Daging Kelinci

1051 Kata
HAP .. Kelinci berukuran sedang sudah ada ditangnnya, Regan tersenyum penuh bangga namun ia merasa ada yang kurang. “Oh iya dia!!” Pekiknya terkaget saat mengingat bahwa Syifa tak ada dibelakangnya, Regan meraup wajahnya frustasi hanya karena kelinci ia malah meninggalkan gadis manja itu sendiri. Dapat dipastikan bahwa Syifa sedang menangis kini. Regan berjalan kembali ke Tenda, tak lupa mata buasnya melirik ke kanan dan kiri mencari keberadaan Syifa. “Aw... sakit! Sakit!” Suara Syifa menggema, Regan pun segera berlari kearah sumber suara dan benar saja disana ada Syifa yang sedang bertarung dengan beberapa monyet. Syifa yang tak tau kedatangan Regan masih sibuk melempar monyet-monyet itu dengan batu namun naasnya monyet itu tak kunjung kabur malah terus mengganggunya dengan melempar kulit pisang ke wajah Syifa. Regan menahan ketawa sungguh adegan didepannya kini benar-benar menggelitik perutnya. Karena tak tega melihat Syifa yang terus mengadu kesakitan Regan pun segera melempar beberapa monyet itu dengan batu seperti cara yang Syifa lakukan, dan cara itu berhasil. Mungkin karena kedatangan Regan, monye-monyet itu mundur. Syifa yang masih ketakutan terus menangis sejak tadi. Regan mendekat padanya, “Monyetnya udah pergi, sudah jangan nangis lagi nanti dia datang kembali” ucap Regan mencoba menenangkan. Syifa yang masih dalam mode ketakutan tanpa basa basi memeluk tubuh atletis Regan, gadis itu menelungkupkan wajahnya di d**a bidang Regan. “Gue takut, hu......” tangisnya pecah, Syifa seperti anak kecil yang tak dibeli permen sekarang bahkan ingus dan air mata gadis itu sudah bercampur di baju yang Regan pakai. “Sudah pergi” terang Regan berulang kali. “Lo jahat banget!! Ninggalin gue sendiri” Syifa memukul d**a Regan berulang kali, menumpahkan sedih dan juga takutnya disana. “Kenapa kamu nggak ngikutin saya” “Mana sempat, lo kecepatan larinya!!” Gerutu Syifa yang masih memeluk hangat tubuh Regan, sepertinya gadis itu nyaman disana. “Mau sampai kapan?” “Apanya?!” “Meluknya” ucap Regan datar, Syifa yang tersadar buru-buru melepas pria itu dan menjauh. “Keenakan kan lo gue peluk” tuduhnya. “Kok saya?” Regan menunjuk dirinya nggak percaya. “Iya lah elo, siapa lagi! Masa monyet” ucap Syifa cepat setelahnya ia berjalan meninggalkan Regan. “Kalau monyetnya datang saya nggak akan membantu kamu” ucap Regan, Syifa yang tadi sok berani berjalan memimpin didepan segera berhenti dan kembali mendekat ke samping Regan. “Lambe banget punya mulut!” Ucap Syifa sedikit berbisik. Regan tak menanggapi kini ia berjalan dulu didepan, Syifa yang takut ketinggal segera berjalan berdampingan dengannya bahkan langkah gadis itu ia usahakan sebisa mungkin beriringan dengan punya Regan. Tak lama mereka berjalan kini keduanya sudah sampai di tenda yang mereka tinggalkan tadi, sesaat sudah sampai Syifa buru-buru masuk kedalam tenda sepertinya ia sudah kelelahan karena habis bertarung dengan beberapa monyet tadi. Sedangkan Regan pria itu berjalan ke tepi pantai yang jauh dari tenda guna membersihkan Kelinci yang ia dapat tadi, kenapa ia mengambil jalan yang jauh karena Regan takut bau darah yang keluar dari kelinci mengundang hewan buas dan itu sangat berbahaya bagi mereka. Perlahan Regan membelek leher kelinci itu penuh ketelatenan ia membersihkan tubuh kelinci, jujur Regan sangat menyukai binatang namun kini ia harus sedikit tak berhati demi perutnya dan gadis yang ia tinggalkan di tenda. Tak butuh waktu lama Regan pun segera kembali ke tenda membawa daging kelinci yang sudah ia bersihkan tadi, ia mempeecepat langkahnya karena takut terjadi yang tak diinginkan mengingat Syifa adalah gadis yang sedikit tak beruntung. Sesampai di tenda, Regan melirik kiri dan kanannya mencari keberadaan gadis itu dan benar saja Syifa masih tertidur di tenda tanpa alas, gadis manja itu sudah tidur terlelap. Regan duduk di depan api sembari menancapkan daging kelinci yang ia bersihkan tadi di kayu yang sudah ia bersihkan, setelah semuanya sudah tertancap Regan segera memanggang daging itu diatas api yang ia hidupi penuh susah payah sejak tadi ia datang. Daging itu tak lama sudah mulai berubah kecokelatan pertanda sudah matang, Regan yang tak enak hati makan seorang diri berjalan kedalam tenda membangunkan Syifa yang sudah tidur seperti orang tam bernyawa. Regan sudah memakai seluruh cara untuk membangun gadis itu tetap saja ia tak bangun, dan cara terakhir yang ia pakai adalah mengambil daging yang sudah matang itu dan membawanya kedepan wajah Syifa, dan mata cantik gadis itu sontak terbuka. “Lo ngapain!” Teriaknya setelah berhasil bangun. “Saya manggang daging, kalau mau cepat keluar” ucap Regan setelahnya ia segera berjalan keluar tenda. Syifa yang emang sedang lapar pun mengikuti pria itu keluar dan mereka duduk bersejejer di depan api. “Ini” Regan memberinya setusuk sate dan Suifa segera menerimanya bahkan tanpa menunggu lama gadis itu segera membawa daging yang masih panas itu masuk kedalam mulutnya, karena tak tahan panas Syifa segera memuntahkannya. “Kenapa dimuntahkan?” Ucap Regan sedikit kesal. “Panas banget” ucap Syifa sembari mengipas ngipaskan lidahnya yng masih terasa seperti bara api. “Makanya ditiup dulu” “Keburu hilang nyawa gue” “Niup 5 menit nggak buat kamu hilang nyawa” “Iya deh iya” Syifa tak lagi menjawab ucapan Regan, ia perlahan meniup makanan yang akan masuk kedalam mulutnya. “Ini daging apa sih enak banget?” Tanya Syifa dengan mulutnya masih penuh dengan makanan. “Kelinci” “KELINCI!!” Syifa hendak memuntahkan makanannnya namun ditahan oleh Regan cepat. “Kalau kamu muntahkan, saya tak akan memberi kamu makanan lagi” ancam pria itu. Syifa menatap tak suka pada Regan, “Jahat banget lo! Nggak kasihan apa sama kelinci yang lucu itu” “Saya lebih mementingkan nyawa saya” “JAHAT!” Gerutu Syifa, ia akan segera masuk kedalam tenda namun tangannya ditahan oleh Regan. “Saya nggak bisa membujuk orang, kalau kamu nanti malam kelaparan jangan ganggu saya” ucap Regan setelahnya ia melepas tangan Syifa yang ia tahan tadi. Syifa terdiam jujur perutnya masih lapar tapi ia juga punya ego yang tak bisa dikalahkan dan ditambah Regan membuatnya kesal, ia pun memilih kembali masuk ke dalam tenda. “DASAR PRIA TAK PUNYA HATI! TAK PUNYA HATI! JAHAT!!” Pekik Syifa tak suka, ia bahkan menendang nendang udara karena kesal, jika ada boneka disampingnya mungkin boneka itusudah habis itu menjadi samsaknya. Dan Regan mendengar itu tapi ia tak peduli, pria berhati dingin dan cuek itu lebih memilih menyantap satai kelinci yang ada di depannya, nikmat. ###
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN