Langit siang yang tadinya cerah perlahan meredup.
Awan-awan gelap berkumpul tanpa permisi, menelan birunya langit yang sejak pagi menemani langkah Syifa dan Regan. Sinar matahari yang tadi hangat kini terselip samar di balik gumpalan awan, menyisakan cahaya pucat yang membuat suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Angin berubah arah, berembus lebih kencang dari sebelumnya, membawa aroma laut yang lebih tajam dan sedikit menusuk, seolah memberi peringatan bahwa hujan tak lama lagi akan turun.
Daun-daun di pepohonan tinggi bergesekan satu sama lain, menciptakan suara berdesir yang mengisi kesunyian hutan. Sesekali, ranting kering patah dan jatuh, menambah kesan bahwa alam pun sedang gelisah. Burung-burung yang tadi berkicau riang kini menghilang, mencari perlindungan sebelum badai datang.
Di dalam hutan, dua sosok itu masih berjalan beriringan.
“Kayaknya mau hujan,” gumam Syifa sambil mendongak ke atas, matanya menyipit karena cahaya yang mulai redup.
Regan tidak langsung menjawab. Ia berhenti sejenak, memperhatikan arah angin, pergerakan dedaunan, dan suara alam yang mulai berubah.
“Iya,” jawabnya singkat akhirnya. “Kita harus cepat.”
“Cepat cari makan atau cepat pulang?” tanya Syifa, menoleh ke arahnya.
“Keduanya.”
Syifa menghela napas panjang. “Hidup di sini capek juga ya…”
Regan melirik sekilas. “Baru juga berapa hari.”
“Ya justru itu,” balas Syifa cepat. “Baru beberapa hari aja gue udah pengen nyerah.”
Langkah mereka melambat.
Hening menyelinap di antara keduanya.
Hanya suara dedaunan yang bergesekan dan langkah kaki mereka yang terdengar.
“Aku dulu nggak pernah mikir bakal kayak gini,” lanjut Syifa pelan. “Tidur di tanah, makan seadanya, takut sama suara hutan… semuanya.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu menunduk.
“Kalau saja gue nurut sama ibu gue… mungkin gue nggak bakal di sini,” suaranya mulai melemah. “Kenapa ya… penyesalan selalu datang di belakang? Kenapa nggak di depan aja…”
Regan berhenti.
Ia menoleh.
Menatap Syifa yang kini terlihat jauh lebih rapuh dari biasanya.
“Kalau di depan, itu bukan penyesalan, Syifa.”
DEG.
Nama itu.
Untuk pertama kalinya, Regan menyebutnya dengan jelas.
Tanpa “kamu”, tanpa jarak.
Hanya Syifa.
Entah kenapa, satu hal sederhana itu membuat d**a Syifa berdesir.
Perasaannya berubah.
Yang tadinya berat, tiba-tiba terasa… ringan.
“Apa sih ini…” gumamnya dalam hati.
“Sekarang kamu masih mikir semua ini sia-sia?” tanya Regan lagi.
Syifa terdiam.
Ia menatap sekitar.
Pepohonan tinggi menjulang. Suara burung yang bersahutan. Angin yang menari di sela dedaunan.
Semuanya terasa hidup.
Lalu ia menggeleng pelan.
“Nggak…” jawabnya jujur. “Ternyata… ada hal yang nggak bisa gue dapet waktu di kota.”
Regan tidak berkata apa-apa.
Namun untuk pertama kalinya
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Tak lama kemudian
“Gan! Lihat itu!” seru Syifa tiba-tiba.
Ia menunjuk ke arah semak-semak dengan penuh semangat.
Regan langsung siaga.
Ia mendekat perlahan, menyingkirkan daun-daun dengan hati-hati.
Di sana
Beberapa buah liar menggantung.
Warnanya merah kekuningan, terlihat segar di antara hijaunya daun.
Regan mengamati dengan serius.
“Ini bisa dimakan?” tanya Syifa antusias, matanya berbinar.
Regan mengambil satu, mengendusnya, lalu memperhatikan teksturnya.
“Sepertinya aman,” katanya. “Tapi jangan banyak dulu.”
Syifa tidak menunggu lama.
Ia langsung menggigit satu.
Matanya langsung membesar.
“Enak!” serunya. “Manis!”
Regan mengangguk kecil. “Kita bawa beberapa.”
Mereka mulai mengumpulkan buah itu.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk mengganjal perut.
Setidaknya, untuk satu hari lagi.
Namun
Belum sempat mereka selesai
“DUARRR!”
Suara petir menggelegar keras, memecah suasana.
Syifa langsung refleks memeluk Regan erat.
“Aaa! Gue takut!” ucapnya dengan tubuh gemetar.
Regan sempat terdiam.
Namun ia tidak menolak.
Sebaliknya
Ia membalas pelukan itu.
Pelan.
Hampir tak terlihat.
“Kita harus balik sekarang,” ucapnya lembut.
Hujan mulai turun.
Awalnya rintik.
Namun dalam hitungan detik
Menjadi deras.
Tanah berubah licin. Angin semakin kencang. Pepohonan bergoyang liar.
“Pegang saya!” ujar Regan tegas.
Syifa langsung menggenggam tangannya erat.
Seerat mungkin.
Mereka berlari.
Menyusuri jalan yang kini terasa asing.
Kabur.
Licin.
“Gan… gue nggak bisa lari cepat!” teriak Syifa.
Regan berhenti sejenak.
Lalu menarik tubuh Syifa lebih dekat.
“Jangan lepas,” katanya.
Air hujan membasahi mereka.
Rambut mereka basah.
Pakaian menempel di tubuh.
Dingin mulai merayap.
Namun mereka tidak berhenti.
Dan akhirnya
Tenda itu terlihat.
“Cepat!” seru Regan.
Mereka masuk ke dalam dengan napas tersengal.
Hujan di luar semakin menggila.
Syifa terduduk lemas.
“Gila…” gumamnya. “Hampir aja…”
Regan berdiri di depan tenda, memastikan tidak ada air yang masuk terlalu banyak.
Namun
Ia merasa ada yang berbeda.
Ia menoleh ke arah laut.
Matanya menyipit.
“Syifa…” panggilnya pelan.
“Hm?” jawab Syifa lemah.
“Kamu lihat itu?”
Syifa ikut menoleh.
Di kejauhan
Di balik tirai hujan
Ada sesuatu.
Kecil.
Bergerak.
Di atas laut.
Syifa menyipitkan mata.
“Perahu…?” gumamnya.
Regan menatap lebih fokus.
Bukan.
Itu lebih besar.
Dan
Ada cahaya samar.
“Kapal…” bisiknya.
Jantung Syifa berdegup kencang.
“Beneran?” suaranya bergetar.
Regan tidak menjawab.
Ia langsung keluar dari tenda, berdiri di bawah hujan deras.
“HEI!!” teriaknya sekuat tenaga.
Syifa ikut keluar.
“HEI!! DI SINI!! TOLONG!!”
Mereka melambaikan tangan.
Berteriak.
Berulang kali.
Namun
Jarak terlalu jauh.
Hujan terlalu lebat.
“Dia nggak lihat kita…” suara Syifa melemah.
Regan berpikir cepat.
Matanya beralih ke api unggun yang hampir padam.
“Kita butuh asap,” katanya.
Tanpa menunggu, ia berlari mengambil kayu yang tersisa.
Ia menyusunnya cepat.
Mencoba menyalakan api kembali.
Namun
Kayunya basah.
Api sulit menyala.
“Ayo… ayolah…” gumamnya frustasi.
Syifa berdiri di sampingnya, panik.
“Gimana kalau mereka pergi…” suaranya bergetar.
Regan terus mencoba.
Menggesek.
Meniup.
Mengulang.
Dan akhirnya
Api kecil muncul.
Ia segera menambahkan daun basah.
Asap mulai mengepul.
“Lebih banyak!” serunya.
Syifa langsung membantu.
Asap semakin tebal.
Membumbung tinggi ke udara.
Keduanya menatap ke arah laut.
Berharap.
Berdoa.
Detik terasa sangat lama.
Seakan waktu berhenti.
“Dia belok…” bisik Syifa pelan.
Regan menatap tajam.
Kapal itu
Berubah arah.
Menuju
Pulau mereka.
Syifa menutup mulutnya.
Air matanya jatuh tanpa sadar.
“Dia lihat kita…” suaranya bergetar.
Regan akhirnya menghela napas panjang.
Untuk pertama kalinya sejak mereka terdampar
Ada harapan nyata.
Ia menoleh ke arah Syifa.
Gadis itu menangis.
Namun kali ini
Bukan karena takut.
Melainkan karena
Mereka mungkin akan pulang.
To Be Continued…