Deru ombak terdengar jelas, memecah kesunyian pagi yang perlahan menyelimuti pulau kecil itu. Sinar matahari mulai menembus celah-celah dinding tenda dari dedaunan, menciptakan garis-garis cahaya yang jatuh tepat di wajah dua insan yang masih terlelap dalam mimpi.
Semalam, Regan akhirnya mengiyakan ajakan Syifa untuk tidur bersama.
Terdengar ambigu, memang.
Namun dalam kondisi seperti ini terdampar di pulau asing, tanpa siapa pun selain mereka berdua keputusan itu terasa wajar. Lagi pula, ini bukan pertama kalinya mereka berbagi tempat tidur seadanya.
Tidak ada yang salah.
Hanya dua manusia yang berusaha bertahan.
Di dalam tenda sederhana itu, keduanya masih terlelap. Wajah mereka tampak tenang, seolah dunia luar tidak ada. Seolah mereka sudah mulai terbiasa dengan kehidupan baru yang jauh dari kata nyaman.
Namun kenyataan tetaplah kenyataan.
Dan pagi… tidak pernah bisa ditunda.
Perlahan, panas matahari mulai terasa menyengat.
Syifa adalah orang pertama yang bereaksi.
Keningnya mengerut, tubuhnya bergerak gelisah. Ia mengerang pelan sebelum akhirnya membuka mata dengan malas.
“Panas…” gumamnya.
Ia mengangkat tangan, mencoba menghalangi cahaya yang langsung mengenai wajahnya. Namun itu tidak cukup.
“Panas!!” teriaknya tiba-tiba, langsung duduk dengan wajah kesal.
Tangannya mengipas-ngipas udara, mencoba menciptakan angin yang jelas tidak membantu.
Di sampingnya, Regan yang semula tertidur akhirnya terusik.
Matanya terbuka perlahan.
“Ada apa?” tanyanya serak, masih setengah sadar.
Ia ikut duduk di samping Syifa.
“Panas!” jawab Syifa cepat.
Regan mengernyit.
Ia melirik ke sekitar.
Matahari, ya jelas sudah tinggi. Udara memang panas.
Namun…
“Kok lo diam aja?!” bentak Syifa kesal.
Regan menoleh. “Terus saya harus ngapain?”
Syifa mendengus. “Gue panas, Regan! Lo kan tahu banyak hal! Pasti ada cara biar nggak panas lagi!”
Regan terdiam beberapa detik.
Lalu menatapnya dengan ekspresi tak percaya.
“Sumpah…” gumamnya pelan. “Ini anak…”
Ia menghela napas panjang, mencoba menahan kesal.
Namun gagal.
“Kamu pikir saya ini siapa?” ucapnya akhirnya, nada suaranya mulai naik. “Bisa ngabulin semua permintaan kamu?”
Syifa terdiam.
Regan melanjutkan, “Dan satu lagi saya nggak sepintar yang kamu kira!”
Suasana langsung berubah tegang.
Tanpa banyak bicara lagi, Regan bangkit berdiri dan keluar dari tenda.
Ia butuh udara.
Butuh ruang.
Dan yang paling penting ia butuh menjauh dari Syifa sejenak.
Di luar, angin laut menyambutnya. Regan berjalan beberapa langkah, lalu berhenti. Ia menatap laut lepas, mencoba menenangkan pikirannya.
Ia sadar.
Ia juga salah.
Reaksinya berlebihan.
Apa yang dikatakan Syifa tadi memang terdengar konyol, tapi tidak pantas dijadikan alasan untuk marah sebesar itu.
“Mood gue kenapa sih…” gumamnya pelan.
Di dalam tenda, Syifa masih duduk diam.
Ia menggigit bibirnya.
Baru kali ini ia melihat Regan benar-benar marah setelah beberapa hari bersama.
Dan… jujur saja
Ia takut.
Perasaan bersalah mulai muncul.
“Ah…” ia menghela napas panjang. “Gue juga sih…”
Akhirnya, ia bangkit dan keluar menyusul Regan.
“Hei…” panggilnya pelan saat sudah berdiri di samping pria itu.
Tidak ada jawaban.
Regan masih menatap laut.
“Maaf…” lanjut Syifa. “Gue tadi keterlaluan.”
Regan tetap diam.
“Tapi… ini juga salah lo,” tambahnya cepat.
Regan langsung menoleh.
Tatapannya tajam.
Syifa sempat mundur sedikit, tapi tetap melanjutkan.
“Iya salah lo! Gue cuma bercanda, tapi lo langsung marah!” katanya. “Nggak asik banget sih!”
Ia melipat tangan di d**a. “Dan gue juga nggak bodoh sampai nganggep lo sepintar itu!”
Sunyi.
Hanya suara ombak yang terdengar.
Syifa menghela napas, lalu menatap Regan lagi.
“Udah… jangan marah lagi. Gue kan udah minta maaf…”
Keduanya saling menatap.
Dengan tinggi badan yang berbeda, posisi mereka terlihat kontras. Namun jarak di antara mereka terasa dekat.
Detik berlalu.
Satu…
Dua…
Tiga…
“Ahh… kenapa masih marah sih!” kesal Syifa. “Aku kan sudah minta maaf!”
Dan tiba-tiba
kriuk.. kriuk... Dan lagi lagi suara perut Syifa memecahkan ketegangan diantara kedunya
“Kamu lapar?” tanya Regan.
Syifa terdiam.
“He?”
“Kamu lapar nggak?” ulang Regan.
Nada suaranya kembali normal.
Seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Syifa berkedip.
Lalu mengangguk pelan.
“Iya…”
“Ya sudah,” kata Regan. “Ayo cari makan.”
Secepat itu suasana berubah.
“Aa… ayo!” jawab Syifa semangat.
Dan mereka pun berjalan bersama menuju hutan, meninggalkan sisa ketegangan yang perlahan menguap.
Di tempat lain
Jauh dari pulau itu.
Di sebuah rumah besar di kota, seorang wanita paruh baya duduk termenung di ruang kerjanya.
Ratih memegang sebuah bingkai foto.
Di dalamnya
Wajah Syifa tersenyum cerah.
Sudah lebih dari satu minggu sejak putrinya menghilang.
Sejak hari itu, hidup Ratih terasa berhenti.
Saat kabar tentang kapal yang ditumpangi Syifa tenggelam sampai di telinganya, dunia seolah runtuh.
Kakinya melemah.
Air matanya tidak pernah benar-benar berhenti sejak saat itu.
Ia sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari Syifa.
Namun hasilnya
Nihil.
“Maafin mama ya, sayang…” bisiknya lirih, jari-jarinya mengusap kaca bingkai foto itu.
Penyesalan menggerogoti hatinya.
Jika saja waktu bisa diulang
Ia tidak akan memaksakan kehendak.
Tidak akan menjodohkan Syifa dengan pria pilihannya.
Mungkin…
Anaknya tidak akan kabur..
Tok… tok…
Suara ketukan pintu memecah lamunannya.
“Masuk,” ucap Ratih lemah.
Seorang wanita muda masuk dengan membawa beberapa map di tangannya.
Xiara Zulvani atau yang biasa dipanggil Xia.
“Pagi, Bu Ratih,” ucapnya sopan.
Ratih membuka mata, menatapnya sekilas. “Ada apa, Xia?”
“Saya membawa beberapa berkas yang perlu persetujuan Ibu,” jawab Xia sambil menyerahkan map-map tersebut.
“Taruh saja di situ,” ujar Ratih dingin. “Saya masih… tidak dalam kondisi baik.”
Xia terdiam sejenak.
“Maaf, Bu… tapi ini sudah Ibu tunda beberapa hari ini,” katanya hati-hati. “Kalau terus ditunda, bisa berdampak ke perusahaan.”
Ratih menatapnya tajam.
“Kamu nggak lihat saya lagi sedih?” suaranya meninggi. “Anak saya hilang! Kapal yang dia tumpangi tenggelam!”
Xia menunduk.
Namun dalam hatinya ia menghela napas.
Ck… ibu sama anak sama saja, batinnya.
Tentu saja ia tidak mungkin mengatakannya.
Ia masih ingin mempertahankan pekerjaannya dengan gaji dua digit yang sulit ditemukan di tempat lain.
“Saya turut bersedih, Bu,” ucap Xia akhirnya. “Meski saya belum punya anak, saya bisa membayangkan perasaan Ibu.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan hati-hati.
“Tapi… bukankah kita sudah melakukan semua yang bisa kita lakukan? Sekarang yang bisa kita lakukan hanya menunggu dan berdoa.”
Ratih terdiam.
“Dan selama menunggu,” lanjut Xia, “akan lebih baik jika waktu itu tetap digunakan dengan baik. Untuk perusahaan… dan untuk banyak orang yang bergantung pada Ibu.”
Hening.
“Kamu banyak bicara ya, Xia,” ucap Ratih akhirnya.
“Maaf, Bu.”
Ratih menghela napas panjang.
“Taruh saja berkasnya. Nanti saya cek.”
“Baik, Bu.”
“Sekarang kamu keluar.”
“Iya, Bu. Permisi.”
Setelah Xia pergi, Ratih menatap map-map di meja.
Perlahan, ia mengambil salah satunya.
Membukanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir
Ia mencoba kembali bekerja.
Sambil tetap berharap…
Anaknya akan kembali.
To Be Continued…