Daging Kelinci

1008 Kata
“Hap!” Seekor kelinci berukuran sedang kini sudah berada di tangannya. Regan tersenyum puas, sorot matanya penuh kebanggaan atas hasil buruannya. Namun beberapa detik kemudian, senyum itu memudar. Seperti ada yang kurang. “Oh iya… dia!” Regan menepuk keningnya sendiri, wajahnya berubah kesal. Ia baru sadar Syifa tidak ada di belakangnya. “Bodoh,” gumamnya frustasi. Hanya karena seekor kelinci, ia malah meninggalkan gadis manja itu sendirian di hutan. Tanpa perlu berpikir panjang, Regan sudah bisa menebak Syifa pasti sedang menangis sekarang. Ia segera berbalik, berjalan cepat kembali ke arah tenda. Matanya waspada, menyapu setiap sudut hutan, mencari keberadaan gadis itu. Tiba-tiba “Aw! Sakit! Sakit! tolong! Regan!! Tolong!! Siapapun tolong guee!!” Suara Syifa terdengar nyaring. Regan langsung berlari ke arah sumber suara. Dan benar saja Di sana, Syifa sedang “bertarung” dengan beberapa monyet. Gadis itu melempari mereka dengan batu seadanya, wajahnya panik, rambutnya berantakan. Namun bukannya kabur, monyet-monyet itu justru semakin berani, bahkan membalas dengan melempar kulit pisang ke arahnya. Salah satunya tepat mengenai wajah Syifa. Regan refleks menahan tawa. Pemandangan di depannya benar-benar absurd menegangkan, tapi juga… menggelikan. Namun melihat Syifa yang terus mengaduh kesakitan, Regan akhirnya turun tangan. Ia mengambil beberapa batu, lalu melemparkannya ke arah monyet-monyet itu, sama seperti yang dilakukan Syifa. Kali ini berhasil. Mungkin karena kehadirannya, monyet-monyet itu mulai mundur, lalu perlahan pergi. Syifa masih berdiri gemetar. Tangisnya belum berhenti. Regan mendekat. “Monyetnya sudah pergi. Sudah, jangan nangis lagi nanti mereka balik,” ucapnya mencoba menenangkan. Tanpa aba-aba, Syifa langsung memeluk tubuh Regan erat. Refleks. Wajahnya ditenggelamkan di d**a bidang pria itu. “Gue takut… hu…lo kemana aja sihh. hu..hu..hu” tangisnya pecah. Ia seperti anak kecil yang kehilangan pegangan. Air mata dan ingusnya bahkan sudah bercampur di baju Regan. Regan menghela napas pelan. “Sudah, mereka sudah pergi,” ujarnya berulang kali. Namun tiba-tiba “Lo jahat banget!” Syifa memukul d**a Regan berkali-kali. “Ninggalin gue sendiri!” Regan menahan tangannya. “Kenapa kamu nggak ngikutin saya?” “Mana sempat! Lo larinya kayak dikejar setan!”Gerutu Syifa yang masih memeluk hangat tubuh Regan, sepertinya gadis itu nyaman disana. Beberapa detik hening. Regan menatapnya datar. “Mau sampai kapan?” “Apanya?” “Meluknya.” Syifa langsung tersadar. Ia buru-buru melepas pelukannya dan mundur beberapa langkah. Wajahnya memerah. “Keenakan kan lo gue peluk,” tuduhnya cepat, berusaha menutupi rasa malunya. Regan mengernyit. “Kok saya?” “Iya lah! Masa monyet?” balas Syifa ketus, lalu berbalik berjalan pergi. “Kalau monyetnya datang lagi, saya nggak akan bantu kamu,” ucap Regan santai. Langkah Syifa langsung terhenti. Beberapa detik kemudian, ia kembali berjalan… tapi kali ini mendekat ke samping Regan. “Mulut lo pedes banget sih,” gumamnya pelan. Regan tidak menanggapi. Ia kembali berjalan, dan kali ini Syifa sengaja menyamakan langkahnya, takut tertinggal lagi. Tak lama kemudian, mereka tiba kembali di tenda. Begitu sampai, Syifa langsung masuk ke dalam tanpa banyak bicara. Tubuhnya lelah, emosinya terkuras habis. Ia bahkan tak peduli lagi pada alas atau kenyamanan ia langsung tertidur. Sementara itu, Regan berjalan menjauh ke arah pantai yang sedikit lebih jauh dari tenda. Di tangannya masih ada kelinci hasil buruannya. Ia memilih tempat itu agar bau darah tidak menarik perhatian hewan liar. Dengan hati-hati, Regan mulai membersihkan kelinci tersebut. Tangannya cekatan, gerakannya terlatih. Meski begitu, sorot matanya sempat berubah. Ia sebenarnya menyukai hewan. Namun keadaan memaksanya. Demi bertahan hidup. Dan… demi gadis manja yang kini tertidur di tenda. Tak butuh waktu lama, semuanya selesai. Regan membawa potongan daging itu kembali ke tenda dengan langkah cepat. Saat sampai, ia melirik ke dalam. Syifa masih tertidur lelap, bahkan tanpa alas. Benar-benar seperti putri yang terdampar di dunia yang salah. Regan duduk di dekat api, lalu menusukkan potongan daging ke kayu untuk dipanggang. Api yang tadi ia susah payah nyalakan kini membara dengan sempurna. Tak lama, aroma daging panggang mulai tercium. Warna daging berubah kecokelatan tanda sudah matang. Regan melirik ke arah tenda. Ia menghela napas, lalu bangkit. Dengan sedikit enggan, ia masuk ke dalam dan mencoba membangunkan Syifa. “Bangun.” Tidak ada respons. Ia mencoba lagi. “Hei.” Masih diam. Berbagai cara ia lakukan memanggil, menggoyang pelan namun gadis itu tetap tidak bangun. Akhirnya, Regan mengambil satu tusuk daging yang sudah matang, lalu mendekatkannya ke wajah Syifa. Dalam sekejap Mata Syifa terbuka. “Lo ngapain!” teriaknya kaget. “Saya manggang daging. Kalau mau, cepat keluar,” jawab Regan santai, lalu keluar lagi. Syifa langsung bangkit. Rasa lapar mengalahkan segalanya. Ia segera keluar dan duduk di samping Regan, tepat di depan api. “Ini,” Regan menyerahkan satu tusuk daging. Syifa menerimanya tanpa basa-basi. Tanpa menunggu, ia langsung menggigit. “Panas!” serunya, lalu buru-buru memuntahkan daging itu. Regan menghela napas. “Kenapa dimuntahkan?” “Panas banget!” Syifa mengipas-ngipaskan mulutnya. “Makanya ditiup dulu.” “Keburu mati gue.” “Niup lima menit nggak bikin kamu mati.” “Iya deh, iya…” gerutu Syifa. Kali ini ia meniup dagingnya pelan sebelum makan. Beberapa gigitan kemudian, wajahnya berubah cerah. “Ini daging apa sih? Enak banget,” tanyanya dengan mulut penuh. “Kelinci.” “Kel—KELINCI?!” Syifa hampir memuntahkannya lagi. Namun Regan cepat menahan. “Kalau kamu muntahkan, saya nggak kasih kamu makan lagi.” Syifa menatapnya tidak suka. “Jahat banget lo! Nggak kasihan sama kelinci lucu itu?” “Saya lebih kasihan sama diri saya sendiri,” jawab Regan datar. “Jahat!” Syifa berdiri kesal, berniat kembali ke tenda. Namun Regan menahan tangannya. “Saya tidak pandai membujuk orang. Kalau nanti kamu lapar, jangan ganggu saya.” Ia melepas tangan Syifa. Gadis itu terdiam. Perutnya masih lapar, tapi egonya lebih besar. Akhirnya, ia tetap masuk ke dalam tenda. “Dasar pria nggak punya hati! Nggak punya hati! Jahat!” teriaknya kesal. Ia bahkan menendang-nendang udara, melampiaskan amarahnya. Sementara itu, di luar Regan hanya diam. Ia mendengar semuanya. Namun ia memilih tidak peduli. Dengan santai, ia melanjutkan makan sate kelinci di tangannya. Nikmat. Seolah dunia tetap berjalan seperti biasa. To Be Continued…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN