dedaunan yang ia tata sebagai kasur empuk alaminya.
Syifa berdecak kesal karena malu untuk pergi ia memutuskan untuk berbaring di samping Regan karena tenda yang dibuat Regan tak cukup besar, membuat kedua sejoli itu tidur berdekatan bahkan punggung mereka saling bersentuhan.
Pagi menjelang, Syifa terbangun terlebih dahulu dan saat ia membuka mata, tatapan pertamanya langsung tertuju pada wajah pria yang kurang ajarnya begitu tampan dengan penerangan rendah dari sinar matahari membuat lekuk wajah pria itu menjadi begitu nyata, pahatan dari tuhan yang begitu sempurna. Syifa terdiam beberapa saat sampai ia tersadar jika ia sedang memendangi wajah pria yang semalam ia benci.
“Jadi ini maksud kamu mau tidur dengan saya” ucap pria yang ada didepannya dengan mata yang masih tertutup. Syifa sontak terkaget bukan main.
“Maksud kamu apasih! Lo!” Ucapnya gugup, menatap arah lain.
“Gimana sudah puas lihat wajah saya?” Ucap Regan kembali namun kini ia sudah membuka matanya menatap lekat wajah Syifa yang sedang mengalihkan pandangannya padanya.
“Nggak! sa— nggak,maksud gue, gue nggak lihat wajah lo! Ke gr-an banget jadi orang!!” Ucap Syifa kesal ia pun segera keluar dari tenda Regan daripada didalam ia terus dituduh lebih baik kabur.
#####